Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 176


__ADS_3

[Chapter 176.]


[Pulang.]


[Silahkan Dibaca.]


Rawa Hutan, Jakarta.


Tekanan yang menyelimuti hutan, perlahan menghilang. Kemudian, keempat istri Ryuto menatap serius dan tajam ke arah Buaya Putih tersebut.


Wush Wush Wush Wush.


Keempat istri Ryuto menghilang dari tempat, Buaya Putih yang melihat hal tersebut, dia melebarkan matanya.


Kemudian, Buaya Putih merasakan sakit dan tersentak saat melihat posisinya sedang terbang ke atas.


Booommmm.


Terlihat Yuna memukul keras perut Buaya Putih tersebut, Yuna memukul dengan tangan yang dilapisi sarung tangan.


Pecahan kulit perak terlihat jatuh ke bawah, selepas terkena pukulan dari Yuna tersebut.


Buaya Putih menatap hal tersebut dengan tak percaya, namun dia mengerang sakit di bagian perutnya.


Rawwwrrrr.


Yuka seketika muncul di puncak Buaya Putih tersebut, berputar dengan kaki yang dilapisi spiritual.


Yuka pun dengan cepat mengayunkan kakinya ke arah punggung dari Buaya Putih tersebut.


Booommm.


Rawwwrrrrr.


Buaya Putih benar-benar kesakitan, dari perut dan punggung. Dia ingin membalas serangan keduanya, namun sebuah siluet orang muncul di depannya.


Yui tiba di depan Buaya Putih, dengan sebuah Tombak yang berputar dengan ganas. Yui melemparkan Tombak tersebut ke arah Buaya Putih.


Wushhhhh.


Tombak melesat dengan cepat ke arah Buaya Putih, kemudian Tombak mengenai tepat di perut Buaya Putih.


Booommmm.


Buaya Putih tersentak, dia merasakan perutnya tertusuk dan melayang terbang ke belakang dengan cepat.


Boom Boom Boom Boom Boom.


Booommmm.


Banyak pohon yang menjadi korban dari Buaya Putih, kemudian Buaya Putih menabrak pohon yang sangat kokoh dan berhenti terbang di sana.


Buaya Putih benar-benar ingin menutup matanya, namun sebuah Siluet muncul kembali di depannya.


Iris muncul tepat di depannya, lalu melesatkan pedangnya ke arah Buaya Putih tersebut.


Slashhhh.


Pohon yang menjadi tempat pemberhentian Buaya Putih, terpotong menjadi dua. Sementara, Buaya Putih tertebas lebar di bagian perutnya.


Keempat istri Ryuto muncul di depan Buaya Putih tersebut, kemudian mereka memegang satu persatu kaki Buaya Putih.


Keempat istri Ryuto, memposisikan diri seakan melempar sesuatu, senyuman manis masih terpampang jelas di wajah mereka.


Wushhhh.

__ADS_1


Buaya Putih pasrah, dia benar-benar tak berdaya, kekuatan sudah habis, luka-luka berada di berbagai tubuhnya.


Buaya Putih terbang dengan cepat menuju ke lokasi semula, tepat saat sampai di rawa, keempat istri Ryuto muncul di atas Buaya Putih.


Mereka berempat mengayunkan serangan mereka ke arah Buaya Putih tersebut.


Booommmmm.


Buaya Putih terjatuh ke bawah, dengan meninggalkan sebuah kawah yang lumayan besar.


Namun, kawah tersebut perlahan-lahan diisi oleh Air dari Rawa di sebelahnya. Buaya Putih tenggelam oleh air tersebut.


Ryuto muncul di dekat empat istrinya, dia juga melihat ke arah Air yang mengisi kawah tempat Buaya Putih berbaring.


Kemudian, Ryuto mendengar suara notifikasi dari sistem.


[Misi Dunia]


[Bunuh roh jahat, Harimau putih (+).]


[Lokasi : Indonesia, Pulau Jawa dan Sumatera.]


[Durasi : 20 Hari.]


[Hadiah : Seni seribu tangan + Senjata acak.]


[Hukum : Kehilangan apapun yang anda miliki.]


[Telah diselesaikan.]


[Selamat, Tuan mendapatkan Seni seribu Tangan.]


[Selamat, Tuan mendapatkan Pedang Bintang.]


Tak lama kemudian.


Ryuto selesai mencerna seluruh informasi tersebut, dia benar-benar sedikit terkejut, melihat kekuatan dari seni tersebut.


Yui, Yuka, Yuna, dan Iris menatap ke arah Ryuto dengan penasaran. Kemudian, Yui berkata.


“Sayang, kau tak apa?” tanya Yui, dia benar-benar merasa sedikit khawatir dan penasaran.


