
(Di perjalanan)
"Ka" panggil Bina.
"KA!!" panggil Bina lagi.
"Apa, Na?" tanya Arka.
"Kamu bawa motornya sambil ngelamun ya" ucap Bina.
"Maaf, Na. Aku gak fokus" ucap Arka.
"Eh! jalan ke rumah kamu udah kelewat ya?" ucap Arka.
"Iya, udah kelewat" ucap Bina.
"Maaf ya" ucap Arka.
"Iya gak apa-apa" ucap Bina.
"Ka, jangan dulu ke rumah aku deh" ucap Bina.
"Kenapa?" tanya Arka.
"Soalnya aku mau main dulu di rumah kamu" ucap Bina karena kalau nanti ia pulang, ia takut Arka kenapa-napa saat diperjalanan pulang.
"Oh ya udah" kata Arka sambil melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.
Ketika sampai, Arka dan Bina segera turun dari motor. Lalu mereka segera masuk kedalam rumah Arka.
"Ka, tadi pagi kamu udah sarapan belum?" tanya Bina.
"Belum" ucap Arka dengan tatapan kosong.
"Aku masakin nasi goreng ya" ucap Bina.
"Enggak usah, aku gak lapar" ucap Arka.
"Nanti kalau gak makan, kamu bisa sakit" ucap Bina.
"Enggak, Na. Aku gak lapar" ucap Arka.
"Makan roti aja gimana?" ucap Bina.
Arka hanya menggelengkan kepalanya.
"Atau mau aku beliin matcha cake buat kamu? atau sekalian aku beli matcha latte juga" ucap Bina.
"Enggak, Na" ucap Arka.
"Ya udah deh kalau gak mau" ucap Bina.
"Ka, gue mau pergi dulu ya" ucap kak Putra.
Arka hanya mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya.
"Yang sabar ya" ucap kak Putra sambil menepuk-nepuk pundak Arka.
"Na, temenin Arka dulu ya. Soalnya kak Putra mau ke rumah papah" ucap kak Putra.
"Iya, kak" ucap Bina.
Setelah itu kak Putra segera pergi.
Trining...trining
Bina segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari kak Daniel.
Lalu Bina segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, kak" ucap Bina.
"Dek, luh kok belum pulang sih" cemas kak Daniel.
"Iya soalnya Bina mau nemenin Arka dulu" ucap Bina.
"Luh masih di tempat pemakaman?" tanya kak Daniel.
"Enggak, Bina sekarang lagi ada di rumah Arka" ucap Bina.
"Luh gak nemenin Ririn, Na?" tanya kak Daniel.
"Tadinya Bina mau nemenin Ririn, tapi pas tadi Bina sama yang lainnya ke rumah Ririn, Ririn nya gak mau diganggu, katanya dia pingin sendiri dulu" jelas Bina.
"Ririn pasti sedih banget karena ditinggal Ardan" ucap kak Daniel.
"Iya, dia pasti sedih banget" ucap Bina.
"Oh iya, dek! luh bawa kunci cadangan kan?" tanya kak Daniel.
"Iya bawa, emang kenapa?" tanya Bina.
"Soalnya gue mau pergi ke cafe, takutnya nanti kalau luh pulang, luh nya malah diem diluar karena gak bawa kunci" ucap kak Daniel.
"Kakak tenang aja, Bina setiap keluar suka bawa kunci cadangan kok" ucap Bina.
"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap kak Daniel.
"Iya" ucap Bina.
Kak Daniel segera mematikan panggilan teleponnya.
Bina melihat kearah Arka dan ternyata Arka sedang tertidur sambil duduk.
"Pasti Arka lelah banget gara-gara semalem gak tidur" batin Bina.
Bina segera memposisikan kepala Arka ke pundaknya. Setelah itu, Bina segera menutup matanya.
...****...
Sore hari
Jam 15.00
Bina terbangun dari tidurnya dan ia melihat Arka yang masih tidur sambil menyender pada pundaknya.
"Aduh, pegel banget" batin Bina.
Karena Bina sudah tidak kuat, akhirnya Bina dengan hati-hati memposisikan tubuh Arka agar berbaring di sofa.
"Dan, jangan pergi" ngigau Arka.
Bina yang sedang duduk dilantai langsung melihat kearah Arka.
Bina segera pergi menuju kamar Arka untuk mengambil bantal.
Setelah mengambil bantal, ia segera kembali menghampiri Arka dan ia langsung meletakkan bantal tersebut dibawah kepala Arka.
Bina segera menyeka keringat di kening Arka.
Saat ia sedang menyeka keringat tersebut, ia merasakan suhu panas di kening Arka.
Kemudian Bina segera menyentuh kening dan leher Arka.
