
[Chapter 169.]
[Hargai.]
[Silahkan Dibaca.]
Dek kapal.
Ryuto dan Raul menatap ke arah belakang laut, mereka menatap laut yang luas.
“Jadi, bagaimana?” ucap Raul, dia membuka pembicaraan terlebih dahulu, Ryuto tersenyum dan berkata.
“Yah, banyak masalah dan selalu menambah istri selalu,” ucap Ryuto dengan bangga, sedangkan Raul tersenyum kecut.
“Itu adalah ciri khasmu,” ucap Raul, kemudian keduanya saling tertawa lepas bersama.
Beberapa menit kemudian.
Mereka selesai tertawa bersama, kemudian Ryuto berkata dengan nada tenang dan sedikit serius.
“Kau sendiri, kenapa bisa ada di Kapal ini?” ucap Ryuto, kemudian Raul berkata sambil tersenyum.
“Perjalanan bisnis, awalnya kami ingin turun di Bali, tapi tidak jadi, karena berbagai hal,” ucap Raul, lalu dia melanjutkan.
“Semoga saja di Jawa, tidak ada yang menghalangi bisnis ini,” ucap Raul, dia menghela nafas berat.
“Ha? Siapa yang menghalangimu?” ucap Ryuto, dia benar-benar penasaran dengan hal tersebut.
“Entahlah, aku menerima surat dengan sebuah cap yang berbentuk topeng dengan rupa iblis,” ucap Raul.
Ryuto terkejut mendengar hal tersebut, kemudian Raul mengeluarkan surat tersebut dan menyerahkan ke Ryuto.
Ryuto dengan cepat menerima surat tersebut, lalu dia membuka dan membaca surat tersebut.
Detik demi detik, wajah Ryuto berubah menjadi lebih dingin dan datar. Raul yang melihat itu hanya menghela nafas.
“Nah Raul, aku pernah menghancurkan orang-orang ini di Mall Bali,” ucap Ryuto, membuat Raul melebarkan matanya.
“Kau serius?” ucap Raul dengan raut muka terkejut dan serius. Ryuto mengangguk sebagai jawabannya.
Raul menundukan kepalanya, Ryuto sendiri sudah kembali santai. Dia sudah kuat, begitupun para istrinya.
“Yah, aku tak peduli. Jika mereka keluar dan mau bertarung dengan ku, silahkan,” ucap Ryuto, dengan santai.
Raul sendiri paham kekuatan Ryuto, dia tahu Ryuto sangat kuat. Raul kemudian menatap ke arah laut.
“Nah Ryuto, apakah aku harus berlatih kah?” ucap Raul, dia benar-benar sedikit gelisah dan takut.
Bukan karena dirinya akan terluka, namun jika semisal Sera di ambil dan dipermainkan di depannya, dia benar-benar terguncang.
Sementara itu, Ryuto yang mendengar ucapan Raul, dia tersenyum. Kemudian, dia berkata dengan nada santai.
__ADS_1
“Ya, kau perlu. Kau harus menjadi kuat, agar bisa melindungi calonmu,” ucap Ryuto, sementara Raul mengangguk sambil perlahan sudut mulutnya naik, membentuk sebuah senyuman.
“Hallo, bisakah kau keluar? Aku sudah menyadari kehadiranmu sejak tadi,” ucap Ryuto.
Raul yang berada di dekat Ryuto segera berbalik dan memasang wajah waspada, sedangkan Ryuto hanya memasang wajah santai.
Tap tap tap.
“Maaf, aku tidak bermaksud menguping,” ucap orang yang keluar dari balik pintu.
Ryuto dan Raul menatap orang tersebut, yang tak lain seorang perempuan memakai pakaian formal.
Namun, Ryuto sendiri tersenyum melihat perempuan tersebut, karena dia mengenali siapa perempuan tersebut.
“Shizuka-san, kenapa kau menguping dan bersembunyi disana?” ucap Ryuto, membuat Shizuka mendongakkan kepala dan menatap ke arah Ryuto.
Ryuto paham dengan pandangan tersebut, pandangan yang mengartikan seseorang ingin bicara serius.
“Ak-aku menunggu kalian selesai berbicara, agar aku bisa berbicara berdua denganmu,” ucap Shizuka.
Raul yang melihat dan mendengarkan hal tersebut, hanya tersenyum. Kemudian, dia berkata.
“Ryuto, aku akan kembali ke dalam. Aku perlu menyapa beberapa orang di dalam,” ucap Raul, berjalan pergi masuk ke dalam kapal.
‘Semangat, Teman,' batin Raul, sambil mengarahkan jempol jarinya ke arah Ryuto.
