
Nadira baru saja masuk ke kamar dan benar saja, Baby B sedang menangis mencari sumber makanannya. Dengan gerakan cepat Nadira menyusui bayi mungilnya. Sementara Nathan yang juga baru masuk kamar segera duduk tepat di depan Nadira, tetapi wanita itu justru memalingkan wajah.
"Beb, maafkan aku." Nathan terlihat begitu memohon, tetapi Nadira tidak peduli dan memilih fokus pada Baby B.
"Aku salah sudah memarahi Bi, aku hanya ingin dia tegas sebagai seorang lelaki. Beb, berpacaran dalam waktu yang lama itu tidak baik." Nathan berusaha memberi penjelasan. Nadira menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan.
"Beb, jangan marah ya." Nathan berusaha menggenggam tangan Nadira. Namun, langsung ditepis dengan sedikit kasar.
"Awas! Aku mau nidurin Baby B."
Nathan memilih sedikit menyingkir dan membiarkan Nadira menidurkan Baby B di tengah ranjang. Setelahnya, Nadira merebahkan tubuhnya di samping Baby B, sedangkan Nathan juga ikut tiduran di samping istrinya.
Tangan Nathan melingkar di perut Nadira meski wanita itu berulang-kali menyingkirkan. Kepala Nathan terbenam di tengkuk istrinya yang membuat tubuh wanita itu meremang.
"Besok aku katakan semuanya pada Al. Biarkan dia yang bertindak. Aku tahu kalau Bi sangat mencintai Jasmin." Nada bicara Nathan terdengar sangat lembut. Nadira tidak menjawab, tetapi wanita itu justru terisak.
"Hey, kenapa kamu menangis, Beb? Maafkan aku." Di saat Nathan membalik tubuh Nadira, wanita tersebut langsung membenamkan wajah di dada bidang milik suaminya.
"Maaf, Beb. Aku sudah menyakitimu." Tangan Nathan mengusap halus surai hitam istrinya.
"Rasanya aku sangat merindukan daddy dan mommy, " ucap Nadira disela Isak tangisnya.
__ADS_1
"Sudahlah, mereka sudah bahagia di Surga. Cukup kamu doakan saja." Nathan mencium puncak kepala Nadira berkali-kali untuk menenangkan wanita itu.
Nadira melepas paksa pelukannya dan meminta Nathan untuk menjaga Baby B karena dia akan menemui Alvino. Rasanya, Nadira tidak bisa tertidur lelap jika belum berbicara empat mata dengan kakaknya. Karena sekarang, tanggung jawab Febian ada pada mereka berdua.
***
"Kenapa, Nad?" tanya Alvino saat Nadira mengajaknya berbicara di ruang keluarga dan hanya berdua.
"Aku ingin memeluk Kak Al." Nadira sedikit merengek, tanpa menunggu lama Alvino segera menarik adiknya masuk dalam dekapannya. Tak lupa, sebuah kecupan mendarat di pelipis Nadira.
"Kamu sedang bertengkar dengan Kaleng Rombeng?" Alvino menatap Nadira dengan penuh selidik. Namun, Nadira menggeleng lemah. "Lalu?"
"Kak Al, Nadira?" Febian begitu terkejut dengan kedatangan kedua kakaknya.
"Kamu belum tidur, Bi?" Alvino membuka pintu sedikit lebar dan memaksa masuk ke kamar adiknya. Sementara Febian begitu gugup, dia tahu hal apa yang membuat kedua kakaknya datang ke kamar.
"Belum, Kak." Febian menjawab sekenanya dan memilih duduk di tepi tempat tidur.
"Ada yang mau kakak bicarakan denganmu." Alvino menatap Febian dengan sangat lekat. "Bagaimana hubunganmu dengan Jasmin?
Febian tidak langsung menjawab, dan justru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia memalingkan wajah saat Alvino semakin menatap lekat ke arahnya.
__ADS_1
"Semua sudah berakhir, Kak," jawab Febian pada akhirnya. Embusan napas kasar terdengar berkali-kali keluar dari mulut lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Alvino, tetapi Febian memilih bungkam. Dia yakin kalau kakaknya sudah tahu semuanya.
"Bi, ceritakan semua pada kakak. Jangan pendam masalahmu sendiri. Kamu tahu? Sekarang kakak yang bertanggung jawab penuh atas dirimu." Alvino berbicara dengan setenang mungkin karena tidak mau membuat Febian takut kepadanya.
"Kak, aku masih mencintai Jasmin, tapi hubunganku dengannya harus kandas. Aku ingin menikah di usia dua puluh delapan tahun sesuai janjiku pada daddy," ucap Febian lirih.
"Bi, kalau memang kamu mencintai Jasmin, maka nikahilah sekarang. Seorang wanita juga butuh kepastian."
"Tapi aku masih ingin menjadi orang yang sukses, Kak. Aku akan memajukan perusahaan Alexander di Bandung terlebih dahulu."
"Kamu pikir kurang sukses apa perusahaan itu? Lagi pula, kamu akan semakin bersemangat kalau orang yang kamu cintai mendukungmu dengan sepenuh hati." Alvino mulai menaikkan nada bicaranya.
"Kak, aku sudah berbuat salah dengan Jasmin. Aku tidak yakin dia masih mau menerimaku atau tidak. Dia bilang sudah ada lelaki lain yang meminangnya." Febian terlihat begitu pasrah dan putus asa.
"Semua tergantung kamu, kalau memang kamu mau serius dengan Jasmin, kakak akan membantumu menemui Tuan Dharma. Kamu tidak harus menunggu usia dua puluh delapan tahun untuk menikah. Aku yakin kalau daddy di atas sana akan mengerti," ucap Alvino. Raut kebingungan tampak memenuhi seluruh wajah Febian.
"Bersiaplah! Besok pagi kita akan ke Singapura," ucap Alvino tegas. Febian menatap Alvino yang saat ini sudah berjalan keluar kamar.
"Nad ...." Febian menghentikan ucapannya saat melihat Nadira mengangguk cepat sebelum ikut keluar dari kamar adiknya. Selepas kepergian kedua kakaknya, Febian merem*s rambutnya dengan kasar.
__ADS_1