
[Chapter 171.]
[Mengatasi Dua Pembunuh profesional.]
[Silahkan Dibaca.]
Kapal.
Ryuto yang mendengar ucapan kedua orang tersebut, dia berjalan dengan santai menuju ke arah pintu kamar.
Sementara itu, kedua penjahat yang mendengar langkah kaki di luar, mereka segera bersiap dan waspada.
“Siapa itu?” bisik penjahat yang merakit Bom, dia benar-benar serius dan menatap fokus ke arah pintu.
“Aku kurang tahu,” balas penjahat yang memiliki tubuh besar dan memakai alat pemotong daging.
Ryuto yang berada di depan pintu, melihat mereka dengan persepsi miliknya. Ryuto menyeringai saat melihat keduanya waspada.
Ryuto memegang gagang pintu, kedua penjahat jantungnya berdetak kencang, mereka berdua gelisah dan lebih waspada.
“Tidak ada pilihan lain,” ucap Penjahat perakit Bom, dia mengeluarkan tongkat listrik. Sementara penjahat daging berkata.
“Kau benar,” ucap Penjahat daging, dia juga menyiapkan dua senjata tajam untuk memotong daging.
Ceklek.
“Apakah ada orang di dalam?” tanya Ryuto, melihat ke dalam kamar tersebut, dia masuk dan melihat kanan dan kiri.
Klek.
Pintu terkunci oleh penjahat perakit Bom, lalu Ryuto merasakan ada serangan dari samping. Dia dengan mudah menghindari.
Wushhh.
Pisau pemotong daging (Golok.) menebas angin yang semula tempat berdirinya Ryuto.
Bugghhh.
Ryuto menendang pemilik Golok tersebut, penjahat daging terlempar ke belakang dan jatuh tepat pada kotak kayu.
Boom.
“Sial, terima ini,” ucap penjahat perakit bom, dia menyerang dengan mengayunkan tongkatnya yang sudah mengaktifkan listrik.
Ryuto dengan mudah menghindari, kemudian dia menendang tangan dari penjahat perakit bom tersebut.
Bughh.
“Arh,” lirih sakit penjahat perakit bom, tongkat yang dia pegang lepas dari tangannya.
Melihat hal tersebut, Ryuto dengan cepat mengambilnya dan melempar ke arah penjahat daging yang berusaha berdiri.
Wushhhh.
Penjahat daging melihat tongkat melesat ke arahnya, dia terkejut dan sudah terlambat untuk menghindari.
Bugh.
Bzzztttt.
“Haaaaa,” teriak penjahat daging tersebut, dia merasakan rasa sakit akibat setrum dari tongkat tersebut.
__ADS_1
Tubuh penjahat daging terus bergetar. Dia tersetrum terus, matanya menunjukkan tanda-tanda akan segera pingsan.
Ryuto melirik hal tersebut sebentar, kemudian dia menatap ke arah penjahat perakit bom. Ryuto menyeringai.
Kemudian, dia bergerak menuju ke belakang penjahat perakit bom tersebut, lalu menendangnya dengan sedikit keras.
Booommm.
“Urhhh,” teriak penjahat perakit bom, dia terbang menuju ke arah penjahat daging.
Bughhhh.
Bzzzttt.
“Arrrhhhh,” teriak sakit oleh penjahat perakit bom, dia tersentak dan merasakan rasa sakit yang hebat di dalam tubuhnya.
Mereka berdua tersetrum oleh tongkat listrik tersebut, sampai akhirnya keduanya benar-benar tak sadarkan diri, tidak diketahui apakah masih hidup atau tidak.
Ryuto melihat hal tersebut, dia menatap ke segala ruangan, dia menemukan sebuah kertas di lantai.
Ryuto mengambil surat tersebut, kemudian dia melihat isi dari Surat tersebut. Dia terus membaca surat tersebut, sampai akhirnya dia menyeringai.
“Jadi, Indonesia masih ada rahasia seperti itu,” ucap Ryuto, kemudian dia menggunakan spiritualnya untuk membakar kertas tersebut.
Ryuto menatap ke arah dua penjahat tersebut, dia berjalan ke arah mereka dan melepaskan tongkat listrik.
“Hanya karena alat ini, kalian sudah pingsan, benar-benar penjahat lemah,” ucap Ryuto, kemudian dia mematikan aliran listrik di tongkat tersebut.
Ryuto pun melihat ke arah kotak-kotak dan menemukan sebuah tali, Ryuto tersenyum melihat hal tersebut.
Dia mengambil tali dan mengikat kedua penjahat tersebut. Dia menemukan sesuatu di saku penjahat Bom.
“Daftar orang,” ucap Ryuto, kemudian dia membukanya dan melihat daftar-daftar yang akan di bunuh oleh mereka.
