
Nathan merasa bosan karena hampir sepuluh menit berlalu, istrinya sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Berkali-kali dirinya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Perasaan Nathan mendadak merasa tidak nyaman dan berfirasat ada yang tidak beres dengan istrinya.
Ia bangkit berdiri, lalu berjalan dengan langkah lebar menuju ke toilet. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ponsel Nathan terasa bergetar. Ia segera mengambil ponsel itu dan melihat nama salah seorang anak buahnya tertera di layar. Hati Nathan semakin merasa gelisah dan dengan gerakan cepat menekan icon hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Hallo, Zack!"
"Tuan ... Nona Muda diculik!"
"Apa!" Suara Nathan terdengar begitu memekik, hingga memicu perhatian sekitar. "Bagaimana bisa!"
"Maafkan saya, Tuan. Saat ini saya sedang berusaha mengejarnya."
"Aku tunggu kabar darimu, Zack. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan istriku! Kalau dia terluka meski sedikit, maka nyawamu yang jadi taruhannnya!"
Panggilan itu hening sesaat, karena Zack tidak langsung menyahut. "Baik, Tuan Muda. Saya akan berusaha."
Panggilan itu tiba-tiba terputus karena ponsel Nathan kehabisan daya. Lelaki itu menggeram kesal dan hampir melempar ponsenlnya, tapi dia mengurungkan niatnya karena mengingat ponsel tersebut sangat penting untuknya.
Dengan tergesa, Nathan berjalan menuju ke mobil dan melajukan mobilnya menuju ke Kediaman Saputra. Karena tujuannya saat ini adalah bertemu sang ayah. Raut wajah Nathan jelas sekali terlihat begitu khawatir. Mobil hitam miliknya melesat, melintasi jalanan yang tidak terlalu padat karena masih berada di jam kerja.
__ADS_1
Nathan memarkirkan mobilnya secara sembarangan di pelataran rumah. Kemudian, dia berjalan setengah berlari mencari keberadaan sang ayah. Hampir menyusuri semua tempat, tapi Nathan tidak melihat keberadaan sang ayah sama sekali. Nathan segera masuk ke kamar untuk mengisi daya ponselnya.
"Nat!" Suara Johan yang memanggil terdengar begitu menggelegar. Nathan pun segera berjalan keluar kamar dan melihat sang ayah yang tampak murka.
"A-ayah." Nathan menunduk saat kilatan amarah terpancar jelas dari sorot mata sang ayah.
"Di mana Nona Muda?" tanya Johan penuh penekanan. Nathan semakin menunduk. Jika menyangkut tentang keluarga Alexander, Johan selalu bisa mendapat kabar secara kilat bahkan tanpa hitungan jam.
"Ma-maafkan Nathan, Yah."
PRANG!
Sebuah vas bunga hancur berantakan setelah menyentuh lantai keramik tidak jauh dari tempat Nathan berdiri. Nathan tidak berani mendongak sedikit pun, karena saat ini dia yakin, tatapan sang ayah pasti seperti seekor singa lapar yang siap menerkam mangsa.
"Maafkan Nathan, Yah." Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Nathan yang terlihat gemetar.
Mendengar suara teriakan suaminya, Mila yang barusan berada di taman belakang, langsung bergegas masuk ke ruangan di mana kedua lelaki berharga nya berada.
"Ada apa, Mas?" tanya Mila. Dia terkejut melihat vas pecah di samping putranya.
__ADS_1
"Anakmu sangat ceroboh! Bagaimana bisa Nona Muda diculik padahal dia sedang bersamanya!"
"Apa! Nadira diculik?" Mila histeris. Berjalan mendekati Nathan dan menggoyangkan bahu putranya dengan kencang. "Apa benar Nadira diculik?"
Nathan sedikit mendongak dan menatap Mila yang terlihat begitu khawatir. "Maafkan Nathan, Bun."
Mila terisak keras. "Di mana kamu, Nad." Beberapa detik kemudian, tubuh Mila terkulai lemas. Wanita paruh baya itu tak sadarkan diri. Tubuhnya hampir saja jatuh ke lantai jika saja Nathan tidak segera menopangnya.
"Bunda! Bangun, Bun!" Nathan berusaha menyadarkan Mila, tetapi wanita itu tidak bergerak sedikit pun.
Johan berjalan mendekat, lalu membopong tubuh istrinya. "Pergilah, Nat! Cari Nona Muda sampai ketemu. Biar bunda menjadi urusan Ayah!" titah Johan.
"Tapi, Yah ...."
"Nat, Ayah tahu kamu sangat sayang sama bunda, tapi Nona Muda sekarang adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Ayah yakin bunda baik-baik saja dan dia hanya syok saja." Suara Johan mulai terdengar normal.
"Baik, Yah. Nathan cari Nadira dulu." Nathan bergegas pergi begitu saja, bahkan sampai melupakan ponselnya yang masih diisi daya. Sementara Johan, membopong tubuh Mila ke kamar lalu menidurkan di atas kasur.
"Bangunlah, Mil!" suruh Johan, tapi Mila tetap diam tak bergerak. "Kalau kamu tidak mau bangun maka aku akan menelanjangimu!"
__ADS_1
"Kalau ancamanmu kaya gitu, justru aku bakal terus merem, Mas. Aku senang ditelanjangi kamu," jawab Mila masih dengan mata terpejam. Johan mendesah kasar. Bibirnya tersenyum lebar melihat tingkah konyol istrinya itu.
"Kamu selalu saja menyebalkan, Mil!" Johan mencebik, tapi dia memajukan wajahnya dan mencium seluruh wajah Mila dengan gemas.