Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
263


__ADS_3

Hari pernikahan Leona.


Keluarga Alexander dan Johan sudah berkumpul di Bandung untuk menyaksikan prosesi ijab kabul antara Leona dan Bara. Febian sudah bersiap dengan setelan kemeja lengkap dan lelaki itu terlihat begitu tampan. Setelah selesai bersiap, mereka berangkat menuju ke sebuah hotel tempat acara itu digelar.


Ketika sampai di tempat acara mereka langsung disambut dengan hangat dan duduk berada dalam satu meja. Prosesi ijab kabul terlaksana dengan sangat lancar bahkan Bara sama sekali tidak terlihat gugup. Setelah membaca doa, pembawa acara menyuruh mempelai wanita itu masuk. Di saat itu pula Febian terdiam ketika melihat gadis cantik dengan balutan kebaya pengiring pengantin. Dia benar-benar terpukau dengan kecantikannya, bahkan ketika Alvino menepuk pundaknya berkali-kali, Febian sama sekali tidak merasakannya.


"Bi!" Alvino berteriak tepat di telinga Febian membuat lelaki itu terlonjak kaget.


"Kenapa suara Kak Al sama seperti toa!" cebik Febian kesal. Dia mengusap telinga yang berdengung.


"Salah siapa kamu melamun, mulutku sampai berbusa saat memanggilmu. Ada apa sih?" tanya Alvino penuh selidik.


"Tidak papa." Febian menjawab singkat dan menghindari pandangannya dari sang kakak.


"Kamu yakin?" Kali ini suara Alvino terdengar penuh penekanan, dan Febian hanya mengangguk cepat sebagai jawabannya.


"Bi, gadis cantik yang berada di samping Leona siapa?" Pertanyaan Nadira membuat Alvino tersadar dan semakin curiga kepada Febian.


"Namanya Kiara, panggilannya Ara. Dia sahabat Leona dan sekarang bekerja sebagai Office girl di kantorku," papar Febian sembari menatap Ara dengan sangat lekat. Nadira dan Alvino pun saling berpandangan. Sepertinya mereka tahu apa penyebab sang adik menjadi lebih pendiam seperti sekarang ini.


"Aku tidak tahu kalau kamu bisa menjelaskan seorang wanita sedetail itu, Bi." Nadira berbicara setengah meledek. Febian pun kembali terdiam karena merasa heran dengan dirinya sendiri.


"Apaan sih, Nad!" Febian menonyor kepala Nadira karena kesal dengan wanita itu yang saat ini sedang tergelak keras.


"Beb." Nathan menyenggol lengan Nadira dan membuat gelakan tawa wanita itu terhenti seketika. Nadira menatap suaminya yang memberi kode, dan saat dia mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk suaminya, raut terkejut memenuhi wajah Nadira.


"Jasmin," gumam Nadira, tetapi masih bisa didengar oleh yang lain. Mereka pun ikut mengarahkan pandangannya ke arah pintu masuk dan melihat Jasmin sedang berjalan bersama Erlando yang sedang menggendong seorang bocah perempuan kecil.


Febian mengepalkan tangan saat merasakan hatinya memanas. Dia tidak menyangka kalau akan bertemu kembali dengan wanita itu. Yang membuat hatinya semakin terasa seperti terbakar adalah kedatangannya bersama Erlando yang terlihat begitu serasi.


"Bi," panggil Alvino, menatap wajah adiknya yang sudah berubah drastis.


"Kalian sudah dari tadi?" sapa Erlando yang baru saja sampai di dekat mereka.


"Jasmin, bagaimana kabar kamu? Lama sekali kita tidak bertukar kabar." Nathan berusaha mencairkan suasana. Namun, Febian justru beranjak bangun dan pergi dari sana begitu saja.

__ADS_1


"Bi!" panggil Erlando setengah berteriak, tetapi Febian tidak peduli dan tetap berjalan meninggalkan ruangan itu. Erlando pun menurunkan Aruna dan berlari mengejar sepupunya.


"Bi! Berhenti!" teriak Erlando, tetapi Febian masih saja tidak peduli. "Kalau kamu tidak mau berhenti maka aku akan menembak kakimu!"


Langkah Febian terhenti seketika, dia berbalik dan menatap Erlando dengan sorot mata yang penuh kilatan amarah. Namun, Erlando tetap bersikap tenang.


"Untuk apa kamu mengejarku?" tanya Febian berusaha menahan amarah yang begitu mengguncang.


"Aku minta maaf sudah mengajak Jasmin." Erlando berusaha meredam emosi sepupunya.


"Aku tidak menyangka kalau kamu akan setega ini padaku, Er!" bentak Febian. Erlando menghela napas panjangnya.


