
[Chapter 146.]
[Berangkat ke Gunung Fuji.]
[Silahkan Dibaca.]
Kediaman Ryuto.
Tap tap.
Ryuto dan Sayoko sudah tiba di depan kediaman, lalu mereka melihat api di halaman rumah.
“Mereka membakar mayat kah?” ucap Ryuto, kemudian dia pergi ke halaman bersama dengan Sayoko.
Tiba di halaman, Ryuto melihat ke arah para istri dan Maidnya sedang menatap ke arah Api yang membakar tumpukan mayat.
“Sudah selesai?” ucap Ryuto, seketika para istri dan maid melihat ke arah Ryuto, mereka tersenyum dan mengangguk.
“Un,”
Ryuto hanya tersenyum tak berdaya, kemudian dia berkata yang membuat mereka semua senang.
“Baiklah, ayo mandi. Setelah kalian semua berkumpul,” ucap Ryuto, kemudian mereka semua berjalan ke halaman depan.
“Nah sayang, kenapa kamu pulang sendiri dengan Sayoko?” ucap Yui dengan penasaran.
“Yah, mereka pergi menuju ke Klan Sain untuk menghancurkan sampai akarnya,” ucap Ryuto.
Yui pun mengangguk, kemudian Asami bertanya dengan sedikit khawatir.
“Apakah Youma dan Youka aman?” ucap Asami, dia belum tahu bahwa keduanya berada di kediaman Kiba.
“Dia aman, ada Paman Kiba dan Bibi Agnes, apalagi disana juga ada beberapa penjaga,” ucap Ryuto.
Dia lupa memberitahu bahwa keduanya di kediaman Kiba. Mendengar ucapan Ryuto, Asami menghela nafas lega.
Kemudian, mereka semua tiba di halaman depan dan mereka duduk di rumput yang bersih.
Mereka menunggu istri Ryuto yang lain sambil berbicara, sedangkan Ryuto berbaring di paha milik Lilia, sesekali bermain dengan melon milik Asami.
Beberapa menit kemudian.
Mereka merasakan banyak kehadiran menuju ke kediaman Ryuto, para istri yang duduk di rumput mengerutkan keningnya.
Sampai akhirnya, para istri yang lain dan Yuuko tiba, mereka sedikit tenang dan menaikkan sudut mulut membentuk sebuah senyuman.
“Siapa mereka?” ucap Aoi, melihat banyak perempuan berpakaian Kimono hitam dengan garis putih membentuk sebuah lambang.
“Maaf, saudari Aoi. Mereka adalah Klan ku, Klan Ouro,” ucap Yuuko, dia sedikit merasa takut jika Klannya tidak diterima.
“Oh, apakah kamu akan memasukkan mereka kesana, Sayang?” ucap Miya, semuanya juga sadar dengan hal tersebut.
Ryuto mengangguk dan berkata dengan ringan, “Itu benar, biarkan mereka menjadi penduduk di sana.”
Ryuto berdiri dan berjalan ke arah para perempuan Klan Ouro, kemudian berkata.
__ADS_1
“Aku akan memindahkan kalian ke tempatku, jadi jangan terkejut,” ucap Ryuto, kemudian memegang pundak salah satu perempuan.
“Kalian saling berpegangan dan menyatu,” ucap Ryuto, kemudian mereka segera saling memegang satu sama lain.
“Masuk,” ucap Ryuto, kemudian seluruh perempuan Klan Ouro dan Ryuto menghilang dari tempat.
Kemudian, mereka tiba di sebuah padang rumput yang luas, seluruh Klan Ouro terkejut dan merasa damai dengan tempat tersebut.
“Kalian, akan membuat kediaman disana,” ucap Ryuto, menunjuk ke sebuah tempat yang terlihat seperti lahan yang sangat luas.
“Pohon besar itu, jangan sampai di tebang,” ucap Ryuto, mereka mengangguk. Kemudian salah satu berkata.
“Bagaimana cara kami makan nanti?” ucap perempuan tersebut, Ryuto tersenyum dan menjawab.
“Pohon disana, itu terdapat buah-buahan, lalu disana juga ada berbagai binatang untuk buruan,” ucap Ryuto.
Mereka akhirnya paham, lalu mereka menundukkan kepala dan berkata bersama.
“Terimakasih banyak, Tuan. Kami akan selalu mengabdi kepada anda,” ucap mereka bersama, sedangkan Ryuto melambaikan tangan.
