Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
303


__ADS_3

Hari perkiraan lahir kehamilan Ara masih dua Minggu. Wanita itu saat ini sudah tinggal di mansion Alexander, karena Febian tidak ingin istrinya sendiri. Setidaknya di mansion Alexander banyak yang menemani istrinya. Semua keluarga pun berkumpul di mansion bahkan mansion tersebut hampir seperti taman kanak-kanak.


"Ra, apa kamu sudah merasakan kontraksi?" tanya Nadira. Dia mengusap perut Ara yang sudah sangat membuncit dan seperti akan jatuh.


"Sudah, tapi cuma sebentar." Ara menegakkan tubuhnya yang terasa pegal. Sejak usia kehamilan memasuki trisemester ketiga, Ara lebih mudah lelah dan merasa pegal di pinggang belakang.


"Semoga persalinannya lancar. Kapan Bi mulai cuti?" Kali ini, Cacha yang bertanya.


"Besok, Kak. Nanti malam Mas Bi pulang ke sini," sahut Ara.


"Semoga sampai sini dengan selamat." Ara pun hanya mengamini perkataan kakak iparnya.


***


Sepuluh hari kemudian


Ara terjaga di tengah malam saat merasakan perutnya yang semakin sering kontraksi. Di saat sedang kontraksi, Ara akan mencengkeram selimut dengan kuat. Semakin lama, kontraksi itu semakin terasa dan dalam jeda waktu yang sebentar.


Merasakan pergerakan istrinya, Febian pun terkejut saat melihat Ara sedang menggigit bibir bawah untuk menahan rasa sakit. Keringat dingin mulai membasahi seluruh wajah Ara.


"Sayang, apa kamu merasa sakit?" tanya Febian. Ara tidak menjawab, dia justru kembali meringis dan merem*s selimut dengan kuat.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Febian segera turun dari tempat tidur dan membopong Ara keluar kamar dengan langkah cepat. Febian berteriak untuk memanggil yang lain, mereka pun keluar dengan wajah yang masih tampak mengantuk.


Selama dalam perjalanan, Febian berkali-kali memarahi kakaknya karena merasa laju mobil begitu lambat, padahal Alvino sudah mengebut. Wajah Ara sudah tampak sedikit pucat, bahkan wanita itu sangat sering mengembuskan napas kasar untuk mengurangi rasa sakit yang begitu mendera.


Setibanya di rumah sakit, Ara langsung ditidurkan di brankar dan didorong ke ruang bersalin. Queen bergerak cepat karena sudah pembukaan lengkap. Febian yang ikut menunggu di dalam begitu tak kuasa saat melihat wajah istrinya yang terus saja merintih.


"Kak, rasanya sakit sekali." Ara berbicara dengan terbata. Napas wanita itu pun mulai tersengal.


"Sayang, kamu harus berjanji akan baik-baik saja." Febian menggenggam erat tangan Ara untuk memberikan kekuatan. Ara tidak menjawab karena rasa sakit itu sudah begitu terasa tak karuan. "Kamu pasti bisa, Sayang."


"Kamu yakin masih mampu?" tanya Queen khawatir, Ara pun mengangguk lemah. "Baiklah, mengejanlah saat kamu sudah merasakan bayimu akan keluar." Queen memberi instruksi.


Ara pun mengejan dengan mengerahkan tenaga yang masih tersisa. Dia tidak peduli meski tubuhnya sudah begitu lemas dan rasanya tidak kuat lagi. Dia ingat, Febian sangat menginginkan darah dagingnya lahir dengan selamat ke dunia.


Ketika suara tangisan bayi terdengar menggema di ruangan, mata Ara justru terpejam begitu saja. Queen menjadi begitu panik, sedangkan Febian tidak kuasa menahan air mata.

__ADS_1


"Sayang, bangun, Sayang!" Febian menggoyangkan tubuh Ara yang tidak terusik sama sekali.


"Kamu keluar dulu, Bi," suruh Queen.


"Kak—" Febian menatap Queen dengan sangat memelas.


"Febian! Kakak bilang kamu keluar sekarang!" bentak Queen saking paniknya. Bahkan suaranya beradu dengan suara tangis bayi yang saat ini sedang diurus perawat. Febian hanya bisa pasrah dan berjalan keluar.


"Bagiamana, Bi?" tanya Alvino tidak sabar. Dia merasa begitu heran saat melihat pintu ruangan tertutup rapat dan adiknya sedang menangis saat ini.


