
[Chapter 148.]
[Makan bersama.]
[Silahkan Dibaca.]
Gunung Fuji.
Zehard dan Ryuto saling memandang, kemudian tangan mereka saling mengepal, energi spiritual membungkus tangan mereka.
Wushhhh.
Boom Boom Boom Boom.
Setiap mereka saling bertukar pukulan, selalu akan terjadi gempa kecil, kemudian di langit perlahan-lahan menjadi gelap.
Booommmm.
Ledakan lebih keras, diikuti oleh petir menyambar di berbagai tempat gunung Fuji tersebut.
Para istri Ryuto sedikit menguatkan penghalangnya secara bersamaa, mereka juga melihat keadaan sekitar yang penuh lubang.
“Mereka benar-benar berlebihan, walaupun aku suka namun kita harus menghentikan mereka,” ucap Lilia.
Sementara itu, Sasha menjawab dengan fokus ke dalam pertempuran Ryuto dan Zehard.
“Tidak, saudari Lilia. Jika, kau menghentikannya maka kau akan terluka,” ucap Sasha.
“Serta, mereka masih menahan diri, Lilia,” ucap Amy, dia menambahi ucapan Sasha. Kemudian, Lilia mengangguk setuju.
Akhirnya mereka hanya melihat pertempuran tanpa menghentikan pertempuran tersebut.
Di sisi pertempuran.
Keduanya terengah-engah setelah saling menyerang selama 20 menit. Keduanya berubah kembali ke bentuk mereka semula.
“Sepertinya, ini serangan terakhir,” ucap Ryuto, sementara Zehard menyeringai dan mengangguk.
“Kau benar, ayo kita tuangkan serangan terakhir ini,” ucap Zehard, kemudian keduanya memfokuskan spiritual di kedua tangan mereka.
Whimm.
Kedua tangan Ryuto berubah warna menjadi ungu gelap yang padat. Sementara Zehard, tangannya berwarna merah menyala.
Bushhhhh.
Keduanya melesat maju, kemudian muncul tepat di tengah, lalu keduanya mulai berbenturan pukulan kembali.
Boom Boom Boom Boom Boom Boom.
Ledakan terus terjadi dimana-mana, namun berbeda dengan yang sebelumnya.
Efek serangan mereka tidak menimbulkan Gempa, melainkan sesuatu yang mengerikan di langit.
Bzzzt wushhh Bzzt.
Badai di gunung Fuji, membuat para warga yang melihatnya, bergetar. Mereka benar-benar ketakutan akan fenomena tersebut.
__ADS_1
Polisi pun juga melihat hal tersebut, mereka juga ketakutan, namun salah satu dari mereka menyipitkan matanya.
“Seseorang sedang bertarung,” gumam polisi tersebut, lalu dia menghela nafas dan berkata dengan bosan.
“Merepotkan sekali, selalu saja ada kejadian, sungguh membosankan,” ucap polisi tersebut, kemudian dia berbalik berjalan pergi.
“Liburan tidak pernah bisa tenang,” ucap polisi tersebut, membuat polisi yang lain mengerutkan keningnya.
Di sisi gunung Fuji.
Tap tap.
Keduanya mundur ke belakang, kemudian saling memandang dan tersenyum. Mereka melepaskan kekuatan mereka.
“Seri,” ucap Ryuto / Zehard. Mereka tidak akan mengklaim bahwa mereka menang, lebih nyaman seri daripada menang dan kalah yang akan menimbulkan kebencian.
“Hahahaha,”
Keduanya tertawa bersama, kemudian para istri Ryuto menghilangkan penghalang dan berjalan ke arah Ryuto.
Sementara itu, Kurht berjalan ke arah Zehard. Dia benar-benar terkejut melihat bahwa keduanya imbang.
“Sayang, kau tidak apa-apa?” ucap istri Ryuto satu persatu, kepada Ryuto. Sedangkan, Ryuto menjawab sambil mengangguk.
“Ya, aku baik-baik saja,” ucap Ryuto, kemudian terduduk di bawah. Diikuti oleh para istrinya, mereka pun duduk di tanah.
Zehard bersandar di bawah pohon, dengan Kurht yang membawakan sebuah botol minuman.
Kemudian, Ryuto dan para istrinya saling mengobrol, begitu juga dengan Zehard dan Kurht.
Di bawah gunung Fuji.
Orang tersebut memiliki kalung yang besar, wajahnya biasa, dengan tato yang menyebar di kepala dan tangan.
