
[Chapter 232.]
[Tiga perempuan.]
[Silahkan Dibaca.]
Restoran Aizawa, Ryuto dan para istrinya berhenti ketika melihat pelayan perempuan menangis di depan mereka. Ryuto sendiri terkejut melihat pelayan itu, bukan karena perempuan itu menangis melainkan perempuan itu pernah dia temui sebelumnya.
“Tuan,” ungkap pelayan tersebut. Para istri Ryuto bingung dengan hal itu, mereka menatap ke arah suaminya dengan tanda tanya besar di atas kepala. Ryuto menyadari hal itu, lalu dia berkata, “Kita bahas nanti.” Ryuto kemudian menatap ke arah pelayan. “Bisakah kau arahkan kami ke ruang Vip?”
Pelayan itu tersadar, kemudian dia mengangguk dan berkata, “Ikuti saya, Tuan dan Nyonya.” Pelayan berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu. Ryuto dan para istrinya mengikuti pelayan tersebut. Mereka berjalan dan melewati pintu yang sudah dibuka oleh pelayan.
Terlihat sebuah ruangan dengan pemandangan Gunung yang sangat indah, kemudian terlihat pembatas dari sebuah bambu dan bawahnya terdapat sebuah kolam yang berisi ikan berwarna orang putih hitam, ikan itu tak lain ialah Ikan Koi.
Di tempat itu tidak ada kursi, namun ada meja yang lebar di bawah. Mengharuskan pengunjung untuk duduk saat makan, sambil menikmati pemandangan luar. Ryuto dan para istrinya duduk di lantai dekat dengan meja makan tersebut.
Pelayan itu dengan cepat memberikan buku terkait makanan yang disajikan di restoran tersebut. Ryuto dan para istrinya mulai memilih makanan satu persatu, sementara pelayan menatap ke arah para istri Ryuto dan berfikir, ‘Benar-benar Tuan besar. Memiliki 41 istri, apakah mereka membagi jadwal malam atau melakukan bersama-sama?’
Entah fikiran pelayan melayang kemana, wajahnya memerah dan kepulan asap muncul di atas kepalanya. “Pelayan..” Amy memanggil pelayan tersebut. Seketika pelayan tersadar dan berkata, “Whaa, ada apa N-Nyonya.” Pelayan tersebut terkejut, lalu dia gugup dan malu.
“Hihihi, kau memikirkan apa, Pelayan?” tanya Amy, dia benar-benar merasa lucu dengan pelayan di depannya tersebut. Pelayan itu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada profesional. “Tidak apa-apa, Nyonya. Jadi apakah ada sesuatu, Nyonya?” pelayan itu dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
Amy tersenyum, kemudian menyerahkan buku menu makanan tersebut. “Kami sudah menuliskan apa yang akan dipesan.” Amy berkata dengan lembut. Pelayan itu mengangguk dan berkata, “Mohon ditunggu terlebih dahulu, Tuan dan Nyonya.” Pelayan berbalik dan akan pergi dari ruang tersebut.
“Tunggu.” Ryuto menghentikan Pelayan tersebut. Pelayan berhenti dan berbalik ke arah Ryuto dengan tanda tanya. Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Selepas kau menyerahkan daftar pesanan kami, kemarilah.” Pelayan itu sedikit terkejut dan mengangguk. “Baik, Tuan.”
Pelayan keluar, seluruh istri Ryuto menatap ke arah Suaminya meminta penjelasan. Ryuto paham akan hal itu, kemudian dia menjelaskan mulai dari perjalanannya ke Kyoto dan bertemu dengan Asami, sampai kejadian dimana istrinya di sekap di sebuah Gua. Di sana, Ryuto menemukan sebuah pintu besi, Ryuto membuka pintu tersebut dan bertemu 3 perempuan yang sedang di penjara.
__ADS_1
Ryuto menyelamatkan ketiga perempuan itu dan salah satu dari perempuan itu ialah pelayan tadi. “Begitulah ceritanya.” Seluruh istri Ryuto berdiam sebentar, mereka tidak menyangka akan ada kejadian tersebut.
“Nah sayang, aku tidak tahu kalau kau mengalami hal itu.” Erika benar-benar terkejut dengan kejadian tersebut. Begitu juga istri yang lainnya, mereka hanya mendengar sampai Asami, Aoi, dan Nanami disiksa. Seluruh istri Ryuto tidak tahu tentang suaminya menyelamatkan tiga perempuan.
“Bukankah aku sudah menceritakan ke kalian?” tanya Ryuto sambil mengingat kejadian itu. Seluruh istrinya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kau belum menceritakan, sayang.” Ryuto tersenyum kecut. Dia benar-benar lupa akan masalah itu. “Yah, mungkin aku lupa untuk memberitahu kalian, karena itu hal tidak penting.”
