
[Chapter 180.]
[Pejuang Indonesia Menang.]
[Silahkan Dibaca.]
Perang pun dimulai.
“Merdeka!”
Dobrakan kata tersebut membuat seluruh pejuang Indonesia menjadi semangat dan maju dengan cepat menuju ke arah Menara Belanda.
Di sisi Belanda.
Komandan John Thomson, menatap dengan marah terhadap para pejuang Indonesia tersebut, dia berteriak keras.
“Semuanya, patahkan semangat dan buat mereka menderita, beraninya budak melawan Tuannya,” raung Komandan tersebut.
Para prajurit segera memasang posisi menembak dan sebagian melompat turun dari menara dengan sebuah pedang di tangan mereka.
(Note : Battle Indonesia ku buat dengan ada unsur spiritual, tapi normal.)
John Thomson melihat pasukannya maju, dia diam dan mengamati ke arah pejuang Indonesia.
Dia akhirnya tahu, dalang di balik pemberontakan tersebut, dia fokus ke arah orang yang berdiri di atas batu besar.
“Sutomo, budak itu,” marah John, dia dengan cepat mengeluarkan sebuah senjata laras panjang di pinggangnya.
John membidik Sutomo tersebut, dengan fokus tinggi, dia membidik dengan mudah.
Sutomo yang merasakan suatu bahaya, dia segera melompat ke belakang dan berlindung di balik batu besar.
Piuwww.
Tembakan tepat di tempat Sutomo berdiri sebelumnya. Sutomo melihat hal tersebut, lalu menatap ke arah John.
“Ba*ingan itu, akan kubunuh kau di medan perang,” Sutomo berkata dengan penuh kebencian.
Sutomo keluar dari batu besar dan melesat maju ke arah medan perang. Dia melesat dengan cepat, bahkan John sendiri tidak bisa membidik Sutomo.
John yang tidak bisa membidik Sutomo, berubah menjadi lebih benci dan frustasi. Dia dengan cepat melempar senapan miliknya.
John Thomson melompat dari atas menara tersebut, dia berlari dengan cepat ke arah Sutomo tersebut.
“Tomo, akan kuberikan kau pelajaran, Budak,” raung John dengan marah. Dia mengeluarkan pedang miliknya.
Sementara itu, Sutomo yang memegang bambu runcing mendengar teriakan dari John tersebut.
Sutomo menyeringai, dia berbalik dan melesat menuju ke arah John tersebut, dia memutar bambu miliknya.
“Ba*ingan sepertimu, harus mati disini,” teriak Sutomo, kemudian mereka berdua tiba di depan satu sama lain.
John Thomson mengayunkan pedang miliknya dengan cepat, sementara Sutomo menepis pedang tersebut dengan Bambu runcing.
Duk Duk Duk Duk.
__ADS_1
John yang melihat serangan tebasan miliknya selalu di tepis, meraung marah dan berteriak dengan keras.
“Budak, apakah kau hanya bisa menahan dan menepis saja,” raung John, dia benar-benar memprovokasi Sutomo.
Sutomo mendengar hal tersebut, dia tidak tinggal diam. Dia melesat kembali dan mengayunkan bambu runcingnya.
“Jangan remehkan aku, B*jingan,” raung marah Sutomo, dia mulai menyerang John dengan liar.
John menyeringai melihat Sutomo menyerang dirinya dengan liar, dia tahu bahwa Sutomo dan lainnya hanya bertarung dengan keberanian, dia tahu karena Indonesia tidak pernah di ajari tentang pertarungan.
Melihat ada celah dari serangan tak jelas Sutomo, John memanfaatkan hal tersebut. Dia dengan cepat menebas ke arah tangan Sutomo.
Slashhhh.
“Arhhhhh,” teriak Sutomo, dia mundur beberapa langkah. Lalu, menatap ke arah luka yang di berikan John.
Terlihat sebuah tebasan di tangannya, darah mengucur deras dari tangan tersebut. Dia menahan rasa sakit dan menatap ke arah John.
“Kau benar-benar orang paling busuk, John,” ucap Sutomo, dia menenangkan fikirannya, kemudian dia mengangkat bambu runcing miliknya.
“Sampai mati pun, aku tidak akan menyerah membunuh kalian semua, Penjajah,” teriak Sutomo.
Para pejuang Indonesia mendengar teriakan Sutomo, mereka menjadi lebih liar, darah mereka semua mendidih, lalu berteriak.
“Merdeka!”
