
[Chapter 179.]
[Menara Peninggalan Belanda.]
[Silahkan Dibaca.]
Jalan tol, 58km Cipali.
Ryuto, June, Arisa, Silvia, Erika, dan Zero tiba di dekat menara tua tersebut, menara yang terus-menerus memancarkan aura gelap, membuat kesan menara menjadi suram.
“Benar-benar menara yang hebat,” ungkap Ryuto, diangguki ke empat istrinya. Kemudian, mereka mendekat ke menara.
Tiba di menara, Ryuto memegang menara tersebut, kemudian dia merasakan bahwa menara hangat.
“Menara ini sudah terpengaruh, Zero cari pintu menara, kemungkinan tertutup oleh tanaman rambat ini,” ucap Ryuto.
Zero mengangguk dan mengelilingi menara tersebut, sementara ke empat istrinya menyisir area sekitar.
Erika dan Silvia melihat sesuatu di dinding, mereka melihat ada sebuah tulisan, namun tertutup dalam sebuah akar.
Ryuto juga melihat ke arah dua istrinya yang berhenti di depan sebuah dinding, Ryuto yang penasaran menghampiri, sekaligus bertanya.
“Ada apa, sayang?” Ryuto bertanya kepada kedua istrinya tersebut. Kemudian, kedua istrinya menatap ke arahnya dan menunjuk ke dinding.
“Ada tulisan disini,” Silvia menjawab pertanyaan Ryuto, kemudian Erika menghancurkan akar-akar yang menutupi.
Ryuto yang mendengar ada tulisan, dia mendekat ke arah dua istrinya dan melihat ke arah dinding tersebut.
“Kau benar ada tulisan, tapi apakah dari kalian ada yang tahu?” tanya Ryuto, dia semakin penasaran melihat hal tersebut.
“Ini tulisan dari huruf Belanda, aku tahu arti dari tulisan tersebut,” ucap Erika, kemudian dia menulis terjemahannya.
‘John Thomson, 12-05-1921.’
Itu adalah terjemahan yang ditulis oleh Erika tersebut. Ryuto mengerutkan keningnya saat melihat hal tersebut.
“John Thomson, apakah dia salah satu pendiri menara?” tanya Ryuto, dia bingung. Erika dan Silvia mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
Namun, saat akan melanjutkan pembicaraan, mereka diinterupsi oleh ucapan Zero di samping Ryuto.
“Tuan, aku sudah menemukan pintunya dan anehnya pintu tersebut, tidak rusak maupun lapuk,” ucap Zero.
“Tunjukkan jalannya,” ucap Ryuto, kemudian mereka berenam berjalan bersama dengan Zero berada di depan.
Tiba di depan pintu, Ryuto memegang pintu tersebut, dia mengerutkan keningnya dan berkata.
“Kayu ini mirip kayu jati dan ini lebih kuat dari kayu jati normal, mungkin ini sedikit spesial,” ucap Ryuto.
Kemudian, dia mendorong pintunya dan pintu tersebut terbuka dengan mudah.
Ryuto melihat ke dalam, namun itu sangat luas sesuai ukuran, ada tangga menuju ke atas, namun keadaan dalam benar-benar berantakan.
__ADS_1
“Apakah tidak ada orang yang pernah kemari?” tanya Ryuto, membuat ke empat istrinya juga merasa heran dengan hal tersebut.
Mereka tanpa berfikir panjang, masuk ke dalam menara tersebut, kemudian mereka mengamati dalam menara tersebut.
“Interior masih bagus, dinding jelas terkelupas, tangga melebihi dari kata kuat, tapi saat masuk benar-benar berantakan,” ucap Ryuto.
Zero, Erika, Silvia, June dan Arisa mengangguk, mereka juga merasakan hal sama seperti Ryuto.
“Siapa yang beraninya masuk ke dalam sini,” teriak sebuah suara dari ruang sebelah, pintu yang sebelumnya terbuka menjadi tertutup.
Brakkkkk.
Lalu, muncul sosok hitam tinggi dan berotot, wajahnya memiliki alis dan kumis tebal, aura jahat keluar terus-menerus.
Ryuto, June, Arisa, Silvia, Erika, dan Zero menatap ke arah sosok tersebut dengan datar, mereka tidak takut sama sekali.
Lalu, sosok tersebut menatap ke arah Ryuto dan kelompoknya, dia melihat aura Ryuto dan kelompoknya, lalu berteriak dengan marah.
“Kau dari Negara Jepang, beraninya menampakkan diri kalian di hadapanku,” raung marah sosok hitam tersebut.
“Karena kalian semua, seluruh budak Negara ku, berani melawan kami semua,” lanjut sosok hitam tersebut.
Ryuto dan kelompoknya mengerutkan keningnya, dia bingung dengan ucapan dari sosok hitam tersebut.
