Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 140


__ADS_3

[Chapter 140.]


[Perpustakaan.]


[Silahkan Dibaca.]


Di markas.


Ryuto menatap ke arah seluruh pemimpin yang berada di ruangan. Lalu, dia mulai berkata.


“Baiklah, mari kita mulai rapatnya, Zero apa yang sedang terjadi?” ucap Ryuto, kemudian Zero menjawab.


“Kami sudah menguasai 75% Yakuza dan Mafia di Tokyo,” ucap Zero, kemudian dia melanjutkan kembali.


“Serta, untuk 25% nya. Itu Yakuza Itoka beserta beberapa Mafia yang menghilang,” ucap Zero.


Ryuto yang mendengarnya, mengerutkan keningnya. Dia lalu bertanya kepada Zero.


“Menghilang?” ucap Ryuto bingung, sedangkan Zero mengangguk dan berkata kembali.


“Itu benar, Tuan. Mereka menghilang, hanya tempat kosong yang ditemukan. Lalu, banyak abu dan seperti tempat sudah lama tidak terpakai,” ucap Zero.


Ryuto memejamkan matanya dan berfikir, dia mencerna informasi dari Zero. Lalu, dia mengingat Kurht. Ryuto seketika membuka matanya dan tersenyum.


“Oke, lalu selanjutnya,” ucap Ryuto, dia paham kenapa mafia menghilang. Zero pun melanjutkan laporannya.


“Lalu, ada informasi di pelabuhan, ada seseorang tiba dengan cara berenang,” ucap Zero.


“Orang tersebut, memiliki ciri-ciri rambut golden panjang dan tubuh besar berotot,” ucap Zero.


“Kami mengkonfirmasi bahwa orang tersebut, ialah seorang atletis,” ucap Zero, kemudian dia selesai.


‘Hmmm, berenang? Menurutku itu bukan seorang atlet, melainkan hal lain,' batin Ryuto, lalu berkata.


“Selidiki lebih lanjut, kalau bisa temukan informasi detailnya,” ucap Ryuto dengan serius, Zero pun menjawab dengan anggukan.


“Selanjutnya,” ucap Ryuto, kemudian Lion segera melaporkan miliknya.


“Tuan, para pasukan sudah datang, serta mereka semua sudah berlatih,” ucap Lion.


“Mereka semua, memiliki tingkat petarung sejati level 5 dan 6,” ucap Lion.


“Sementara 1000 pasukan yang sebelumnya sudah menembus petarung bumi level 3-4,” ucap Lion.


“Manual pelatihan energi untuk menyesuaikan elemen mereka sudah kami berikan,” ucap Lion, kemudian dia selesai.


“Oh, menarik,” ucap Ryuto, dia benar-benar senang mendengar pasukan miliknya meningkat.


“Apakah kau melatih mereka dalam seni bela diri?” ucap Ryuto, kemudian Lion menjawab sambil mengangguk.


“Itu benar, Tuan. Namun, seni bela diri yang berada di perpustakaan. Kami membiarkan mereka mencari satu seni bela diri,” ucap Lion.


“Bagus, apakah buku seni bela diri di perpustakaan benar-benar rapi, maksudku di tata sesuai dengan kegunaan dan kebutuhan,” ucap Ryuto.


Dia benar-benar sedikit terkejut, soal perpustakaan. Sebab, dia baru kali ini mengerti ada perpustakaan di markas.


“Itu sudah dibedakan, Tuan. Tingkat dan jenis buku sudah dibedakan,” ucap Lion dengan jelas.

__ADS_1


Ryuto mengangguk dengan puas, namun dia ingin mengunjungi perpustakaan tersebut, Ryuto pun berkata.


“Nanti, pimpin aku ke perpustakaan,” ucap Ryuto kepada Lion.


“Baik, Tuan,” ucap Lion dengan senang hati. Lalu, Ryuto menatap ke arah tiga yang lainnya.


“Lanjutkan,” ucap Ryuto, kemudian Gin menjawab.


“Tuan, tim penembak jitu terbaik ada sekitar 2000 orang, sisanya masih belum memenuhi syarat,” ucap Gin.


“Gin, berapa jarak untuk syarat tembakan jarak jauh pasukan kita?” ucap Ryuto.


“Sekitar 5km, rata-rata mereka sudah sampai 2km,” ucap Gin dengan jelas sambil melihat kertas di depannya.


Ryuto terkejut dengan jarak penembak jitu pasukannya, lalu dia berfikir.


‘Mengerikan, pasukan ku sudah melebihi dari pasukan organisasi negara,' batin Ryuto.


“Kau yakin, tidak salah ukur?” ucap Ryuto, dia benar-benar belum percaya dengan ucapan Gin.


“Sudah diukur dan itu benar, Tuan,” ucap Gin, kemudian dia mengeluarkan sebuah alat.


