
[Chapter 104.]
[Konspirasi Mafia.]
[Silahkan Dibaca.]
Di sebuah tempat.
Kurht berjalan dengan cepat memasuki tempat tersebut. Kemudian, dia duduk di kursi dekat bartender cantik.
“Hufff, bourbon satu.” Ucap Kurht, lalu bartender cantik tersebut tersenyum, lalu mulai membuatkan minuman tersebut.
Tak lama kemudian, Bourbon tersebut sudah diberikan kepada Kurht tersebut. Lalu, bartender cantik tersebut berkata dengan sambil menyalakan rokoknya.
“Jadi, bagaimana Kurht-kun?.” Ucap bartender cantik tersebut, sambil merokok. Sementara, Kurht dia minum bourbon tersebut.
“Yah, ternyata aku bertemu dengan Kepala keluarga Kurokami, namun benar-benar masih lemah.” Ucap Kurht, sementara bartender cantik mengikat rambutnya dengan penjepit rambut.
“Oh, kamu bertemu dengannya.” Ucap bartender cantik tersebut, dengan ikatan kuda membuatnya menjadi lebih cantik.
“Sepertinya kau, mengenal bocah itu, Yuli.” Ucap Kurht, sementara bartender cantik tersebut mengeluarkan kepulan asapnya, lalu tersenyum.
“Yah, aku mengenalnya. Namun, maaf itu privasi Wanita.” Ucap bartender cantik tersebut, yang tak lain adalah Yuli.
“Hahaha, aku tidak peduli. Sepertinya Zehard mendapatkan lawan yang akan bangkit nantinya.” Ucap Kurht, sambil meminum bourbon.
“Hihihi, Zehard pasti akan senang mendengar lawannya mulai menjadi tambah kuat.” Ucap Yuli, terkikik mendengar ucapan Kurht.
“Apakah dia sudah melawan Gurita di segitiga bermuda?.” Ucap Kurht, sementara Yuli menjawab dengan ringan.
“Itu benar, dia sudah melawan Gurita tersebut.” Ucap Yuli, lalu melepaskan pakaian bartendernya, kemudian dengan cepat berganti menjadi pakaian formal seorang guru.
“Seperti biasa, tanganmu sangat cepat dalam berganti pakaian.” Ucap Kurht, sementara Yuli berkata sambil tersenyum.
“Kau tidak akan bisa melihat tubuh ku, hihihi.” Ucap Yuli, kemudian memakai kacamata lalu berjalan keluar dari tempat tersebut.
“Aku pergi dulu, Kurht-kun.” Ucap Yuli, pergi dengan santai menuju keluar dari tempat tersebut. Lalu, melemparkan rokoknya ke tong sampah.
Sementara Kurht, dia menghabiskan Bourbon, kemudian mengeluarkan telponnya dan menekan nomor yang tidak ada namanya.
Purupurupuru.
Katcha.
“Ada apa, Kurht?.” Ucap suara yang semangat di balik telpon tersebut. Sementara, Kurht dia tersenyum mendengar suara tersebut.
“Rider, Mafia Kura-kura di Tokyo semuanya di bunuh. Kita ganti lokasi ke Shibuya.” Ucap Kurht, kemudian suara di telpon menjawab.
“Oh, Mafia Kura-kura semuanya dibunuh. Hm hm, sepertinya kita harus, ganti teritori. Baiklah, akan kubilang ke Zehard.” Ucap Rider, kemudian Kurht berkata kembali.
__ADS_1
“Serta, aku akan menyelidiki Mafia milik kita disini. Aku merasa ada konspirasi yang aneh.” Ucap Kurht, sementara Rider menjawab.
“Konspirasi aneh?. Apakah itu perbudakan dan ilegal?.” Ucap Rider dengan suara menjadi dingin. Kurht menjawab dengan santai.
“Itu benar, kau tahu kan. Zehard paling tidak menyukai perbudakan. Sepertinya, konspirasi ini melibatkan dengan pemerintah Amerika.” Ucap Kurht.
“Akan kuselidiki, pemerintah Amerika disini. Jika Zehard tahu hal ini, Amerika mungkin hancur lebur.” Ucap Rider.
“Baiklah, akan kututup. Serta tunggu Zehard pulang dari melawan Gurita di segitiga Bermuda tersebut.” Ucap Kurht, lalu menutup telponnya.
Kurht, kemudian mengambil rokoknya. Kemudian, menyalakannya dengan santai. Lalu, mengeluarkan asap dari mulutnya.
“Fyuhhh, waktunya bergerak.” Ucap Kurht, kemudian berdiri dari tempat duduk dan pergi keluar dari tempat tersebut.
Sementara itu, di suatu tempat di laut. Terdengar suara teriakan yang mengerikan, serta suara pertarungan yang sengit.
Booom Booommm.
“Guahhhh.” Teriak seekor Gurita besar, dia terkena pukulan oleh seorang laki-laki berotot dengan rambut berwarna Golden.
“Hahahaha, ayo Kraken.” Teriak orang tersebut, yang tak lain tak bukan, Zehard. Sementara Kraken tersebut marah, lalu mengayunkan tiga tentakelnya.
