Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
37


__ADS_3

Nadira mengambil alih piring dari tangan Nathan, lalu memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Namun, baru tiga suap makanan masuk ke mulut, Nadira sudah kembali meletakkan sendoknya.


"Aku sudah kenyang, Kak." Nadira memalingkan wajahnya saat melihat Nathan menatap tajam ke arahnya.


"Anda baru makan tiga suap, Nona. Apakah Anda tidak sayang melihat makanan dibuang-buang?" tanya Nathan sedikit ketus.


"Kak, aku benar-benar sudah kenyang." Nadira hendak merebahkan tubuhnya lagi, tetapi Nathan segera menahannya.


"Bilang saja kalau Anda ingin saya menyuapi Anda, Nona Muda." Nathan tersenyum tipis, sedangkan Nadira menghembuskan napas kasar.


"Aku tidak berbohong, Kak." Nadira menatap Nathan dengan memelas.


"Baiklah. Kalau begitu sekarang waktunya Anda minum obat." Nathan membuka bungkus obat, lalu menyerahkan obat itu kepada Nadira. Tak lupa dengan segelas air putih hangat.


"Kak Nathan kenapa bisa masuk ke sini?' tanya Nadira setelah dia menelan obat itu.


"Lebih baik Anda istirahat dan jangan terlalu banyak bicara." Nathan mulai kembali terdengar ketus. Tiba-tiba ponsel Nathan yang tergeletak di atas nakas berdering. Ekor mata Nadira melirik ponsel itu dan dia bisa melihat nama Jasmin sedang memanggil. Nathan segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Jas." Nathan tetap duduk di samping Nadira. Tidakkah lelaki itu mengerti kalau ada yang sedang terbakar api cemburu. "Aku sedang di apartemen Nona Muda Alexander. Di sebelah apartemen milik Cacha."


Nadira langsung merebahkan tubuhnya dengan kasar. Dia mengumpati Nathan dalam hati. Tidak bisakah lelaki itu sedikit bersikap yang tidak melukai hatinya.


"Baiklah aku tunggu di sini." Nathan mematikan panggilan itu, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


"Kak, aku tidak suka ada sembarangan orang masuk ke apartemen pribadiku!" seru Nadira.

__ADS_1


"Jasmin itu bukan orang sembarangan. Lagi pula Jasmin ke sini untuk mengantar pakaian ganti karena setelah ini saya akan pergi ke Bogor," kata Nathan. Dia tersenyum tipis melihat istrinya yang sedang memasang raut wajah kesal.


"Pergilah, apa urusannya denganku!" Nadira melipat kedua tangan di dada.


"Saya lupa, Nona Muda. Memang semua yang bersangkutan dengan saya tidak penting bagi Anda. Kalau begitu saya tunggu Jasmin di depan saja. Saya sudah menyuruh Cacha menemani Anda di sini. Ayah bunda juga masih istirahat di apartemen Cacha." Nathan beranjak bangun dan pergi begitu saja meninggalkan Nadira yang hanya menatap nyalang punggung suaminya yang perlahan menjauh.


"Dasar jahat!" umpat Nadira kesal. Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Kesabarannya seperti akan habis menghadapi suami yang tidak bisa peka sama sekali.


"Saya masih bisa mendengar dengan jelas, Nona Muda!" Nadira membuka selimutnya saat mendengar suara Nathan dari arah pintu. Bukankah lelaki itu sudah pergi, tapi kenapa suaranya masih tertinggal di kamar ini?


"Kenapa Kak Nathan kembali?" tanya Nadira. Ia membalik tubuhnya dan langsung terdiam saat melihat seorang gadis cantik sedang berjalan mendekati tempat tidur bersama suaminya.


"Bagaimana keadaan Anda, Nona?" tanya Jasmin dengan senyum yang mengembang lebar.


"Jas, kamu temani Nona Muda Alexander. Aku mau mandi dan ganti baju terlebih dulu." Nathan meraih paper bag dari tangan Jasmin lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, Jasmin segera duduk di samping Nadira dengan seringai tipis di sudut bibirnya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Nadira berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu tegang.


"Kebetulan Kak Nathan mengajakku ke puncak dan kita akan menginap tiga hari di sana," sahut Jasmin. Dia sengaja menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan perlahan.


Nadira menatap gerak gerik Jasmin dan dia memusatkan pandangannya pada jari manis Jasmin. Ada sebuah cincin yang melingkar di sana. Nadira yakin kalau cincin itu adalah cincin pertunangan gadis itu dengan suaminya. Bukankah tadi siang Nathan mengatakan akan mencari cincin pernikahan.


"Nona Nadira, bisakah kamu menjauhi Nathan dan aku harap kamu benar-benar menjauh darinya," kata Jasmin dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Kenapa?" Suara Nadira mulai meninggi.


"Seharusnya kamu sudah tahu tanpa aku menjawabnya." Jasmin tersenyum meremehkan. Nadira pun hanya bisa menghela napas panjang.


Jasmin segera bangkit berdiri setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka. Nathan keluar dengan tubuh yang segar dan sudah memakai kaos polos.


"Nona Muda, kalau begitu saya pergi dulu dan kemungkinan tiga hari kita tidak akan berjumpa. Ayo, Jas." Nathan pergi begitu saja tanpa menunggu Nadira membuka suara.


"Semoga lekas sembuh, Nona." Jasmin tersenyum sinis, lalu melengang keluar dari kamar Nadira.


Kalian memang benar-benar jahat! Nadira menyeka airmata yang tanpa terasa sudah membasahi wajahnya.


__________________________________________


Untuk satu nama yang beruntung di bawah ini


Hayukk japri Othor bisa Via IG @tathabeo atau FB Rita Anggraeni(Tatha)


Yang belum dapat, semoga jum'at depan nama kalian yang keluar. Nama kalian yang terlihat pasti akan dapat giliran 😁 Insya Allah lain kesempatan bukan hanya satu orang ya.


Terima kasih untuk kalian yang sudah setia sama Othor, sama karya-karya Othor yang masih berantakan ini. Tanpa kalian Othor bukanlah apa-apa.


Salam sayang dari Othor Kalem.


__ADS_1


__ADS_2