
"Yang diomongin kamu barusan ada bener juga, Na" ucap Arka.
"Udah lah jangan bahas ini, lebih baik kita bahas yang lain aja" ucap Bina.
"Bahas apa?" tanya Arka.
"Bahas tentang pelajaran sekolah, kan besok kita masuk sekolah" ucap Bina.
"Eh tahu gak, Na?" tanya Arka.
"Tahu apa?" tanya Bina penasaran.
"Nanti guru matematika kita lebih killer loh dari pada Bu Jeni" ucap Arka.
"Serius?" tanya Bina.
"Iya serius, galak banget katanya" ucap Arka.
"Gurunya cewek atau cowok?" tanya Bina.
"Cowok" ucap Arka.
"Ih gimana dong, aku takut kalau cowok. Pasti kalau dia marah nyeremin" ucap Bina.
"Yang aku denger dari bang Chandra sama bang Fauzi sih katanya guru itu kalau ngambek suka ngomong kasar, terus waktu itu pernah ada anak cowok dikelas bang Chandra yang dipukul karena ngobrol pas mata pelajaran dia" jelas Arka.
"Ih serem" ucap Bina.
"Kita pindah sekolah aja yuk, Ka" ucap Bina.
"Ya jangan sampe pindah juga kali" ucap Arka.
"Tapi kan serem" ucap Bina.
"Guru itu gak bakal marah kok sama kamu, asalkan kamunya diem dan jangan ngobrol" ucap Arka.
"Kalau akunya diem, gak bakal dimarahin?" tanya Bina.
"Iya, gak bakal" ucap Arka.
"Kalau misalnya guru itu nanya, aku harus jawab atau diem?" tanya Bina.
"Ya jawab lah, Na" ucap Arka sambil tertawa.
"Kalau misalnya di kasih soal dipapan tulis terus aku jawabnya salah, dimarahin gak?" tanya Bina.
"Yang aku denger dari bang Fauzi sih katanya dimarahin, soalnya bang Fauzi sendiri yang ngalamin dimarahin sama guru itu karena bang Fauzi salah ngejawabnya" ucap Arka.
"Dimarahin nya kayak gimana?" tanya Bina.
"Guru itu bilang, masa gini aja gak bisa! beg* banget" ucap Arka.
"Kok ada ya guru yang kasar gitu" ucap Bina.
"Ada loh, Na! banyak malah" ucap Arka.
"Di sekolah kita banyak guru yang kayak gitu?" tanya Bina.
"Enggak, maksudnya di sekolah lain juga pasti ada yang kayak gitu" ucap Arka.
"Tapi gak semua guru kayak gitu sih, Na! masih banyak kok guru yang bicaranya lemah lembut kayak Bu Nana" ucap Arka.
"Ih sumpah Bu Nana kalem banget ya orangnya, mana cantik lagi" ucap Bina.
"Iya bener, kayaknya enggak ada guru lain deh yang bisa ngalahin kecantikan Bu Nana" ucap Arka.
"Awas jadi naksir" ucap Bina.
"Enggak lah, Na! mana ada aku naksir guru aku sendiri" ucap Arka.
"Kan siapa tahu jadi naksir" ucap Bina.
"Enggak. Lagian Bu Nana kan udah kepala tiga, masa iya aku naksir tante-tante" ucap Arka.
"Siapa tahu kan, lagian sekarang banyak kok cowok seumuran kamu yang pacaran sama tante-tante" ucap Bina.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Arka.
"Ya tahu dari film" ucap Bina.
"Yaelah, kirain aku kamu lihat sendiri" ucap Arka.
"Tapi pasti ada kok di kehidupan nyata" ucap Bina.
"Kamu kebalik kali, yang ada tuh anak cewek seumuran kamu yang pacaran sama om-om. Kan contohnya ada temen sekelas kamu" ucap Arka.
"Tapi pasti ada kok anak cowok juga yang pacaran sama tante-tante" ucap Bina.
"Iya kali" ucap Arka.
