Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 268


__ADS_3

[Chapter 268.]


[Melawan Kera Api Perkasa 1.]


[Silahkan Dibaca.]


Dalam gua.


Ryuto terkejut ketika melihat kera tersebut. Dia dengan cepat mengambil sikap bertarung miliknya.


Kera mendengus melihat Ryuto, monster itu dengan ringan melesat ke arah Ryuto. Tangan monster mengepal, energi memadat membuat pukulan memerah.


Ryuto merasakan panas dari tangan tersebut. Dia dengan cepat menyilangkan kedua tangannya.


Booommmm.


Wushhhhh.


Ryuto terpental ke luar dari dalam gua. Namun, di tengah jalan, dia memutar tubuhnya dengan cepat dan mendarat di tanah.


Ryuto menatap ke arah kera tersebut. Dia beruntung sudah memasukkan tiga perempuan ke dalam Dunia Jiwanya. Masalah pertama selesai, sekarang masalah kedua.


“Berapa persen aku menang melawan kera ini, sistem?” Ryuto bertanya kepada sistem dalam hatinya.


[90%.]


Ryuto sedikit terkejut. Namun, apa yang dibilang sistem benar. Dia belum mengeluarkan seluruh kekuatannya sekarang, jika dikeluarkan maka Negara utama akan hancur.


“Sebenarnya perlu tingkat berapa untuk mengatasi Kera ini?” Ryuto bertanya kembali, dia perlu memastikan.


[Tingkat untuk mengalahkan Kera Api Perkasa, itu adalah Prajurit Alam tahap 7.]


“Kalau begitu, mudah.” Ryuto menjadi sedikit serius sekarang. Dia menatap ke arah kera yang melesat cepat ke arahnya.


Ryuto tersenyum dan melesat maju ke arah kera tersebut. Kedua tangannya terbalut oleh energi Qi padat.


Wushhhh.


Tangan Ryuto berubah warna menjadi hitam keunguan dengan kobaran api yang mengerikan.


Kera tidak peduli dan mengepalkan kembali tangannya. Energi merah menyelimuti tangan tersebut.


Keduanya tiba di tengah-tengah, mereka saling menatap. Kemudian, dengan ringan kedua pukulan mereka mengayun ke arah depan.


Boooommmm.


Ryuto tetap diam di tempat, kera terpental ke belakang dengan keras. Kemudian, kera menabrak ujung dinding gua.


Brukkkkk.


Ryuto melihat hal itu, menyunggingkan senyum miliknya. Dia melambaikan tangan miliknya. Seketika, energi Qi membesar kembali.

__ADS_1


Drrrrr.


Gua bergetar dengan hebat. Batu-batu yang berada di tanah naik ke atas dan hancur menjadi debu dalam sekejap.


“Mari kita akhiri, salam pembuka tadi. Waktunya pertandingan pertama, kita.” Ryuto berkata dengan nada ringan.


Dalam sekejap, Ryuto menghilang dari tempat. Dia melesat menuju ke arah kera api yang tengah berdiri menatap ke arah Ryuto.


Groooo.


Kera meraung dengan keras, tubuhnya memerah dan bulu-bulu miliknya tegak dan terbakar.


Ryuto tidak peduli akan hal itu. Dia tiba di depan kera, dengan ringan mengayunkan telapak tangannya yang sudah terbalut Qi besar ke arah depan.


Booooommmm.


Kera terdorong dan membuat lubang di dinding gua tersebut. Ryuto menatap ke arah kera yang terbang menuju ke arah hutan. Dia melayang dan menuju ke arah kera jatuh.


***


Cohza dan Tifa bertarung dengan santai. Musuh yang berada di depannya itu benar-benar lemah dari mereka berdua.


“Kalian sangat lemah.” Tifa mengejek sekaligus mengeluh. Sementara lima orang termasuk ketua mereka marah, akan tetapi percuma karena musuh yang mereka hadapi sangat kuat.


Tifa menghela nafas, dia menatap ke arah Cohza. Dirinya melihat bahwa pria itu menyiksa para orang berjubah hijau tersebut.


“Kenapa, semua orang suka menyiksa?” Tifa bingung, “Hufff, sepertinya aku harus membunuh kalian.”


Tifa paling bosan dengan menyiksa, dia tidak ingin menyiksa karena buang-buang waktu saja. Dirinya juga berpikir, bahwa menyiksa malah membuat yang disiksa senang.