“Sama-sama, serta di lain hari jangan menundukkan kepala, oke?” ucap Ryuto, tanpa menunggu jawaban para perempuan, dia menghilang dari tempat.
Segera para perempuan, mulai membangun kediaman, mereka senang dengan tempat yang Ryuto berikan.
Sisi Ryuto.
Ryuto kembali di hadapan semuanya. Lalu, dia menatap ke arah seluruh istri dan maidnya.
“Ayo kita mandi, lalu tidur. Besok, ada acara penting,” ucap Ryuto, mereka mengangguk dengan senang.
Semuanya berendam bersama di bak mandi yang luas dan terbuat dari keramik tersebut.
Mereka sedikit melakukan permainan sebentar, kemudian mereka menyelesaikannya di tempat tidur.
Namun, saat mereka akan melakukan di tempat tidur, Ryuto memindahkan seluruhnya ke kediaman yang berada di dunia jiwanya.
Mereka bermain dengan sepuasnya. Alunan melodi yang indah memenuhi kediaman tersebut.
Beruntung, Kediaman sudah dipasang dengan penghalang suara, namun Klan Ouro tetap mendengar, karena mereka adalah Klan yang menembus namanya penghalang.
(Bisa dibilang, penghalang tidak bisa menghentikan mereka, ahlinya penghalang.)
Para perempuan Klan Ouro, menahan panas di tubuh mereka, dengan cara berendam di danau.
Selesai bermain, Ryuto memindahkan seluruh istri dan Maid, ke kamar tidur di kediaman Ryuto yang di luar.
“Waktunya tidur,” ucap Ryuto, kemudian tertidur di tengah para Istrinya.
Pagi hari.
Ryuto bangun, kemudian turun dari tempat tidur, berjalan menuju ke lemari pakaian.
Ryuto mulai memakai pakaian olahraga miliknya, sementara pakaian yang kotor, selalu dicuci oleh Maid dengan cepat.
Energi Spiritual sungguh membantu para maid, hanya tinggal merendamkan baju diberi deterjen, kemudian dikeringkan dengan Spiritual.
__ADS_1
Ryuto keluar dari kamar, tak lama kemudian para istrinya bangun dari tidur. Mereka melihat bahwa, ruangan berbeda dari sebelumnya dan mencari Ryuto.
Mereka tidak menemukan Ryuto sama sekali, lalu melihat ke arah Lemari dan tersenyum. Kemudian, mereka turun dari tempat tidur.
Para istri Ryuto mulai memakai handuk mereka masing-masing dan pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian.
Selesai mandi, mereka memakai pakaian santai dan menunggu di ruang makan.
Ryuto selesai berolahraga, dia masuk dan pergi ke kamar mandi. Setelah itu, dia mandi.
Ryuto sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai, dia pergi ke ruang makan.
Ruang makan.
Di meja sudah terdapat banyak makanan, Ryuto dan seluruh istri dan maidnya berkata.
“Selamat makan,”
Mereka pun mulai makan bersama, mereka makan dengan senang walaupun tanpa ada suara.
Setelah makan, mereka bersiap-siap. Mereka keluar dan mendapati mobil panjang di depan gerbang.
(Lupa nama mobil panjangnya.)
Ryuto dan yang lainnya masuk ke dalam mobil tersebut, Ryuto memang sudah menelpon Zero untuk menjemputnya.
“Kau membeli mobil ini?” ucap Ryuto, kemudian Zero menjawab dengan tak berdaya.
“Yah, tidak ada yang cocok untuk kendaraan berkeluarga banyak, Tuan. Kecuali, mobil ini,” ucap Zero.
Kemudian, mobil berjalan pergi menuju ke Gunung Fuji, di Prefektur Shizuoka.
Dalam perjalanan, para istri saling berbicara satu sama lain, sementara Ryuto mendengarkan mereka berbicara.
3 Jam kemudian.
Mereka tiba di gunung Fuji. Zero dengan cepat memarkirkan mobil di tempat parkir.
Ryuto dan para istri dan maid keluar dari Mobil, mereka menatap ke arah gunung yang lumayan tinggi, dengan puncak seperti salju.
“Akhirnya kalian tiba,”
Ryuto dan para istrinya segera menatap ke arah pemilik suara tersebut, Ryuto seketika tersenyum.
“Baiklah, ayo kita pergi,”
[To be Continued.]
Info : Kegiatan pagi ku cepatkan Guys, maaf.
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.