"Ya udah aku mau cuci piring sama gelas dulu ya" ucap Bina.
"Gak usah dicuci, nanti aja sama aku dicucinya" ucap Arka.
"Gak apa-apa, biar sambil aku aja" ucap Bina sambil mengambil piring dan gelas yang tadi ia dan Arka gunakan.
__ADS_1
Bina segera pergi menuju dapur dan Arka juga segera menyusul Bina dari belakang.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Bina.
"Mau lihatin kamu cuci piring" ucap Arka.
"Ngapain lihatin aku cuci piring?" tanya Bina.
"Soalnya kalau cewek lagi ngelakuin pekerjaan rumah tuh damage nya bertambah. Makanya aku pingin lihatin kamu cuci piring" ucap Arka.
"Damage matamu" ucap Bina sambil tertawa kecil.
Lalu Bina langsung mencuci piring dan gelas tersebut. Sedangkan Arka, ia hanya tersenyum sambil melihat wajah pacarnya.
Setelah selesai mencuci piring dan gelas, Bina langsung melihat kearah Arka.
"Ayo kesana lagi" ucap Bina.
"Eh tunggu deh!" ucap Arka.
"Kenapa?" tanya Bina.
"Kamu kok tambah pendek sih, Na" canda Arka.
"Yang ada kamu yang tambah tinggi, bukan aku yang tambah pendek" ucap Bina.
"Enggak, ini kamu yang tambah pendek" ucap Arka.
"Gak boleh body shaming" ucap Bina.
"Aku gak body shaming, tapi aku heran aja kenapa kamu jadi pendek" ucap Arka.
Bina segera pergi ke ruang tamu tanpa menghiraukan ucapan Arka.
"Maaf, Na. Aku cuma bercanda kok" ucap Arka sambil menyusul Bina.
Lalu Bina langsung duduk sambil melamun dan tiba-tiba ia meneteskan air matanya.
"Kamu kok nangis sih" ucap Arka.
Bina segera mengusap air matanya.
"Aku minta maaf ya" ucap Arka lagi.
"Aku nangis bukan karena kamu" ucap Bina.
"Terus karena siapa?" tanya Arka.
"Aku nangis karena aku inget kejadian waktu aku kelas sepuluh" ucap Bina.
"Kamu sama Ardan deket banget ya kayaknya waktu dikelas" ucap Arka.
"Iya, bahkan waktu kelas sepuluh kita sering berantem gara-gara saling ejek" ucap Bina.
"Kalau kamu pernah berantem gak sama Ardan?" tanya Bina.
"Pernah, waktu SMP" ucap Arka.
"Berantem gara-gara apa?" tanya Bina.
"Gara-gara rebutan bola basket" ucap Arka.
"Jadi waktu SMP, aku sama Ardan kan ikutan ekskul basket. Terus waktu itu kan kita lagi kegiatan ekskul dan pada saat main kita rebutan bola padahal waktu itu aku sama dia satu tim. Karena aku sama Ardan gak ada yang ngalah buat ngelepas bola nya, jadi akhirnya kita berantem deh" ucap Arka.
"Tapi semenjak kejadian itu, kita malah jadi deket deh terus kita jadi sahabatan"
"Bahkan setiap kemana-mana, kita selalu bareng. Entah itu mau ke kantin, perpustakaan, bahkan ke toilet pun kita selalu barengan" ucap Arka.
"Sampe-sampe di SMP ada rumor bahwa aku sama Ardan itu g*y" ucap Arka.
"Siapa yang nyebarin rumornya?" tanya Bina.
"Sebenernya itu bercandaan anak kelas karena aku sama Ardan kemana-mana selalu bareng, tapi bercandaannya sampe ke telinga kelas lain dan mungkin ada anak dari kelas lain yang anggap itu serius" ucap Arka.
"Tapi semenjak aku pacaran sama Bella, rumor itu langsung lenyap" ucap Arka.
"Oh iya, Na! aku boleh nanya sesuatu gak sama kamu" ucap Arka.