Mendengar pertanyaan Yui, Ryuto menoleh ke arahnya. Dia tersenyum dan menjawab dengan tenang.


“Ya, aku tak apa,” mendengar ucapan tersebut keempat istrinya merasa lega, lalu Iris bertanya.


“Apakah kau mendapatkan hadiah menyelesaikan misinya?” tanya Iris, membuat Ryuto memandangnya dan mengangguk.


“Ya, aku mendapatkannya. Aku mendapatkan keterampilan Seni bertarung,” ucap Ryuto, membuat Iris mengangguk.


“Bisakah kau tunjukkan, sayang?” pinta Yuna, mendengar permintaan Yuna, Ryuto mengangguk.


“Mundurlah,” ucap Ryuto, kemudian keempat istrinya mundur dan berdiri di cabang pohon besar.


Ryuto kemudian melompat ke atas rawa, dia merapatkan telapak tangan miliknya, kemudian memposisikan ke arah rawa.


‘Lebih baik aku gunakan seratus tangan dulu,' batin Ryuto, kemudian dia memfokuskan spiritual ke arah telapak tangannya.


Keempat istrinya melihat hal tersebut, kemudian perlahan-lahan melihat sebuah telapak tangan bermunculan di samping Ryuto.


Ryuto mengayunkan tangannya ke arah rawa dengan cepat, lalu seluruh proyektil telapak tangan melesat ke bawah.


Boooommmmmm.


Brushhh.

__ADS_1


Air di rawa menyebar ke berbagai arah, meninggalkan kawah sebelumnya. Lalu, terlihat juga sebuah Buaya Putih yang mati di tengah berbagai cetakan telapak tangan.


Tap.


“Benar-benar kuat,” ucap Ryuto, saat mendarat di dekat keempat istrinya.


Keempat istrinya menatap hal tersebut terkejut, terutama Yuna. Dia memiliki bintang di matanya.


“Sayang, ajari aku itu,” Ryuto mendengar permintaan istrinya, dia mengangguk dan berkata.


“Setelah ini,” Yuna mengangguk senang, sementara ketiga istri Ryuto tersenyum melihat hal tersebut.


“Kita simpan dulu, Buaya ini,” ucap Ryuto, kemudian mendarat di kawah dan memegang Buaya Putih tersebut.


Lalu, Buaya Putih menghilang. Ryuto pun mengangguk dan pergi ke tempat para istrinya.


“Baiklah, waktunya pulang,” ucap Ryuto, keempat istrinya mengangguk, mereka pun berjalan keluar dari hutan besar tersebut.


Di Surabaya.


Di kedalaman air, terdapat sosok yang paling ditakuti. Sosok tersebut tertidur lama disana.


Sosok tersebut besar melebihi dari Paus, dia hampir setara dengan Hiu Megalodon. Gigi runcing menambah kesan kejam.


Tubuhnya memiliki berbagai bekas pertempuran, sisiknya berwarna hitam dan putih.


Sosok tersebut, membuka matanya. Iris mata berwarna emas terlihat bersinar, kemudian suara berat terdengar.


“Baya, sudah mati,” ucap Sosok tersebut, kemudian dia bergerak bangun dari tempat peristirahatan.


Sementara itu, di daratan Surabaya. Tepatnya di sebuah patung Ikan dan Buaya saling bertarung.


Patung Buaya tersebut perlahan retak dan menghitam tanpa di ketahui penyebabnya.


Di sisi Ryuto.


Ryuto dan keempat istrinya berjalan menuju ke arah pintu keluar Hutan besar tersebut. Mereka berjalan dengan santai sambil menikmati Sore hari.


Beberapa menit kemudian.


Mereka tiba di luar, mereka melihat Zero yang sudah membunuh kedua penjaga tadi.


Menyadari ada gerakan di dalam, Zero melihat ke arah tersebut. Dia tersenyum melihat Ryuto dan keempat istrinya keluar dari hutan.


“Tuan,” ucap Zero, sementara Ryuto mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan keempat istrinya masuk ke dalam mobil.


“Baiklah, ayo kita pulang, Zero,” ucap Ryuto, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil.


Zero menyalakan mobilnya dan berjalan menuju ke Rumah Ryuto.


Dalam perjalanan, Ryuto menatap penasaran kepada Zero dan keempat istrinya, dia menyipitkan matanya.


‘Mereka menyembunyikan sesuatu,' batin Ryuto, melihat Zero yang tersenyum lebar dan hormat secara berlebihan.


Sementara itu, keempat istrinya terlihat seperti diam dan memandang ke arah luar.


Ryuto tidak tahu, bahwa hari ini adalah hari paling spesial bagi dirinya sendiri.


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.

__ADS_1


__ADS_2