
[Chapter 276.]
[Perang Puncak 1.]
[Silahkan Dibaca.]
Dalam Portal.
Ryuto dan kedua puluh orang yang berada di depannya menatap tajam ke arah para musuh dan monster di depannya.
Cohza dan sepuluh orang melesat maju ke depan, sedangkan para istri Ryuto mengambil jalur lain dari mereka bersepuluh.
Para pasukan kurokami dan Cohza melesat pergi menuju ke arah para monster. Mereka berlari dengan cepat menuju ke arah gerombolan monster tersebut.
Ryuto sendiri berdiri dan menatap ke arah An Shi yang masih duduk di singgasana. Dia tetap berdiri sampai akhirnya salah satu dari monster tingkat delapan tiba di depannya.
Namun, ketika monster itu melancarkan serangan. Sebuah tangan merah besar menahannya.
“Boom...” An Shi yang berada di singgasana sedikit terkejut melihat sosok besar di belakang Ryuto. Dia tidak menyangka bahwa sosok itu tunduk kepada Ryuto.
“Sepertinya itu pilihanmu, Kera Api.” An Shi berkata dengan dingin, dia menatap ke arah Ryuto yang berjalan santai melewati monster tingkat delapan.
Namun, An Shi merasakan perasaan terancam dan bahaya dari Ryuto tersebut. Dirinya tidak tahu kenapa, merasa punggungnya dingin sekarang.
***
Boom Boom Boom Boom Boom.
Mona melawan seorang perempuan di depannya, perempuan itu ialah Xiao Lan. “Menyerahlah, Suamimu tidak akan bisa melawan pemimpin. Bagaimanapun juga, pemimpin berada tingkat lebih tinggi daripada alam bawah yang lemah.”
Mona menatap dengan ringan, dia tidak terlalu peduli akan musuh di depannya tersebut. Ia melakukan backflip dan mengeluarkan sebuah pedang di tangannya.
“Biasanya orang yang banyak bicara, cepat mati...” Mona menanggapi ucapan Xiao Lan dengan ejekan. Hal itu membuat musuhnya tersebut memerah karena marah.
“Jlang... Beraninya kau mengataiku, matilah.” Xiao Lan marah dan melesat dengan sebuah pedang di tangannya.
“Ting..Ting..Ting...” dua pedang saling beradu satu sama lain. Mona dapat merasakan kekuatan musuhnya berada di tingkat prajurit Alam tahap sembilan.
“Apakah ini orang dari Alam menengah? Kenapa lemah?” Pikir Mona dalam hati, dirinya tidak menyangka bahwa musuhnya lemah.
__ADS_1
Mona kemudian menambah kekuatan dan kecepatan miliknya, dia tidak ingin terlalu lama melawan seorang yang lemah. Fokusnya sekarang adalah membunuh musuh di depan dan monster yang menjadi lebih ganas.
“Boommm...” ledakan pedang terjadi di tempat Mona. Xiao Lan terkejut akan lonjakan energi tersebut, akan tetapi dia segera merasakan rasa sakit di dadanya.
“Jlebbb...” Pedang Mona menusuk tepat jantung Xiao Lan. Mona sudah mengantisipasi akan hal tersebut, dia benar-benar melihat banyak celah pada Xiao Lan tersebut.
Mona menarik pedang miliknya, kemudian menatap Xiao Lan dengan dingin. “Sudah kubilang, melawan musuh jangan banya bicara, akan tetapi kamu tidak mengindahkan peringatanku. Sekarang, terimalah nasibmu.”
Mona menatap ke arah sekeliling, dia dengan cepat menuju ke arah gerbang, bagaimanapun juga gerbang telah hancur. Dirinya akan membunuh monster yang akan menuju ke arah portal.
***
Sania menatap ke arah musuhnya yang bernama Long Lin, dia sedikit mengerutkan keningnya ketika merasakan bahwa musuhnya memiliki fisik yang kuat.
“Boom Boom..” Ledakan terjadi akibat dua telapak tangan saling bertemu. Sania dengan cepat melakukan Backflip ke belakang. Dia menatap dengan serius sekarang.
“Menyerahlah, kau lemah.” Long Lin sangat sombong, dia memang kuat karena mewarisi darah Long di mana darah itu adalah milik para Naga.
Sania menggertakkan giginya. Dia dianggap lemah, ternyata. Kemudian, tatapannya sedikit beralih ke arah Mona yang terbang ke arah gerbang.
