Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
66


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang ke mansion, Nadira hanya membisu. Sebenarnya dia menolak jika harus dipisah dengan Nathan selama seminggu, tapi dia tidak mungkin menentang perintah kakaknya.


"Jangan sedih, Nad. Kakak tidak akan mengurungmu di mansion, justru Kakak akan mengajakmu jalan-jalan," ucap Alvino dengan santai. Nadira menoleh dan menatap Alvino dengan kening yang mengerut.


"Maksud Kakak?" tanya Nadira tidak paham.


"Besok pagi kita akan berangkat ke Jogja," sahut Alvino, kening Nadira semakin terlihat mengerut.


"Jogja?"


"Ya. Dua bulan lagi Rania lahiran dan dia pengen jalan-jalan ke Jogja. Besok kita akan berangkat ke sana. Sama Bi dan Jasmin juga," jawab Alvino.


"Kak ... apa Kakak tahu hubungan Bi dan Nona Jasmin? Karena selama ini aku dekat dengan Bi, tapi aku enggak pernah tahu hubungan mereka."


"Sebenarnya mereka sudah dekat sejak lama. Kamu ingat saat pernikahan Kakak, Bi menjemput seseorang di Bandara?" tanya Alvino. Nadira mengangguk cepat.


"Lah, itu yang dijemput Jasmin, tapi mereka hanya sebatas teman dekat aja. Mereka berpacaran sekitar lima bulan lalu saat Jasmin udah jadi sekretaris Nathan," terang Alvino.


"Bukannya Nona Jasmin dan Kak Nathan sempat dijodohkan?" tanya Nadira lagi.


"Ya, daddy tahu itu. Makanya Uncle Jo dan daddy ke Singapura menemui Tuan Dharma untuk membatalkan perjodohan itu."


"Kata Cacha, daddy memohon sama Uncle Jo supaya Kak Nathan mau menikahiku?"


Alvino mengangguk perlahan. "Daddy tahu yang terbaik untuk putri kesayangannya." Baik Alvino maupun Nadira sama-sama tersenyum getir saat membahas tentang Davin.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu terlalu banyak bertanya, Nad." Alvino menyudahi pembicaraan mereka karena dia tidak mau kembali larut dalam kesedihan.


Mobil yang dikemudikan Kenan masuk ke area Mansion Alexander. Setelah mobil itu berhenti, Alvino dan Nadira segera turun, sedangkan Kenan kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah Tuan Sandijaya karena semenjak menikah dengan Ana. Mereka tinggal di sana menemani Tuan Sandijaya.


Ketika Alvino dan Nadira masuk ke dalam mansion, mereka langsung disambut oleh Rania. Wanita berperut buncit itu merentangkan tangan saat melihat suaminya berjalan mendekat. Senyum Alvino terlihat mengembang dengan begitu sempurna. Dia memeluk istrinya dengan penuh sayang.


"Kamu sudah menungguku daritadi, Sayang?" tanya Alvino. Dia mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Ya, aku merindukanmu, Mas." Rania menjawab dengan manja. Alvino melepas pelukannya, lalu berdiri setengah jongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan perut buncit istrinya.


"Hallo, Baby JJ. Daddy pulang." Alvino menyentuh perut buncit itu dan mengecupnya dengan sangat lama. Rania mengusap rambut suaminya. Sungguh pemandangan yang begitu indah. Nadira tersenyum membayangkan dirinya dan Nathan berada dalam posisi seperti itu. Senyumnya semakin mengembang saat membayangkan Nathan bersikap romantis padanya.


Namun, Nadira menggeleng dengan cepat untuk mengusir pikiran itu. Dia tidak mau kembali terluka jika berharap terlalu lebih. Nadira segera berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Alvino dan Rania pun hanya mengiyakan.


"Kamu yakin akan ke sana, Mas?" tanya Rania tidak percaya. Alvino mengangguk cepat.


"Kita akan berangkat dengan Ana, Kenan, Bi, Jasmin dan Nadira," sahut Alvino. Kedua alis Rania terlihat saling menaut.


"Nadira?" tanyanya. Alvino hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Bukannya Kak Nathan masih dirawat, kenapa Nadira ikut?" tanya Rania heran.


"Biarkan saja. Aku yang mengajaknya. Aku mau ngasih pelajaran buat Nathan karena udah nyakitin Nadira." Alvino bangkit berdiri dan berdiri merangkul istrinya.


"Jangan jahat-jahat, Mas. Kasihan mereka baru aja baikan." Rania menepuk dada suaminya dengan pelan.

__ADS_1


"Aku tidak jahat, Sayang." Alvino mengelak. Dia kembali mencium puncak kepala istrinya. "Minggu depan Nathan ulang tahun dan aku akan buat kejutan untuk Nathan dan Nadira juga," sahut Alvino.


"Kejutan apa?" tanya Rania penasaran.


"Ya pokoknya kejutan. Kalau aku bilang nanti enggak jadi kejutan lagi. Ayo kita ke kamar, Sayang. Aku sudah sangat lelah." Alvino mengajak Rania berjalan ke kamar. Rania hanya menurut tanpa bertanya lagi.


***


Nathan duduk gelisah karena sedari tadi tidak bisa menghubungi nomor Nadira sama sekali. Dia yakin, ini pasti kerjaan Alvino yang memblokir nomornya sampai dirinya tidak bisa menghubungi mereka termasuk nomor Mansion Alexander sekalipun.


Nathan menggeram kesal dan meremas kuat ponselnya, sedangkan Mike yang berada di ruangan itu hanya menghela napas panjang melihat Nathan.


"Apa ada sesuatu, Tuan?" tanya Mike. Nathan menoleh ke arah Mike dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.


"Mike, apa kamu bisa menghubungi keluarga Alexander atau Mansion Alexander?" tanya Nathan dengan sedikit ketus.


"Tentu saja bisa, Tuan. Bahkan barusan Tuan Al mengatakan kalau selama seminggu ke depan Anda tidak bisa menghubungi mereka bahkan datang ke Mansion Alexander," sahut Mike dengan santai. Kedua mata Nathan membola dengan sempurna.


"Gila! Yang benar saja!" hardik Nathan, tetapi Mike tetap terlihat begitu tenang. Nathan memukul udara karena merasa begitu kesal, tapi sesaat kemudian dia tersenyum licik saat sebuah ide melintas di benaknya.


"Percuma Anda meminta bantuan Nona Cacha dan orang tua Anda atau siapa pun. Karena Tuan Al sudah menghubungi mereka dan mereka semua setuju untuk tidak membantu Anda." Perkataan Mike membuat Nathan menjadi lesu seketika. "Selamat menikmati hukuman Anda, Tuan." Mike melipat bibirnya berusaha menahan tawa.


"MIKE!" teriak Nathan dengan lantang.


"Saya, Tuan." Mike menjawab dengan tenang. Nathan menatap tajam ke arah lelaki yang masih saja bersikap santai itu.

__ADS_1


__ADS_2