"Bi, bukankah kamu masih mencintai Jasmin bahkan sampai saat ini?" tanya Erlando, tetapi Febian justru menarik salah satu sudut bibirnya.


"Jangan pernah sok tahu tentang perasaanku!" Suara Febian menggelegar di sana.


"Bi, kalau kamu tahu bagaimana menderitanya Jasmin, aku yakin kamu pasti ingin melindunginya." Erlando berbicara dengan berat. Febian terdiam karena jujur dia juga begitu penasaran dengan hidup Jasmin selama ini. Kenapa Damian tidak berada di samping wanita itu sekarang.


Melihat Febian yang membisu, Erlando pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatakan semua tentang Jasmin yang informasinya dia dapatkan dari anak buahnya yang paling handal.


"Amerika?" Febian mulai menurunkan suaranya. Dia merasakan sebuah rasa sakit saat mendengar itu.


"Ya, mereka tinggal di Amerika. Orang tua Damian menuntut keturunan, tapi Imelda, istri Damian tidak bisa hamil. Jadi, saat itu mereka menjebak Jasmin."


"Bagaimana bisa! Apakah Tuan Dharma tidak tahu kalau Damian sudah menikah?" Emosi Febian kembali naik ke ubun-ubun.


Erlando menggeleng cepat, "Tidak! Yang mereka tahu Damian adalah duda."


"Benar-benar sulit dipercaya!" Febian menggeleng berkali-kali.


"Katakan semuanya dengan detail. Aku masih tidak percaya," suruh Febian. Dia masih belum bisa mencerna semuanya dengan baik.


"Bi—"


"Er." Suara dari arah samping berhasil mengalihkan perhatian mereka. Erlando dan Febian sama-sama terkejut saat melihat Jasmin berdiri dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.

__ADS_1


"Jasmin." Erlando mendekati Jasmin, tetapi wanita itu menyuruhnya berhenti di tempat.


"Kenapa kamu bisa tahu semuanya? Apa kamu mencari tahu tentangku?" tanya Jasmin kecewa.


"Maafkan aku, Jas. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja, tetapi ternyata semua salah. Kamu tidak baik-baik saja seperti yang kamu katakan, Jas," ucap Erlando lembut. Hati Febian terasa mencelos saat melihat mereka berdua.


"Er, aku paling tidak suka dengan orang yang terlalu mencampuri kehidupan pribadiku, apalagi kisah pahit seperti itu. Aku tidak suka dikasihani!" Jasmin mengusap wajahnya kasar. Dia tidak peduli meski make up-nya luntur.


"Jas, bukankah kamu masih mencintai Bi? Dia juga masih mencintaimu. Aku ingin kalian kembali bersatu dan hidup bahagia." Suara Erlando terdengar sangat berat. Lelaki itu terlihat menahan air matanya.


"Tuan Bi, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mencari simpati kepada Anda. Anggap saja kalau yang Anda dengar hanyalah angin lalu." Jasmin menangkup kedua tangan di depan dada. Erlando terkejut saat melihat sikap Jasmin kepada sepupunya.


"Er, sudah cukup aku berada di sini. Katakan pada Leona aku sudah memenuhi janjiku untuk datang di pesta pernikahannya. Aku pamit." Jasmin berbalik dan hendak pergi, tetapi Erlando menahan tangannya.


"Ke mana pun kamu pergi aku akan ikut!" ucap Erlando tegas bahkan lelaki itu memeluk Jasmin tepat di depan Febian.


Febian dengan cepat memalingkan wajah, kedua matanya terlihat memerah. Hatinya seolah hancur lebur saat ini juga. Dia berbalik dan pergi meninggalkan mereka.


Ternyata kamu masih menyimpan perasaan kepada Jasmin. Itukah yang membuatmu tidak pernah mengenal cinta sampai sekarang? Kalau kamu masih mencintainya, kenapa kamu menuntutku harus kembali dengan Jasmin? Kenapa bukan kamu sendiri yang menjaga mereka. Bukankah kamu tahu kalau hatiku sudah hancur menjadi serpihan kecil karena wanita itu. Bahkan aku hampir saja gila!


Tamat!


Oe Thor! Gue Gibeng elu kalau sampai tamat saat ini juga 😂😂


Kalemm gaess, kisah ini masih akan terus berlanjut sampai kalian bosen.


Thor kenapa makin ke sini seperti drama ikan terbang?


oee, Othor pengen bikin kaya drama Korea, tapi enggak sanggup


ku menangisss 🤣🤣


Othor udah capek ngoceh, dah ah


Dukungan jangan lupa, hari Senin jangan lupa sodakohin Vote kalian buat mereka

__ADS_1


selamat pagi, selamat beraktivitas gaes


__ADS_2