
[Chapter 273.]
[Perang akhir 1.]
[Silahkan Dibaca.]
Pulau tanpa nama.
Kelompok Ryuto, Cohza, dan kakek tua yang bernama Shi Tae, menatap ke arah gerbang yang perlahan-lahan mulai terbuka.
Drrrrr.
Ketiga kelompok itu, kemudian mendengar suara langkah kaki cepat. Seketika fokus mereka menjadi lebih tajam dan kuat.
Grooooo.
Terlihat berbagai monster muncul dari gerbang besar tersebut. Ryuto dengan cepat berteriak, “Musnahkan mereka!”
Mendengar teriakan Ryuto, seluruh pasukan kurokami dan para pemimpin pasukan melesat maju menyerang para monster tersebut.
Ryuto berdiam diri di tempat bersama dengan kesepuluh istrinya. Sementara kelompok lain, juga mulai menyuarakan teriakan masing-masing.
Para monster melihat para manusia di depannya, mereka mengamuk dan mulai menyerang satu persatu dari orang-orang tersebut.
Perang akhir antara umat manusia dan monster akhirnya dimulai.
***
Zero melesat terlebih dahulu bersama dengan para kelompoknya. Dia melompat ke arah monster tingkat tiga dan memukulnya dengan keras.
Boooommmm.
Monster tersebut terlempar dan mengenai pintu yang terbuka lebar. Pasukan yang di bawa oleh Zero juga mulai bertarung satu demi satu.
“Ooooo.” Teriakan peperangan yang sangat keras terdengar seperti gemuruh petir. Mereka semua mendorong para monster mundur.
Sementara itu, kelompok Cohza sendiri yang di pimpin oleh Zehard, sudah ada yang terluka, walaupun sedikit. Bagaimanapun juga mereka hanya membawa orang-orang yang memiliki tingkat prajurit langit dan laut.
Zehard dan tim terus menerobos dan menghancurkan berbagai monster tingkat tiga dan dua.
***
Di sisi kelompok Shi Tae, banyak muridnya yang terluka, bahkan ada yang mati dalam sekejap. Shi Tae sedikit mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka bahwa musuhnya kali ini di luar nalar.
Shi Tae yang sudah mencapai ranah prajurit alam mulai bergerak maju melawan para monster-monster tersebut.
“Beraninya kalian, membunuh para muridku.” Shi Tae berkata dengan marah, energi spiritual mulai melapisi tubuhnya dan memukul tepat monster tingkat tiga.
Booooommmm.
Monster itu melesat dan menabrak monster lain. Shi Tae tidak peduli akan nasib dari monster tersebut, dia hanya terus maju dan menghancurkan monster yang berada di depannya.
__ADS_1
***
Di sisi Zero, dia sudah menghancurkan berbagai monster tingkat empat. Namun, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih kuat di dalam.
Zero melihat bahwa para monster semakin tambah banyak dan tidak ada habisnya sama sekali. Dia menatap ke arah Lion yang sedang membunuh dengan senangnya.
Zero menggelengkan kepalanya dan merasakan sesuatu akan menyerang dirinya. Dengan reaksi cepat, dia melayangkan pukulan ke arah bahaya tersebut.
Boooommmm.
Zero melihat bahwa tangannya bertemu dengan sosok monster besar. Sosok itu ialah monster tingkat tujuh.
Zero segera menjadi serius dan mulai melawan monster tingkat tujuh tersebut.
***
Boom Boom Boom Boom.
Ryuto menatap ke arah ledakan pertarungan antar manusia dengan monster. Dia menatap ke arah samping kanan dan kiri, ia menemukan bahwa yang belum maju hanya dia, istrinya, kera, dan Cohza saja.
Ryuto menatap ke arah gerbang, dia menemukan bahwa monster muncul tidak ada hentinya sama sekali.
“Sistem, berapa sebenarnya monster yang menyerang?”
[Menjawab : lima milyar, Tuan.]
Ryuto terkejut, dia tidak menyangka akan sebanyak itu. Pertempuran ini, pasti tidak akan ada habisnya. Dia kemudian menatap ke arah Cohza.
Namun, seketika Cohza menyadari bahwa Ryuto mengetahui sesuatu yang penting. “Ryuto, kau mengetahui jumlah monster itu kan?”
Ryuto mengangguk dan fokusnya sekarang ke arah gerbang tersebut. Kemudian, dia memberitahu jumlah para monster yang akan menginvasi Alam Bawah.
