Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 173


__ADS_3

[Chapter 173.]


[Indonesia Negara Informan.]


[Silahkan Dibaca.]


(Note : Misi harian, bisa dikerjakan dan tidak untuk sekarang.)


Pagi hari.


Ryuto bangun dan menatap ke arah atap-atap kamar yang berbeda, Ryuto melihat bahwa dirinya memeluk Sayoko dan Sasha.


Sayoko dan Sasha merasakan gerakan, mereka perlahan-lahan membuka matanya, pertama kali yang mereka lihat adalah Ryuto.


“Pagi, sayang,” ucap keduanya, kemudian Ryuto tersenyum dan melepaskan pelukannya.


“Pagi juga, sayang,” ucap Ryuto, lalu mencium kening keduanya. Selepas itu, mereka duduk dan melihat kanan dan kiri.


Para istri Ryuto perlahan terbangun satu persatu, mereka melihat bahwa Ryuto, Sayoko, dan Sasha sudah bangun.


“Pagi, sayang,” ucap Lilia, kemudian Ryuto menjawab dengan senyum tulus miliknya.


“Pagi juga, sayang,” ucap Ryuto, lalu mereka satu persatu mengucapkan selamat pagi. Mereka akan dicium keningnya saat turun dari tempat tidur.


Mereka semua sudah turun dari tempat tidur, lalu berjalan bersama menuju ke arah kamar mandi untuk mandi.


Beberapa menit kemudian.


Maid keluar pertama kali, karena mereka akan mempersiapkan makanan terlebih dahulu.


Kemudian, diikuti Ryuto dan para istrinya, mereka keluar bersama-sama, mereka juga sudah selesai memakai pakaian santai.


Ryuto dan para istrinya keluar dari kamar, mereka menuju ke ruang makan secara bersamaan.


Tiba di tempat makan, mereka semua duduk bersama, Maid sudah memasak sebelum Ryuto dan para istrinya bangun.


Semuanya sudah siap, makanan di depan mereka masing-masing, tak butuh waktu lama mereka mulai makan makanan tersebut.


Beberapa menit kemudian.


“Jadi, kita akan menetap di Jakarta?” tanya Nanami, lalu Ryuto mengangguk dan menjawab.


“Itu benar, untuk urusan luar kota, kuserahkan ke pasukan Alpha, Eleven, dan Zero. Namun, jika ada kendala baru kesana,” ucap Ryuto.


Para istrinya paham, kemudian mereka semua terlihat saling menatap, entah bagaimana, mereka semua saling terikat.


Ryuto melihat hal tersebut, sudah terbiasa. Kemudian, dia melihat para istrinya mulai mengangguk satu persatu.


“Nah sayang, kita akan pergi berkeliling Kota,” ucap Erika, membuat Ryuto mengerutkan keningnya.


“Apakah hanya kalian, sedangkan aku?” tanya Ryuto, mereka semua menggelengkan kepalanya.


“Tidak, kami ingin pergi, karena ini urusan para istri,” ucap Silvia, sementara Ryuto menatap mereka curiga.

__ADS_1


“Apakah begitu?” tanya sekali lagi Ryuto, sementara seluruh istrinya mengangguk secara bersama.


“Huff, baiklah. Tapi bisakah dua orang dari kalian menemaniku?” tanya Ryuto, membuat mereka saling menatap satu sama lain.


“Itu sebenarnya sudah kami tentukan,” ucap Anri, kemudian Iris, Yuna, Yuka, dan Yui maju bersama.


“Kami berempat yang akan menemanimu,” ucap mereka berempat, membuat Ryuto tersenyum.


“Baiklah, kalau begitu,” ucap Ryuto, dia berdiri kemudian mencium kening mereka kembali satu persatu.


“Jaga diri kalian, di saat di luar. Jika ada yang mengganggu bunuh sampai akarnya kalau bisa,” ucap Ryuto.


Istri Ryuto mengangguk sambil tersenyum, kemudian Ryuto berbalik pergi bersama ke empat istrinya.


Melihat Ryuto dan keempat istrinya sudah pergi dari rumah, istri Ryuto yang lain mulai berkumpul bersama.


“Ayo cepat, kita perlu menyiapkan segalanya,” ucap Lilia, dia dengan cepat mengatur persiapan.


“Hihihi, kita akan beri dia kejutan saat pulang,” ucap Amy, dengan tawa kecilnya. Mereka semua mulai merias rumah dan mulai membuat beberapa makanan.


Di sisi Ryuto.


Ryuto sudah masuk ke dalam mobil keluarga, Zero selalu menjadi supir milik Ryuto.