“Ini adalah alat penanda, biasanya kami letakkan dan menempel di peluru bagian depan,” ucap Gin.


Ryuto melihat alat kotak mirip pengukur, lalu satunya adalah peluru yang ujungnya ada semacam isi.


“Saat, peluru ini menjauh, alat ini akan mendeteksi berapa jauh dari peluru tersebut,” ucap Gin.


Ryuto mengangguk, dia benar-benar sedikit terkejut dengan alat-alat yang dikeluarkan Gin.


“Jadi, yang terbaik sudah sampai 5km, lalu apakah itu tepat sasaran?” ucap Ryuto.


Diam.


Ryuto diam, dia tidak mengira pasukan penembak jitunya, melebihi dari manusia.


“Baiklah, teruskan,” ucap Ryuto kepada Gin, dia benar-benar memuji Gin, dia menganggap seluruh orang di ruangan tersebut keluarga utama.


“Lalu, selanjutnya,” ucap Ryuto, menatap ke arah Alpha dan Eleven. Mereka berdua saling memandang, kemudian Eleven mengangguk.


“Tuan, senjata yang dibuat sudah selesai sekitar 8000,” ucap Eleven, lalu Alpha melanjutkan ucapan Eleven.


“Serta, obat yang kita publikasikan sudah menyebar, banyak orang suka dengan hal tersebut,” ucap Alpha.


Ryuto tersenyum senang mendengar ucapan keduanya, lalu dia menjawab


“Bagus, lanjutkan. Kembangkan senjata dan obat kedua,” ucap Ryuto, kemudian dia memperhatikan semuanya.


“Baiklah, adakah yang didiskusikan lagi?” ucap Ryuto, semuanya diam. Kemudian, Ryuto berkata.


“Kalau begitu, rapat kita tutup,” ucap Ryuto, lalu dia berdiri. Diikuti oleh kelima Pemimpin tersebut.


“Lion, bawa aku ke perpustakaan,” ucap Ryuto, lalu berjalan keluar diikuti kelimanya.


“Baik, Tuan,” ucap Lion. Lalu di luar, Lion mengarahkan Ryuto menuju ke perpustakaan.


Sementara itu, yang lainnya pergi ke kegiatan masing-masing.

__ADS_1


Di sisi Ryuto.


Ryuto berjalan bersama dengan Lion, mereka menyusuri lorong dan turun ke bawah, kemudian Ryuto melihat ada pintu yang besar, tertulis.


‘Perpustakaan.’


Lion membuka pintunya, lalu masuk diikuti oleh Ryuto. Saat di dalam Ryuto terkejut dan terpana.


“Ini benar-benar luar biasa,” ucap Ryuto, mengamati perpustakaan tersebut.


Terlihat ada 5 tingkat dan di setiap tangga ada warna yang menandakan tingkat tersebut.


Lantai 1 berwarna putih.


Lantai 2 berwarna hijau.


Lantai 3 berwarna coklat.


Lantai 4 berwarna biru.


Lantai 5 berwarna hitam.


Ryuto lalu mencoba untuk naik, namun saat melangkahkan kakinya ke tangga lantai 1, dia merasakan tekanan.


“Hmm, jadi setiap tangga ada tekanan, menarik,” ucap Ryuto, kemudian dia maju terus.


Beberapa menit.


Ryuto sampai ke lantai 3, saat akan melangkah ke tangga lantai 4, dia dorong untuk pergi.


“Batasku lantai 3,” ucap Ryuto, sementara Lion, dia terkejut saat melihat Ryuto bisa memasuki lantai 3.


Rata-rata pasukan tidak ada yang sampai ke lantai 3 begitu juga kelima pemimpin.


Di sisi Ryuto.


“Disini benar-benar lengkap, ada Alkemis, Pandai besi, peracik obat, seni dalam, seni luar, dokter jarum,....” ucap Ryuto, dia tersenyum saat melihat hal tersebut.


Lalu, saat akan turun, Ryuto mendapati dirinya merasakan aura familiar dengan sesuatu.


Ryuto berbalik dan menemukan sebuah buku di rak, buku tersebut tipis dan berwarna coklat tua.


‘Inikah?’ batin Ryuto, dia mengambil buku tersebut, kemudian dia ditarik masuk ke dalam buku coklat tersebut.


“Ahhhh,” teriak Ryuto, namun tidak ada yang mendengar. Tubuh Ryuto, kemudian duduk lotus, buku berada di kedua tangannya.


Ryuto terbangun, namun bukan di perpustakaan. Dia terbangun di sebuah tempat padang rumput.


[Selamat Tuan, mendapatkan Seni pohon seribu akar.]


[Selamat Tuan, mendapatkan benih pohon roh.]


“Kenapa terdengar seperti Novel Kultivasi,”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.


__ADS_2