Dia kemudian menyimpan daftar tersebut, kemudian dia mendengar suara telepon berbunyi.
Drrtt Drrtt.
Ryuto melihat ke arah penjahat daging, kemudian mencari hp tersebut. Ryuto akhirnya menemukan hp tersebut.
Klik.
“S, apakah sudah kau pasang seluruh bomnya?” tanya orang di balik telpon tersebut, Ryuto menaikkan alisnya.
“Ya, sudah,” ucap Ryuto menyamarkan suara menjadi mirip dengan penjahat daging. Kemudian, terdengar suara lagi.
“Bagus, dengan ini aku bisa tenang,” ucap orang di balik telpon, lalu dia melanjutkan ucapannya.
“Untuk uangnya, nanti di saat bertemu,” ucap orang di balik telpon, kemudian menutup telponnya.
Ryuto menaikkan alisnya, kemudian dia melihat nama kontaknya, ‘Klien 12.’
Dengan cepat, Ryuto membuka daftar tersebut, kemudian melihat Klien 12, dia sedikit terkejut melihat identitas Klien 12.
“Unknown?” ucap Ryuto, kemudian melihat klien lainnya, ada nama dan hal lainnya. Ryuto, membuka sampai pada halaman.
‘Peraturan jasa pembunuhan,' Ryuto membaca saja persatu dan akhirnya paham, kenapa tidak ada informasi tentang orang tersebut.
“Uang lebih banyak, bisa mengajukan tanpa perlu informasi orang yang menyewa mereka,” ucap Ryuto.
“Bodohlah, terpenting tidak mengusik keluarga dan diriku,” ucap Ryuto dengan mudah.
__ADS_1
Ryuto menarik kedua orang tersebut, kemudian dia membuka pintu keluar kamar.
“Oh, kalian berada disini,” ucap Ryuto, melihat beberapa pasukannya menjaga di pintu masuk ruang tersebut.
“Ya, tuan,” ucap mereka, jumlah mereka ada 5. Ryuto yang melihat hal tersebut, mengangguk.
“Bawa mereka berdua ke ruang penyiksaan,” ucap Ryuto, kelimanya mengangguk dan mengangkat kedua penjahat.
Ryuto berjalan menuju ke kamarnya, dia menyusuri lorong kembali dan merasakan lapar.
“Hmm, aku lapar. Semoga mereka sudah menyiapkan makanannya,” ucap Ryuto, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kamar.
Beberapa menit kemudian.
Ryuto tiba di depan pintu kamarnya, dia dengan santai masuk ke dalam kamar miliknya.
Ceklek.
Ryuto masuk dan disambut oleh istrinya dan para maidnya.
“Selamat datang, Sayang / Tuan,” ucap istri / Maid bersamaan, sementara Ryuto terdiam dan tersenyum.
“Terimakasih dan apakah makanan sudah siap?” ucap Ryuto, kemudian dia duduk di kursi ruang makan.
“Sebentar lagi, Tuan,” ucap salah satu Maid, yang tak lain Lily.
Ryuto yang mendengar itu mengangguk, kemudian dia melihat bahwa para Maid memasak salah satu ikan Tuna.
“Oh, pesananku sudah tiba ya,” ucap Ryuto, para istri dan Maidnya mengangguk benar.
“Ya, tapi di pesanannya terdapat obat penidur,” ucap Yuka dengan jelas, Ryuto yang mendengar itu mengangguk.
“Sudah kuatasi kedua penjahat itu, sekarang berada di ruang penyiksaan,” ucap Ryuto, kemudian dia melanjutkan.
“Biar para pasukan yang menyiksa mereka, pasukan perlu pelatihan juga,” lanjut Ryuto, para istrinya mengangguk.
Para istri dan Maid juga sudah puas menyiksa seseorang, jadi mereka sekarang lelah dan perlu energi kembali.
“Lalu, orang yang kalian siksa, bagaimana?” ucap Ryuto, kemudian di jawab oleh Amy yang berada di dekatnya.
“Kami bunuh,” ucap Amy, kemudian di lanjutkan oleh Silvia dan Erika.
“Lalu, lempar ke laut,” ucap keduanya, kemudian di lanjutkan oleh Yui.
“Dan juga, kami beri pemberat, agar tidak muncul ke permukaan,” ucap Yui.
Para istri sisanya mengangguk, Ryuto tersenyum puas mendengar ucapan para istrinya.
“Yah, nanti di jawa masih ada banyak yang menarik,” ucap Ryuto, membuat para istrinya senang.
“Kau benar, sayang,” ucap mereka, kemudian berjalan ke arah Ryuto dan memeluknya satu persatu.
Beberapa menit kemudian.
Maid datang dengan banyak makanan yang terbuat dari ikan Tuna tersebut.
“Makanan sudah siap,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.