Kemudian, keluar seorang wanita yang sungguh mempesona, namun wanita tersebut masih kalah cantik dengan para istri Ryuto.
“Mereka, bisa-bisanya bertarung disini?” ucap pria tersebut, kemudian wanita hanya tertawa sambil menutup mulutnya.
“Hihihi, memang pasangan baruku, menarik,” ucap wanita tersebut, sementara pria di sebelahnya menjadi muram.
“Aku akan mengetesnya dulu, sekarang kau masih istriku,” ucap pria tersebut, wanita hanya terkikik melihat Suaminya yang keras.
Mereka kemudian, berjalan menuju ke atas gunung Fuji, pasukan mereka di bagi. Ada yang menjaga di bawah dan ada yang ikut naik.
Di sisi Ryuto.
“Ayo kita makan ini,” ucap Zehard, dia mengeluarkan sebuah tentakel besar. Ryuto sedikit terkejut.
“Oi, ini tentakel darimana?” ucap Ryuto, dia terkejut dengan ukuran tentakel tersebut. Mendengar pertanyaan Ryuto, Zehard menjawab dengan santai.
“Itu dari Kraken, kau bisa memasak kan?” ucap Zehard, dia menatap serius kepada Ryuto. Kemudian, Ryuto mengangguk sambil tersenyum.
“Ya, aku bisa masak. Serahkan padaku,” ucap Ryuto, kemudian Kurht mengambil sebuah Tikar dari penyimpanan miliknya.
Dia juga mengambil tempat untuk daging, agar tidak kotor saat selesai di potong.
Ryuto mengambil pisau miliknya, beberapa istrinya duduk di tikar, beberapa membantu memotong tentakel Kraken tersebut.
__ADS_1
Mereka memotong menjadi kotak-kotak besar dan kecil, Zehard dan Kurht duduk di tikar menunggu masakan.
Mereka berdua sibuk, membahas masalah mereka, sementara istri Ryuto membahas hal lainnya.
Ryuto dengan cepat memasak, dia benar-benar terlihat seperti ahli memasak.
Beberapa menit kemudian.
Aroma masakan muncul, Zehard dan Kurht berhenti berbicara. Zehard menatap ke arah Ryuto, sambil meneteskan air liur.
“Oi, Kurokami. Cepatlah hidangkan, aku sudah tidak sabar,” ucap Zehard, membuat semuanya tertawa.
Kurht sendiri diam dan meneguk air ludahnya, dia juga merasakan bahwa aroma masakan Ryuto benar-benar menarik.
Di jalan puncak gunung Fuji.
Pria dan wanita, serta para pasukan berhenti, mereka berhenti saat mencium aroma makanan yang enak.
“I-ini, masakan siapa ini?” ucap pria tersebut, dia benar-benar ingin segera cepat-cepat naik ke atas.
“Ayo, kita harus bergegas,” ucap pria tersebut, lalu mempercepat langkah mereka naik ke atas.
Di sisi Ryuto.
Ryuto selesai memasak, kemudian menghidangkan dengan piring dan tusukan.
Zehard dengan lincah mengambil yang tusukan, daging yang berada di tusukan lebih besar dari daging lainnya.
Para istri Ryuto mengambil yang piring, mereka makan harus menunjukkan etika, berbeda dengan laki-laki.
Ryuto dan Kurht mengambil yang tusukan dengan daging yang besar. Kemudian, mereka memakan makanan tersebut.
Crush.
Seketika, Zehard melebarkan matanya, serta memiliki bintang di tengah matanya tersebut.
Kurht pun juga sama, keduanya dengan cepat memakan daging tersebut. Mereka berdua benar-benar rakus.
Beruntung daging dalam tusukan banyak, jadi stok makanan banyak. Sementara para istri Ryuto, memakan dengan lahap.
Ryuto sendiri, hanya tersenyum dan memakan dengan santai. Mereka semua makan dengan senang dan bahagia.
Namun, sebuah suara muncul dari arah saat mereka naik ke puncak.
“Beri aku makanan enak tadi,”
Ryuto dan yang lainnya menatap ke arah suara tersebut, Zehard melihat pria tersebut menyeringai.
Kemudian, Yuli yang duduk tersebut, dia tersenyum lebar melihat wanita yang berada di sebelah pria tersebut.
Wanita tersebut, kemudian menatap ke arah para istri Ryuto, lalu jatuh ke Yuli. Keduanya saling bertatap muka dan senyum muncul. Lalu, mereka berdua berkata bersama.
“Eimi-chan / Yuli,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.