Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
132


__ADS_3

"Beb!" panggil Nathan. Tangannya sedang mengupas bawang merah.


"Hmmm." Nadira tidak menyahut karena masih sibuk mengiris sosis dan bakso.


"Kamu marah?" tanya Nathan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tidak! Biasa aja!" sahut Nadira jutek.


"Terus kenapa kamu jutek gitu?" Nadira mendengkus kasar karena suaminya sangat cerewet.


"Aku 'kan lagi fokus ngiris ini, Mas." Nadira menghentikan tangannya yang sedang mengiris sosis saat mendengar isak tangis dari suaminya. Dia menoleh dan melihat Nathan yang sedang mengusap sudut matanya.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nadira heran.


"Aku sedih," sahut Nathan dengan merengek.


"Kenapa sedih? Perasaan tadi masih biasa saja." Nadira benar-benar merasa begitu heran.


"Aku sedih kenapa bawang merah ini sangat jahat padaku. Mungkinkah karena aku mengirisnya, dan ia membalsku dengan air mata, hiksss bunda."


"Astaga, lebay banget kamu, Mas," cebik Nadira kesal.


"Mending lebay daripada letoy, Beb." Nathan mendekati Nadira dengan membawa irisan bawang merah.


Setelah semua bahan sudah siap, Nadira segera menyalakan kompor dan menaruh wajan di atasnya. Tak lupa menaruh sedikit minyak. Saat dirasa minyak itu sudah panas, Nadira memecahkan dua butir telur lalu mengorak-arik sampai cukup matang.


Kemudian, dia memasukkan semua bahan tak lupa juga nasi sebagai bahan pokoknya. Nathan sedari tadi hanya diam menatap sang istri yang ternyata pandai memasak.


"Kamu luar biasa," puji Nathan. Dia memeluk Nadira dari belakang dan mencium tengkuk leher wanita itu hingga tanpa sadar Nadira mendes*h pelan.

__ADS_1


"Ah! Desah*n mu benar-benar membuatku kalang kabut, Beb." Nathan semakin mengeratkan pelukannya, dan meletakkan kepala di ceruk leher istrinya.


"Kalau kamu kaya gitu, yang ada nanti nasi goreng ini enggak bakal mateng," protes Nadira karena gerakannya sedikit terganggu.


"Maaf, Beb." Nathan melepas pelukannya lalu kembali berdiri di samping istrinya. Nadira mencicipi nasi goreng itu, setelah dirasa pas, dia segera mengambil piring dan mengisi dengan nasi goreng pucat karena tidak diberi kecap. Kemudian, dia meletakkannya di atas meja dapur.


Nadira beralih mengambil kecap dan menuangkan lima sendok ke dalam nasi goreng itu. Sementara Nathan justru mengambil teflon lalu membuat telur dadar untuk istrinya.


Bibir Nadira tersenyum lebar melihat suaminya yang begitu peka. Setelah semua matang, mereka berdua duduk bersama di meja dapur dan melahap nasi goreng tersebut diiringi obrolan ringan.


***


Dua manusia yang masih kekenyangan itu, kini sudah beralih rebahan di atas tempat tidur. Tangan Nathan tidak sedikit pun lepas dari tubuh Nadira. Harap maklum, pengantin baru biasanya masih lengket kaya lem altec*.


"Mas, aku beneran penasaran, deh. Sebenarnya siapa sih yang mau melamar Cacha. Kenapa Cacha merahasiakan padaku?" Nadira menatap suaminya penuh tanya.


"Entahlah. Aku pun sama. Aku harap sih dia bakal dapat lelaki yang terbaik." Nadira tidak menjawab dan hanya mengamini doa suaminya.


Tiba-tiba, bunyi getaran ponsel milik Nadira yang beradu dengan nakas, seketika mengalihkan perhatian Nathan. Nasi perlahan dia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungi istrinya selarut ini.


Rahang Nathan terlihat mengeras dengan gigi gemerutuk saat melihat nama Rendra tertera di layar. Bahkan Nathan meremas ponsel itu dengan sangat kuat.


