
"Kita mau kemana?" tanya Arka sambil mengendarai motornya.
"Terserah kamu aja" ucap Bina sambil memeluk pinggang Arka.
Setelah dua jam di perjalanan, akhirnya kita pun sampai dibukit yang sangat indah.
Lalu kita berdua pun segera turun dari motor dan segera melihat-lihat pemandangan dari atas bukit.
"Duduk disitu yuk" ajak Arka.
Bina pun hanya mengangguk.
Akhirnya mereka berdua pun segera duduk ditempat duduk yang telah disediakan.
"Bagus ya pemandangannya?" tanya Arka.
"Iya" ucap Bina.
"Kamu tunggu disini ya, aku mau beli makan sama minum dulu disana" ucap Arka sambil menunjuk warung yang berada dibukit tersebut.
"Iya" ucap Bina.
Arka pun segera pergi menuju warung untuk membelikan Bina makanan dan minuman. Sedangkan Bina hanya duduk sambil memotret pemandangan alam.
Lalu Bina pun sontak melihat kearah kanannya sebab ada seorang cewek yang sedang menangis.
Kemudian Bina pun segera menghampiri cewek tersebut.
"Kamu kenapa?" tanya Bina.
"Gak apa-apa kok" ucapnya sambil mengusap air matanya.
Lalu Bina pun segera duduk disamping cewek tersebut.
"Kamu sendirian disini?" tanya Bina.
"Iya" ucapnya.
"Kamu ada masalah apa? kalau ada masalah cerita aja sama aku, siapa tahu aku bisa bantu ngasih saran buat kamu" tanya Bina.
"Gue udah lama suka sama cowok, tapi cowok itu jadian sama temen gue" ucap cewek tersebut.
"Udah cari cowok lain aja, lagian luh cantik pasti banyak yang suka sama luh" ucap Bina.
"Gue boleh peluk luh gak?" tanya cewek tersebut.
"Boleh" ucap Bina sambil tersenyum.
Lalu cewek tersebut pun memeluk Bina sambil menangis.
"Luh kok malah nangis lagi sih" ucap Bina.
"Habisnya cuma luh doang yang mau dengerin curhatan gue" ucapnya.
"Emang temen luh gak ada yang mau dengerin luh?" tanya Bina.
"Iya enggak ada, mereka gak pernah mau dengerin gue" ucap cewek tersebut.
"Kenapa?" tanya Bina.
"Soalnya setiap gue mau curhat, mereka bilang pasti curhat gue itu-itu aja" ucap cewek itu.
"Emang luh selalu curhat tentang cowok itu ke mereka ya?" tanya Bina.
"Enggak, gue gak cerita tentang cowok itu ke mereka" ucap cewek itu.
"Terus luh curhat tentang apa ke mereka?" tanya Bina.
"Gue curhat ke mereka tentang nilai gue di sekolah. Soalnya gue selalu dimarahin sama orang tua gue kalau nilai gue turun" ucapnya.
"Tapi mereka gak pernah mau dengerin gue, padahal gue butuh banget perhatian dari mereka. Setidaknya mereka dengerin gue curhat juga, gue udah seneng. Tapi mereka malah bilang, kalau nilai gue masih tinggi dibandingkan mereka jadi harusnya gue bersyukur dapet nilai segitu. Tapi mereka gak pernah tahu kalau nilai gue turun sedikit juga, gue pasti dimarahin sama orang tua gue bahkan sampe gue dipukul" jelas cewek tersebut.
"Ini tangan luh kenapa?" tanya Bina sambil melihat pergelangan tangan cewek itu.
"Ini bekas sayatan" ucap cewek itu.
"Orang tua luh yang ngelakuin itu?" tanya Bina khawatir.
"Bukan, ini gue yang ngelakuin" ucap cewek tersebut.
"Luh kenapa sih sampai ngelukain diri luh sendiri?" ucap Bina khawatir.
"Soalnya gue lelah ngehadapin kehidupan gue" ucapnya.
"Jangan ngomong gitu dong, gue jadi khawatir" ucap Bina.