Teriak pejuang Indonesia, mereka dengan ganas membantai pasukan dari Belanda.
Jlebb Jlebb Jlebb.
Suara tusukan dan teriakan pasukan Belanda terdengar di seluruh medan pertempuran. Para pejuang Indonesia dengan mudahnya membunuh pasukan Belanda.
John yang melihat itu wajahnya menjadi muram, dia menatap ke arah Sutomo dengan marah.
“Mati kau, Tomo,” teriak John, dia melesat dengan cepat ke arah Sutomo tersebut.
John tiba di depan Sutomo, dia mengayunkan pedangnya ke arah Sutomo, namun Sutomo dengan mudah menghindar.
“Aku tidak akan mati, sebelum Indonesia benar-benar merdeka,” teriak Sutomo, bambu runcing miliknya terlihat bersinar merah.
Sutomo dengan cepat melayangkan ujung bambu runcing tersebut menuju ke jantung milik John.
John tidak bisa menghindari serangan tersebut, alhasil serangan tersebut tepat mengenai jantungnya dan menembus sampai belakang.
Jlebbbbbb.
“Urhhh,” ucap John, dia mengeluarkan seteguk darah dan menatap ke arah Sutomo dengan mata melebar.
Dia benar-benar tidak percaya, bahwa dirinya kalah dan mati di tangan Sutomo. Dia merasakan tubuhnya terhuyung-huyung mau jatuh.
Sutomo sendiri dia segera terduduk, karena dia merasakan rasa sakit di tangannya dan dia tidak bisa menahan hal tersebut.
“Tunggu, suatu saat nanti, akan kubalaskan kematianku ini,” ucap John, dia berkata dengan nada benci.
Jantung miliknya mengeluarkan darah terus-menerus, dia berbalik ingin pergi menuju ke Menara.
__ADS_1
Namun, takdir berkata lain. John jatuh terbaring tak bernyawa di depan Sutomo tepat.
Pasukan Belanda yang melihat itu, seketika melebarkan matanya dan mereka semua ketakutan.
Para pejuang Indonesia mengepung mereka dan mulai membunuh mereka tanpa ampun.
Pejuang Indonesia berhasil merebut Menara Belanda tersebut. Tanpa mereka sadari, roh John berdiam di Menara Belanda.
Tayangan selesai.
Ryuto, June, Arisa, Silvia, Erika, dan Zero benar-benar terkejut dengan kisah tersebut.
Mereka menyadari bahwa roh jahat tadi ialah John Thomson, kemudian perlahan kegelapan menghilang.
Wushhh.
Mereka kembali di dalam menara yang berantakan tersebut, di depan mereka terdapat roh John yang menyeringai.
“Bagaimana tontonan itu, jangan khawatir. Aku akan menyerap energi kalian dengan cepat, sehingga kalian akan mati menjadi debu segera,” ucap Roh John.
Ryuto dan istrinya menatap John seperti Babi bodoh. John yang di tatap seperti itu, seketika teringat oleh Sutomo.
“Kalian, jangan menatapku seperti itu, tatapan menyebalkan itu, aku akan membunuh kalian segera, karena menunjukkan hal paling kubenci,” raung roh John tersebut.
Ryuto menghela nafas, dia berjalan ke arah kursi yang masih utuh, dia dengan santai duduk di sana.
“Bunuh saja, dia benar-benar roh yang sangat buruk, sifatnya paling membuatku kesal,” ucap Ryuto.
Sementara itu, istri Ryuto yang mendengar ucapan Ryuto, mereka memasang wajah senang.
Zero merinding melihat hal tersebut, dia segera mundur beberapa langkah dan berdiri di belakang Ryuto.
John sendiri wajahnya menghitam, walaupun dia sudah hitam. Dia menatap ke arah empat istri Ryuto dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
“Kalian benar-benar meremehkanku, bersiaplah untuk mati kalian,” ucap John dengan marah.
Kuku miliknya memanjang dan menjadi lebih tajam, sementara keempat istri Ryuto mengeluarkan senjata mereka.
“Yah, semoga kau kuat, agar kami tidak bosan,” ucap June, dia mengeluarkan Belati miliknya.
“Itu benar, jangan sampai mati oke, walaupun kau sudah mati, hihihi,” ucap Arisa, dia mengeluarkan tongkatnya.
Erika dan Silvia mengeluarkan pedang milik mereka dan mereka hanya menampilkan senyuman manis saja.
Ryuto melihat keduanya sudah bersiap, dia berkata dengan pelan.
“Mulai,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1