
"Bangun, Nat! Tolongin aku!" Suara panik Alvino, seketika membuat Nathan dan Nadira bergegas turun dari tempat tidur. Mereka melangkah lebar menuju ke pintu.
Ketika pintu itu terbuka lebar, terlihat Alvino sedang menggendong Baby Jin yang sedang menangis kencang. Alvino mengayun bayi itu perlahan untuk menenangkan, tetapi bayi gembul itu sama sekali tidak mau diam.
"Baby Jin, kenapa?" tanya Nathan heran.
"Mana aku tahu! Barusan bangun dan langsung nangis gini. Aku bawa ke sini, siapa tahu dia diam kalau sama kamu." Alvino terlihat pasrah.
Nathan pun mengambil alih Baby Jin dari gendongan Alvino, lalu mengayun dengan perlahan bayi mungil itu.
"Baby Jin, diem ya, Sayang. Ini Uncle Nathan. Uncle mu yang paling tampan," ucap Nathan dengan lembut.
Bayi itu pun terdiam, mata beningnya terlihat mengamati wajah Nathan dengan tangan menggeliat.
"Mas, dia diem!" Nadira menatap tidak percaya.
"Jangan-jangan dia bakalan satu spesies sama kamu, Nat!" Alvino memasang raut wajah memelas, Nathan yang melihat hanya menampilkan senyum smirk-nya.
__ADS_1
"Sudah sana kembali ke kamar. Biar Baby Jin tidur denganku. Kebetulan ini hari minggu 'kan?" suruh Nathan mengusir kakak iparnya.
"Kalau nangis bawa dia ke kamar," kata Alvino. Nathan hanya mengangguk mengiyakan. Setelah memastikan putrinya diam dalam gendongan uncle-nya. Alvino pun kembali ke kamar.
Nathan menggendong Baby Jin masuk ke kamar dan menidurkan bayi mungil itu di antara dirinya dan Nadira. Bibir Nathan tersenyum simpul saat melihat Nadira sedang memegang botol susu, sedangkan bayi mungil itu dengan kuat menghis*pnya.
"Beb, kalau kaya gini, kita berasa udah punya anak ya," kata Nathan. Nadira yang barusan sedang fokus dengan bayi itu pun, menoleh ke arah Nathan dan menunjukkan senyum manisnya.
"Kamu bahagia?" tanya Nadira dengan senyum mengembang.
"Tentu saja. Rasanya aku sudah tidak sabar." Nathan bicara dengan sangat antusias.
***
Rayhan meraba tempat tidur saat merasakan tidak ada apa pun yang bisa dia peluk. Dia beranjak bangun dengan cepat, dan melihat sisi sebelahnya ternyata kosong.
Lelaki itu bergegas turun dan melangkah lebar menuju ke kamar mandi saat mendengar suara istrinya dari dalam sana. Begitu pintu kamar mandi terbuka, Rayhan terkejut saat melihat Queen sedang memegang pinggiran wastafel, dan memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sakit?" Rayhan mendekati sang istri. Memijat tengkuk Queen dengan lembut. Setelah memastikan rasa mualnya menghilang, Queen segera membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar.
"Kamu sakit, Sayang?" tanya Rayhan. Wajahnya terlihat begitu khawatir apalagi saat melihat wajah istrinya yang tampak begitu pucat.
"Aku baik-baik saja, Hubby." Queen hendak kembali ke kamar, tetapi Rayhan dengan segera membopong istrinya.
"Bagaimana kamu bisa kamu bilang baik-baik saja. Kamu sudah memuntahkan isi perutmu, juga wajahmu sepucat ini." Rayhan menidurkan istrinya. Kemudian, dia bergegas turun dan mencari ponsel untuk menghubungi ayah mertuanya.
"Hubby, kamu kamu ngapain? Aku baik-baik saja." Queen bangun dan mengambil ponsel Rayhan dengan paksa.
"Sayang!" Suara Rayhan terdengar meninggi saat Queen justru menghempaskan ponselnya di atas tempat tidur. Merasa dibentak, mata Queen terlihat begitu berkaca-kaca.
"Pergilah, aku tidak mau denganmu!" Queen hendak merebahkan tubuhnya lagi, tetapi Rayhan langsung menahannya.
"Sayang, maafkan aku." Rayhan berjongkok di depan Queen dan menggenggam tangan wanita itu dengan erat. "Aku sangat khawatir sama kamu. Aku mau telepon papa, biar dia memeriksamu." Suara Rayhan kali ini terdengar lebih lembut.
Queen menarik tangannya dari genggaman suaminya, lalu mengusap air mata yang hampir terjatuh membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Hubby. Mual, muntah, pusing itu wajar untuk wanita hamil muda," ucap Queen dengan santai.