"Lucu ya, luh bukan siapa-siapa gue tapi luh lebih khawatir dari pada orang tua gue sendiri" ucap cewek itu.
"Oh iya, luh kenapa pake kacamata hitam?" tanya cewek itu agar mengalihkan pembicaraan terhadap bekas sayatannya.
"Soalnya gue habis nangis" ucap Bina.
"Nangis?" bingung cewek tersebut karena ia merasa Bina tidak sedang bersedih.
"Iya" ucap Bina sambil melepaskan kacamata hitam nya.
"Luh kenapa?" tanya cewek itu karena melihat mata Bina yang sembab.
__ADS_1
"Gue berantem sama pacar gue" ucap Bina.
"Gue jadi gak enak curhat sama luh, padahal luh juga lagi sedih" kata cewek itu.
"Gak apa-apa, lagian gue sama dia udah baikan" ucap Bina sambil memakai kacamatanya lagi.
"Oh syukur deh kalau gitu" ucap cewek tersebut.
"Na, ngapain disitu?" tanya Arka sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Lalu Arka pun segera menaruh nampan tersebut diatas meja.
"Itu Arka kan?" tanya cewek itu.
"Iya, luh kenal sama pacar gue?" tanya Bina.
"Iya gue kenal, yaudah gue pulang dulu ya" ucapnya sambil buru-buru pergi.
Lalu Bina pun segera menghampiri Arka, dan ia pun segera duduk disebelah Arka.
"Yang tadi temen kamu?" tanya Arka.
"Bukan" ucap Bina.
"Terus kenapa tadi kamu nyamperin dia?" tanya Arka.
"Tadi dia lagi nangis makanya aku samperin" ucap Bina.
"Lain kali kalau ada orang yang kayak gitu lagi jangan langsung disamperin" ucap Arka.
"Emangnya kenapa?" tanya Bina.
"Nanti kalau orang itu jahat gimana" ucap Arka.
"Enggak kok, dia gak jahat" ucap Bina.
"Oh iya aku lupa!" ujar Bina.
"Kenapa, Na?" tanya Arka.
"Aku lupa nanyain nama dia" ucap Bina.
"Kirain aku kenapa" ucap Arka.
"Yaudah cepet makan" suruh Arka.
Akhirnya mereka berdua pun segera memakan makanan tersebut.
"Ka, tadi cewek itu kenal loh sama kamu" ucap Bina.
"Mungkin karena kamu terlalu famous di sekolah, jadi semua orang tahu" ucap Bina.
"Emang tadi kamu sama cewek itu ngomongin apa?" tanya Arka penasaran.
"Kamu kok kepo banget sih" ucap Bina sambil tersenyum.
"Aku cuma pingin tahu doang" ucap Arka.
"Ka, tadi aku lihat di pergelangan tangan dia ada bekas sayatan nya. Aku jadi khawatir deh sama dia" ucap Bina.
"Kenapa khawatir? kan kamu gak kenal sama dia" ucap Arka.
"Ih kamu kok gak ada rasa simpati sama sekali sih" ucap Bina.
"Lagian kan bisa aja dia ngelukain dirinya karena dia psikopat" ucap Arka.
Bina pun langsung tertawa mendengar ucapan Arka.
"Kok kamu ketawa sih" bingung Arka.
"Habisnya kamu lucu banget, mana ada psikopat di dunia ini. Itu kan adanya cuma di film" ucap Bina sambil tertawa kecil.
"Ih ada tahu, bentar aku search dulu di google" ucap Arka.
"Nih lihat!" ucap Arka.
"Oh beneran ada, kirain cuma difilm doang" ucap Bina.
Akhirnya mereka berdua pun selesai memakan makanan tersebut.
"Na, kamu kesitu deh" suruh Arka.
"Mau ngapain?" tanya Bina.
"Aku mau fotoin kamu" ucap Arka.
"Enggak mau ah" ucap Bina.
"Satu kali aja, please!" mohon Arka.
"Yaudah" ucap Bina.
Lalu Bina pun segera menuruti perkataan Arka.
