
"Ka, aku pulang dulu ya" ucap Bina.
"Jangan" ucap Arka.
"Udah disini dulu aja" ucap Arka.
"Tapi kan kamu pasti pingin istirahat" ucap Bina.
"Tapi kan aku udah istirahat tadi" ucap Arka.
"Emang udah sih, tapi ya kamu harusnya istirahat lagi biar cepet sembuh" ucap Bina.
Kemudian Arka segera menutup mulutnya karena ia sedang menguap.
"Tuh, kan! kamu pasti masih ngantuk" ucap Bina.
"Ya udah cepet istirahat lagi" ucap Bina lagi.
Arka segera menaruh bantal diatas paha Bina. Kemudian Arka segera memposisikan kepalanya diatas bantal tersebut.
"Istirahat nya di kamar aja, Ka. Soalnya kalau tidur di sofa pasti gak nyaman" ucap Bina.
"Nyaman kok" ucap Arka sambil menatap wajah Bina.
Bina langsung menutup wajah Arka dengan menggunakan tangannya.
"Jangan dilihatin" ujar Bina.
"Padahal udah sering dilihatin juga, masih aja salah tingkah" ucap Arka.
"Soalnya ini terlalu deket posisinya" ucap Bina.
Arka segera memindahkan tangan Bina yang menutupi wajahnya dan ia kembali menatap wajah Bina sambil tersenyum.
"Cepet bangun! jangan tiduran di paha aku" ucap Bina
"Ya udah iya" ucap Arka sambil bangun.
"Na" panggil Arka.
"Apa?" ucap Bina.
"Main gunting, kertas, batu yuk! nanti yang kalah harus turutin apa kata yang menang" ajak Arka.
"Gak mau" ucap Bina.
"Please, sekali aja" ucap Arka.
"Gak mau ah! nanti pasti harus nurutin hal yang aneh-aneh" ucap Bina.
"Enggak kok" ucap Arka.
"Emang kalau kamu menang kamu mau apa?" tanya Bina.
"Aku mau kamu buatin mie instan buat aku" ucap Arka.
"Kamu pingin mie?" tanya Bina.
"Iya" ucap Arka.
"Harusnya kalau mau mie, ngomong langsung aja dari tadi, gak usah pake main gunting, kertas, batu segala" ucap Bina.
"Soalnya kalau ngomong langsung, aku nya jadi gak enak sama kamu. Jadi aku lebih milih cara lain aja agar kamu masakin aku" ucap Arka.
"Tapi kalau kamu gak mau masakin aku, gak apa-apa kok. Biar aku sendiri aja yang masak" ucap Arka.
"Jangan, kamu kan lagi sakit" ucap Bina.
"Ya udah kalau gitu aku bikinin ya" ucap Bina.
"Makasih ya" ucap Arka.
"Iya" ucap Bina.
"Kamu mau mie kuah atau mie goreng?" tanya Bina.
"Mie goreng, tapi pake telur mata sapi ya" ucap Arka.
"Oke" ucap Bina.
"Tapi aku juga mau ya" ucap Bina.
"Iya boleh" ucap Arka.
Bina segera pergi menuju dapur.
Beberapa menit kemudian...
Bina segera kembali menghampiri Arka dengan membawa nampan yang berisi mie goreng dan teh manis.
Lalu Bina segera meletakan nampan tersebut di meja.
"Nih yang kamu" ucap Bina sambil menggeser mie goreng dan teh manis hangat.
"Aku pingin teh manis yang dingin" ucap Arka.
"Jangan, ini punya aku" ucap Bina.
"Kamu yang hangat aja, kan kamu lagi sakit" ucap Bina lagi.
"Tapi badan aku kan panas, masa minum yang hangat. Nanti yang ada badan aku tambah panas" ucap Arka.
__ADS_1
"Ya udah nih" ucap Bina sambil cemberut.
"Ya udah gak usah deh" ucap Arka.
"Udah nih, lagian aku gak bakal minum" ucap Bina.
"Enggak, buat kamu aja" ucap Arka karena melihat Bina yang sedang kesal kepadanya.
"Enggak mau" ucap Bina.