"Panas banget" gumam Bina.
Bina kembali pergi ke kamar Arka untuk mencari handuk kecil.
Saat handuknya sudah ketemu, Bina buru-buru ke dapur untuk merendam handuk itu dengan menggunakan air hangat.
Setelah itu, Bina segera kembali menghampiri Arka.
Bina menaruh handuk tersebut di kening Arka.
Sesudah itu, Bina segera pergi ke apotek untuk membeli obat.
20 menit kemudian...
Arka membuka matanya karena ia merasakan ada sesuatu di keningnya.
Arka langsung mengambil handuk tersebut, kemudian ia segera memposisikan tubuhnya menjadi duduk di sofa.
"Na" panggil Arka.
Arka segera mencari Bina namun Bina tidak ada di rumahnya, padahal tas nya ada diatas meja.
"Bina kemana sih" batin Arka.
Arka segera keluar rumah untuk mencari Bina.
Saat keluar, tiba-tiba ada motor yang mendekat kearah Arka.
"Arka, ngapain keluar" ucap Bina sambil turun dari motor.
"Aku nyariin kamu" ucap Arka.
"Neng, ongkos nya" ucap tukang ojek.
"Oh iya, ini" ucap Bina sambil memberikan uang kepada tukang ojek tersebut.
"Ya udah ayo masuk" ucap Bina.
Mereka berdua segera masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Kamu dari mana aja sih? aku tadi khawatir tahu karena kamu gak ada di rumah" ucap Arka.
"Aku beliin bubur sama obat buat kamu, tadi soalnya badan kamu panas" ucap Bina sambil meletakkan bubur dan obat di meja.
"Bentar ya, aku ambilin minum dulu" ucap Bina sambil pergi ke dapur.
Setelah mengambil minum, Bina segera kembali menghampiri Arka.
"Sekarang kamu makan ya" ucap Bina.
"Aku gak lapar, Na" ucap Arka.
"Ka, aku udah cape-cape loh beliin kamu bubur, masa buburnya gak kamu makan" keluh Bina.
"Ya udah aku makan" ucap Arka.
"Aku suapin ya" ucap Bina.
Arka hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bina.
Bina langsung menyuapi Arka.
Setelah selesai memakan bubur, Arka segera memakan obat yang telah dibelikan Bina.
"Na" panggil Arka.
"Iya" ucap Bina.
"Jangan tinggalin aku ya" ucap Arka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku gak bakal ninggalin kamu kok" ucap Bina sambil meneteskan air matanya karena ia sedih saat melihat mata Arka yang berkaca-kaca.
"Janji ya jangan ninggalin aku" ucap Arka.
"Iya aku janji" ucap Bina sambil memeluk Arka.
Arka langsung membalas pelukan Bina.
"Kalau kamu lagi sakit, bilang ke aku ya" ucap Arka sambil meneteskan air matanya.
"Iya" ucap Bina.
"Kamu juga ya, kalau kamu sakit nanti kamu harus bilang ke aku" ucap Bina sambil menangis sesenggukan.
"Iya" ucap Arka.
"Udah jangan nangis" ucap Arka sambil mengelus-ngelus rambut Bina.
"Kamu juga jangan nangis" ucap Bina sambil menghapus air mata Arka.
"Aku gak nangis, tadi aku cuma kelilipan doang" ucap Arka.
"Hidung kamu merah tuh, gara-gara nangis mulu" ucap Arka sambil tersenyum.
"Emang iya?" tanya Bina.
"Iya" ucap Arka.
Bina segera memegang kening Arka.
"Kamu istirahat di kamar aja, Ka. Soalnya kan kamu lagi sakit" ucap Bina.
"Enggak, aku disini aja" ucap Arka.
"Kamu istirahat aja, soalnya kan semalem kamu gak tidur" ucap Bina.
"Enggak mau" ucap Arka.
"Bandel banget sih jadi orang" ucap Bina.
"Biarin" ucap Arka.
Bina langsung mencubit kedua pipi Arka.
"Aww sakit" ringis Arka.
"Makanya jangan bandel jadi orang" ucap Bina sambil melepaskan cubitannya.
Arka berniat mencubit pipi Bina namun dicegah oleh Bina.
"Jangan dicubit, nanti pipi aku tambah lebar" ucap Bina.
"Ya gak apa-apa, kan kalau tambah lebar berarti tambah lucu" ucap Arka.
"Pokoknya gak lucu, nanti yang ada aku mirip sama Shinchan" ucap Bina sambil menghalangi pipinya agar tidak dicubit oleh Arka.
"Ka, pijatin pundak aku dong. Soalnya tadi pegel gara-gara kamu tidur dipundak aku" ucap Bina.
