
Setelah hampir setengah jam bermain genjotan, Febian membenamkan adik kecilnya dalam-dalam saat merasakan ada sesuatu yang hendak 'keluar' dari sana. Ara pun sama, wanita itu juga meracau tak karuan karena rasa nikmat yang susah dijelaskan. Tubuh Febian ambruk di atas tubuh Ara saat mereka sudah mencapai puncak bersama.
"Terima kasih," bisik Febian tepat di telinga Ara yang masih berusaha mengatur napasnya. Desah*n Ara kembali terdengar saat Febian mengeluarkan ular kasur itu dari sarangnya lalu merebahkan tubuh di samping Ara.
"Ternyata benar kata Leona kalau rasanya sangat nikmat sekali." Febian bergumam lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Ara.
"Leona bilang seperti itu?" tanya Ara terkejut. Febian tidak menyahut, hanya menciumi wajah Ara berkali-kali.
"Sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Aku akan berusaha untuk bisa mencintaimu dan menjadikan namamu sebagai pemilik tahta tertinggi di hatiku," ucap Febian. Wajah Ara merona merah saat mendengarnya.
"Aku juga akan belajar mencintaimu, Mas." Ara menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman yang begitu manis.
"Tidurlah, kamu pasti kelelahan." Febian menarik Ara masuk dalam dekapannya. Mereka berdua akhirnya terlelap karena rasa lelah seusai bertempur panas.
***
"Le, kamu jahat sekali!" omel Nadira, tetapi Leona tetap terlihat santai mengupas buah jeruk.
"Aku ini bukannya jahat, Kak. Aku cuma membantu saja karena percayalah kalau mereka pasti akan terlihat malu-malu." Leona menaik-turunkan alisnya dengan senyum puas, sedangkan yang lain hanya bisa menggeleng tidak percaya.
"Beb, sudahlah. Benar juga apa yang dikatakan Leona kalau mereka butuh itu biar malam pertama mereka tidak gagal," ucap Nathan membela Leona. Lelaki itu susah payah menelan ludah saat melihat sorot mata istrinya yang menajam. Dia lupa, kalau di kehamilan kedua ini Nadira berubah menjadi singa betina yang siap menerkam kapan saja.
"Papi!" Nathan mengembuskan napas lega saat melihat putranya yang berjalan mendekat.
"Apa, Bob?" tanya Nathan, tetapi wajah Bobby justru cemberut kesal.
"Bisakah Papi memanggil Bobby bukan Bob? Aku bukan Spongebob!" Bocah itu bersidekap kesal.
"Siapa yang memanggilmu Spongebob? Katakan pada papi biar nanti papi kasih pelajaran." Nathan berpura-pura kesal.
"Pelajaran apa, Pi?" tanya Bobby polos. Yang lain tergelak, sedangkan Nathan mengacak-acak rambutnya kasar. "Pelajaran apa, Pi?" Pertanyaan itu kembali keluar dari mulut Bobby, tetapi dengan sedikit penekanan.
"Matematika. Biar pintar seperti kamu." Nathan memangku Bobby, tetapi bocah kecil itu justru memaksa turun.
"Patrik!" teriak Bobby, suaranya terdengar begitu melengking.
"Patrik siapa, Bob?" tanya Alvino heran. Belum juga Alvino menjawab, Patricia berjalan mendekat dengan tangan berkacak pinggang. Wajah bocah itu terlihat marah.
"Spongebob!"
"Apa, Patrick!"
__ADS_1
"Namaku Patricia Anderson Saputri!"
"Aku tahu. Kenalkan namaku Bobby Chairil Saputra." Dengan santai Bobby mengulurkan tangannya di depan Patricia. Mereka pun tak kuasa menahan gelakan tawa mendengar kedua bocah itu.
"Kamu menyebalkan, Bob!" cebik Patricia.
"Ya, papi bilang aku ini manusia paling tampan." Bobby memasukkan tangan di saku celana, sedangkan satu tangannya berada di bawah dagu dengan alis naik-turun.
"Astaga, Bob. Siapa yang mengajarimu seperti itu?" tanya Mila yang baru bergabung.
"Papi," jawab Bobby jujur.
"Mas!" seru Nadira, tetapi Nathan justru terkekeh dan merangkul istrinya dengan mesra.
"Bukankah benar kalau putra kita itu manusia paling tampan," ucap Nathan. Nadira tersenyum lebar saat mendengarnya. "Seperti papi Nathan," imbuhnya. Nadira memutar kedua bola matanya malas.
"Semoga kita akan segera mendapat bayi perempuan biar cantik seperti kamu," rayu Nathan.
"Kalau anak kita ternyata laki-laki lagi?" tanya Nadira cemas.