“Jumlahnya ada lima miliar.” Cohza melebarkan matanya, dia tidak menyangka bahwa monster yang akan dirinya lawan sebanyak itu.
Dalam sekejap, Cohza menjadi fokus dan serius. Ia kemudian berkata, “Kau benar. Jika, jumlah musuh sebesar itu, kita perlu berhari-hari melawannya.
Ryuto mengamati terus, dia baru menyadari bahwa yang keluar dari gerbang masih tingkat dua, tiga dan empat. Sementara tingkat lima, enam, tujuh, delapan, hanya muncul satu saja.
“Monster terkuat belum muncul, sepertinya ada yang kuat di balik monster ini.” Ryuto berpikir, dengan cepat. Namun, sebuah panel sistem muncul di depannya.
[Misi Darurat.]
[Kalahkan Panglima Perang, An Shi.]
[Hadiah : Tombak api Gulan.]
[Gagal : Seluruh hak Tuan menghilang.]
[Durasi : Invasi selesai.]
Ryuto mengerutkan keningnya ketika mendengar nama An Shi. Dia tidak lupa akan hal itu, seorang panglima perang yang pernah menguasai dua kerajaan.
__ADS_1
Ryuto mengingat bahwa An Shi tunduk pada Dewa Alam, seketika seringai miliknya muncul dan berkata dalam hati. “An Shi, aku menunggumu. Dengan kematianmu, Dewa brngsk itu akan gila.”
Cohza menatap Ryuto dengan aneh ketika melihat seringainya. “Ada apa, Ryuto?”
Seketika Ryuto sadar dan menggelengkan kepalanya, dia kemudian menjawab dengan ringan. “Musuh lama, mungkin.”
Cohza mengangguk, dia tidak peduli dan menatap ke arah para monster di depannya. Ryuto juga fokus menatap depan, bagaimanapun juga ia menunggu musuhnya tersebut.
Sementara itu, sepuluh istri Ryuto mendengar obrolan suaminya dan Cohza. Mereka sedikit terkejut dan tersenyum ketika mendengar bahwa jumlah monster mencapai 5 miliar.
“Kita perlu persiapan?” Valeria bertanya sambil memiringkan kepalanya. Kasumi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu, bagaimana pun juga musuh masih tingkat rendah. Tunggu, sampai keluar monster tingkat tujuh ke atas baru kita ikut bertarung.”
Kasumi menjelaskan hal tersebut. Alsace yang berada di dekatnya mengangguk tanda setuju. “Apa yang dibilang, Saudari Kasumi itu adalah benar. Kita perlu menunggu yang kuat saja, baru kita terjun perang.”
Istri Ryuto lainnya setuju dan mereka menunggu monster tingkat tujuh ke atas keluar.
***
Para murid Shi Tae melihat ke arah Ryuto dan Cohza, juga mereka menatap ke arah sepuluh istri Ryuto tersebut. Entah kenapa mereka terbakar oleh emosi tanpa sebab.
“Oiii, kenapa kalian tidak terjun dalam perang, Hah!” teriak seorang murid dari Shi Tae tersebut.
“Itu benar, kenapa kalian hanya diam saja, Hah!” teriak murid lainnya.
Ryuto dan Cohza yang mendengar itu, menatap sebentar dan fokus ke gerbang akhir tersebut.
Melihat tingkah yang ditunjukkan Ryuto dan Cohza, seluruh murid terbakar amarah. Mereka ingin pergi menghajar kedua orang tersebut, akan tetapi sebuah suara menghentikan mereka dengan tegas.
“Dasar murid bodoh, jangan diam saja dan mulailah berperang. Juga, jangan memprovokasi mereka atau kalian akan mati nantinya.”
Para murid tertegun, mereka tidak menyangka bahwa gurunya sendiri memarahi mereka. Namun, ketika mendengar bahwa memprovokasi Ryuto dan Cohza adalah sebuah kesalahan, mereka dengan cepat sadar.
“Guru, apakah dia... Tahu kalau kedua laki-laki dan sepuluh perempuan itu kuat?” pikir mereka semua.
Dengan cepat seluruh murid menggelengkan kepalanya dan mulai bergerak maju untuk berperang kembali melawan para monster tersebut.
***
Ryuto memandang para murid Shi Tae yang berlari menuju ke arah para monster. Dia hanya menatap datar dan berkata, “Mereka pasti mencari kematian.”
Ryuto menggelengkan kepalanya dan menatap kembali ke arah gerbang akhir yang sekarang terlihat mulai memancarkan cahaya baru.
"Sepertinya gelombang kedua muncul."
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thank you Minna-san.