Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
269


__ADS_3

"Kenapa kamu seperti anak kecil yang makan saja sampai tersedak!" ucap Febian sedikit sewot.


"Ucapan Anda membuat saya terkejut, Tuan. Bagaimana bisa Anda mengatakan kita akan menikah minggu depan. Candaan Anda sudah keterlaluan, Tuan." Ara masih tidak percaya. Dia tergelak keras karena merasa ucapan Febian adalah sebuah guyonan.


"Memang siapa yang bercanda? Aku serius! Aku sudah membahas semua ini dengan kakakku dua hari lalu." Febian berbicara dengan santai dan menghentikan tawa gadis itu begitu saja.


"Tu-Tuan, Anda yakin tidak bercanda? Kita bahkan kenal belum lama." Wajah Ara mendadak masam. Bukannya dia tidak bahagia, hanya saja ini sangat mengejutkan baginya.


"Kita sama-sama menjalin hubungan lama, tapi harus kandas di tengah jalan. Bagaimana kalau kita langsung menjalin hubungan yang serius? Kata orang pacaran setelah menikah justru lebih bahagia." Febian berkata dengan sangat yakin. Ara pun akhirnya bungkam, bahkan sendok yang sedang dipegang, dia letakkan begitu saja.


"Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kita lanjut makan. Ingat, setelah ini kita harus ke butik dan langsung berangkat ke Jakarta." Febian tersenyum simpul, dan Ara mau tidak mau hanya mengangguk mengiyakan.


Seusai makan siang, mereka menuju ke sebuah butik ternama di Bandung. Lagi-lagi, Ara dibuat bingung karena semua seolah sudah dirancang dengan sangat baik. Gaun pengantin itu terlihat begitu mewah bahkan begitu pas di tubuhnya. Febian begitu terpukau saat melihat Ara yang tampak begitu anggun dalam balutan gaun itu. Membuatnya tak sabar ingin memiliki Ara seutuhnya.


Febian juga mencoba tuxedo warna putih senada dengan gaun milik Ara. Setelah dirasa semua cukup, Febian langsung mengajak Ara menuju ke mansion Alexander untuk bertemu kedua kakaknya.


Perjalanan yang ditempuh lebih dari dua jam, mobil yang dikendarai Febian masuk ke pelataran mansion. Kali ini, Ara yang begitu kagum melihat mewahnya mansion Alexander.


"I-ini rumah Anda, Tuan?" tanya Ara gugup.


"Bukan. Mansion ini dulu milik mommy dan daddy, tapi sekarang dihuni Nadira, terkadang Kak Al juga. Aku mau menetap di Bandung," jelas Febian. Dia mengajak Ara untuk turun dari mobil, tetapi gadis itu tetap duduk di kursinya.


"Kenapa kamu tidak mau turun?" tanya Febian.


"Saya semakin minder, Tuan." Ara menjawab jujur.


"Tidak usah minder, kedua saudaraku baik kok." Dengan sedikit memaksa, akhirnya Ara turun dan masuk ke mansion bersama Febian.


Ketika baru saja masuk, Febian merasa heran karena suasana di mansion begitu sepi. Melihat kedatangan Febian, Bobby yang sedang bermain ponsel pun langsung berlari mendekat.


"Om Bi!" pekik bocah itu kegirangan. Febian mengangkat Bobby dan menggendongnya erat.


"Di mana mami dan papimu?" Febian mencubit pipi Bobby dengan gemas.


"Lagi di kamar. Mami sakit, kata papi karena Bobby mau punya adik," sahutnya. Bola mata Febian membola sempurna sesaat.


"Papimu bilang seperti itu?" tanya Febian memastikan.

__ADS_1


"Ya, papi bilang gitu." Bobby mengulangi dengan sangat yakin. Febian pun tersenyum lebar. Dia merasa begitu bahagia kalau akhirnya Nadira hamil lagi.


"Kalau Om Al di mana?" tanya Febian lagi.


"Kamu sudah datang, Bi?" Nadira berjalan cepat mendekati Febian.


"Beb, jangan berlari!" teriak Nathan, tetapi Nadira justru berbalik dan menatap lelaki itu dengan sangat tajam dengan tangan berkacak pinggang.


"Apa kamu tidak lihat kalau aku berjalan bukan berlari!" seru Nadira. Nathan hanya bisa menghela napas panjang.


"Beb, bukannya gitu, tapi —"


"Berhenti di tempatmu, Mas! Ingat, kita harus menjaga jarak minimal satu meter." Telunjuk Nadira mengarah ke arah Nathan dibarengi dengan raut marah.


