
[Chapter 157.]
[Pembantaian.]
[Silahkan Dibaca.]
Hutan besar, Sumatera.
Para pengintai yang berjumlah 500 meleset menuju ke arah Ryuto dan kelima istrinya.
(Note : Lisa dah kuanggap jadi istrinya Ryuto.)
Ryuto hanya diam, sementara keempat istrinya yang tak lain, Sayoko, Sasha, Yuli, dan Arisa melesat ke arah para pengintai tersebut.
“Kau disini saja, karena kekuatanmu masih di bawah yang lainnya,” ucap Ryuto, menarik tangan Lisa agar berada di dekatnya.
“Un, maaf karena aku masih lemah,” ucap Lisa, dia menundukkan kepalanya karena merasa tak berguna.
Lalu, dia merasakan sebuah tangan hangat di kepala miliknya, sontak Lisa terkejut, namun dia menikmati tepukan hangat.
“Santailah, kau akan menjadi kuat nanti,” ucap Ryuto, kemudian dia mengalihkan pandangan ke depan dimana para istrinya mulai membantai para pengintai.
Sisi pertarungan.
Sayoko dan Sasha melesat bersama ke arah 300 orang, mereka berdua tersenyum senang seolah-olah menemukan bahan untuk percobaan.
Sayoko mengalirkan energi spiritual ke seluruh tubuhnya, kemudian Sayoko mengeluarkan sebuah tombak.
Sringg.
Tombak menyala saat dialiri sebuah energi spiritual, Sayoko menambah kecepatan dan tiba di depan para pengintai.
Slashhhhh.
Sekitar 20 pengintai, tertebas tepat kepala mereka, 20 pengintai tersebut tubuhnya jatuh satu persatu.
Bruk Bruk Bruk Bruk.
Pengintai yang berada di samping dan belakang mayat tersebut, terkejut. Namun, keterkejutan mereka berubah heran saat mata mereka berbalik.
Slashhhh.
“Hehe, menggunakan sabit lebih nyaman dibanding pedang pendek,”
Sebuah suara yang terlihat senang, terdengar di telinga mereka, lalu muncul sebuah siluet seseorang dengan sebuah sabit.
Namun, setelah itu mereka tidak bisa melihatnya karena mereka sudah mati di tempat.
40 orang di tebas oleh Sabit milik Sasha, kemudian dia melesat diikuti oleh Sayoko. Keduanya terlihat seperti kembar kematian.
Di sisi Yuli.
Dia juga melapisi tubuhnya dengan energi spiritual, seperti Sayoko dan Sasha. Kemudian, dia mengeluarkan dua pistol biasa.
“Hanya dengan pistol, kau tidak akan bisa menang dengan kami,” teriak pengintai 311, dia benar-benar meremehkan Yuli.
Naif.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Yuli tersenyum penuh arti, kemudian mengarahkan dua pistol yang sudah dialiri oleh energi spiritual.
“Terima ini,” ucap Yuli, dengan ringan. Kemudian, Yuli menarik pelatuk dari pistol tersebut.
Phiw Phiw.
Jrashh.
Mata para pengintai melebar saat melihat, rekannya memiliki lubang di kepalanya. Bukan hanya satu melainkan, rekan di belakang yang lainnya berlubang.
Bruk Bruk Bruk Bruk Bruk.
Di sisi Arisa.
Dia mengalirkan energi spiritual ke seluruh tubuhnya, kemudian mengeluarkan sebuah pedang pendek (Tanto.)
Pedang pun dialiri, Arisa pun melesat dengan cepat ke arah para pengintai. Sangat cepat, karena Arisa menambahkan energi spiritual di kakinya.
Wushhh.
Slash Slash Slash Slash Slash.
Para pengintai terkejut, dan merasakan rasa sakit di dada, leher, tangan, dan kakinya. Arisa tersenyum melihat musuhnya benar-benar ditebas seluruh tubuhnya.
Arhhh Arhhhh.
Terdengar berbagai teriakan, namun setelah berteriak selalu berhenti dengan cepat. Arisa benar-benar ingin melihat musuhnya tersiksa.
Namun, itu bukan hanya Arisa saja, bayi di dalam perutnya juga ikut senang, Arisa yang mengerti bayinya senang, dia pun tidak peduli dengan musuhnya.
(Note : Ibu itu paham bagaimana perasaan bayi, dia senang atau tidak. Mereka benar-benar terhubung, entah itu di dalam perut maupun sudah lahir.)
Lisa benar-benar sedikit pucat, melihat pembantaian di depan. Namun, sesuatu yang hangat selalu menenangkan dirinya.
