
[Chapter 144.]
[Istri yang sadis.]
[Silahkan Dibaca.]
“Keluarlah kalian, para orang lemah,” teriak laki-laki berbaju putih dan bertudung putih.
Kemudian, terlihat pintu besar rumah Ryuto terbuka, lalu satu per satu para Istri Ryuto keluar dengan tatapan dingin.
Seluruh laki-laki berbaju putih dengan tudung putih, menatap ke arah istri Ryuto dengan tatapan mesum.
Ryuto sendiri yang berada di atap rumahnya, sedikit mengerutkan keningnya. Namun, dia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak akan ikut campur, kalian sudah dimangsa oleh, Singa betina,” ucap Ryuto, dia sudah berjanji untuk tidak mengganggu pertarungan mereka.
25 istri Ryuto keluar, ditambah dengan 6 maid miliknya. Beruntung di sekitar rumah Ryuto hanya ada rumah milik Kiba dan Agnes.
Kiba dan Agnes menatap ke luar dan mengerutkan keningnya, saat melihat situasi di rumah Ryuto.
“Klan Sain, mereka ingin menyerang Kurokami?” ucap Kiba, kemudian dia melihat ke arah seseorang yang menatapnya, orang tersebut ialah Ryuto.
Ryuto menatap Kiba dan mengisyaratkan untuk tidak ikut campur. Kiba langsung mengerti dan mengangguk.
“Sayang, kenapa kamu tidak membantu mereka?” ucap Agnes, lalu Kiba menatap ke arah Agnes dan berkata.
“Kata Ryuto jangan ikut campur, kita hanya melindungi anak-anak,” ucap Kiba, sedangkan Agnes menatap ke arah para istri Ryuto.
Dia menatap ke arah mereka dengan khawatir, namun saat mendengar bahwa Ryuto tidak ingin dia ikut campur dan menjaga anak-anak, dia hanya menuruti.
Kiba dan Agnes berbalik dan berjalan ke arah Anak-anak yang masih tidur di ruang sebelah.
Kembali ke halaman.
“Hahahaha, siapa sangka ada banyak perempuan disini,” ucap laki-laki memakai pakaian putih dan tudung putih.
“Kalian semua, kita siksa dan nikmati tubuh mereka,” teriak laki-laki tersebut, kemudian seluruh anggota Klan Sain menyeringai dan segera melesat ke arah para istri Ryuto.
“Dasar laki-laki rendahan,” ucap Aoi, mereka semua mengidentifikasi bahwa seluruh pasukan musuh ada 200 orang ditambah 1 orang pemimpin.
“Kau benar, Aoi-san,” ucap Angel, kemudian mereka semua melesat ke berbagai orang-orang tersebut.
31 melawan 200 orang, para istri dan maid Ryuto di kepung. Entah dengan 8, 7, 6 orang, semuanya melingkari mereka.
“Hehehe,” tawa mesum mereka, membuat para istri dan maid Ryuto menjadi lebih dingin dan jijik.
Sisi Yuuko.
Yuuko melihat bahwa dia dikelilingi oleh 6 orang dengan sebuah alat, Yuuko mengerutkan keningnya, saat merasa tubuhnya merasa kekuatannya ada yang berkurang.
__ADS_1
“Oh, kau memakai itu untuk mengalahkan Klan ku,” ucap Yuuko, akhirnya dia paham. Kemudian, menyebarkan spiritual miliknya, menutupi lengannya.
“Hahaha, aku akan mend-“ ucap Sain1, namun terpotong oleh sebuah serangan pukulan dari Yuuko.
Booom.
Kelima Sain yang mengelilingi terkejut, namun belum sempat mereka bereaksi, salah satu dari mereka ditendang langsung oleh Yuuko.
Booomm.
“Apaan, pasukan yang sangat lemah. Kalau begitu mari kita bermain,” ucap Yuuko, melesat dengan cepat ke arah 4 Sain yang lainnya.
4 Sain segera sadar dan mulai membalas serangan tersebut, 2 Sain maju dan 2 Sain yang lainnya menguatkan alat yang mereka pegang.
Yuuko tiba di 2 Sain, Sain3 dan Sain4 mengayunkan kedua pukulan dari Sisi berbeda, Yuuko hanya mengayunkan telapak tangannya.
Krakk Krakk
Tangan kedua Sain tersebut patah, kemudian Yuuko menendang kepala mereka berdua dengan keras sebelum berteriak.
Booom.