Melihat tatapan dari Ryuto dan kelompoknya, membuat sosok hitam tersebut cemberut dan kesal.
“Apa maksudmu?” tanya Ryuto dengan tajam, membuat sosok hitam tersebut tambah marah.
Ke enam orang tersebut membiarkan diri mereka masuk ke dalam ruangan hitam tersebut.
Lalu, sebuah layar monitor besar muncul di hadapan Ryuto dan kelompoknya, mereka tahu bahwa ini adalah ingatan sosok hitam tersebut.
Dalam layar.
Terlihat sebuah kantor yang luas terduduk, orang yang terlihat gagah dan muda. Orang tersebut sangat kekar dan ciri-ciri keseluruhan mirip dengan sosok hitam.
Tok Tok.
“Masuk,” ucap orang tersebut, kemudian pintu terbuka dan menampilkan seorang prajurit Belanda.
“Lapor Pak, Jakarta sudah dikuasai oleh Indo-“ laporan tersebut, langsung di hentikan dengan teriakan dari orang yang duduk tersebut.
“Jangan pernah anggap mereka sebagai Negara, mereka adalah budak dan akan selalu menjadi Budak, mengerti!” teriak tegas orang tersebut.
“Siap, Pak,” balas tegas prajurit tersebut, orang yang duduk mengangguk, lalu berkata dengan nada serius.
“Jakarta telah dikuasai oleh para budak itu, lalu Jepang bagaimana?” tanya orang tersebut, kemudian prajurit menjawab.
“Pasukan Jepang seluruhnya menyerah dan pergi dari wilayah Indonesia,” ucap Prajurit tersebut.
Orang yang duduk, mengerutkan keningnya. Dia merasa bahwa Jepang tak berguna, lalu dia mendengar suara orang berlari ke arah kantornya.
__ADS_1
“Pak, Pak. Ada keadaan darurat,” teriak Prajurit tersebut, orang yang duduk mengedutkan keningnya.
“Apa yang terjadi, sedarurat apapun. Kau tidak seharusnya, menerobos masuk kantor Komandan dengan seenaknya,” tegas orang tersebut.
“Maaf, pak,” tegas prajurit tersebut, dia benar-benar merasa takut, melihat wajah tegas Komandan.
“Lupakan, satu kali kesempatan, jelaskan apa yang terjadi?” Komandan bertanya dengan nada serius.
“Itu.... Seluruh rakyat Indonesia yang berada di Surabaya, semuanya mengepung menara kita, Pak,” ucap Prajurit tersebut.
Komandan yang menerima laporan tersebut, tangannya terkepal dan menabrakkan tangannya ke dinding.
“Beraninya para budak itu melawan, ayo kita keluar siksa mereka tanpa ampun,” teriak Komandan tersebut.
Kedua prajurit tersebut terpana, tatapan mereka menjadi tajam, mereka mengangguk dan mengikuti Komandan mereka keluar.
Komandan naik sampai ke atas menara, lalu melihat ke arah Timur, tepatnya terlihat barisan pejuang Indonesia.
Terlihat para pejuang tersebut, memiliki tatapan tajam bahkan melebihi tajamnya tatapan elang.
Nafas mereka benar-benar terdengar, nafas yang mengartikan bahwa mereka menginginkan sesuatu dengan paksa.
Kemudian, terlihat di sebuah batu besar, berdiri seorang Pria dengan songkok berwarna putih ke emasan.
Tatapan Pria tersebut sangat tegas yang menandakan dia adalah pemimpin dari pejuang tersebut.
“Wahai seluruh pejuang Indonesia, Pasukan Belanda yang sudah membudak kita tepat berada di depan kita semua,” teriak pria tersebut.
“Ingat perlakuan mereka kepada kita semua, saudara-saudara kita mati kelaparan dan masih dipaksakan untuk bergerak,” teriak pria tersebut.
“Mereka memperlakukan kita sebagai peliharaan mereka,” teriak pria tersebut, membuat darah para pejuang mendidih.
“Hari ini, kita harus membunuh mereka, agar kita bisa Merdeka, agar para generasi kita selanjutnya tidak merasakan rasa sakit seperti yang kita alami,” teriak pria tersebut.
Membuat banyak pejuang Indonesia menjadi lebih tegas, tatapan berubah menjadi Binatang buas yang siap memangsa.
“Wahai pejuang Indonesia, Semboyan kita tetap, Merdeka atau Mati!” teriak lantang pria tersebut.
Seketika seluruh pejuang Indonesia mengangkat bambu runcing, bahkan senjata rampasan penjajah.
“Merdeka!”
Teriakan seluruh pejuang Indonesia menyebar ke seluruh penjuru tempat tersebut, para prajurit Belanda merinding melihat hal tersebut.
Gelombang perang bersejarah pun dimulai.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.