Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 206


__ADS_3

[Chapter 206.]


[Persiapan.]


[Silahkan Dibaca.]


Halaman Istana Presiden.


Para istri Ryuto selesai membantai seluruh Undead bahkan roh jahatnya. Mereka sekarang tengah berjalan ke arah Ryuto.


Mereka berjalan sambil bercanda ria, kemudian mereka tiba di dekat Ryuto, kemudian mereka memeluk Ryuto satu persatu.


“Selamat, tanpa bantuanku, kalian bisa membasmi seluruh Negara,” ucap Ryuto, dia tidak melebih-lebihkan istrinya, karena itu adalah fakta.


Satu istri Ryuto dapat menghancurkan Negara dalam 20 menit, tingkat kekuatan mereka di atas kata normal dan sangat kuat.


Ryuto sendiri sekarang bisa menghancurkan setengah pulau, dia perlu naik ke Prajurit langit tahap 10, agar bisa menenggelamkan pulau dalam hitungan detik.


Mendengar pujian dari Ryuto, Seluruh istrinya senang, namun mereka tidak meninggi. Mereka masih tetap ingat bahwa ada yang lebih kuat di atas mereka.


“Kalau begitu, ayo kita masuk,” Ryuto berkata dan diangguki para istrinya, kemudian mereka berjalan bersama masuk ke dalam Istana Presiden.


***


Selepas berada di dalam Istana Presiden, mereka berjalan menuju ke arah kamar mandi, mereka mandi bersama. Maid juga ikut mandi, mereka juga sudah menyiapkan makan malam bersama para istri Ryuto lainnya.


Ryuto melepaskan pakaian miliknya, kemudian berendam di air panas. Para istrinya juga mengikuti dirinya, bahkan Karlina yang baru masuk dalam keluarga Ryuto juga ikut.


“Kenapa kalian terlihat sangat senang?” tanya Ryuto, dia merasa para istrinya sangat senang hari ini, bahkan terlihat lebih senang dari membantai para undead.


Sayoko yang berada di dekat Ryuto, dia tersenyum dan berkata dengan nada tenang dan lembut.


“Kami habis melakukan sesuatu hal, selepas kau dan keempat saudari pergi keluar,” ungkap Sayoko dengan misterius.


“Itu benar, sebenarnya tinggal keempat saudari saja yang belum melakukannya,” Yuna menambahkan ucapan Sayoko.


Para istri yang lain terkikik melihat mereka yang begitu misterius, Ryuto menaikkan bahunya tanda tidak peduli, namun dalam dirinya dia benar-benar penasaran.


Aria, Yuuko, Himiko, dan Asami ditarik oleh beberapa istri Ryuto, kemudian mereka membicarakan tentang hal yang menyenangkan nantinya.


Ryuto bersandar kemudian di hampiri oleh Aoi dan Karlina, mereka berdua berbeda tujuan namun tetap sama mengarah ke Ryuto.


“Sayang,” panggil Karlina, membuat Ryuto menoleh ke arah Karlina dan Aoi, namun Aoi tanpa aba-aba duduk di depan Ryuto.


Ryuto melihat hal tersebut mengabaikannya dan paham apa yang ingin dilakukan Aoi, dia menatap ke arah Karlina dan bertanya.


“Ada apa, sayang?” tanya Ryuto, kemudian Karlina duduk disebelahnya dan berkata dengan nada serius.

__ADS_1


“Sebenarnya kami tengah menyiksa seseorang, apakah kamu tidak ingin menyiksa mereka?” tanya Karlina, Ryuto menaikkan alisnya dan bertanya.


“Siapa yang kalian siksa?” tanya Ryuto, dia sedikit penasaran. Dia juga menekan kepala Aoi ke dalam.


“Mantanmu beserta para teman-temannya,” sebelum Karlina menjawab, dia didahului oleh Lisa.


Ryuto sedikit terkejut bertepatan dengan Aoi yang selesai melakukan kegiatannya, kemudian Ryuto berkata.


“Kalian menyiksanya? Apakah kalian menyiksa mereka dengan kejam?” tanya Ryuto, dia bertanya dengan nada penasaran.


“Hehehe, sangat. Tapi kami bosan, tinggal 4 saudari saja yang belum, apakah kamu juga akan menyiksa mereka?” tanya Nanami.


Ryuto berfikir sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada santai.


“Biarkan kalian saja, aku sudah malas bertemu dengan mereka, jika sudah disiksa jangan lupa dibunuh,” ucap Ryuto dengan ringan.