“Terakhir kalian berdua,” ucap Yuuko, melemparkan dua helai rumput dan melemparkan tepat leher keduanya.
Wush Wush.
Keduanya tertegun dan ingin menghindari, namun naas mereka segera merasakan sakit di tenggorokan.
“Mati,” ucap Yuuko, menatap ke arah 6 Sain yang mati.
Sisi Asami.
Asami terkepung dengan 6 orang lagi, namun dia tersenyum penuh arti, membuat ke 6 Sain mengerutkan keningnya.
“Fufu~, kalian telah salah memilih lawan,” ucap Asami, kemudian muncul di depan salah satu Sain tersebut.
Scratch.
“Ara~ begitu mudahnya kalian terkena seranganku,” ucap Asami, kelima Sain tertegun melihat salah satu Sain mati karena cakar.
“Ayo bermain,” ucap Asami, menatap kelima orang dengan tatapan menggoda, kelimanya linglung dan jatuh mati ke tanah.
“Fufufu~,” ucap Asami, lalu terlihat bahwa ada 5 jantung tergelatak di tanah. Asami kemudian menatap ke arah yang lain.
Dia juga, melihat bahwa June, Silvia, Erika, Angel, Yuli, dan saudari lainnya sudah selesai menghadapi.
Amy, Lilia, Nanami, dan Aoi menghadapi tujuh musuh masing-masing. Mereka mudah menumbangkan tujuh.
Mereka menumpaskan semuanya dengan mudah, pemimpin Sain melihat hal tersebut melebarkan matanya.
__ADS_1
“Tidak mungkn...” ucap pemimpin Sain tersebut, dia benar-benar bergetar ketakutan.
“Ahhh, masih ada satu yang belum,” ucap Angel, dia tersenyum sadis. Semuanya juga sama, mereka juga tersenyum sadis.
“Ti-“ ucap pemimpin Sain, dia ingin berbalik dan pergi. Namun, dua maid menendang ke arah tengah para mayat Sain.
“Jangan, jika ka-“ ucap Pemimpin Sain, namun belum selesai bicara, dia merasakan rasa sakit di jarinya.
Lalu, menatap ke arah jari dan melihat dengan tatapan horor, tubuhnya seketika gemeter, dia benar-benar ketakutan.
“Ah-“ teriak pemimpin Sain, namun terhenti saat sesuatu memasuki mulutnya. Itu adalah sebuah kaos kaki dari anggota Sain yang lain.
Pemimpin Sain, benar-benar disiksa habis-habisan oleh beberapa istri Ryuto, sedangkan istri Ryuto yang lainnya, bergegas pergi ke Klan Ouro bersama dengan Yuuko.
Ryuto melihat ke arah para istrinya yang menyiksa, dia memiliki keringat di keningnya.
‘Mereka membangkitkan sifat psiko, bahkan Angel yang awalnya lembut juga ikut-ikutan,' batin Ryuto.
Lalu, Ryuto menatap ke arah istrinya yang pergi ke Klan Ouro, dia menatap ke arah istri yang menyiksa musuh.
“Kalian, lanjutkan dan bakar semua, aku akan pergi mengikuti mereka,” ucap Ryuto, lalu pergi menuju ke Klan Ouro.
Di sisi Klan Ouru.
Lima penjaga Sain, masih menjaga para Klan Ouro, namun salah satu dari mereka sudah tidak tahan dan berkata.
“Bagaimana kalau kita menikmati mereka dulu,” ucap Sain1.
“Apakah kau bodoh, pemimpin menyuruh kita untuk menjaga mereka, nanti kita baru menikmatinya,” ucap Sain2.
“Tapi, mereka mungkin lama. Kita bisa menyeret lima perempuan dan bermain di tempat itu,” ucap Sain1.
“Kita gantian berjaga,” ucap Sain1, dia benar-benar menghasut ke empat temannya, seketika mata mereka cerah.
“Ya, kau benar. Kita buat 3 orang berjaga dua orang bermain,” ucap Sain3. Lalu, dia menunjuk Sain2, Sain4, dan Sain5.
“Kalian berjaga, biar aku dan dia bermain dulu,” ucap Sain3.
Namun, sebelum keduanya beranjak pergi. Suara dari dalam membuat mereka tertegun. Mereka dengan cepat masuk ke dalam.
Lalu, melihat bahwa seluruh Klan Ouro telah bebas. Maria dan yang lainnya menatap ke arah 5 penjaga.
“Yah, waktunya serangan balik,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
__ADS_1
Thanks you Minna-san.