Ryuto juga bertemu dengan Eleven dan Alpha, mereka berdua sangat senang saat bertemu dengan Ryuto.


Mobil pun berjalan, Ryuto, Zero, Yui, Yuka, Yuna, dan Iris, pergi menuju ke sebuah tempat.


“Itu benar, tapi lokasinya agak terlalu menyusahkan,” ucap Ryuto, membuat keempat istrinya menaikkan alisnya.


“Kenapa?” tanya mereka bersama, Ryuto pun menjawab dengan tenang dan sedikit serius.


“Karena, tempatnya di Rawa,” ucap Ryuto, seketika mereka berempat paham, apa yang ada di rawa.


“Target sekarang, adalah Buaya kah,” ucap Yui, dia mengangguk. Lalu, tersenyum dengan senang.


“Buaya putih lebih tepatnya,” ucap Ryuto, mereka mengangguk paham, lalu Yuka bertanya.


“Apakah itu setingkat dengan Harimau Putih?” tanya Yuka, kemudian Yuna menambahi pertanyaan Yuka.


“Itu benar, apakah setingkat dengan Ular Putih?” tanya Yuna, mereka berdua penasaran dengan tingkat Buaya Putih.


“Mungkin,” ucap Ryuto, dia sendiri belum tau akan tingkat kekuatan Buaya Putih tersebut.


Keempat istrinya menghela nafas tak berdaya, mendengar jawaban dari Ryuto. Kemudian mereka mendengar kembali ucapan Ryuto.


“Mungkin di atas Harimau Putih maupun Ular putih,” ucap Ryuto, kemudian dia melihat ke arah Hp miliknya.


Ryuto menunjukkan kepada keempat istrinya soal berita di Hp miliknya, keempatnya melihat hal tersebut.


“Buaya setinggi 2 meter,” ucap Yui, dia mengerutkan keningnya dan mengangguk.


“Buaya menelan 100 korban sehari, ini menarik,” ucap Yuka, dia benar-benar sudah tidak sabar.

__ADS_1


“Buaya keturunan Boyo dari Surabaya,” ucap Yuna, dia benar-benar tertarik dengan sejarah Surabaya.


“Beritanya ini, diupload pagi ini, informan di Indonesia lebih mengerikan,” ucap Iris, dia malah memperhatikan jadwal update berita.


“Mau bagaimana lagi, Indonesia adalah hal menarik lainnya, seluruh orang disini dengan cepat mendapatkan informasi,” ucap Ryuto.


“Kau benar, tapi anehnya pengelolaan sumber daya alam mereka kurang,” ucap Yuna, sementara Ryuto mengangguk.


“Ya, bahkan ada banyak tambang emas, hutan masih asri, beberapa hal yang langka masih ada,” ucap Ryuto.


Ryuto menyandarkan kepalanya di kursi mobil, sementara keempat istrinya terlihat membahas hal aneh.


“Bagaimana kalau menguliti Buaya itu?” tanya Yui, ke arah tiga saudarinya. Yuna mengangguk setuju.


“Kau benar, dagingnya mungkin enak,” ucap Yuna, sementara Yuka berkata dengan nada santai.


“Semoga saja, Buaya itu memiliki telur,” ucap Yuka, kemudian Iris juga menambahi ucapan Yuka.


“Itu benar, jika ada telur kita bisa meneliti dan meneteskannya,” ucap Iris, ketiga saudarinya mengangguk setuju.


Sementara itu, Ryuto yang mendengar ucapan keempat istrinya hanya tersenyum tak berdaya sambil memejamkan mata.


Sedangkan Zero, dia berkeringat dingin mendengar ucapan dari keempat istri Tuannya.


‘Entah kenapa, aku merasa kasihan kepadamu, Buaya Putih,' batin Zero, sambil menyeka keringat dinginnya.


Mobil pun melaju dengan kecepatan stabil, mereka tidak ingin membuang-buang waktu lama.


Keempat istri Ryuto menyuruh Zero, lebih cepat untuk mengemudikan mobilnya. Zero menuruti.


2 jam kemudian.


Mereka melihat hutan yang sangat besar, mereka benar-benar terlihat kagum dengan hutan tersebut.


Hutan hijau yang sangat rimbun, suasana mencekam keluar dari Hutan, dengan sebuah pelindung daerah yang sudah terlilit oleh benalu.


(Danger.)


(Jangan masuk ke dalam.)


Itu adalah tanda yang terpasang di pintu masuk hutan tersebut. Di sana juga ada penjaga.


Mobil Ryuto terparkir di dekat sana, Ryuto, Zero, Yui, Yuka, Yuna, dan Iris keluar dari Mobil.


“Berhenti, apa yang ingin kalian lakukan disini,”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2