Long Lin mengerutkan keningnya dan mulai mendekat dengan cepat ke arah Sania. “Kau lengah, matilah.”
“Boom..” kedua serangan saling berbenturan dan meledak dengan kuat. Long Lin sedikit terkejut, ketika merasakan bahwa kekuatan Sania menjadi lebih kuat.
“Kau bilang, kau kuat bukan?” Sania bertanya dengan ringan. Kemudian, aura miliknya keluar dan mulai menyerang dengan cepat ke arah Long Lin tersebut.
“Bugh...” Long Lin terpukul tepat perutnya. Sania benar-benar memukul dengan keras. Kemudian, terlihat Long Lin sedikit terhuyung-huyung ke belakang.
Sania tidak hanya tinggal diam, dia meluruskan kakinya secara vertikal. Dia tidak memakai rok, ia sekarang memakai pakaian bela diri.
“Booom...” tendangan Sania benar-benar kuat. Long Lin terjatuh ke pasir, ia tertanam dengan keras di dalam pasir tersebut.
Sania tidak membunuh lawannya tersebut karena suatu hal. Dia tersenyum, lalu mengibaskan tangannya membuat Long Lin menghilang dari tempat.
“Dengan begini, saudari menambah lagi, hihihi.” Sania tertawa kecil ketika sudah menyelesaikan tugas sampingan seorang istri.
Sania kemudian menatap ke arah Mona yang sedang berada di depan gerbang. Melihat hal itu, dia tahu bahwa Mona melindungi alam bawah dari monster yang lolos dari pasukan kurokami.
“Aku harus membantunya.” Sania dengan cepat bergerak menuju ke arah Mona. Dia benar-benar perlu membantu saudarinya tersebut.
__ADS_1
“Tunggu aku, Saudari Mona.”
***
“Ting..Ting..Ting...” suara dua buah pedang saling berbenturan terdengar. Kemudian, terlihat dua orang yang tak lain adalah Chu Lin dan Chu An.
“Aku tidak tahu, kamu siapa? Tapi... Marga kita sama pasti ada hubungannya.” Chu An berkata dengan senjata yang sudah terangkat.
“Namun, karena kamu memilih dia, maka kita ditakdirkan bukan sebagai saudara.” Chu An melanjutkan perkataannya, lalu melesat ke arah Chu Lin.
“Tring..” Chu Lin menahan pedang Chu An, dia menatap ke arah Chu An. Kemudian, mengeraskan pegangannya dan mendorong perempuan tersebut. “Dinggg...”
“Aku tidak tahu, Marga kita sama. Namun, bagiku siapa pun yang memilih bertarung dengan Suamiku, maka aku akan ikut andil dalam perang tersebut.”
Chu Lin menambah kekuatannya. Chu An sedikit terkejut, dia melihat siluet seseorang yang paling dia kagumi seumur hidup. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya dan fokus ke depan kembali.
Namun, di saat Chu An menatap ke depan. Dia melihat bahwa Chu Lin sudah menghilang dari tempat. “Dimana dia berada?”
Chu Lin muncul tepat di depan Chu An, hal itu membuat perempuan itu terkejut. Chu Lin menatap dengan tajam, lalu pedang terhunus dengan cepat. “Kau lengah.”
“Booommm..” Pedang Chu Lin membuat Chu An terlempar dan menabrak salah satu monster besar.
“Urhhh, kenapa kamu tidak membunuhku?” Chu An sedikit terkejut karena tidak dibunuh. Dia melihat Chu Lin yang berjalan mendekat dengan ringan.
Monster yang terkena tubuh Chu An, perlahan berdiri dan meraung dengan keras sambil mengayunkan cakarnya ke arah perempuan itu.
“Rawr...” Chu Lin melihat hal itu, dirinya berubah menjadi bayangan dan menangkis cakar dari monster dan menebasnya dengan ringan.
“Tingg...slashh.” Chu Lin kemudian menatap ke arah Chu An, dirinya tersenyum dan menggunakan mata pedang terbalik dan menebas perempuan tersebut.
“Gukhhhh..” Chu An melebarkan matanya dan dalam sekejap dirinya tak sadarkan diri. Chu Lin juga mengibaskan tangannya ke arah Chu An, perempuan itu seketika menghilang.
“Tugasku selesai, aku harus minta jatah kepada Ryuto nantinya.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thank you Minna-san.