Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
57


__ADS_3

Rendra segera bangkit berdiri saat melihat Nathan hampir mendekati tempat tidur. Melihat Nathan, raut wajah Nadira justru terlihat begitu datar. Tidak ada sedikit pun senyum di wajah cantiknya. Rendra pamit keluar karena dia ingin memberi ruang pada kedua orang itu untuk saling bicara.


Nathan menatap Nadira dengan sangat lekat, dia mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. Nadira diam saja, seandainya dirinya tidak terluka, sudah pasti dia akan menghindari lelaki yang sudah sangat menyakitinya.


Nadira masih terdiam, meski Nathan tersenyum ke arahnya. Hatinya sudah terlalu sakit, jika mengingat luka yang Nathan torehkan. Tanpa banyak bicara, Nathan mencium kening Nadira dengan sangat lembut. Menyalurkan segala rasa cinta dan sayang yang dia punya untuk gadis itu. Nadira hanya memejamkan mata, menikmati ciuman kasih sayang yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang.


"Aku mencintaimu, Nad." Bersamaan Nathan mengatakan itu, airmata Nadira mengalir dari kedua sudut matanya. "Maafkan aku, Nad." Suara Nathan terdengar parau.


Nadira masih belum membuka suaranya, tapi airmatanya masih saja mengalir membasahi wajah cantiknya. "Maafkan aku sudah terlalu menyakitimu, tapi percayalah, semua aku lakukan demi melindungimu."


Nadira masih saja terdiam, dia tidak menatap Nathan sama sekali. Nathan mengusap airmata di wajah istrinya dengan sangat lembut.


"Nad ...."


"Pergilah, Kak. Jangan mendekatiku lagi." Nathan terdiam. Nadira menyingkirkan tangan Nathan dari wajahnya. "Aku sudah memaafkanmu, tapi aku butuh waktu sendiri, Kak. Jangan pernah mendekatiku lagi."


Hati Nathan terasa berdesir saat mendengar perkataan Nadira. "Nad." Nathan menatap Nadira dengan penuh memohon.


"Kak, aku juga mencintaimu, tapi aku baru sadar kalau rasa cinta ini justru melukaiku. Kita berdua dari dulu tidak pernah bisa bersatu, Kak. Mungkin jalan terbaik untuk bahagia adalah kita jalan dengan kehidupan kita masing-masing."

__ADS_1


"Tapi, Nad ...."


"Terima kasih sudah mencintaiku, mengorbankan segalanya untukku. Tapi maaf Kak ... hatiku sudah terlalu sakit, meski aku tahu kamu hanya ingin melindungiku." Nadira kembali mengusap airmatanya. Nathan tidak mampu lagi berkata-kata, hanya airmata yang mewakili perasaannya saat ini.


"Aku mohon pergilah dari kehidupanku, Kak. Aku butuh waktu sendiri untuk menyembuhkan luka yang kamu torehkan kemarin. Kalau memang kita berjodoh, kita pasti akan kembali bersatu, tapi kalau kamu bukan jodohku. Setidaknya aku tidak terlalu sakit saat melepas perasaanku." Isakan Nadira mulai terdengar mengeras.


"Tidak bisakah kamu memaafkanku?" tanya Nathan dengan memelas.


"Aku sudah memaafkanmu, Kak. Tapi aku masih butuh waktu untuk sendiri. Aku mohon ... mengertilah."


Nathan menghela napas panjang, dia tidak bisa lagi meminta saat ini. Dia berusaha menuruti apa yang Nadira inginkan demi gadis itu. Nathan beranjak bangun, Nadira berpura-pura tidak melihat lelaki itu.


Setelah puas, Nathan segera keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Nadira meremas selimutnya saat merasakan rasa sakit yang seperti menghantam hatinya. Dia menatap nanar punggung Nathan yang perlahan menjauh darinya.


Ternyata cintamu hanya sedangkal itu, dengan mudah kamu menyanggupi tanpa meminta aku untuk tetap tinggal atau kamu tetap di sisiku meski aku menolak kehadiranmu. Bahkan kamu langsung pergi begitu saja.


***


Satu hari sudah berlalu, Nadira begitu kecewa karena Nathan benar-benar tidak lagi datang meski hanya sekedar menjenguknya. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat. Nadira tidak pernah tahu kalau Nathan akan datang saat dirinya tertidur lelap.

__ADS_1


"Nad," panggil Alvino saat dia sedang menunggu adiknya. "Tidak bisakah kamu memaafkan Nathan?"


Alvino naik ke atas brankar dan tidur di samping adiknya. Dia memeluk adiknya dengan sangat erat. Alvino sadar, setelah kepergian kedua orang tuanya, kini tanggung jawab kebahagiaan adik-adiknya berada di tangannya.


"Nadira tidak mau terluka lagi, Kak." Suara Nadira terdengar parau karena menangis.


"Kalau begitu kamu ingin bercerai dari Nathan? Biar Kakak yang mengurusi semuanya," tawar Alvino, tetapi Nadira justru terdiam. Alvino tahu, Nadira pasti sangat bimbang saat ini.


"Kalau memang kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, Kakak akan bantu kamu mengurusi perceraianmu. Setelah daddy dan mommy pergi, kebahagiaanmu dan Bi menjadi tanggung jawab Kakak, Nad. Kakak tidak mau daddy dan mommy kecewa karena hidup kalian tidak bahagia." Baik Alvino maupun Nadira sama-sama menangis saat teringat bayangan kedua orang tuanya yang belum lama meninggalkan mereka.


Luka hati karena kehilangan mereka bahkan masih menganga lebar sampai sekarang. Bahkan kenangan-kenangan yang ditinggalkan masih teringat jelas dalam ingatan.


"Kak, aku butuh waktu," ucap Nadira di sela isak tangisnya.


"Baiklah, Kakak beri kamu waktu satu bulan. Pergilah bersama Cacha dan Rendra. Yakinkah perasaanmu masih ingin tetap berlanjut atau menyudahi semuanya. Setelah satu bulan, Kakak akan meminta jawabanmu." Alvino memberi penawaran. Nadira awalnya hanya diam, tapi kemudian dia mengangguk setuju.


"Baiklah, Kak. Aku akan pergi bersama Rendra dan Cacha." Nadira berusaha meyakinkan dirinya.


"Bersiaplah, satu minggu lagi setelah lukamu sembuh. Kakak akan mengantarmu ke Bandara," kata Alvino. Nadira hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2