
Pengantin yang masih dibilang baru itu baru saja selesai memraktekan gaya kodok terbang sesuai ajaran sang bunda. Setelah si Othong tertidur lemas karena kelelahan dan muntah beberapa kali. Kini, dua manusia itu sedang tidur saling berpelukan.
Nathan merasa begitu puas karena selama lima hari bulan madu, tidak ada yang menganggunya. Hanya sang bunda yang meneleponnya untuk memberi arahan gaya apa saja yang bisa dicoba.
"Mas, kapan kita pulang?" tanya Nadira sedikit merengek.
"Dua hari lagi. Kenapa? Kamu udah bosan di sini?" tanya Nathan. Bibir lelaki itu tersenyum simpul.
"Tidak, aku kangen rumah. Sebentar lagi Rania juga bakal lahiran. Aku pengen nungguin dia." Wajah Nadira tampak begitu lesu, membuat Nathan semakin memeluk erat tubuh istrinya.
"Sabar ya, nanti dua hari lagi kita pulang, kok." Dengan gerakan lembut, Nathan mengusap punggung Nadira. Tiba-tiba ponsel Nadira yang tergeletak di sampingnya terdengar berdering memecah keheningan kamar.
Nadira mengambil ponsel itu dan melihat nama Cacha tertera di layar. Jari lentik Nadira segera menggulir tombol hijau dan beberapa detik kemudian, wajah terkejut Cacha memenuhi layar ponsel Nadira.
"Nad! Kamu yang benar saja!" protes Cacha tanpa basa-basi.
"Aku kenapa, Cha?" tanya Nadira santai, dia belum menyadari keadaannya saat ini, sedangkan Nathan hanya rebahan santai dengan kepala berada di ceruk leher istrinya.
"Lihat ponselmu!" suruh Cacha.
"Astaga!" Nadira menarik selimut sampai menutupi lehernya saat melihat tampilan dirinya di layar ponsel. "Maaf Cha, aku lupa." Nadira cengengesan, sedangkan Cacha terlihat mendengkus kasar.
"Ngapain kamu telepon, Cha? Ganggu manten baru lagi bikin anak aja," cebik Nathan kesal.
"Cih! Manten baru apaan!" decih Cacha. Tiba-tiba layar ponsel Cacha terlihat bergerak dan wajah Cacha berganti dengan wajah Mila yang sedang tersenyum lebar.
"Hallo anak bujang," sapa Mila.
"Loh, kok ada Bunda?" tanya Nathan heran. Nadira pun tampak terkejut dan terlihat malu-malu saat Mila menatap ke arahnya dengan senyum lebar.
"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Mila santai.
__ADS_1
"Sukses dong, Bun. Nathan yakin sebentar lagi kecebong kualitas superku bakalan berkembang jadi janin." Nathan menepuk dada telanjangnya dengan bangga.
"Kenapa dadamu polos tanpa stempel, Nat?" Kening Mila terlihat mengerut seolah sedang berpikir keras.
"Nadira belum bisa bikin stempel, Bun."
"Mas!" Nadira memukul dada bidang suaminya, bahkan pipinya merona karena malu.
"Apa, Sayang?" tanya Nathan dengan lembut. Tak lupa sebuah kecupan mendarat di pipi Nadira.
"Sini ah, Bun!" Layar ponsel itu kembali menampilkan wajah Cacha, sedangkan Mila terlihat mengintip di samping.
"Nad, besok aku akan pulang ke Jakarta. Mungkin beberapa hari akan tinggal di sana." Suara Cacha terdengar begitu lesu.
"Tumben, Cha. Eh tunggu dulu ...." Nadira terdiam sesaat. Matanya mengamati lekat tampilan layar ponselnya. "Apa kamu sedang di rumah sakit?"
Mendengar pertanyaan istrinya, kedua mata Nathan yang hendak terpejam pun langsung terbuka lebar. Dia juga menatap layar ponsel dengan lekat, mengamati tampilan layar itu.
"Kamu benar sedang di rumah sakit, Cha?" tanya Nathan menuntut jawaban saat melihat Cacha tertidur di sebuah brankar.
"Bagaimana bisa?" tanya Nathan dan Nadira bersamaan.
"Aku ceritain besok saja kalau kalian sudah di rumah. Ceritanya panjang."
Nadira menatap lekat wajah Cacha yang tampak sendu. Dia yakin kalau gadis itu sedang ada masalah yang sangat mengganggu pikirannya.
"Baiklah, Cha. Dua hari lagi aku akan pulang. Aku siap mendengar ceritamu. Cepatlah sembuh." Nadira bicara dengan sangat lembut.
"Terima kasih, Nad. Kalau begitu aku matikan dulu, selamat menikmati waktu ajep-ajep kalian." Cacha berseloroh.
"Jangan dimatikan dulu!" Mila menahan jari Cacha yang hendak mematikan panggilan itu. "Nathan!"
__ADS_1
"Apa, Bun? Mau ngajarin Nathan gaya baru?" tanya Nathan asal.
"Tahu aja nih anak bujang, eh udah bukan bujang. Kamu udah praktekan semua gaya yang bunda ajarin?" tanya Mila antusias.
"Sudahlah, Bun." Nathan menjawab dengan santai.
"Apa semua enak? Kamu paling suka gaya apa?" tanya Mila. Nadira dan Cacha sama-sama menghela napas panjang.
"Tentu saja gaya Anjing Kawin tetap nomor satu, Bun." Nathan bicara tanpa malu.
"Kalau begitu bunda ajarin lagi. Kalau ini hampir sama kaya Anjing Kawin tapi posisikan kakimu lebih ke bawah, bukan nungging."
"Baiklah, Nathan akan mencobanya. Namanya gaya apa, Bun?" tanya Nathan.
"Entok kawin."
"Bunda!"
"Bunda!"
Pekik Nadira dan Cacha bersamaan. Namun, Mila masih saja bersikap tenang seolah tak berdosa.
"Selamat mencoba, Sayang."
Panggilan itu pun terputus begitu saja. Nathan menaruh ponsel Nadira sembarang, lalu dia tersenyum menyeringai ke arah istrinya.
"Mas, aku lelah." Nadira begitu lesu.
"Biar aku yang bermain, Sayang. Kamu cukup tengkurap saja," sahut Nathan santai.
"Enggak mau! Apa kamu mau membunuhku!" Suara Nadira terdengar begitu meninggi.
__ADS_1
"Baiklah, kita coba beberapa saat lagi." Nathan pun semakin memeluk erat tubuh Nadira dan mendaratkan banyak ciuman di wajah wanita itu. "Tidurlah."
Nadira pun memejamkan mata dan beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus dari wanita itu. "Kamu pasti lelah. Aku mencintaimu, Nad."