
Setelah puas berbincang dengan ibu mertuanya, kini Nadira sudah berada di kamar Nathan. Kamar dengan nuansa abu-abu itu mampu melahirkan kesan yang begitu maskulin. Nadira mengamati setiap sudut ruang kamar yang tampak rapi. Saat mengedarkan pandangannya, dia terpaku pada sebuah foto yang terpajang di samping nakas. Dirinya memang sering ke rumah itu, tapi baru kali ini masuk ke kamar Nathan dan melihat dengan lebih jelas seluruh isi kamar itu.
Nadira melangkah mendekati nakas, lalu mengambil sebuah foto bayi mungil dengan bingkai warna biru tosca. Dia mengamati foto itu dengan sangat lekat karena merasa tidak asing.
"Bukankah ini foto waktu aku bayi?" gumam Nadira. Dia membalik foto itu dan membaca tulisan yang tertera di sana.
Dalam setiap detik yang kulalui. Wajahmu selalu menghiasi hari-hariku. Kamu bilang aku genit, buaya dan lain-lainnya. Tak apa. Asal kamu tahu kalau hanya kamu satu-satunya yang bisa membuatku jatuh cinta. Setiap hari aku selalu berdoa dan meminta, semoga kelak kita 'kan bersatu dalam satu ikatan suci. Memiliki anak yang lucu-lucu. Anak perempuan secantik kamu dan anak lelaki yang tentu saja ... setampan aku. Semoga harapanku kelak menjadi nyata.
Airmata haru terlihat menggenangi kedua mata Nadira, dia sungguh tidak menyangka kalau suaminya ternyata sangat mencintainya. Bahkan sedalam itu. Nadira mengambil satu foto lagi yang berada di sampingnya. Foto lengkap keluarga Nathan.
"Terima kasih, kalian selalu menyayangi dan menjagaku dengan sangat baik selama ini. Aku mencintai kalian." Nadira mengusap foto keluarga Saputra dengan airmata yang berderai. Sungguh, dia tidak menyangka akan mendapat kasih sayang yang begitu besar dari mereka seperti dia mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya.
***
Nathan duduk gelisah di kursi kerja saat matanya melihat tampilan CCTV di layar ponsel yang memperlihatkan tampilan kamar pribadinya. Dia melihat Nadira yang mengusap airmata dengan dua bingkai foto di tangan. Mungkinkah Nadira sudah membaca tulisan di balik foto itu? Nathan merutuki dirinya karena tidak menyimpan foto itu terlebih dahulu.
Nathan segera mencari nama istrinya di kontak, lalu menekan tanda panggil. Rasanya dia sudah sangat gelisah.
"Hallo, Beb."
"Mas!" Nathan terdiam sesaat ketika Nadira memanggilnya 'mas'. Sebuah panggilan yang ingin sekali dia dengar dari mulut wanita itu. Hati Nathan rasanya benar-benar bahagia saat ini. "Mas! Kenapa diam saja?"
__ADS_1
"Maaf, Beb. Aku agak kaget kamu mau memanggilku semesra ini. Kamu sedang apa?" tanya Nathan berpura-pura.
"Aku sedang tiduran. Barusan ngobrol banyak sama bunda. Sekarang bingung mau ngapain." Suara parau Nadira yang terdengar begitu manja, membuat senyum di bibir Nathan terbit seketika.
"Kenapa suaramu terdengar serak? Apa kamu habis menangis?" Panggilan itu mendadak hening karena Nadira sama sekali tidak membuka suara.
"Tidak. Aku tadi sedang terlelap sebentar. Mas ...." Nadira membisu, sedangkan Nathan hanya menunggu istrinya meneruskan ucapannya. "Aku kangen kamu."
Ucapan Nadira benar-benar membuat Nathan merasa sangat bahagia. Ingin sekali dia berjingkrak-jingkrak sambil berkata 'hore'. Kenapa aku jadi membayangkan monyetnya dora? Nathan menepuk keningnya dengan cukup kencang.
"Datanglah ke sini, Beb. Biar diantar sopir, aku juga kangen banget sama kamu," suruh Nathan. Nadira tidak langsung menjawab, tapi kemudian dia mengiyakan dan mematikan panggilan itu.
***
"Bunda ... A-ayah," panggil Nadira lirih. Johan sedikit terdiam dan tidak menyangka akan mendengar Nadira memanggilnya ayah. "Nadira mau ke kantor Kak Nathan."
"Baiklah, biarkan sopir mengantar Anda, Nona Muda. Saya tidak mengizinkan Anda mengendarai mobil sendiri," kata Johan. Mila mencubit pelan pinggang suaminya, hingga pandangan lelaki itu beralih ke arahnya.
"Panggil Nadira saja. Sekarang dia adalah anak kita, Mas," timpal Mila.
"Aku tidak akan selancang itu, Mil," tolak Johan, walau dalam hati dia sangat menginginkannya.
__ADS_1
"Ayah, benar kata Bunda. Lebih baik panggil nama saja tanpa embel-embel Nona Muda. Nadira akan merasa lebih bahagia dan semakin bisa menyatu dengan keluarga ini," ucap Nadira menyetujui saran Mila.
Johan menghela napas panjang. "Baiklah, Non ... Nadira." Bibir kedua wanita itu tersenyum lebar.
"Terima kasih, Yah. Kalau begitu Nadira pamit dulu." Pasangan paruh baya itu pun hanya mengangguk mengiyakan.
Nadira berjalan keluar rumah dan melihat sopir Keluarga Saputra sudah menunggu di samping mobil. Nadira tidak sedikit pun menaruh curiga kepadanya. Dia pun mendudukkan bokongnya di kursi belakang.
"Anda sudah siap, Nona?" Nadira hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
Mobil itu pun melaju meninggalkan Kediaman Saputra, membelah jalanan kota yang tampak lengang. Namun, kening Nadira terlihat mengerut saat menatap jalan yang dilewati bukanlah jalan menuju ke Perusahaan Saputra Group, tapi jalan yang berlawanan arah.
"Kenapa kita lewat jalan ini?" tanya Nadira curiga. Hatinya sudah merasa sangat was-was dan takut.
"Iya, Nona. Karena sekarang kita akan ke Bandara," sahut sopir itu santai.
"Apa? Bandara?"
Kalau sampai macem-macem lagi, AWAS ELU THOR!!
Kabuurrr ahhh
__ADS_1