Cekrek
Arka pun langsung memfoto Bina. Lalu setelah difoto, Bina pun segera menghampiri Arka kembali.
__ADS_1
"Mau difoto lagi gak?" tanya Arka.
"Enggak" ucap Bina.
"Kenapa? kan biasanya kamu paling seneng kalau difoto" heran Arka.
"Aku gak mood" ucap Bina.
"Masih marah sama aku?" tanya Arka.
"Enggak" ucap Bina.
"Aku ngerasa lelah aja hari ini" ucap Bina lagi.
"Kamu sakit?" tanya Arka.
"Enggak, aku cuma cape aja gara-gara nangis mulu" ucap Bina.
Arka pun segera memeluk Bina.
"Arka, lepasin! malu dilihatin orang" ucap Bina.
"Aku gak malu kok" ucap Arka.
"Aku yang malu bukan kamu" ucap Bina.
"Kamu malu kalau aku peluk?" tanya Arka sambil mempererat pelukannya.
"Bukan gitu! tapi aku malu soalnya ibu-ibu itu lihatin kita" ucap Bina.
"Ibu-ibu yang mana?" tanya Arka sambil melepaskan pelukannya dan ia pun segera melihat kearah belakang.
"Itu yang lagi ngerumpi, pasti mereka ngomongin kita yang enggak-enggak" bisik Bina tanpa menunjuk.
"Ih suudzon banget jadi orang" ucap Arka sambil mencubit pelan pipi Bina.
"Beneran kok tadi mereka lihatin kita" ucap Bina.
"Ya udah kita samperin mereka aja gimana?" tanya Arka.
"Mau ngapain?" tanya Bina.
"Mau nyuruh mereka supaya gak ngomongin orang" ucap Arka sambil tertawa kecil.
"Ih, gak usah!" ucap Bina.
"Aku cuma bercanda kok" ucap Arka.
"Ka, gelang kamu mana?" tanya Bina.
"Loh gelang aku kemana?" bingung Arka.
"Kok jadi kamu yang bingung sih, kan kamu yang pake" ucap Bina.
"Tadi perasaan waktu main basket masih aku pake kok" ucap Arka.
"Bilang aja kalau gelang nya kamu buang gara-gara kamu marah sama aku" ucap Bina sambil cemberut.
"Sumpah, Na! aku gak buang kok" ucap Arka.
"Kayaknya jatuh waktu latihan basket, besok aku cari deh gelang nya" ucap Arka lagi.
"Besok pagi kamu masih latihan basket?" tanya Bina.
"Masih, soalnya satu bulan lagi bakal ikut lomba" ucap Arka.
"Oh gitu" ucap Bina.
"Besok aku anterin kamu ya ke sekolah" kata Arka.
"Gak usah, kamu kan harus latihan pagi-pagi" ucap Bina.
"Gak apa-apa, pokoknya nanti aku ke rumah kamu" ucap Arka.
"Nanti kalau kamu dihukum gara-gara telat gimana?" tanya Bina.
"Ya gak apa-apa, paling cuma dihukum keliling lapangan doang" ucap Arka.
"Yaudah besok aku buru-buru deh, supaya kamu gak telat" ucap Bina.
"Jangan buru-buru! yang ada nanti kamu gak sempet sarapan lagi" ucap Arka.
"Kan aku bisa sarapan dikantin" ucap Bina.
"Pokoknya jangan! nanti kamu sakit lagi gara-gara telat makan" ucap Arka.
"Iya deh" ucap Bina.
"Ya udah pulang yuk!" ajak Bina.
"Bentar dulu, aku mau ngembaliin piring sama gelasnya dulu" ucap Arka sambil membawa nampan berisi piring dan gelas yang telah dipakai olehnya dan Bina.
Setelah selesai mengembalikan piring dan gelas tersebut, Arka pun segera kembali menghampiri Bina.
"Ayo pulang!" ajak Arka sambil menggenggam tangan Bina.
Akhirnya mereka berdua pun segera menaiki motor, dan Arka pun langsung melajukan motor miliknya itu.
__ADS_1