Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 172


__ADS_3

[Chapter 172.]


[Tiba di Jawa.]


[Silahkan Dibaca.]


Pelabuhan, Jawa.


(Note : tidak kujelaskan lokasinya.)


Sebuah kapal besar berlabuh di Pelabuhan tersebut. Kemudian, pintu terbuka dan menampilkan tangga yang sudah siap untuk membantu orang turun.


Berbagai orang turun ke bawah, mereka turun secara berurutan. Di antara para kerumunan orang.


Terdapat Ryuto dan para istrinya yang mulai turun ke bawah. Di ikuti para Maid dan para pasukannya.


Tak lama kemudian, mereka tiba di bawah dan berkumpul menjadi satu. Kemudian, Ryuto menatap ke arah Zero.


“Bagaimana, apakah sudah turun mobilnya?” ucap Ryuto, kemudian Zero mengangguk dan menjawab dengan jujur.


“Sudah, Tuan. Para pasukan mulai mengambil mobil kita,” ucap Zero, sementara Ryuto mengangguk puas.


Beberapa menit kemudian.


Beberapa mobil hitam muncul di depan Ryuto dan yang lainnya. Banyak orang yang memperhatikan hal tersebut.


Sementara itu, Ryuto dan yang lainnya mengabaikan tatapan para orang-orang, dia berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalam mobil.


Melihat keseluruhan keluarga Ryuto sudah masuk, mobil pun menyala dan pergi meninggalkan pelabuhan.


Di jalan.


“Alpha dan Elevel, apakah sudah mendapatkan sebuah rumah di sekitar sini?” ucap Ryuto, kemudian Zero menjawab.


“Ya, Tuan. Mereka sudah mendapatkan rumah besar tersebut,” ucap Zero, kemudian Ryuto mengangguk.


“Ada berapa Geng disini?” ucap Ryuto dengan jelas, Zero pun menjawab dengan serius.


“5 Geng terkuat disini,” ucap Zero, sementara Ryuto mengangguk paham. Lalu, dia berkata kembali.


“Lalu, berapa Organisasi yang beradai di Indonesia?” tanya Ryuto, kemudian Zero menjawab berdasarkan penyelidikan seluruh anggota.


“Ada 3 Organisasi terkuat,” ucap Zero membuat Ryuto mengangguk, kemudian Ryuto berbicara kepada sistem.


‘Sistem, misiku disini spiritual apa?’


[Buaya Putih.]


‘Lokasinya?’


[Rawa dekat dengan Jakarta.]


‘Apakah itu dekat dengan para pasukanku?’


[Sekitar 1km, Tuan.]


‘Baiklah, kalau begitu,' batin Ryuto, kemudian dia menatap ke depan, lalu sesekali melirik ke bangunan-bangunan di sekitar.


‘Benar-benar sudah lama aku tidak kembali,' batin Ryuto, dia merasakan nostalgia.


Beberapa jam kemudian.

__ADS_1


Mereka tiba di sebuah jalan yang indah dan besar, rumah-rumah tersusun rapi, menandakan bahwa rumah tersebut, rumah bagi para orang elit.


Beberapa pasang mata menatap ke arah mobil Ryuto, mereka semua penasaran dengan pemilik rumah no 1 di Jakarta.


Tiba di rumah besar, mereka masuk melewati gerbang, lalu parkir di depan pintu rumah besar tersebut.


Mobil berhenti, Ryuto dan yang lainnya keluar dari mobil. Mereka semua menatap ke arah rumah besar tersebut.


“Lumayan,” ucap Ryuto, kemudian dia berjalan ke arah pintu. Diikuti oleh para istrinya.


Tiba di depan pintu, Ryuto membuka pintu tersebut. Ryuto dan istrinya melihat interior dalam rumah tersebut.


“Baiklah, ayo kita mandi dulu,” ucap Ryuto, mereka mengangguk setuju. Kemudian, mereka berjalan bersama menuju ke kamar mandi.


Mereka dengan mudah menemukannya, karena mereka menggunakan persepsi milik mereka masing-masing.


Pintu dibuka.


Mereka semua masuk dan mulai mandi bersama, tanpa melakukan hal apapun.


Beberapa menit kemudian.


Mereka selesai mandi dan mulai merapikan pakaian mereka, selepas mereka berpakaian, mereka keluar dari kamar mandi.


“Nah sayang, kami akan ke kamar tidur dulu,” ucap Amy, dia terlihat lelah. Begitu juga beberapa istri Ryuto yang lain.


“Baiklah, besok kita akan pergi bersama,” ucap Ryuto, mereka tidak makan. Karena mereka sudah makan, di dalam pesawat.


Kamar Ryuto.


“Jadi, besok kita semua melakukan apa saja?” ucap Erika, kemudian Ryuto menatap ke arah para istrinya.


“Tapi, apa kalian tidak apa-apa?” ucap Ryuto, mereka mengangguk menandakan tak masalah.