"Tidak apa yang penting sehat. Nanti kita bisa mencoba lagi sampai mendapat bayi perempuan meskipun sampai anak kesebelas." Nadira memukul lengan suaminya karena kesal.
"Kamu pikir aku kucing?" sewot Nadira.
"Dasar bucin!" sindir Alvino.
"Dasar tukang iri! Bilang aja kamu pengen kan kaya gini juga?" ledek Nathan.
"Ngapain aku iri sama kalian? Aku bahkan bisa lebih dari ini." Alvino menimpali.
"Halah, iri? Bilang, Bos!"
"Sudah! Kalian ini sudah menjadi bapak-bapak kenapa masih bertengkar seperti anak kecil?" Johan berusaha menengahi. Namun, Alvino dan Nathan hanya saling melempar tatapan tajam. Cacha yang baru saja bergabung pun hanya menggeleng melihat kelakuan Tom dan Jerry tersebut.
"Neng, kamu tidak mau makan?" tanya Mike lembut.
"Nanti saja, Mas. Aku belum lapar." Cacha menolak.
"Kamu belum makan lagi, Neng. Bukankah kamu ingat kalau kata dokter harus makan makanan bergizi?" Mike bertanya dengan sedikit penekanan.
"Al, kalau kamu mau tahu rajanya bucin itu siapa, lihat noh!" Nathan menunjuk Mike dengan dagunya, sedangkan yang ditunjuk berpura-pura tidak tahu. Alvino menatap ke arah Mike sesaat lalu terkekeh sendiri.
__ADS_1
"Adik iparmu itu, Nat." Alvino menutup tawanya.
"Berani kalian meledek suamiku maka aku akan menembak burung kalian satu persatu!"
"Buset! Yang bener aja kamu, Cha! Burung cuma satu mau ditembak, kasihan Ayang Bebeb ntar enggak bisa ngerasain surga dunia!" seru Nathan tidak terima.
"Astaga, anak kambing mulai ketularan bucin." Nadira melipat bibir menahan tawa.
"Neng, sudahlah jangan marah-marah terus. Sayang, bilang pada papa kamu mau apa, pasti akan papa turuti supaya mama enggak marah lagi." Mereka terkejut saat melihat Mike berbicara seperti itu sembari mencium perut Cacha yang terlihat sedikit buncit.
"Cha, apa kamu sedang hamil lagi?" tanya Mila curiga. Cacha yang awalnya terlihat kesal, dengan perlahan mengangguk cepat sembari tersenyum lebar.
"Jadi kamu memang sedang hamil, Cha?" tanya Mila sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, Bun. Kehamilanku hanya selisih tiga minggu dengan Nadira," sahut Cacha. Mereka yang mendengar pun merasa sangat bahagia. Bahkan Nadira yang duduk di sampingnya segera memeluk erat tubuh Cacha.
"Kenapa kamu baru bilang, Cha?" tanya Johan, wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Aku sengaja membuat kejutan untuk kalian," sahut Cacha dengan binar bahagia. Berbagai ucapan selamat pun Cacha dapatkan dari para anggota keluarga. Rasa syukur berkali-kali mereka ucapkan.
Di saat mereka sedang berbahagia, tiba-tiba Jinny masuk dan langsung memeluk Nathan dengan erat. Wajah gadis itu penuh jejak air mata.
"Kamu kenapa, Jin?" tanya Alvino khawatir.
"Dad, Kak Junno nakal!" adu bocah itu masih dengan memeluk Nathan erat.
"Kamu diapain?" tanya Alvino lagi.
"Kak Junno bilang, aku ini enggak boleh kegenitan. Enggak boleh godain Kenzo karena kita saudara."
"Kamu dan Kenzo memang saudara. Sini sama daddy." Alvino melambaikan tangan menyuruh Jinny mendekat padanya, tetapi bocah itu tetap berada dalam pangkuan Nathan.
"Jin, kamu ini anak siapa?" tanya Alvino penuh penekanan.
"Anak daddy dan mommy," sahut Jinny santai.
"Lalu kenapa kamu nempel terus sama papi Nathan?" tanya Alvino lagi.
Nathan memberi kode pada Jinny supaya tutup mulut, bocah itu pun mengangguk sembari mengacungkan ibu jarinya.
"Jinny!" panggil Alvino setengah berteriak. Melihat sang ayah yang mulai marah, Jinny pun merasa sedikit takut. "Katakan!"
__ADS_1
"Karena papi Nathan berjanji akan mengajari Jinny menjadi gadis cantik yang disukai banyak cowok."
"Jonathan Saputra!" murka Alvino. Nathan menutup kedua telinga sembari menunjukkan rentetan gigi putihnya.