Ryuto sendiri, mengaktifkan pelindung di Lisa, sementara dirinya hanya mengayunkan jarinya ke musuh yang mengepungnya.
Boom Boom Boom Boom.
“S-sial, Mo-,” ucap pengintai 432, namun berhenti ketika Ryuto hanya menjentikkan jarinya tepat di wajah pengintai tersebut.
Boom.
“Aih, kalian terlalu lemah, kalian hanya mengeluarkan 1% kekuatanku,” ucap Ryuto, dengan ringannya.
Sementara para pengintai, mereka benar-benar ketakutan saat mendengar ucapan dari Ryuto.
‘1%, bagaimana kalau 30%, sial orang ini monster,' batin para pengintai, namun mereka tidak bisa melarikan diri, karena saat berbalik mereka sudah disambut berbagai serangan.
“Berani sekali, kalian membunuh pasukanku,” teriak pemimpin pengintai, Kent. Dia terbangun dan berdiri menatap ke arah Ryuto dengan benci.
“Oh, pemimpin sampah muncul,” ucap Ryuto, kemudian mengarahkan satu jari ke arah Kent, lalu muncul sebuah bola kecil.
Wushhh.
Jlebbb.
“Ap-,” ucap Kent, belum selesai bicara dia melebarkan matanya sebelum jatuh mati di tempat.
__ADS_1
Para pengintai melebarkan mata mereka, saat melihat pemimpin mereka mati. Namun, sedetik kemudian mereka merasa sakit.
“Hihihi, berani sekali kalian mengalihkan perhatian dari kami,” ucap ke empat istri Ryuto, satu persatu.
Beberapa menit kemudian.
Rumput yang hijau, sekarang berubah warna menjadi merah. Kemudian, para istri Ryuto mendekat ke arah Ryuto.
“Sayang,” ucap ke empat istri Ryuto, mereka seperti mengingatkan sesuatu, namun Ryuto hanya mengangguk dan berkata.
“Aku sudah tahu kau disana, keluarlah,” ucap Ryuto, sambil berbalik memandang ke arah danau. Kemudian, di tengah danau terlihat ada sesuatu yang muncul.
Sssttt.
Lalu, perlahan-lahan muncul sosok di tengah danau. Lisa memandang hal tersebut, dengan tubuh yang gemetar.
Dia benar-benar takut, saat melihat sosok tersebut. Seketika Lisa memeluk tangan Ryuto tanpa sadar.
Sementara keempat istri Ryuto, tersenyum senang. Ryuto sendiri menatap datar ke arah sosok tersebut.
Terlihat sosok ular berwarna putih, keluar dari danau. Namun, ukuran dari ular tersebut sangat mengerikan.
Danau yang semula penuh, berkurang sedikit saat munculnya Ular tersebut, kemudian Ular menatap ke arah Ryuto dan istrinya dengan tajam.
“Manusia, berani sekali kalian bertarung di wilayah ku,” ucap Ular Putih tersebut, sementara Ryuto menjawab.
“Ular aneh, memangnya kenapa jika bertarung disini?” ucap Ryuto, dia benar-benar tidak peduli dengan Ular Putih tersebut.
“Fufu, dia bukan aneh tapi lucu,” ucap Sayoko dan Sasha. Ryuto menatap heran kepada kedua istrinya.
“Kau ingin memeliharanya?” ucap Ryuto, keduanya mengangguk dengan cepat. Sementara Ular putih muram.
“Itu benar, bayi di kandunganku entah kenapa ingin dia menjadi peliharaan,” ucap Sayoko, sementara Sasha mengangguk.
“Beraninya kau merendahkan ku, Manusia,” raung Ular putih tersebut , sementara kedua istri Ryuto tertawa pelan.
“Sepertinya, kita perlu membe- ah, ada yang datang,” ucap Sayoko. Membuat Lisa penasaran.
Ryuto, Sayoko, Sasha, Yuli, dan Arisa menatap ke arah belakang, begitu juga Lisa mengikuti arah tatapan mereka.
Mereka menatap ke arah hutan yang bergetar, serta banyak burung yang bertebangan.
Ular putih matanya menjadi menyala dengan tajam, dia seperti melihat musuh lama yang datang kembali.
Roarrrrr.
Jak Jak Jak Jak.
Seketika terlihat sosok besar dengan empat kaki sebesar milik gajah, sebuah sorot mata tajam, gigi dengan taring yang runcing tajam.
Kulit dengan warna putih dan memiliki garis berwarna hitam, apapun yang dilewati dari sosok tersebut, akan hancur.
“Berani sekali, kalian mengganggu tidur, Raja ini,” ucap sosok tersebut, yang tak lain ialah Tiger Den.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.