"Nih sekalian mie gorengnya buat kamu aja" ucap Bina.
"Enggak, itu kan punya kamu" ucap Arka.
"Gak mau, aku gak mood makan" ucap Bina.
"Maaf, tadi aku cuma bercanda kok. Lagian kan bener kata kamu kalau aku lagi sakit, jadi aku harus minum yang hangat-hangat" ucap Arka.
"Ya udah nih makan" ucap Arka sambil menyodorkan garpu ke mulut Bina.
"Buka mulutnya" perintah Arka.
Bina tidak menuruti perintah Arka.
"Cepet makan! nanti aku bakal beliin kucing buat kamu kalau kamu makan mie nya" ucap Arka.
Bina segera memakan mie tersebut.
"Nah, gitu dong" ucap Arka sambil mengelus rambut Bina.
"Ya udah cepet makan, biar nanti dibeliin kucing" ucap Arka.
"Iya" ucap Bina sambil memakan mie goreng.
"Kamu kenapa gak pake telur?" tanya Arka.
"Soalnya aku gak suka telur mata sapi" ucap Bina.
"Kenapa gak suka?" tanya Arka.
"Soalnya gak enak" ucap Bina.
"Enak kayak gini kok disebut gak enak sih" heran Arka.
"Kan selera orang beda-beda" ucap Bina.
"Na, lihat deh" ucap Arka sambil menunjukan grup chat nya.
"Kenapa?" bingung Bina.
"Biasanya grup suka rame, tapi sekarang gak rame karena Ardan udah gak ada" ucap Arka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku ngerasa kayak mimpi deh, perasaan kemarin baru aja kita main ke waterpark bareng" ucap Arka.
"Aku jadi inget deh saat aku bilang mau pindah sekolah, terus dia sampe bela-belain nyewa cafe segala buat acara perpisahan aku bahkan sampe beliin kado segala buat aku. Mana kadonya aneh lagi"
"Kado CD kan?" tanya Bina karena ia ingat waktu itu Arka pernah cerita.
"Iya, random banget ya dia pake ngasih CD segala" ucap Arka sambil tersenyum namun meneteskan air matanya.
"Emang, dia tuh random banget anaknya" ucap Bina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oh iya, dulu aku pikir kamu tuh pacarnya Ardan tahu" ucap Arka.
"Kok kamu bisa mikir kayak gitu?" ucap Bina.
"Iya soalnya waktu dulu saat latihan basket, kamu kan teriak-teriak nyebut nama Ardan. Jadi aku pikir kamu pacar atau gebetan nya Ardan" ucap Arka.
"Oh iya, berkat Ardan juga ya kita jadi deket bahkan sampai pacaran" ucap Arka.
"Iya juga ya, kalau dia waktu itu gak ajak aku ke kantin. Mungkin aku gak bakal deket sama kamu" ucap Bina.
"Ka, aku jadi khawatir sama Ririn deh. Takutnya dia ngelakuin hal yang enggak-enggak pas sendirian, soalnya waktu orang tua aku meninggal, aku sayat pergelangan tangan aku. Jadi aku takut kalau dia ngelakuin hal yang sama kayak aku" ucap Bina tiba-tiba.
"Kamu sayat tangan kamu?" ucap Arka terkejut.
Bina hanya mengangguk mengiyakan ucapan Arka.
"Kamu ngapain ngelakuin hal kayak gitu" cemas Arka.
"Soalnya waktu itu aku frustasi banget karena orang tua aku meninggal" ucap Bina.
"Mana coba aku lihat tangan kamu" ucap Arka.
Lalu Bina segera memperlihatkan bekas sayatan waktu itu.
Arka langsung menghembuskan nafas dengan kasar.
"Lain kali jangan kayak gitu" ucap Arka.
"Iya gak akan kok, lagian aku gak mau sayat tangan aku lagi soalnya perih kalau kena air" ucap Bina.
"Kak Daniel tahu tentang ini?" tanya Arka.
"Iya tahu" ucap Bina.
"Nanti jangan ngelukain diri kamu lagi ya" ucap Arka.