"Perasaan aku gak tidur di pundak kamu deh" ucap Arka.
"Enggak" ucap Arka.
"Iya" ucap Bina.
"Ya udah sih kalau gak percaya gak apa-apa" ucap Bina.
"Iya percaya kok" ucap Arka.
"Ya udah cepet ngehadap ke belakang" perintah Arka.
"Pijitnya yang bener" ucap Bina sambil menuruti perintah Arka.
"Iya" ucap Arka.
Arka segera memijat pundak Bina.
"Jangan tidur" ucap Arka karena Bina diam saja.
"Gak tidur kok" ucap Bina.
"Udah aja deh pijitnya" ucap Bina sambil kembali menghadap ke Arka.
"Jarinya mau aku pletekin gak? biar gak pegel" ucap Arka.
"Mau" ucap Bina sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Arka.
Lalu Arka segera mem-pletekin jari-jari tangan Bina.
"Akhirnya jadi gak pegel lagi" ucap Bina.
"Ka, kamu tukang pijat ya?" tanya Bina.
"Bukan" ucap Arka.
"Tapi tadi kok jago banget pijatnya" ucap Bina.
"Emang iya?" tanya Arka sambil tertawa kecil.
"Iya" ucap Bina.
"Padahal tadi aku cuma pijat asal-asalan loh" ucap Arka.
"Ka, besok berarti kamu gak sekolah dong" ucap Bina.
"Aku sekolah kok" ucap Arka.
"Tapi kan badan kamu panas" ucap Bina.
"Besok juga palingan udah sembuh" ucap Arka.
"Besok berangkat bareng gak?" tanya Bina.
"Ya bareng lah" ucap Arka.
"Kamu mau ke rumah aku jam berapa?" tanya Bina.
"Seperti biasa aja" ucap Arka.
"Setengah tujuh?" ucap Bina.
"Iya" kata Arka.
"Oh iya, besok kan Senin ya. Berarti upacara dong" ucap Bina.
"Ya iyalah" ucap Arka.
"Aku mau ke UKS aja ah, biar gak ikut upacara" ucap Bina.
"Gak boleh, kan UKS buat orang yang sakit" ucap Arka.
"Gak apa-apa, lagian banyak kok yang sehat tapi ke UKS" ucap Bina.
"Ya udah terserah kamu deh" ucap Arka.
"Tapi nanti kamu jangan bilang ke siapa-siapa ya kalau aku pura-pura sakit" ucap Bina.
"Aku mau bilang ah" usil Arka.
"Jangan dong" ucap Bina.
"Aku nanti bakal bilang ke Bu Susan kalau kamu pura-pura sakit" usil Arka.
"Aku gak jadi deh pura-pura sakitnya" ucap Bina.
__ADS_1
"Aku tadi cuma bercanda kok, lagian aku gak bakal ngelaporin kamu ke Bu Susan" ucap Arka.
"Janji ya jangan dilaporin" ucap Bina.
"Iya janji" ucap Arka.
"Ya udah berarti nanti aku pura-pura sakit aja" ucap Bina.
"Nanti kalau ketahuan bohong sama anak PMR gimana?" ucap Arka.
"Gak bakal ketahuan kok, kan aku pinter akting" ucap Bina.
"Ya udah coba kamu akting pura-pura sakit" perintah Arka.
"Oke, tapi kamu pura-pura jadi anak PMR ya" ucap Bina.
"Iya" ucap Arka.
"Dek" ucap Bina sambil berakting.
"Kenapa, kak?" tanya Arka.
"Kakak lagi sakit, kamu bilang anterin kakak ke UKS gak?" tanya Bina.
"Emang kakak sakit apa?" tanya Arka.
"Kakak pusing, dek" ucap Bina sambil memegang keningnya.
"Ya udah minum obat aja, kak. Soalnya kalau ke UKS, tempat nya gak cukup karena disana khusus untuk orang yang pingsan" ucap Arka.
Bina langsung menjatuhkan dirinya ke sofa.
"Uwiiw...uwiiiw" Arka langsung menirukan suara ambulance.
Bina hanya bisa menahan tawanya karena mendengar Arka yang menirukan suara ambulance.
"Wah ada pasien ya, ya udah ayo culik" ucap Arka.
"Ih Arka yang bener" ucap Bina sambil tertawa.
"Masa mau nyulik pasien" ucap Bina.
"Soalnya pasiennya cantik, jadi pingin aku culik" ucap Arka.
"Oh iya, nanti kamu juga gak bakal upacara kan?" tanya Bina memastikan.
"Iya, aku gak bakal upacara" ucap Arka.
"Nanti bareng ya ke UKS nya" ucap Bina.
