
[Chapter 175.]
[Pertarungan dengan Buaya Putih.]
[Silahkan Dibaca.]
Rawa Hutan, Jakarta.
Terlihat sosok besar muncul dari perairan rawa tersebut, darah dari Pemimpin Pasukan mengucur keluar dari mulut sosok tersebut.
“Sudah lama tidak ada Manusia disini,” ucap suara muncul dari sosok besar tersebut, kemudian perlahan-lahan sosok tersebut naik.
Ryuto, Yui, Yuka, Yuna, dan Iris menatap datar ke arah sosok besar tersebut, kemudian Yui yang sudah tidak sabar berkata.
“Buaya kecil, segeralah tunjukkan dirimu, aku ingin segera menguliti dirimu,” ucap Yui, membuat Buaya Putih mengerutkan keningnya.
“Apa maksudmu, Manusia?” tanya sosok tersebut, kemudian sosok tersebut muncul naik di atas rawa.
Sosok besar, dengan kulit berwarna putih, gigi yang sangat tajam dan tidak beraturan, iris mata yang berwarna merah.
Tinggi sosok tersebut melebihi dari rumah besar, hampir setinggi dengan rumah Ryuto, kaki yang dimiliki empat dengan cakar yang menyatu jadi satu.
Itulah Buaya Putih.
“Oh, tinggi juga dan juga besar sangat tubuhnya,” ucap Ryuto, melihat langsung Buaya Putih tersebut.
“Manusia, dari awal aku sedikit curiga, kalian tidak pernah takut denganku, seperti orang itu,” ucap Buaya Putih tersebut.
“Hah? Siapa yang kau maksud,” ucap Ryuto, dia benar-benar merasa penasaran. Namun, Buaya Putih menaikkan sudut mulutnya.
“Kalahkan aku, baru akan kuberitahu,” ucap Buaya Putih, membuat Ryuto dan keempat istrinya menatap datar.
“Kau belum mencapai standarku,” ucap Ryuto, kemudian dia melirik ke arah ke empat istrinya.
“Kalian lawan dia, lumayan buat menambah pertarungan kalian,” ucap Ryuto, kemudian keempat istrinya mengangguk.
Buaya Putih memunculkan tanda centang mendengar ucapan Ryuto, dia benar-benar diremehkan.
“Kau sangat tidak sopan, Manusia,” raung Buaya Putih, kemudian dia mengayunkan ekor besarnya.
Wushhh.
Ryuto dengan mudah menghindari dengan cepat, sementara keempat istrinya melompat dan mulai menyerang Buaya Putih tersebut.
Booommmm.
Ekor Buaya Putih menabrak pohon, kemudian Yui menyerang terlebih dahulu dengan tombak miliknya.
“Mari kita berdansa,” ucap Yui, memutar tombaknya dengan cepat, lalu mengalirkan Spiritual ke tombak tersebut.
Yui mengayunkan tombaknya ke arah Buaya Putih tersebut, sementara Buaya Putih melihat hal tersebut, dia mengayunkan kaki depannya.
Booommmm.
Tabrakan kedua serangan membuat gelombang kejut yang menyebar ke seluruh arah.
Lalu, terlihat Yui melakukan Backflip dan disambut oleh sebuah ekor ke arahnya, namun Yui dengan cepat menghindari.
Booommm.
__ADS_1
Ekor menabrak pohon lain, Yuka dan Yuna berlari di ekor Buaya Putih tersebut, mereka berdua mempersiapkan serangan.
Yuka dengan cepat mengalirkan energi spiritual ke kaki kanan miliknya, sementara Yuna mengalirkan Spiritual ke tangan kanannya.
Buaya Putih tidak tinggal diam, dia menggerakkan ekornya untuk lepas dari pohon.
Tepat ekor terlepas, Yuka dan Yuna melompat ke atas menyiapkan posisi serangan mereka.
Buaya Putih juga melompat dan mengayunkan ekornya secara vertikal, Ryuto yang melihat gaya pertarungan Buaya Putih sedikit terkejut.
Tendangan dan pukulan diluncurkan oleh Yuka dan Yuna.
Wush Wush.
Sementara Buaya Putih mengayunkan ekornya dengan cepat.
Wushhhhhh
Booooommmmmm.
Kedua serangan besar tersebut, mengakibatkan gelombang kejut yang besar, pohon-pohon tumbang dan melayang ke belakang.
Ryuto yang melihat hal tersebut, dia tenang dan yakin bahwa istrinya bisa mengatasi Buaya Putih tersebut.
Asap yang dihasilkan dari gelombang kejut perlahan mulai menghilang, terlihat kedua istri Ryuto mendarat dengan santai ke tanah.
