
Setelah mendengar ucapan Zack, Alvino bergegas bangun, disusul Nathan yang juga secara refleks ikut bangkit. Untuk sejenak, Alvino terdiam berusaha mencerna semuanya.
"Kemungkinan benar yang diucapkan Zack, kalau Nadira saat ini sedang hamil. Dulu waktu Rania hamil juga dia selalu minta aneh-aneh," ucap Alvino.
Nathan berjalan mendekati Alvino dan menggoyangkan bahu lelaki itu sembari melayangkan tatapan tidak percaya.
"Kamu yakin kalau Nadira lagi hamil?" tanya Nathan belum percaya.
"Bisa jadi. Kamu bisa cek dulu. Semoga saja Nadira benar-benar hamil." Alvino berbicara dengan sangat berharap kalau adiknya memang sedang mengandung saat ini.
"Kalau begitu aku akan pulang." Nathan hendak beranjak pergi, tetapi Alvino langsung menahannya.
"Mau ke mana?" tanya Alvino.
"Pulanglah, aku mau mengajak istriku ke dokter kandungan untuk memastikan," sahut Nathan. Dia menyingkirkan tangan Alvino yang menahan langkahnya.
"Tidak bisa! Ingat, sepuluh menit lagi kita ada rapat bersama," ucap Alvino tegas. Nathan menampilkan wajah yang begitu memelas.
"Al ...."
"Jangan bodoh! Kamu telepon Kak Queen aja. Dia sekarang sedang libur, kalau kurang yakin, kamu bisa meminta bunda untuk mengantar Nadira ke rumah sakit," kata Alvino. Nathan mengembuskan napas secara kasar.
"Tapi, Al. Aku ingin lihat calon bayiku sendiri." Nathan berusaha merayu, tetapi lelaki itu langsung lemas saat melihat tatapan Alvino yang seolah melarangnya.
"Ayo kita ke ruang rapat, jangan sampai yang lain menunggu kita. Ingat, Nat. Kamu pemilik perusahaan ini, jangan sampai kamu terlambat di perusahaanmu sendiri." Alvino berjalan menuju ke ruang rapat Saputra Group, meninggalkan Nathan yang masih tampak lesu, sedangkan Zack hanya terdiam saat melihatnya.
Aku hanya tidak mau kamu kecewa kalau ternyata Nadira belum hamil, Nat.
***
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tetapi Nadira masih bergelung di bawah selimut. Rasanya dia begitu enggan untuk beranjak dari tempat tidur yang rasanya sangat nyaman baginya sekarang. Bahkan, dia menyuruh Arum untuk mengantar sarapan ke kamar.
Pintu kamar terbuka, Arum masuk dengan membawa nampan di tangan. Wanita itu berjalan mendekati Nadira yang masih rebahan cantik.
"Anda sakit, Nona?" tanya Arum khawatir.
"Tidak, Mbak. Aku cuma lagi males bangun aja," sahut Nadira. Dia beranjak duduk saat melihat Arum sudah berdiri tepat di samping tempat tidur. "Sarapan apa, Mbak?" Tatapan Nadira mengarah pada isi nampan.
"Sayur sop, ayam goreng sama sambal, Nona," sahut Arum sopan.
"Aku tidak mau sarapan itu, Mbak. Bawa turun lagi aja." Nadira rasanya begitu malas mendengar menu sarapan tersebut.
"Lalu Anda ingin sarapan dengan apa, Nona?" tanya Arum bingung.
Nadira terdiam sembari mengetuk pelipisnya, seolah sedang berpikir keras. "Emm ... aku mau makan sama tempe goreng aja, Mbak. Yang diasinin itu. Sama sambel rawit mentah aja."
Nadira tidak menjawab, hanya mengangguk cepat sembari mengusap bibirnya seolah ada air liur yang menetes di sana.
"Kalau begitu saya akan buatkan untuk Anda, Nona. Tunggu sebentar." Arum kembali membawa nampan itu, berjalan keluar kamar untuk segera menyiapkan pesanan majikannya.
Namun, baru saja memegang knop pintu, langkah Arum terhenti saat Nadira memanggilnya. Wanita itu membalikkan badan, menunggu perintah selanjutnya dari sang atasan.
"Mbak, jangan pakai lama ya! Aku udah laper banget," kata Nadira. Arum mengangguk mengiyakan lalu keluar kamar setelah memastikan majikannya tidak lagi memberi perintah.
Baru saja pintu kamar tertutup rapat, beberapa menit kemudian pintu tersebut kembali terbuka. Nadira pikir, Arum kembali dengan sangat cepat, tetapi ternyata yang datang adalah Mila dan Queen.
"Kamu belum bangun, Nat?" tanya Queen dengan kening mengerut.
"Udah, Kak. Lihatlah, mataku udah melek lebar gini," sahut Nadira. Queen duduk di samping Nadira, sedangkan Mila mencium kening anak menantunya tersebut.
__ADS_1
"Bunda tumben sekali datang ke sini?" tanya Nadira. Menatap ibu mertua yang tampak begitu semringah.
"Bunda kangen. Kamu tidak sakit 'kan?" tanya Mila lembut. Dia menangkup kedua pipi Nadira dengan penuh sayang.
"Tidak, Bun. Nadira cuma lagi males turun aja." Nadira tersenyum simpul.
"Berbaringlah, Nad. Biar aku memeriksamu," suruh Queen. Nadira menatap kakak sepupunya dengan alis saling bertautan.
"Kenapa? Aku tuh enggak sakit, Kak. Aku cuma lagi males aja." Nadira menolak, tetapi Queen terus saja memaksa. Akhirnya, Nadira melorotkan tubuhnya sehingga kini berada dalam posisi tiduran.
Queen memeriksa denyut nadi Nadira, lalu mengusap perut wanita itu untuk memastikan. Bibir Queen tersenyum simpul setelah selesai melakukan kegiatannya.
"Kenapa sih, Kak?" tanya Nadira heran.
"Kamu merasa mual atau muntah? Atau pusing?" tanya Queen. Nadira menggeleng dengan cepat.
"Aku ini cuma malas bangun, Kak. Bukan sakit." Nadira mulai terlihat kesal.
"Kamu sudah datang bulan?" Queen kembali bertanya, Nadira pun menggeleng dengan cepat. Bibir Queen dan Mila terlihat tersenyum lebar. Nadira yang melihat pun menjadi heran.
"Selamat, Bun. Bunda bakal punya cucu lagi," ucap Queen dengan binar bahagia.
"Syukurlah. Bunda bahagia akhirnya kalian berdua hamil dan bisa memberi cucu pada bunda." Mila mengangkat tangan tanda syukur.
"Tunggu dulu. Ini maksudnya apa?" tanya Nadira heran.
Mila kembali menangkup wajah anak menantunya dengan lembut. "Sayang, kamu hamil."
"Hamil?"
__ADS_1