Melihat hal tersebut, Ryuto mengedutkan keningnya, lalu dia hanya menghela nafas panjang.
“Baiklah, sekarang kita sudah berdua, jadi apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Ryuto, kemudian Shizuka menstabilkan emosi dan fikirannya.
“Aku minta maaf, soal menuduhmu waktu itu,” ucap Shizuka, menundukkan kepalanya 90 derajat.
Ryuto menaikkan alisnya melihat hal tersebut, kemudian siluet bayangan muncul, Ryuto tersenyum.
‘Ternyata masalah itu kah,' batin Ryuto, kemudian dia memegang bahu Shizuka dan membuatnya kembali tegak.
“Aku tidak mempermasalahkan apapun, kau terlalu banyak fikiran,” ucap Ryuto, dia benar-benar merasa sedikit bersalah membuat Shizuka selalu kefikiran akan hal tersebut.
Shizuka sendiri, dia merasakan beban beratnya terangkat. Dia benar-benar bisa menghela nafas lega.
Air mata haru keluar dari matanya, Ryuto yang tidak tega melihat seseorang menangis, dia memeluk Shizuka.
“Keluarkan semuanya,” ucap Ryuto, kemudian Shizuka menangis dan memeluk Ryuto. Dia menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat Ryuto.
Beberapa menit kemudian.
Shizuka menjadi tenang, Ryuto melepaskan pelukannya. Begitu juga Shizuka, dia benar-benar memerah karena malu.
“Maaf, aku menangis,” ucap Shizuka, entah bagaimana dia menjadi jinak kepada Ryuto.
Melihat hal tersebut, Ryuto tersenyum dan menepuk kepalanya dengan lembut. Shizuka merasa nyaman ditepuk dan dielus di kepala.
__ADS_1
“Lalu, apakah ada yang lain?” tanya Ryuto, dia tahu bahwa yang ingin diucapkan Shizuka bukan itu saja.
“Itu bisakah kau membantuku?” ucap Shizuka, dia menatap Ryuto dengan tatapan memohon.
“Apa yang bisa kubantu untukmu?” tanya Ryuto, dia merasa penasaran dengan apa yang akan diminta oleh Shizuka.
Shizuka kemudian mengeluarkan sebuah poster, Ryuto melihat hal tersebut, dia menaikkan alisnya.
“Tolong bantu aku, orang ini akan meledakkan kapal ini, jika tidak segera ditindaklanjuti,” ucap Shizuka.
“Apakah ada hadiah nantinya?” ucap Ryuto, dia berkata untuk melihat apa reaksi dari Shizuka.
“Aku tidak tahu, apakah ada yang kau inginkan, bahkan jika itu adalah tubuhku, aku akan mel-“ ucap Shizuka.
“Aku menolak,” ucap Ryuto dengan singkat, dia berdiri dan berjalan menuju ke lorong pintu.
Namun, sebelum dia masuk, dia berbalik dan menatap ke arah Shizuka, lalu berkata dengan serius.
“Aku menolak, bukan karena tubuhmu tidak cantik,” ucap Ryuto, kemudian Shizuka membalas sambil berteriak.
“Lalu apa, apakah menurutmu aku kotor, ak-“ ucap Shizuka, namun terhenti saat sebuah jari menyentil keningnya dengan pelan.
Tic.
“Aku menolak, karena tubuhmu berharga. Bukan sesuatu yang murah dan mudah diberikan,” ucap Ryuto.
“Cobalah untuk menghargai dirimu sendiri, perilakukan tubuhmu seperti jiwamu,” ucap Ryuto.
Dia berjalan pergi, meninggalkan Shizuka yang terduduk lemas di dek kapal. Dia tidak menangis.
Melainkan, merenungkan apa yang diucapkan oleh Ryuto, dia mengulangi satu kalimat yang membuat dia akhirnya sadar.
“Dia benar, aku seharusnya tidak membuat diriku semurah ini, tubuh perempuan bukan barang murahan, melainkan harta itu sendiri,” gumam Shizuka.
“Kenapa aku begitu bodohnya,” gumam Shizuka, hari ini dia benar-benar lelah. Dia berdiri dan berjalan masuk ke dalam kapal, menuju ke arah kamarnya.
Di sisi Ryuto.
Dia berjalan santai, sampai akhirnya dia berhenti di sebuah lorong. Kemudian, dia menatap ke arah samping.
“Ruangan ini dingin,” ucap Ryuto, kemudian sebuah suara muncul dari samping Ryuto.
“Apa yang kau lakukan disini, nak,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1