Sementara Buaya Putih terjun ke perairan rawa tersebut, dia menatap tak percaya kepada kedua istri Ryuto.
Byuuurrrrrrrr.
Air yang tenang menjadi bergelombang dan membentuk sebuah ombak yang menerjang ke arah tempat kedua istri Ryuto.
Boooommmmm.
Ekor Buaya Putih menabrak tanah tempat Yuka dan Yuna sebelumnya berdiri, kemudian Iris muncul di atas ekor.
Iris berlari menuju ke arah tubuh Buaya Putih melalui ekornya tersebut, dia berlari sangat cepat.
Buaya Putih tidak bisa mengikuti kecepatan Iris tersebut. Dia benar-benar terkejut melihat hal tersebut.
Iris melompat dengan sebuah pedang tipis miliknya (Rapier), lalu Iris melapisi pedangnya dengan spiritual.
Iris memposisikan pedangnya ke arah tepat perut dari Buaya Putih tersebut, lalu Iris melesatkan serangannya tersebut.
Wushhhh.
Booommmmm.
Raaaaawwwrrrrr
Buaya Putih berteriak kesakitan, Iris yang sudah meluncurkan serangan mundur ke belakang.
“Giliran kami,” ucap Yui, Yuka, dan Yuna. Mereka melompat dan menambahkan spiritual di masing-masing serangannya.
“Fufufu~ tadi selesai pemanasan, sekarang kita sedikit serius, Buaya kecil,” ucap Yui sambil tertawa pelan.
Yui memutar tombaknya melebihi kecepatan semula, spiritual mengalir dua kali aliran awal.
Begitu juga dengan Yuka dan Yuna, mereka mengalirkan ke kaki maupun tangan mereka secara lebih dari sebelumnya.
__ADS_1
Buaya Putih yang kesakitan, melihat hal tersebut segera menatap mereka dengan serius.
“Kemarilah, waktunya aku juga serius,” ucap Buaya Putih, kemudian dia mulai bercahaya putih.
Kulitnya mulai menjadi cerah, kemudian berubah menjadi pelindung perak. Ketiga istri Ryuto dengan cepat mengayunkan serangan milik mereka.
Booommmmmmm.
Tiga serangan mengenai kulit perak tersebut, lalu mereka bertiga mundur dan menatap dengan tajam ke arah kulit perak Buaya Putih.
“Heh, sepertinya kau memiliki rahasia di lengan bajumu, Buaya kecil,” ucap Yuna, kemudian dia menatap sambil tersenyum.
Begitu juga dengan Yuka dan Yui, mereka tersenyum ke arah Buaya Putih. Iris juga muncul di antara mereka.
Terlihat serangan yang di luncurkan ketiga istri Ryuto, hanya menggores kulit perak Buaya Putih saja.
“Heh, serangan kalian sangat lemah,” ucap Buaya Putih dengan sombongnya, namun dia masih menahan takut saat melihat senyuman istri Ryuto.
‘Apa-apaan senyuman keempat Manusia,' batin Buaya Putih sedikit takut.
Sementara itu, keempat istri Ryuto yang mendengar ucapan sombong dari Buaya Putih tersebut, senyum mereka menjadi lebar.
“Kita diremehkan, Saudari,” ucap Yuna, kemudian Yui, Yuka, dan Iris menjawab bersama.
“Ya, kau benar, Saudari,” ucap ketiganya, kemudian mereka berempat menatap tajam ke arah Buaya Putih dengan sebuah senyuman manis.
Ryuto yang melihat hal tersebut hanya bisa mendoakan keselamatan dari Buaya Putih tersebut.
Wush Wush Wush Wush.
Keempat Aura spiritual terlepas dari tubuh keempat istri Ryuto.
Booommmm.
Tekanan menyelimuti seluruh hutan rawa tersebut, tanah bergetar dengan hebat.
Buaya Putih yang merasakan tekanan tersebut, benar-benar ketakutan. Dia benar-benar terkejut dengan hal tersebut.
Keempat istri Ryuto, mulai mempersiapkan senjata mereka masing-masing, lalu mengalirkan Spiritual dengan besar.
Di pintu masuk.
Zero yang sudah meringkus dua penjaga palsu, segera menatap ke arah hutan dengan keringat dingin membasahi punggungnya.
“Apakah Buaya Putih itu, membuat marah keempat Nyonya,” ucap Zero, dia benar-benar merasa takut merasakan hal tersebut.
Dia teringat seluruh istri Ryuto mengamuk dan menghancurkan seluruh keluarga yang menyinggung mereka.
Di sisi pertempuran.
“Buaya kecil, mari sini, terima hukumanmu, Fufufu~,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.
__ADS_1