"Beb, ini Mbak Rona sudah pergi, jadi kita tidak perlu menjaga jarak." Nathan berusaha mendekat lagi, tetapi melihat tatapan Nadira semakin tajam. Akhirnya, dia mengurungkan niatnya dan lebih memilih diam di tempatnya saat ini.


"Astaga, Nad. Kamu kenapa?" tanya Febian heran. Wanita itu tidak menjawab dan hanya menghempaskan tubuhnya secara kasar di sofa.


"Astaga, Beb. Bisakah kamu pelan-pelan? Kasihan anak kita di dalam. Kita membuatnya susah payah siang malam, bermandikan keringat pula," ucap Nathan, tetapi Nadira tidak peduli. Dia justru melipat kedua tangan di depan dada.


"Ah iya, aku sampai lupa kalau mau berkenalan dengan adik iparku." Nadira kembali bangkit dan berjalan mendekati Ara yang sedari tadi menunduk dengan jemari yang saling meremas.


"Siapa namamu?" tanya Nadira lembut saat sudah berdiri di samping Ara.


"Ki-Kiara, Nona." Ara menjawab gugup.


"Jangan takut seperti itu. Bukankah kita sebentar lagi akan menjadi keluarga? Aku sudah tidak sabar ingin segera memiliki adik perempuan." Nadira berbicara senang. Dia pun mengajak Ara duduk dan yang lain pun mengikuti.


"Ara, jadi apa kamu sudah mencintai Bi?"


"Nad! Jangan membuatnya takut!" sela Febian setengah membentak.


"Siapa yang membuatnya takut? Aku hanya bertanya padanya!" bantah Nadira tak terima.


"Beb, jangan marah-marah, kasihan anak kita." Nathan menimpali, tetapi dia kembali diam saat tatapan tajam sang istri mengarah padanya. "Baiklah, aku akan diam."


Alvino tak kuasa menahan tawa saat melihat wajah Nathan yang begitu memelas. Bahkan, dia semakin tergelak saat lelaki itu melemparinya dengan bantal sofa.

__ADS_1


"Diamlah, Al!" hardik Nathan, tetapi Alvino tidak takut sama sekali.


"Selamat, Nat. Sepertinya nanti malam sofa yang empuk akan menjadi alas tidurmu lagi," ledek Alvino. Nathan merasa malas menyahuti dan hanya mendengkus kasar.


"Om, kenapa papi dan Om Al selalu bertengkar? Padahal mereka bilang, bertengkar itu tidak baik," ucap Bobby mengalihkan pembicaraan mereka.


"Sabar, Bob. Bukankah mereka ini Tom Jerry." Febian berkata dengan santai.


"Sudah, sudah. Bukankah kita di sini untuk membahas tentang pernikahan Bi? Kenapa kalian jadi membahas hal yang tidak jelas." Nadira benar-benar berada sangat kesal mungkin karena hormon kehamilan membuat wanita itu menjadi sangat sensitif.


"Ara, kamu sudah mencoba gaun pengantinmu?" tanya Nadira lembut. Ara mengangguk perlahan.


"Sudah, Nona." Ara menjawab sopan.


"Apa ukurannya pas? Tidak kebesaran atau kekecilan?" tanya Nadira lagi. Kali ini, Ara menggeleng cepat.


"Semua pas, Nona. Hanya terlalu mewah untuk saya," sahut Ara masih dengan menunduk.


"Tidak. Justru itu gaun sangat sederhana. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera melihat kalian menikah. Kenapa kalian tidak bertemu sejak dulu saja," ucap Nadira, sedangkan yang lain hanya diam mendengarkan.


"Bi!" panggil Nadira setengah membentak. "Kamu harus menjaga Ara dengan baik, jangan sampai menyakitinya, ya, walaupun aku tahu saat ini kalian belum saling mencintai, tapi percayalah kalau cinta bisa datang karena terbiasa."


"Aku tahu, Nad. Kenapa kamu sekarang jadi sangat cerewet!" ketus Febian, tetapi sesaat kemudian lelaki itu tergelak saat melihat Nadira yang melotot ke arahnya.


"Beb—"


"Diam! Kamu juga akan mengataiku cerewet? Tidur di ruang tamu seminggu!" seru Nadira.


"Astaga, Beb. Kenapa aku juga kena." Nathan mengusap wajahnya kasar.


"Rasain!" Alvino menonyor kepala Nathan dan tertawa puas.


"Al!" bentak Nathan, tetapi Alvino justru semakin tergelak keras.


Aku bisa merasakan kalau keluarga ini sangat hangat dan mereka orang yang baik-baik.


Lanjut enggak nih?

__ADS_1


__ADS_2