"Kak ...." Lidah Febian mendadak begitu kelu. Hanya air mata yang masih mengalir deras membasahi wajahnya. Tanpa bicara, Alvino segera memeluk tubuh Febian erat, dan di saat itulah tangisan Febian makin terdengar keras.


"Aku takut, Kak." Suara Febian terdengar bergetar. Pelukan Alvino pun semakin terasa erat.


"Percayalah, Ara pasti akan baik-baik saja. Dia gadis yang kuat." Alvino berusaha menenangkan.


"Kenapa kamu menangis, Bi?" Nadira menatap kedua saudaranya yang sedang berpelukan erat.


"Entahlah, Nad. Setelah bayi kita lahir, Ara tidak sadarkan diri sama sekali, dan aku sangat takut."


"Kak Queen sedang memeriksa."


Nadira melepas pelukan suaminya dan dia ikut berpelukan bersama kedua saudaranya untuk saling memberi ketenangan. Selama pintu ruangan masih tertutup rapat, mereka masih harap-harap cemas dan segala doa mereka panjatkan untuk keselamatan Ara.


Hampir satu jam berlalu, pintu ruangan akhirnya terbuka. Mereka langsung berjalan mendekati Queen yang baru saja keluar dengan wajah yang tampak pucat. Di saat mereka memberondong dengan pertanyaan, Queen justru mendudukkan tubuhnya yang lemas di kursi tunggu. Dia bahkan menghela napas dengan cepat.


Febian berjongkok di depan Queen dengan tangan menggenggam erat sepupunya itu. Tatapan Febian begitu memelas, membuat Queen menjadi tidak tega apalagi melihat mata Febian yang terlihat begitu sembab.


"Kak, katakan padaku kalau Ara baik-baik saja," pinta Febian memelas.


"Bi ...." Queen terdiam dan menatap Febian dengan lekat.


"Kak, aku mohon." Febian kembali terisak, mereka yang melihat pun tak kuasa menahan air matanya.


"Selamat Bi, akhirnya kamu sudah menjadi ayah dari putrimu yang sangat cantik." Queen berusaha menunjukkan senyumnya.


"Kak, bagaimana keadaan Ara?" Seolah tidak peduli, Febian justru masih saja menanyakan keadaan istrinya karena perasaan Febian tidak menentu saat ini.

__ADS_1


"Istrimu adalah wanita terhebat. Dia sangat luar biasa. Dia sempat kritis dan berhasil melewatinya," ucap Queen. Febian terdiam sesaat untuk mencerna ucapan kakak sepupunya.


"Jadi, dia sudah sadar, Kak?" tanya Febian memastikan. Queen mengangguk dengan cepat. Febian melepaskan genggaman tangannya begitu saja dan bergegas masuk ke dalam ruangan.


Febian berdiri membeku di samping brankar dan melihat istrinya yang sedang tersenyum ke arahnya meski wajahnya masih tampak pucat. Febian semakin mendekat dan mencium seluruh wajah Ara dengan penuh cinta.


"Sayang, kamu membuatku khawatir." Febian kembali mendaratkan sebuah ciuman di bibir Ara.


"Aku baik-baik saja, Mas. Bukankah kita sudah berjanji akan membesarkan putri kita sama-sama?" Ara membalas tatapan mata Febian juga penuh cinta.


"Aku sampai melupakan putri kita." Febian berdiri tegak dan mengambil alih gendongan putrinya dari salah seorang perawat. Meski tampak kaku, tetapi Febian berusaha menggendong sehati-hati mungkin.


"Selamat buat kalian berdua. Jangan lupa kasih nama yang indah." Nadira yang sudah masuk dari tadi, akhirnya mencium kening Ara.


"Kamu luar biasa, Ra." Nadira menatap Ara dengan tatapan kagum.


"Terima kasih banyak, Kak."


"Nama bayimu siapa?" tanya Alvino setelah acara tangis-menangis itu telah selesai.


"Shanum Najua Az-Zahra."


"Wah, nama yang sangat cantik."


Kebahagiaan mereka pun kini terasa lengkap sudah.


💦💦💦


Ciee yang udah deg-degan takut si Ara mati.


Hayo loh,, masih nungguin bab selanjutnya?


jangan pada kangen kalau kisah ini udah tamat yaa


endingnya besok aja, sekarang Othor mau bobok cantik dulu.


Selamat malam dan selamat beristirahat Gaess.

__ADS_1


__ADS_2