
[Chapter 160.]
[Tiba Bali.]
[Silahkan Dibaca.]
Bali.
Di Bandara, turun sebuah pesawat yang memiliki warna putih dengan garis-garis merah.
Pesawat tersebut turun perlahan dan akhirnya mendarat dengan selamat. Kemudian, pintu pesawat terbuka.
Banyak orang yang keluar dari pesawat tersebut, kemudian turunlah pemuda dengan 5 perempuan.
“Jadi, mereka sudah tiba?” ucap pemuda tersebut yang tak lain ialah, Ryuto. Sementara 5 perempuan tersebut ialah, istrinya.
“Ya, Saudari Lilia sudah menginformasikan bahwa mereka menginap di penginapan dekat dengan pantai,” ucap Yuli.
Ryuto pun mengangguk, lalu mereka berjalan keluar dari Bandara yang ramai dengan berbagai orang.
Di luar Bandara, terdapat 1 mobil yang besar dan memiliki pintu 6, mobil tersebut berwarna hitam.
(Ada ga, mobil 6 pintu?. Aku butuhnya mengarang sih.)
Kaca depan turun, menampilkan orang yang dikenal oleh Ryuto dan keempat istrinya. Lalu, orang tersebut berkata.
“Tuan, silahkan masuk,” ucap orang tersebut dengan membuka seluruh pintu dari mobil, orang tersebut ialah, Zero.
“Baiklah,” ucap Ryuto, dia ingin bertanya tapi diurungkan. Dia akan bertanya saat di jalan nanti.
Ryuto dan para istrinya masuk ke dalam, lalu Zero menjalankan mobilnya menuju ke sebuah tempat.
“Jadi, bisakah kau beritahu, bagaimana kau ada disini?” ucap Ryuto, dengan penasaran. Zero pun menjawab.
“Aku disini bersama dengan para Nyonya dan juga mengatur beberapa pasukan, bukankah setelah ini, kita akan menguasai Indonesia?” ucap Zero.
Ryuto berfikir dan mengangguk, apa yang diucapkan Zero benar. Dia akan menguasai tempat Indonesia.
“Kau benar, lalu ada berapa pasukan disini?” ucap Ryuto, kemudian Zero berkata dengan serius.
“Alpha dan Eleven, mereka sudah pergi terlebih dahulu ke Jawa, sementara di Jepang hanya ada Gin dengan pasukan 2000,” ucap Zero.
“Pasukan yang kami bawa ada sekitar 5000, di tambah aku, Alpha, Eleven,” ucap Zero, kemudian Ryuto berkata.
“5000 pasukan, bukannya terlalu berlebihan?” ucap Ryuto, entah kenapa terlalu banyak pasukan, malah merepotkan.
“Tuan, Indonesia memiliki berbagai pulau, bahkan ada pulau terpencil disini, apalagi pulau misterius,” ucap Zero.
“Pulau misterius? Ceritakan kenapa bisa misterius?” ucap Ryuto, dia mulai penasaran dengan pulau tersebut.
__ADS_1
“Pulau itu terdapat di dekat pulau Papua, Timur dari Bali. Pulau tersebut, misterius karena, penjelajah selalu hilang disana,” ucap Zero.
“Pulau tersebut benar-benar penuh dengan berbagai pohon yang rindang, ada kabut juga namun itu terjadi saat pagi,” ucap Zero.
“Pernah ada yang mencoba memantau dengan Drone, namun Drone tersebut kehilangan kendali dan hancur saat melihat hutan,” ucap Zero.
“Kau yakin?” ucap Ryuto, dia mulai penasaran dengan pulau tersebut. Zero mengangguk dan melanjutkan.
“Ada rumor, disana dijaga oleh hantu atau sesuatu yang tidak akan mengijinkan siapapun masuk,” ucap Zero.
“Menarik, tapi kita selidiki setelah kita menguasai Indonesia dan Jepang,” ucap Ryuto, Zero sedikit heran.
“Tuan, kau yakin dengan hal tersebut, maksudku disana mengerikan loh?” ucap Zero, sementara Ryuto hanya berkata.
“Ya, karena hal misterius benar-benar menarik, Dunia ini penuh misteri Zero,” ucap Ryuto, dengan senyum misterius.
“Kalian berdua sudah seperti kakak beradik,” ucap Yuli, sementara Ryuto tersenyum dan berkata.
“Yah, aku adalah Kakak, sementara Zero adalah Adik,” ucap Ryuto, namun berbeda dengan Sayoko dan Sasha.
‘Menurutku malah, sebaliknya,' batin keduanya, memunculkan keringat di dahi mereka saat menatap Ryuto.
Lisa dan Arisa berada di belakang, mereka saling berbicara satu sama lain, entah kenapa mereka berdua terlihat sangat akrab.