Wushhh Wushhh Wushhh.
Zehard, memusatkan energi di tangannya, lalu energi berubah menjadi merah cerah. Kemudian, api muncul dengan besar.
Boooommmmm.
Langit menjadi gelap, air laut menjadi tidak tenang. Badai besar muncul disana, petir menyambar dimanapun tempat ttersebut
Di tempat lain.
Rumah Ryuto.
Alice, Rina, Nina, Ryuto, Lilia, dan Amy telah sampai di rumah. Alice membawa ke dalam kamar Ryuto dan membaringkan di kamar tersebut.
Kemudian, Alice keluar dan berjalan ke arah ruang tamu. Disana hanya terdapat Lilia, Amy, Rina, dan Nina. Alice melihat mereka yang memiliki wajah khawatir.
“Tenanglah kalian, Ryuto hanya kelelahan dan pingsan.” Ucap Alice, kemudian mereka berempat menghela nafas lega, walaupun masih ada kekhawatiran di dalam diri mereka.
“Terimakasih, Alice.” Ucap Amy, sementara Alice menggelengkan kepalanya dan menjawab sambil tersenyum.
“Seharusnya aku berterimakasih. Jika, kalian tidak muncul. Mungkin kami sudah mati di tempat tersebut.” Ucap Alice, lalu duduk di sofa ruang tamu tersebut.
“Akan kuambilkan minuman.” Ucap Lilia, lalu berjalan ke arah dapur. Sementara, Amy menemani Rina, Nina, dan Alice di ruang tamu tersebut.
“Lalu, dimanakah Yuichi dan Kazuha?.” Ucap Amy, sementara Alice menjawab dengan santai dan jujur.
“Mereka berada di rumahku. Awalnya aku sedikit terkejut melihat mereka tiba-tiba datang kepadaku, lalu saat aku bertanya, mereka bilang bahwa diserang.” Ucap Alice, kemudian melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Oh, sudah waktunya. Aku akan berganti.” Ucap Alice, sementara Amy bingung dengan ucapan Alice, Rina dan Nina mengangguk paham.
Lalu, Alice menutup matanya, kemudian membukanya kembali. Terlihat Alice berubah menjadi lucu dan bertingkah berbeda dari sebelumnya.
“Um, ahh. Rina dan Nina, sini peluk dengan kakak.” Ucap Alice, membuat Amy terkejut dengan perubahan sikap Alice.
Rina dan Nina, tersenyum tak berdaya dan berjalan ke arah Alice. Kemudian mereka saling berpelukan. Lilia, keluar membawa minuman dan makanan ringan.
“Ini diminum.” Ucap Lilia, lalu melihat Alice, Rina, Nina berpelukan, dia memiringkan kepalanya dan menatap ke arah Amy.
Amy paham dengan tatapan tersebut, dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lilia berjalan kembali ke arah mereka dan menaruh minuman dan makanan di meja tersebut.
“Rina, ada apa dengan kalian, kenapa berpelukan?.” Ucap Lilia dengan penuh penasaran. Kemudian, mereka bertiga melepaskan pelukan mereka masing-masing.
“Kakakku, memiliki dua jiwa di dalam tubuhnya.” Ucap Rina, sementara Lilia terkejut mendengar hal tersebut, kemudian terlihat tersenyum, lalu memperkenalkan dirinya.
“Perkenalkan namaku Alice, aku adalah kakak dari Rina dan Nina, salam kenal.” Ucap Alice, dengan sopan. Kemudian, mereka saling memperkenalkan diri mereka.
Lalu, mereka berlima saling berbicara dan akrab dengan cepat. Author sendiri bingung bagaimana bisa perempuan baru bertemu bisa dengan cepat akrab, ini adalah misteri.
Di dalam kamar Ryuto.
Terbaring Ryuto di tempat tidur, kemudian perlahan tangan Ryuto bergerak dan mata Ryuto perlahan terbuka.
“Ugh, aku dimana ini?.” Ucap Ryuto, kemudian melihat ke arah samping kanan dan kiri, Ryuto pun akhirnya paham.
“Aku dikamar, lalu orang itu. Lupakan, tunggu dimana Amy, Lilia, Rina, Nina, Alice.” Ucap Ryuto, lalu dia akhirnya sepenuhnya tersadar, kemudian dia memaksakan tubuhnya untuk turun.
Namun, berhenti saat pintu terbuka dan menampilkan Nina, Rina, Amy, Lilia, dan Alice yang bersembunyi di balik Nina.
Kemudian Alice, melihat ke arah Ryuto. Dia lalu berteriak dengan keras sambil menunjuk ke arah Ryuto.
“Kyaaa, orang mesum.”
[To be Continued.]
info : Terimakasih untuk seluruh pendukung novel ku, akhirnya level author naik ke silver.
Nantikan novel yang Back with System, Pendekar Pedang Dunia lain, dan lainnya.
Mau ku up banyak, namun masih menunggu untuk dapat membeli Hp baru.
Terus dukung ya, Guys, terimakasih.
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1