"Iya" ucap Arka.
"Nanti pas di UKS, kita bakal dikasih teh manis gak?" tanya Bina.
"Biasanya sih cuma orang yang pingsan aja yang dikasih teh manis" ucap Arka.
"Ih gak adil banget" ucap Bina.
"Emang kamu pingin teh manis?" tanya Arka.
"Iya pingin" ucap Bina.
"Ya udah bikin, didapur ada kok teh nya" ucap Arka.
"Di rumah aku juga ada, Ka" ucap Bina.
"Cuma masalahnya aku tuh pingin teh manis yang dibuat anak PMR soalnya rasanya tuh beda dari yang lain" ucap Bina.
"Beda? perasaan yang namanya teh manis semua rasanya sama deh" heran Arka.
"Beda tahu rasanya" ucap Bina.
"Beda gimana sih?" tanya Arka.
"Pokoknya aku gak bisa jelasin dengan menggunakan kata-kata" ucap Bina.
Arka langsung tertawa karena mendengar ucapan Bina.
"Pasti rasanya seperti teh manis kan?" ucap Arka.
"Iya, tapi yang dibuat anak PMR lebih enak dibanding teh manis yang dibuat oleh diri sendiri" ucap Bina.
"Mungkin anak PMR buat teh manisnya sedikit dicampur sama Betadine kali" ucap Arka.
"Mana ada! yang ada nanti yang minumnya jadi mabok" ucap Bina.
"Na, in kenapa?" tanya Arka.
"Ini bekas kecakar kucing" ucap Bina.
"Kucing yang ada dicafe saudara aku?" tanya Arka.
"Iya" ucap Bina.
"Waktu itu aku baru sadar ternyata tangan aku berdarah" ucap Bina.
"Nanti gak jadi aja ya beli kucingnya" ucap Arka.
"Yah kenapa gak jadi?" keluh Bina.
"Soalnya nanti kucingnya nyakar kamu terus" ucap Arka.
"Ya gak apa-apa, lagian luka nya juga pasti cepet hilang kok" ucap Bina.
"Please, beliin ya" mohon Bina.
"Ya udah iya" ucap Arka sambil tersenyum.
"Nanti aku namain apa ya kucing nya?" tanya Bina.
"Ya terserah kamu" ucap Arka.
"Kalau namanya kimchi bagus gak?" tanya Bina.
"Kimchi kan makanan" ucap Arka.
"Ya emang" ucap Bina.
"Sekalian aja namain rendang" ucap Arka.
"Namanya Aditya Pratama aja deh" ucap Bina.
"Gak boleh, itu kan nama panjang aku" ucap Arka.
"Emang nanti kamu bakal beli kucing betina atau kucing jantan?" tanya Bina.
"Ya aku sih terserah kamu, kalau kamu mau yang betina ya betina sedangkan kalau kamu mau yang jantan ya aku beli yang jantan" kata Arka.
"Kalau kucing ada yang jenis kelaminnya waria gak, Ka?" tanya Bina.
"Gak ada lah" ucap Arka.
"Tapi menurut aku sih ada, soalnya manusia aja ada yang waria, masa kucing gak ada" ucap Bina.
"Pikiran kamu aneh-aneh ya" ucap Arka sambil tersenyum.
"Ka, nanti beli kucing jantan aja deh. Soalnya kalau betina nanti hamil terus" ucap Bina.
"Ya udah iya nanti aku beli kucing yang jantan" ucap Arka.
"Ka, kenapa ya kucing anaknya banyak?" tanya Bina.
"Ya aku gak tahu, mungkin karena takdir kali" ucap Arka.
"Pasti sakit banget ya pas ngelahirin anaknya, mana anaknya banyak lagi" ucap Bina.
"Ya pasti sakit lah" ucap Arka.
"Aku jadi takut deh kalau nanti aku hamil" ucap Bina.
"Takut kenapa?" tanya Arka.
"Kan nanti pasti sakit pas lahirannya" ucap Bina.
"Nanti aku gak mau punya anak ah" ucap Bina.
"Loh kok gitu?" ucap Arka.
"Soalnya takut" ucap Bina.
"Emang kamu gak pingin punya bayi yang lucu gitu?" ucap Arka.
"Ya pingin, cuma aku takut" ucap Bina.
"Kayaknya enak banget ya jadi cowok" ucap Bina.
"Maksudnya?" bingung Arka.
"Kan cowok gak hamil, jadi gak bakal ngerasain sakit" ucap Bina.
"Cowok ngerasain sakit kok" ucap Arka.
"Emang iya?" tanya Bina.
__ADS_1
"Iya, waktu di sunat kan sakit" ucap Arka.
"Iya juga sih" ucap Bina.