Beberapa jam kemudian.
Tibalah mereka di dekat pantai, lalu mobil pun berhenti di sebuah penginapan yang besar dan mewah.
“Yah, lumayanlah,” ucap Arisa, kemudian mereka turun satu persatu. Ryuto yang sudah di luar, dia berkata.
“Zero, antarkan mereka ke ruangan mereka, aku mau ke pantai sebentar,” ucap Ryuto, melihat wajah para istrinya yang lelah.
“Baik Tuan, mari Nyonya,” ucap Zero, kemudian kelima istri Ryuto mengikuti Zero, masuk ke dalam penginapan.
Ryuto berjalan menuju ke pantai, dia berjalan sambil menikmati pemandangan, Ryuto juga membeli beberapa tusuk sate untuk dia makan sambil jalan-jalan.
Sampai di pantai, dia berjalan ke sebuah tempat yang teduh, disana terdapat kursi pantai dan sebuah payung.
“Uhh, akhirnya nyaman,” ucap Ryuto, dia berbaring sambil menikmati tempat tersebut. Lalu, terdengar suara dari samping.
“Tuan, apakah sebegitu nyamannya?” ucap suara perempuan di samping, Ryuto.
Ryuto tidak perlu melihat Perempuan tersebut, dia menjawab dengan senyum santainya.
“Ya, aku menikmati tempat ini, karena nyaman, sudah lama aku tidak ke pantai,” ucap Ryuto.
Kemudian, Perempuan tersebut tersenyum dan berkata dengan nada santai.
“Kau benar, Tuan. Hanya disini nyaman, aku pun sudah sejak lama tidak ke pantai,” ucap Perempuan tersebut.
__ADS_1
“Pasti karena tekanan kerja, kusarankan untuk anda Nona, jangan terlalu lelah,” ucap Ryuto, sambil tersenyum.
Perempuan tersebut sedikit tertegun, akan suatu hal. Kemudian, dia tersenyum dan berkata.
“Mau bagaimana lagi, jika aku beristirahat, akan membebankan para karyawan lain,” ucap Perempuan tersebut.
“Oh, apakah kau seorang CEO?” ucap Ryuto, dia memejamkan matanya, sama sekali tidak melirik perempuan di sebelahnya.
“Itu benar, aku CEO, hanya hari ini saja, aku bisa santai,” ucap Perempuan tersebut, Ryuto dapat mendengar helaan nafas dari Perempuan tersebut.
“Sabarlah, Nona. Kenapa, tidak meminta seseorang untuk membantu tugasmu, itu lebih baik,” ucap Ryuto.
“Tidak mungkin,” ucap Perempuan tersebut, dia menggelengkan kepalanya dan sedikit menunduk.
“Lalu, lepas saja jabatan CEO mu, kau harus memperhatikan kesehatan tubuh Nona,” ucap Ryuto.
Perempuan tersebut, menatap ke arah Ryuto, dia sedikit terkejut dengan ucapan dari Ryuto.
‘Apakah orang ini mengetahui rahasia ku?’ batin Perempuan tersebut, lalu dia tersenyum cerah.
“Tidak masalah, aku tetap sehat, hanya hari ini aku perlu memanfaatkan hari libur ku,” ucap Perempuan tersebut.
“Yah, nikmati saja hidup, Nona. Kadang, apa yang akan kita lakukan sekarang, bisa berarti tindakan terakhir kita,” ucap Ryuto.
Ryuto tetap tersenyum, dia terus memejamkan matanya, mode guru miliknya mulai aktif.
“Ungkapanmu seperti seorang kakek-kakek,” ucap Perempuan tersebut, dia juga berbaring di kursi pantai.
“Umur bukan segalanya, kadang yang tua bisa menjadi anak kecil, begitu juga sebaliknya, manusia itu penuh misteri,” ucap Ryuto.
“Aku setuju dengan ucapanmu,” ucap Perempuan tersebut, keduanya saling menikmati pemandangan laut, walaupun mereka sebenarnya tiduran di kursi pantai.
Beberapa jam kemudian.
Ryuto bangun dari berbaringnya di kursi, dia duduk sambil memandang matahari yang mulai turun.
“Apakah kau akan pergi?” ucap Perempuan tersebut, dia juga bangun duduk di kursi pantai.
“Belum,” ucap Ryuto, kemudian Perempuan tersebut berkata dengan nada santai.
“Bagaimana kalau kita berenang?” ucap Perempuan tersebut, Ryuto pun memandang ke arah Perempuan tersebut.
“Yah, ayo kita berenang bersama, Nona cantik,” ucap Ryuto, pujian adalah jalan awal membuat perempuan suka.
“Baiklah, tapi sebelum itu, perkenalkan namaku adalah Olivia Alson, salam kenal,”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.