"Iya, gak bakal" ucap Bina.
"Janji?" ucap Arka sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Iya, janji" ucap Bina sambil mengeratkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Arka.
"Ya udah habisin cepet mie sama teh nya" ucap Arka.
"Iya" ucap Bina sambil memakan mie.
"Ka, kamu punya timun gak?" tanya Bina.
"Ada didapur" ucap Arka.
"Kamu mau timun?" tanya Arka.
"Enggak, aku gak suka timun" ucap Bina.
"Terus tadi kenapa nanyain timun?" tanya Arka.
"Soalnya buat mata kamu, kan mata kamu bengkak habis nangis" ucap Bina.
"Gak usah, lagian nanti juga bengkaknya hilang sendiri kok" ucap Arka.
"Oh iya, kak Putra pulangnya kapan?" tanya Bina.
"Gak tahu" ucap Arka.
"Oh iya tadi kata kak Putra, dia mau kemana katanya?" tanya Arka karena ia tadi tidak mendengar ucapan kakaknya.
"Dia mau ke rumah papah" ucap Bina.
"Papah?" tanya Arka sambil tersenyum.
"Iya" ucap Bina.
"Mau ke rumah mertua kamu?" tanya Arka.
"Ih apa sih mertua-mertua segala" ucap Bina sambil menahan senyumnya.
"Nanti kesana lagi yuk, Na" ucap Arka.
"Kemana?" tanya Bina.
"Ke rumah papah" ucap Arka.
"Mau ngapain?" tanya Bina.
"Ya main kayak kemarin" ucap Arka.
"Gak mau ah, aku malu. Nanti ditanyain tentang nikah mulu lagi sama papah kamu" ucap Bina.
"Jadi kamu gak mau ketemu papah aku gitu?" tanya Arka.
"Bukan gak mau, tapi aku malu" ucap Bina.
"Malu dari mananya, waktu itu aja kamu gak kelihatan malu kok" ucap Arka.
"Itu sebenernya aku malu tahu" ucap Bina.
"Oh iya, Na! aku sekarang lagi ngumpulin uang tahu" ucap Arka.
"Uang buat kuliah?" tanya Bina.
"Bukan" ucap Arka.
"Terus uang nya buat apa?" tanya Bina.
"Buat beli rumah" ucap Arka.
"Kamu mau tinggal sendiri, Ka?" tanya Bina.
"Enggak, aku mau tinggal berdua" ucap Arka.
"Oh jadi kamu pingin pindah rumah sama kak Putra ya?" tanya Bina.
"Enggak" ucap Arka.
"Terus tinggal berdua sama siapa?" tanya Bina.
"Sama istri aku nanti lah" ucap Arka.
"Oh gitu" ucap Bina.
"Nanti yang jadi istri kamu pasti beruntung banget ya karena suaminya udah punya rumah sendiri, mana suaminya ganteng lagi terus jago main basket sama jago nyanyi" ucap Bina.
"Kayaknya aku yang beruntung deh, soalnya istri aku cantik, pinter masak, udah gitu rangking terus lagi di sekolahnya" ucap Arka.
"Emang istri kamu siapa?" tanya Bina.
"Ya kamu lah" ucap Arka.
"Emang aku bakal jadi istri kamu gitu, Ka?" tanya Bina.
"Iya, kan nanti aku bakal nikahin kamu Na" ucap Arka.
"Kalau kita gak jodoh gimana, Ka?" ucap Bina.
Arka langsung terdiam karena mendengar ucapan Bina.
"Kamu kayaknya bakal nerima cowok lain ya, Na?" tanya Arka.
"Enggak kok, Ka" ucap Bina.
"Terus kamu kenapa ngomong kayak gitu?" tanya Arka.
__ADS_1
"Soalnya kan kita gak tahu jodoh kita siapa. Bisa jadi kan jodoh kita adalah kematian kita sendiri. Bisa aja kan nanti aku meninggal, terus nanti kamu nikahnya sama cewek lain yang jadi jodoh kamu" jelas Bina dengan mata yang berkaca-kaca.
Arka langsung terdiam setelah mendengar penjelasan dari Bina.