“Tenang, sayang. Kami sebenarnya lelah, sedikit,” ucap Yuna, kemudian Arisa menambahi.


“Un, itu benar. Kami hanya lelah sebentar, perlu istirahat sebentar, selepas itu kembali lagi,” ucap Arisa.


Ryuto menghela nafas dan mengangguk, kemudian sebelum dia menjawab. Dia melihat bahwa para istrinya sudah berbaring tidur.


“Huff, baiklah,” ucap Ryuto, kemudian dia memeluk Sayoko dan Sasha, lalu tidur bersama.


(Note : Mereka tidur jam 3 sore.)


Di sebuah pantai.


Terlihat beberapa orang muncul di tepi pantai, mereka melihat ke arah pantai yang sangat ramai.


Mereka menghilangkan hawa kehadiran mereka, membuat para orang-orang tidak tahu kehadiran mereka.


“Ratu, memerintahkan kita mengambil yang memakai pakaian hijau,” ucap orang tersebut.


Kemudian, mereka memantau pantai, sampai menemukan beberapa orang memakai pakaian hijau.


Di sisi tepi pantai.


“Nindy, jangan jauh-jauh dari pantai,” ucap seorang pemuda yang memiliki tubuh kekar dan wajah yang tampan.


“Tenanglah, Bagas. Ombaknya masih kecil,” ucap perempuan cantik, nama Perempuan tersebut ialah Nindy.


Mantan pacar dari Ryuto, beserta musuh lama Ryuto. Keduanya adalah pembully Ryuto saat masih sekolah di Indonesia.

__ADS_1


Para teman Bagas dan Nindy, juga bermain di tepi pantai, mereka juga membawa pasangan mereka masing-masing.


“Baiklah,” ucap Bagas, kemudian mendekat ke arah Nindy, mereka berdua bermain agak jauh dari pantai.


Byurrrr.


“Wohoo,” teriak keduanya menikmati ombak yang menghantam mereka dan mendorong mereka menuju ke pantai.


Mereka benar-benar ketagihan bermain dengan ombak, sampai mereka lupa bahwa waktu sudah mulai sore.


Beberapa orang mulai menepi, karena hari sudah sore. Mereka semua menatap ke arah laut, yang menunjukkan pemandangan matahari terbenam.


Sementara itu, Bagas dan Nindy masih belum sadar bahwa hari sudah sore. Mereka benar-benar senang dengan bermain ombak.


“Hai, kalian. Segera menepi, hari sudah sore. Ombak akan menjadi ganas,” teriak petugas pantai.


Tentu, Bagas dan Nindy mendengar teriakan petugas, mereka dengan cepat menuju ke tepi pantai.


“Ayo, kita menep-“ ucap Bagas terhenti, saat melihat bayangan di belakangnya. Nindy juga terkejut.


“Awas,” teriak Bagas, ingin mendorong Nindy, namun keduanya segera digulung oleh Ombak raksasa.


“Bagas, Nindy,” teriak salah satu teman Bagas dan Nindy.


Teman-teman Bagas yang melihat hal tersebut, segera membantu Bagas dan Nindy untuk menarik mereka ke Pantai.


Namun, usaha mereka gagal. Di saat mereka sudah menginjak air laut, mereka semua terseret dengan cepat menuju ke lautan.


Blub blub blub blub.


“Kyaaaa,” teriak beberapa perempuan melihat kejadian tersebut, mereka hanya bisa berdoa tentang kejadian tersebut.


Di laut.


“Dengan banyak tangkapan ini, pasti Ratu akan senang,” ucap orang tersebut, kemudian seluruhnya menyelam dengan cepat ke bawah.


Di tempat Ryuto.


Alpha dan Eleven yang mendengar Tuannya datang ke Jawa, mereka ingin menyapanya.


Namun, sebelum mereka masuk. Mereka dihalangi oleh Zero dan beberapa pasukan miliknya.


“Berhenti kalian berdua, Tuan sedang istirahat,” ucap Zero, kemudian Alpha dan Eleven berhenti.


“Oh, kenapa kau tidak bilang dari tadi, Zero?” ucap Eleven, dengan wajah datarnya. Zero yang melihat hal tersebut menaikkan alisnya.


“Yah, biarkan. Ayo kita keluar, minum sebentar,” ucap Zero, kedua temannya tersenyum dan berkata.


“Baiklah, ayo kita pergi,” ucap keduanya, mereka berjalan bersama dengan Zero. Sementara pasukan yang lainnya menatap ke arah Zero.


“Kalian, giliran dalam berjaga, sisanya terserah mau melakukan apa? Sebab, Tuan menyuruh kalian menjaga kesehatan, karena besok kita mulai melakukan rencananya,” ucap Zero.


Kemudian, dia meninggalkan pasukan, untuk berjaga secara bergantian.


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2