Seluruh istri Ryuto memandang Ryuto dengan datar, mereka menghela nafas panjang melihat tingkah suaminya tersebut. Kemudian, pintu kembali terbuka dan menampilkan sosok pelayan tadi. Namun, bukan hanya dirinya saja. Dua perempuan yang sebelumnya di selamatkan oleh Ryuto juga datang.
Kedua perempuan terkejut melihat Ryuto dengan 41 istrinya. Mereka benar-benar tidak menyangka ada orang yang menikah dengan istri sebanyak itu. Fikiran kedua perempuan itu ialah apakah Ryuto melakukan secara bersamaan atau dijadwal.
Tanpa sadar, keduanya memerah dan kepulan asap keluar dari atas kepala kedua perempuan tersebut. Para istri Ryuto memahami hal itu, mereka terkikik melihat betapa lucunya ketiga perempuan itu.
“Duduklah, kalian!” Lilia memerintahkan dengan lembut, dia memerintahkan ketiga perempuan duduk di dekat Lilia dan para saudarinya. Ketiganya saling memandang dan menuruti. Mereka duduk di depan Ryuto dan didekat para istri Ryuto.
“Pertama, perkenalkan dulu nama kalian. Seingatku, kalian tidak menyebutkan nama saat kita bertemu dulu.” Ryuto mengawali pembicaraan dengan tenang. Dia awalnya tidak menyangka akan bertemu dengan ketiganya, jadi tidak perlu nama mereka sama sekali.
Ryuto mengangguk, dia tidak menyangka bahwa perempuan di depannya benar-benar memilih turun profesi agar hidupnya nyaman. Kemudian, perempuan yang tengah maju. Perempuan tersebut memiliki rambut berwarna merah darah, iris matanya berwarna hitam cerah, tubuhnya benar-benar menggoda dengan dua buah yang sama besarnya.
“Nama saya adalah Asuka Kazumi. Dulu saya seorang musisi namun berhenti selepas kejadian itu.” Ryuto mengangguk, dia berfikir bahwa kejadian penculikan mereka benar-benar mempengaruhi kehidupan ketiganya. Kemudian perempuan yang sebelah kanan menundukkan kepalanya.
Perempuan itu memiliki rambut berwarna hitam, iris mata miliknya merah cerah, tubuhnya begitu menggoda dengan dua buah yang sama dengan kedua perempuan sebelumnya. “Nama saya adalah Ikase Karina. Saya hanya seorang Mahasiswa di Kyoto dulu. Namun selepas insiden itu, membuat saya pindah ke Tokyo dan memutuskan Kuliah saya di Kyoto.”
Ryuto mengangguk, dia paham sekarang. Apa yang difikirkannya benar, ketiga perempuan di depannya benar-benar trauma akan masalah di Gua Aron sebelumnya. Nanami, Miya, Lilia, Amy, dan Asami memeluk ketiga perempuan tersebut.
Ke-5 istri Ryuto tersebut memeluk ketiga perempuan itu dengan lembut, mereka juga mengelus rambut ketiganya. Ryuto yang melihat itu paham, bagaimanapun ke-5 istrinya pernah memiliki yang namanya anak.
(Note : Walaupun Lilia belum punya anak seperti ke-4 nya. Namun, dia sudah memiliki sifat ke Ibu-ibuan sejak menjadi Ibu dari Ryuto.)
__ADS_1
Ke-3 perempuan terkejut, mereka merasakan pelukan itu begitu hangat. Pelukan seorang Ibu, hal itu membuat ke-3nya tanpa sadar meneteskan air mata kerinduan. Bagaimanapun juga, ke-3nya tidak memiliki Orang tua sama sekali.
Ke-3nya memeluk ke-5 istri Ryuto dengan erat. Mereka benar-benar menangis dalam pelukan istri Ryuto. Sementara para istri lainnya berdiam dan tersenyum menatap hal itu. Ryuto sendiri menatap ke arah pemandangan.
‘Apakah perlu aku membawa ke-3nya bersamaku kah?’
[Data Istri Ryuto : Haruna Kurokami.]
Haruna ialah Ibu dari Kaori, dia benar-benar jatuh cinta ke Ryuto ketika Ryuto datang berkunjung ke rumahnya dan menggodanya. Wanita yang sudah tidak tersentuh pasti akan termakan godaan dengan mudah. Alhasil Ryuto menerima akibatnya sendiri, Haruna sedikit rumit karena Kaori juga menyukai Ryuto, namun Ryuto sendiri mengambil Ibu dan anak itu, dia tidak akan melepaskan siapapun yang sudah dia targetkan, alhasil Haruna menikah dengan Ryuto.
(Nama : Haruna Kurokami.)
(Umur : 33 Tahun.)
(Tingkat : Prajurit Alam tahap 9.)
(Kondisi : Senang, Hamil, bahagia, puas.)
(Persentase mencintai Ryuto : 100%.)
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1