"Berani sekali dia menghubungi istriku bahkan saat sudah semalam ini," gumam Nathan. Dia membiarkan ponsel itu tetap bergetar tanpa sedikit pun berniat untuk mengangkatnya.


Setelah panggilan itu terputus, Nathan segera membuka kontak dan memasukkan nama Rendra ke kotak spam dan memblokirnya. Dia tidak ingin Rendra dekat dengan Nadira karena dia khawatir lelaki itu akan merebut istrinya.


Nathan membuka galeri di ponsel Nadira, melihat satu persatu gambar yang tersimpan di sana. Nathan tersenyum saat melihat wajah Nadira yang terlihat begitu cantik.


Gerakan jari Nathan yang sedang menggulir foto itu satu persatu, tiba-tiba terhenti saat melihat sebuah kue ulang tahun dengan tulisan 'Happy Birthday Kamu' mengalihkan perhatian Nathan. Dia pun melihat rincian detail. Foto tersebut diambil satu tahun yang lalu dengan tanggal yang sama dengan tanggal ulang tahunnya.

__ADS_1


Nathan kembali menggulir foto itu, sekarang dia melihat Nadira yang sedang membawa kue ulang tahun tersebut dengan wajah tersenyum mengarah ke kamera. Rasa penasaran Nathan semakin terasa menggila.


Nathan pun segera memutar video di slide selanjutnya.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Terlihat Nadira sedang bernyanyi lagu ulang tahun dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.


Selamat ulang tahun, kak Nathan. Ciee ... udah dua puluh tujuh tahun aja nih. Pokoknya, semua doa buat Kak Nathan aku kasih yang baik-baik. Aku kok kangen kamu ya, Kak.


Hati Nathan terasa berdesir saat mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari Nadira. Walaupun bibir gadis itu tersenyum, tapi Nathan bisa melihat raut kesedihan di wajah Nadira dengan sorot mata yang tampak begitu sendu.


Bagaimana kabar kamu, Kak? Pasti baik 'kan? Aku minta maaf atas semua kesalahan aku ya, Kak. Aku udah sangat nyakitin kamu, buat kamu kecewa. Sebenarnya aku pengen banget kirim video ini ke kamu. Karena aku enggak bisa ngucapin langsung, tapi aku enggak punya keberanian deh, Kak.


Nathan masih mengamati lekat video itu. Dia melihat Nadira yang sedang menyalakan lilin. Kemudian, mengarahkan kue itu di depan kamera.


Sebelum tiup lilin, jangan lupa make a wish dulu, Kak. Aku pun punya sedikit harapan, semoga kelak kita akan bertemu kembali dalam hubungan yang lebih bak pastinya.


Nadira terlihat meniup lilin itu, dan setelah lilin padam, air mata Nadira terlihat keluar, tapi beberapa detik berikutnya, video itu selesai.


Tanpa terasa, air mata Nathan mengalir dari kedua sudut matanya. Hatinya terasa seperti diremas kuat, apalagi saat melihat Nadira yang menangis di detik terakhir, membuat hati Nathan semakin merasa tak karuan.


Pandangan Nathan beralih menatap Nadira yang masih tertidur lelap. Dia pun membenamkan ciuman di kening Nadira dengan sangat lama, menyalurkan segala rasa sayang yang dia miliki untuk wanita yang dia cintai sejak kecil yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya.


"Aku sangat mencintaimu, Nad." Nathan membenamkan banyak ciuman di seluruh wajah istrinya. Bibirnya tersenyum saat merasakan pergerakan pelan dari istrinya. Namun, Nadira terlihat sangat gelisah.


"Daddy ... mommy ... Nadira kangen."

__ADS_1


Dengan cepat Nathan memeluk tubuh Nadira dengan erat sembari mengusap punggung belakang wanita itu untuk memberikan ketenangan. Walaupun tidak setiap malam, tapi Nadira sering sekali mengigau seperti itu.


"Ada aku di sini, Nad. Aku berjanji akan selalu membahagiakan dan menjagamu seperti apa yang Tuan Davin minta."


__ADS_2