Seluruh istrinya mengangguk paham, Ryuto tidak ingin melihat mantannya tersebut, mereka kemudian merencanakan sesuatu siksaan baru.


Ryuto yang melihat hal tersebut, menggelengkan kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di pinggiran bak mandi besar tersebut.


Ryuto juga menarik Karlina dan Olivia mendekat ke arahnya, kemudian berkata dengan nada ringan.


“Baiklah, waktunya bermain.”


***


Disana sudah ada meja yang memiliki sistem menghangatkan makanan seterusnya, tanpa takut dingin.


Ryuto dan para istrinya duduk di kursi milik mereka masing-masing, kemudian maid Ryuto mulai menyiapkan makanan di depan seluruhnya.


(Note : ucapan Maid kunaikkan derajatnya menjadi Istri asli Ryuto saja, biar lebih enak dan nyaman.)


Selepas itu, mereka duduk dan mulai makan makanan di meja makan tersebut.


***


Selesai makan, mereka melakukan aktivitas mereka masing-masing menunggu waktunya tidur.


Ryuto sendiri berjalan menuju ke arah ruang Zero, lebih tepatnya ke arah ruang kerja Zero.


“Sepertinya Zero sudah pulang dari berburu,” ungkap Ryuto, dia menggunakan persepsi dan menemukan bahwa Zero baru masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Nah sayang, apakah perlu mengirim banyak pasukan?” tanya Alice, dia ikut bersama Ryuto menuju ke Zero.


“Itu perlu, Saudari Alice. Meskipun kita kuat, kita perlu juga untuk membuat pasukan kuat agar selepas kita pergi, keluarga Kurokami tidak menghilang.”


Miya berkata dengan tangan memegang dagunya, dia benar-benar memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


“Kau benar, yah kita tidak pergi kemana-mana hanya saja, aku tidak ingin mereka terlalu mengganggu kedamaian kita nantinya.”


Ryuto menjelaskan dengan senyum miliknya, Alice dan Miya mengangguk mereka paham dengan maksud Ryuto.


***


Tiba di depan pintu ruang Zero, mereka bertiga masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu ruang tersebut.


Kriekk.


Zero yang berada di dalam memandang ke arah Ryuto, kemudian dia menundukkan kepalanya.


“Bagaimana perkembangan seluruhnya, Zero?” tanya Ryuto dengan ringan, dia dan kedua istrinya duduk di sofa panjang.


“Tuan, ada sekitar 8000 orang siap bertempur melawan Amerika, namun pasukan itu asli dari pasukan kita.”


“Sementara pasukan baru yang kita ambil dari Indonesia, belum ada yang siap untuk bertempur kecuali militer kita yang memiliki total 970.000 pasukan.”


“Sementara itu, pasukan musuh memiliki sekitar 15.980.000 pasukan, dalam hal kuantitas kita sudah kalah.”


Zero menjelaskan seluruh situasi militer mereka, sementara Ryuto mengangguk paham dengan hal tersebut.


“Kerja bagus, apakah bisa menang kalian?” tanya Ryuto, Zero berfikir sebentar dan mengangguk.


“Bisa Tuan, jika kita menggunakan serangan dadakan dan bersembunyi secara rotasi,” ungkap Zero.


“Apakah kekuatan kita sama?” tanya Ryuto, kemudian Zero menggelengkan kepalanya dan berkata.


“Kita bisa menang jika melepas pasukan kita, namun jika hanya militer belum bisa, karena mereka tidak memiliki kekuatan di atas Prajurit tingkat lautan.”


Ryuto mengangguk, kemudian dia berdiri dan berkata kepada Zero.


“Bagaimana kalau aku dan istriku akan mengurangi 15.000.000 orang tersebut, beserta beberapa Negara mereka?”


Zero terkejut dengan hal tersebut, kalau Ryuto dan istrinya turun, bukankah itu akan berakhir dalam beberapa menit, Amerika akan kalah telak.


“Yah, tidak perlu difikirkan lagi, tingkatkan saja pasukan, nanti mereka akan terjun di medan perang yang lebih besar, sekarang biarkan aku dan istriku yang maju.”


Ryuto berjalan keluar diikuti oleh kedua istrinya, namun mereka berhenti tepat di pintu, kemudian melirik ke arah Zero dan berkata sambil menyeringai.


“Sekalian mengucapkan salam pembuka.”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thanks you Minna-san.


__ADS_2