Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
186


__ADS_3

Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, kini Nathan kembali ke mansion Alexander dengan wajah yang sudah kucel. Bagaimana tidak, sewaktu berada di pasar tadi, dirinya menjadi serbuan emak-emak penjual maupun pembeli. Banyak dari mereka yang mengira kalau Nathan adalah seorang artis.


Ketika sudah memasuki mansion, langkah lelaki itu bergegas menuju ke dapur. Sesampai di ambang pintu dapur, bibir lelaki itu tersenyum melihat sang istri yang duduk dengan menggeletakkan kepala di meja dapur.


Langkah Nathan yang mendekati istrinya pun semakin melebar. Namun, ketika sudah berdiri di samping Nadira, dia terkejut melihat istrinya yang sedang tertidur lelap dengan ponsel di sampingnya.


Merasa tidak tega, Nathan meletakkan plastik yang berisi lima puluh tempe di atas meja. Kemudian, dengan perlahan dia hendak membopong tubuh istrinya, tetapi wanita itu justru terbangun. Nathan pun menghentikan gerakannya saat melihat Nadira yang mengerjapkan mata.


"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Nadira. Suaranya terdengar serak khas orang bangun tidur.


"Baru saja. Kamu ngantuk?" tanya balik Nathan dengan lembut.


"Tidak! Lihatlah, mataku masih terbuka lebar," ucap Nadira. Wanita itu membuka mata dengan lebar seperti mendelik, Nathan yang melihat pun akhirnya terkekeh dan mengusap puncak kepala Nadira dengan penuh sayang.


"Kamu jadi bikin cilok?" tanya Nathan memastikan. Nadira mengangguk cepat dengan penuh semangat.


"Aku sudah tidak sabar ingin membuat cilok denganmu." Nadira berbicara dengan sangat antusias. Nathan pun tersenyum bahagia melihat istrinya yang begitu bersemangat. Bahkan, rasa kantuk, lelah, dan kesal yang barusan dia rasakan, kini sirna seketika.


"Baiklah, kita buat sekarang. Di mana resepnya? Biar abang tampan ini yang buatin." Nathan memukul dada dengan bangga, Nadira yang melihat itu pun hanya memutar bola matanya malas.


Nadira hendak menghidupkan layar ponselnya, tetapi perhatian wanita itu tiba-tiba tertuju pada plastik yang berada di depannya. Kening Nadira mengerut saat melihat banyak sekali tempe di dalam sana.


"Ini tempe semua?" tanya Nadira. Dia membuka plastik itu, dan semakin terkejut saat melihat isinya.

__ADS_1


"Iyalah, Beb. Tempe semua, tidak ada tahu atau lainnya." Nathan tersenyum dengan puas.


"Kamu yang benar saja, Mas! Untuk apa tempe sebanyak ini? Satu atau dua aja cukup, kenapa kamu beli sebanyak ini?" omel Nadira, membuat senyum di bibir Nathan memudar seketika.


"Aku takut kurang, Beb." Nathan membela diri.


"Kamu beli berapa ini? Banyak sekali," tanya Nadira.


"Lima puluh."


"Apa? Lima puluh? Astaga, kenapa banyak sekali, Mas." Nadira mengusap wajahnya kasar, sedangkan Nathan hanya menunjukkan senyum tanpa dosa.


"Sudahlah, Beb. Lebih baik sekarang kita eksekusi saja." Nathan meraih ponsel Nadira dan melihat tampilan layar yang menunjukkan cara membuat cilok. Nathan pun segera menekan tanda putar.


Nadira hanya duduk melihat suaminya yang mengeluarkan bahan-bahan sesuai arahan di video tersebut. Dengan telaten, lelaki itu mengikuti satu persatu langkahnya. Bahkan, Nadira sampai tergelak saat Nathan membuat adonan, banyak sekali tepung yang menempel di wajah suaminya.


"Tempenya diapain, Beb?" tanya Nathan saat melihat Nadira memotong tempe itu menjadi dadu kecil-kecil.


"Mau kugoreng sama cabai, terus aku uleg jadi sambel tempe buat isian cilok," sahut Nadira santai. Dia memasukkan cabai rawit ke dalam minyak panas.


"Bunda! Jangan kawin!" latah Nathan saat cabai itu bertebangan. Nadira menatap suaminya lalu tergelak keras. "Kamu jangan dekat-dekat, Beb. Nanti kecipratan."


"Tidak akan." Nadira tetap terlihat tenang, justru Nathan yang merasa begitu waswas.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu pun terlihat begitu sibuk membuat cilok isi tempe sesuai pesanan calon bayi kaleng rombeng. Setelah cilok ala-ala sudah matang, Nadira dengan lahap memakannya padahal rasanya terlalu asin.


"Lagi, Beb?" tanya Nathan saat melihat piring yang berisi cilok sudah tandas isinya.


"Sudah. Aku kenyang sekali." Nadira duduk bersandar sembari mengusap perutnya yang kekeyangan. Nathan berjongkok di depan sang istri dan mencium perut Nadira dengan lembut.


"Anak papi sudah kenyang? Ayo, saatnya kita tidur. Ini masih pagi, mami butuh istirahat," ucap Nathan. Nadira tersenyum simpul, dan mengusap pipi Nathan dengan penuh sayang.


"Makasih, Mas. Kamu udah sayang banget sama aku. Sudah nuruti kemauan aku tanpa ngeluh." Mata Nadira tampak berkaca-kaca. Nathan yang melihat itu segera bangkit dan membopong Nadira menuju kamar.


"Beb, aku akan melakukan apa pun untuk kamu, dan calon buah hati kita," kata Nathan.


Sesampainya di kamar, Nathan merebahkan tubuh Nadira di atas kasur lalu mengungkungnya. Nadira berusaha menyingkirkan tubuh Nathan, tetapi lelaki itu tetap bergeming pada posisinya.


"Katanya mau tidur, Mas." Nadira menghentikan gerakannya karena sudah lelah.


"Nathan junior makan tempe terus, sekarang giliran papinya yang makan tempe," ucap Nathan diiringi senyum seringai di sudut bibirnya.


"Maksud kamu?"


"Aku ingin menikmati tempemu yang mlenuk-mlenuk dan bikin nagih, Beb. Sekaligus menengok anak kita," papar Nathan. Nadira memutar bola matanya malas.


"Tapi ...."

__ADS_1


"Aku akan melakukannya dengan perlahan dan hati-hati." Nathan mendaratkan ciuman di leher Nadira dan menciptakan tanda kepemilikan di sana.


Nadira pun tak kuasa saat suaminya memberi sentuhan-sentuhan yang begitu lembut. Sampai akhirnya, malam itu menjadi malam yang panas untuk calon papi dan mami muda tersebut.


__ADS_2