Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
85


__ADS_3

Cacha kembali menyimpan ponselnya di tas setelah mematikan panggilan itu. Kemudian, dia menatap Mike yang masih terlihat fokus menyetir.


"Mike, bisakah kamu sedikit mempercepat laju mobilmu dan kita akan ke rumah Mas Rendra," perintah Cacha, tapi Mike hanya diam tidak menyahuti. "Mike!"


"Tidak, Nona! Bagi saya, keselamatan Anda adalah nomor satu, biarkan mereka menunggu," sahut Mike datar. Cacha pun menghela napasnya panjang.


"Terserah kamu, Mike. Ku harap kamu tidak akan mengatakan semuanya kepada ayah. Kalau sampai ayah tahu, berarti kamu dalangnya." Suara Cacha terdengar ketus.


"Tergantung, Nona. Kalau ada yang sekiranya membahayakan Anda, maka saya akan mengadu. Ingat, Nona! Saya bertanggung jawab penuh atas diri Anda dan saya tidak mau Tuan Johan memenggal kepala saya," timpal Mike. Masih tenang mengendarai mobilnya. Cacha tidak berbicara lagi, sekarang dia hanya pasrah. Terserah Mike akan mengadu atau tidak Cacha akan bersiap menerima semua konsekuensinya.


Namun, jauh di lubuk hati terdalam, Cacha merutuki dirinya karena sudah bersedia bahkan berjanji akan membantu Rendra. Dia takut, suatu saat akan terjebak pada keputusannya sendiri.


"Mike," panggil Cacha lirih. Mike tidak menjawab, dia hanya melirik Cacha dari kaca depan mobil. "Apa menurutmu keputusanku ini benar?" tanya Cacha lesu.


"Nona, setiap hal itu itu pasti ada resikonya. Kalau Anda tidak yakin untuk membantu Tuan Rendra, biar saya bicara dengan Tuan Rendra. Saya yakin, beliau pasti akan mengerti." Mike memberi penawaran, tapi Cacha justru menggeleng lemah.


"Aku akan menjalaninya dulu, Mike." Cacha tetap bersikukuh. Mike menghembuskan napas kasar saat menghadapi Cacha yang begitu keras kepala.


Saya akan berusaha menjaga Anda, Nona Muda. Walaupun saya harus mengorbankan nyawa sekalipun.


***

__ADS_1


Nathan baru saja selesai membersihkan diri sekalian bersolo karir. Hatinya merasa benar-benar kesal karena harus bermain sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Dia mencoba bersikap biasa saja, meski dalam hati dia selalu terbayang tubuh sexy Nadira yang tidak memakai sehelai benang pun.


"Ah, Sial! Jangan bangun lagi! Tanganku bisa-bisa kram!" umpat Nathan kesal. Dia memukul adik kecilnya yang hendak bangkit lagi karena pikiran liar tentang ah ... pokoknya anu.


Nathan berjalan mendekati Nadira yang sudah duduk di sofa dengan berbagai makanan tersaji di atas meja yang terletak di depannya. Sebelum duduk di samping istrinya, Nathan tak lupa mengecup pipi Nadira hingga menampilkan semburat merah di sana. Sungguh menggemaskan di mata Nathan.


"Makanlah. Apa kamu mau aku suapi?" Nathan mengerlingkan satu matanya menggoda Nadira.


"Kak Nathan selalu saja menyebalkan!" Nadira mendecakkan lidahnya.


"Walau menyebalkan, tapi kamu cinta 'kan?" tanya Nathan kembali menggoda.


"Tidak!" kata Nadira tegas. Dia memalingkan wajahnya, tapi Nathan justru dengan gerakan cepat memajukan wajahnya dengan wajah Nadira. Jarak mereka tidak lebih dari lima centi, bahkan hidung mereka saling bersentuhan.


"Coba katakan kalau kamu tidak mencintaiku ... Sayang." Nathan memberi penekanan pada kata 'sayang'. Nadira hendak memalingkan wajahnya lagi, tapi Nathan langsung menahan dengan kedua tangannya. "Jangan menghindar!"


Nadira menghirup napas dalam-dalam sembari memejamkan matanya. "Kak Nathan itu ngeselin! Nyebelin! Genit! Buaya Buntung! Pokoknya selalu bikin aku kesel!" seru Nadira tanpa membuka matanya. "Tapi aku sayang kamu, Kak," imbuhnya lirih.


Tanpa banyak bicara, Nathan langsung melum*at bibir Nadira dengan penuh cinta. "Aku juga sayang kamu. Bahkan sangat sayang kamu," balas Nathan setelah melepas ciumannya.


Nadira dan Nathan saling bertatapan, saling terpaku dalam tatapan yang benar-benar menghanyutkan. Sebuah tatapan penuh cinta. Dengan gerakan perlahan, ibu jari Nathan mengusap pipi Nadira yang masih saja terlihat merona merah.

__ADS_1


"Kamu tahu, Nad. Aku sekarang sangat bahagia. Bahkan sangat ... sangat bahagia. Aku sudah bermimpi mencintai dan memilikimu sejak dulu. Berharap bisa menatap wajahmu setiap aku terbangun dari tidur dan saat hendak tertidur. Aku selalu berharap kamu ada di sampingku setiap waktu dan kini ...." Nathan menjeda ucapannya untuk mengambil napas. "Aku bahagia karena keinginan dan mimpiku sudah terwujud."


Nathan menarik kedua sudut bibirnya, menampilkan senyuman termanis yang dia punya hingga ketampanannya semakin terpancar. Jujur, Nadira benar-benar terpesona dengan suaminya.


"Tidak ada kebahagiaan yang terasa begitu sempurna selain bisa memilikimu. Bersatu denganmu dalam satu ikatan suci. Aku mencintaimu, Nad."


Mata Nadira terlihat berkaca-kaca, mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Nathan, membuatnya begitu terharu. Dia tidak menyangka kalau Nathan begitu mencintainya.


"Aku juga mencintai Kak Nathan." Senyum Nathan semakin terlihat mengembang. Dia memajukan wajahnya, hendak mencium bibir istrinya yang begitu menggoda. Namun, belum juga bibir mereka kembali menyatu, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Awalnya Nathan tidak peduli dan tetap akan mencium bibir istrinya, tapi ketukan pintu terdengar semakin mengeras.


"Nat! Buka pintunya!" Nathan menghembuskan napas kasar dan mengumpati si pengganggu momen romantisnya saat ini. Nadira hanya berusaha menahan tawanya melihat wajah suaminya yang terlihat begitu kesal.


Note :


Sepertinya aku harus ganti Othor. Jangan yang Kalem lagi. Percuma Kalem kalau suka banget masukin pengganggu. Apa kamu tidak tahu kalau aku sangat tersiksa wahai Othor Jahil!


Othornya ketawa jahat gaess πŸ˜…πŸ˜…


Selamat siang, Gaes.

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan πŸ˜‚


__ADS_2