"Mau nanya apa?" tanya Bina.
"Kamu kan mantannya Rino ya" ucap Arka.
"Iya" ucap Bina.
"Kalian putusnya karena apa?" tanya Arka.
"Karena dia selalu sibuk, makanya aku minta putus sama dia" jelas Bina.
"Emang Rino sibuk ngapain?" tanya Arka.
"Dia sibuk main futsal" ucap Bina.
"Alasannya cuma gara-gara itu?" tanya Arka.
"Iya" ucap Bina.
__ADS_1
"Terus waktu pacaran, yang paling bucin siapa?" tanya Arka.
"Hmm...aku kayaknya. Soalnya Rino tuh waktu dulu cuek banget orangnya dan gak terlalu bucin" ucap Bina.
"Yang duluan suka siapa?" tanya Arka.
"Ya Rino lah" ucap Bina.
"Kok aku gak percaya ya" ucap Arka.
"Ya udah kalau gak percaya" ucap Bina.
"Waktu itu, Lino nembak kamu dimana?" tanya Arka.
"Nembaknya di perpustakaan" ucap Bina.
"Itu mau nyatain cinta atau mau baca buku" ucap Arka.
"Iya soalnya waktu itu kita berdua ke perpustakaan bareng. Terus dia nembak aku deh" jelas Bina.
"Kamu waktu itu manggil sayang gak ke dia?" tanya Arka.
"Yang namanya pacaran ya manggil sayang lah" ucap Bina.
"Siapa yang lebih sering manggil sayang?" tanya Arka.
"Aku" ucap Bina terus terang.
"Kamu sering manggil dia sayang?" tanya Arka.
"Iya" kata Bina.
"Tapi kok ke aku gak sering" ucap Arka sedikit cemburu.
"Sering kok" ucap Bina.
"Enggak ah! gak sering" ucap Arka.
"Sering kok" ucap Bina.
"Enggak" ucap Arka.
"Kebanyakan aku yang sering manggil sayang ke kamu" ucap Arka lagi.
"Ya udah, nanti aku bakal sering-sering deh manggil sayang ke kamu" ucap Bina.
"Udah ya jangan bahas Rino lagi, lagian kan itu masa lalu aku" ucap Bina.
"Iya, gak bakal dibahas lagi kok. Lagian tadi aku cuma pingin tahu aja gimana kamu sama Rino waktu dulu" ucap Arka.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang dulu ya sayang" ucap Bina.
"Nanti aja pulangnya" ucap Arka.
"Tapi aku pingin pulang sekarang, soalnya aku belum nyampulin buku-buku aku" ucap Bina.
"Oh iya, aku juga belum nyampulin buku-buku aku" ucap Arka.
"Ya udah cepet sampulin, besok kan mau masuk sekolah" ucap Bina.
"Tapi aku gak bisa nyampulin nya" ucap Arka.
"Ya udah mana buku sama sampulnya?" tanya Bina.
"Ada di kamar" ucap Arka.
"Ya udah ayo ke kamar" ucap Bina.
Arka dan Bina segera pergi menuju kamar.
"Nih" ucap Arka sambil memberikan buku dan sampul kepada Bina.
"Nanti kamu lihatin ya cara aku nyampul bukunya" ucap Bina.
"Iya" ucap Arka.
Bina segera menyampul buku-buku tersebut.
"Kamu kok malah lihat ke aku sih" ucap Bina.
"Soalnya kamu lebih menarik dari pada bukunya" ucap Arka.
"Alah gombal mulu" ucap Bina.
"Bukan gombal, tapi ini kenyataan. Lagian ngapain coba lihatin bukunya" ucap Arka.
"Kan biar kamu bisa nyampulin buku" ucap Bina.
"Tapi aku gak mau bisa" ucap Arka.
"Kenapa gak mau bisa sih?" heran Bina.
"Soalnya biar buku aku disampulin terus sama kamu" ucap Arka.
"Itu sih namanya nyusahin orang" ucap Bina.
__ADS_1