“I—itu, apa i—tu, ketua?” Salah satu orang berjubah hijau ketakutan. Namun orang yang menjadi ketua mereka bergetar dengan takut, dia tidak menyangka akan musuh yang sangat kuat seperti Tifa tersebut.


“Matilah, kalian.” Tifa melesat ke arah kelima orang tersebut. Dia secara langsung tiba di belakang kelima orang berjubah hijau itu.


Slash Slash Slash Slash Slash.


Lima kepala orang berjubah hijau berputar terputus dari tubuhnya. Tifa mengakhirinya dengan cepat, dia menghilangkan serangannya dan menatap ke arah Cohza yang sudah selesai.


“Aku pergi dulu,” teriak Tifa, tanpa menunggu jawaban dari Cohza. Dia melesat masuk ke dalam gua tempat gerbang alam menengah akan terbuka.


Cohza mendengar teriakan Tifa, mengedutkan keningnya. Dia menghela nafas, kemudian menatap ke arah sisi lain, di mana Seida berada sekarang.


“Mereka sudah mati, waktunya pergi ke tempat Seida.” Cohza dengan cepat melesat menuju ke tempat Seida berada.


***


Rina dan Nina memegang pistol di masing-masing tangannya. Keduanya benar-benar berubah menjadi Dewi Penyiksa. Para orang-orang yang mengerumuni mereka sebelumnya, benar-benar mengenaskan.


Terlihat berbagai lubang di bagian mana pun, Rina dan Nina sengaja tidak menyerang vital mereka. Jika keduanya menyerang hal itu, bisa-bisa musuhnya mati.


“Kalian membosankan.” Rina berkata dengan nada bosan. Kemudian, pistol diarahkan ke kepala para musuh tersebut.

__ADS_1


Dor.


Rina dan Nina sudah menyelesaikan mereka semua. “Kak, apakah kita perlu naik?”


Rina mendengar pertanyaan Nina, menatap ke arah adiknya tersebut. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Suami kita pasti bisa menanganinya. Apalagi ada Saudari Tifa, pasti lebih mudah.”


Nina mengangguk setuju akan hal itu. Kemudian, keduanya melihat sebuah mobil box dan mobil van hitam berhenti di dekat mereka.


Rina dan Nina santai, di saat orang-orang dalam mobil itu keluar. Keduanya mengerutkan keningnya.


“Ambil kedua perempuan itu, aku ingin mereka berdua menjadi budakku.” Seseorang dari dalam mobil berteriak.


Rina dan Nina muram, dia melihat berbagai pasukan turun dari mobil box dan mobil van tersebut.


“Sepertinya kalian benar-benar ingin mati.” Rina berkata dengan nada tajam. Aura membunuhnya keluar, membuat angin berhembus kuat ke arah rombongan tersebut.


Nina juga melakukan hal sama. Rombongan pasukan berkeringat deras, mereka merasa di tatap oleh Dewi mengerikan.


“Mari kita mulai membunuh kalian.”


***


Ryuto menatap ke bawah di mana kera terbaring di tanah membentuk jaring-jaring di tanah tersebut.


Setelah itu, terlihat tangan kera bergerak. Matanya terbuka secara cepat. Iris mata dari kera berubah menjadi merah.


Grooooooio.


Ryuto tersenyum melihat hal itu, dia mengangkat tangannya. Qi berkumpul di tangan Ryuto. Qi tersebut memadat.


Tangan Ryuto segera berubah menjadi hitam keunguan. Aura menakutkan keluar dari tangan tersebut.


Kera melihat ke arah Ryuto, dia marah karena dipermainkan oleh Ryuto. Dengan ringan monster itu menarik sesuatu dari pinggangnya.


Apa yang ditarik oleh kera adalah sebuah sabuk yang besar. Ketika sabuk menyentuh tanah, seketika menjadi besar dan mulai terlihat seperti tongkat.


Ryuto melihat hal itu, tersenyum menyeringai. Dia melambaikan tangannya dan muncul Pedang Ryukuo.


Wush Wush Wush Wush.


Kera tersebut memutar tongkat miliknya. Monster itu menatap ke arah Ryuto dengan tajam. Tatapannya penuh akan pejuang dan semangat bertarung tinggi.


Ryuto juga sama, dia tersenyum menikmati pertarungan tersebut. Pedang terlapisi Qi, begitu tongkat kera juga sudah selesai. Kera mengisi dengan energi spiritual miliknya.


Keduanya saling memandang, kemudian Ryuto berkata dengan nada penuh semangat. “Mari kita mulai, pertarungannya Kera!”


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.

__ADS_1


Thank you Minna-san.


 


__ADS_2