
[Chapter 119.]
[Melawan orang bertopeng.]
[Silahkan Dibaca.]
Ryuto menatap tajam ke arah 10 orang bertopeng ke arah dirinya. Kemudian, Ryuto berjalan dengan santai ke arah mereka.
June terkejut, namun tetap diam di tempat. Dia mengamati dan tidak ikut campur, karena dia tahu bahwa akan menjadi beban saja, jika dia ikut.
Topeng1 menyerang dengan mengayunkan pukulan ke arah wajah Ryuto, namun dia hanya menghindar dengan menekuk lehernya ke samping.
Wusshh.
Tangan melewati kepala Ryuto. Lalu, Ryuto menendang perut Topeng1 dengan lututnya. Tendangan tersebut sangat kuat.
Bughhh.
"Ughhh," ucap Topeng1, belum sempat bereaksi lagi, Ryuto memukul tepat punggung Topeng1.
Bughhh.
Krakkk.
Tulang dada Topeng1 retak, dan bergerak ke tempat Paru-paru, sehingga membuat Topeng1 batuk darah dengan hebat sambil tersungkur di bawah.
Sebelum Ryuto, menghirup nafas. Muncul Topeng 2 dan 3 dengan sebuah pedang pendek. Ryuto hanya menghindar dengan menggerakkan tubuhnya tanpa berpindah tepat.
Wush Wush Wush Wush.
Dua pedang terus menyerang. Topeng2 dan Topeng3 benar-benar merasa marah, saat pedang tidak ada satupun mengenai Ryuto. Topeng2 berteriak.
"Kau, apa hanya bisa menghindar saja, boc-" teriak Topeng2, namun terhenti saat sebuah tendangan tepat mengenai tangannya.
Bagghh.
Tangan Topeng2 tertendang, pedang secara otomatis lepas dari tangan Topeng2. Ryuto mengambil pedang tersebut, kemudian berkata dengan tenang.
"Kau bertarung, atau olah vokal," ucap Ryuto, dengan santai mengayunkan pedang yang dia dapatkan. Pedang dengan cepat menebas tangan Topeng2.
Slashhh.
Jresss.
"Arhhh," teriak Topeng2 dengan keras. Sementara itu, Topeng3 yang akan meluncurkan tebasan kembali, tertegun dengan kejadian Topeng2, namun sebelum berbicara, dia sudah diinterupsi oleh sebuah suara.
"Kau kehilangan fokus, itu berbahaya," ucap Ryuto, dengan santai mengayunkan pedangnya dan menebas tepat leher Topeng3.
Slashhh.
Jresss.
Topeng2 terkejut dan merasakan horor, saat melihat Topeng3 kehilangan kepalanya. Topeng4, Topeng5, dan Topeng6 tidak peduli. Mereka bertiga dengan cepat mengayunkan pedang milik mereka.
Tingg.
__ADS_1
Ryuto menahan tiga pedang tersebut, kemudian menekan gagang pedang tersebut, sehingga menghasilkan kekuatan dorong yang kuat.
Dringgg.
Tiga pedang terdorong ke belakang. Lintasan pedang Ryuto tidak terganggu, dengan cepat dia menebas tangan Topeng4, kemudian mengambil pedang yang akan terjatuh tersebut.
Slashh.
Jress.
Sebelum, dia mengambil pedang tersebut, Ryuto melemparkan pedang yang dia pegang ke arah Topeng2 yang masih menatap Ryuto dengan horor.
Wushh
Jlebbb.
Pedang tepat mengenai leher Topeng2 tersebut. Lalu, Ryuto menebas tangan Topeng5 dan mengambil kembali pedang milik Topeng5.
Slashh.
Jress.
Seperti biasa, Ryuto melemparkan pedangnya ke arah Topeng1 yang masih mengerang kesakitan di bawah.
Wushh.
Jlebb.
Pedang tepat menancap dari leher belakang tembus ke depan. Topeng1 benar-benar terkejut, namun sebelum dia mengetahui penyebab kematiannya, dia sudah menutup matanya terlebih dahulu.
Topeng6 yang ikut maju, terkejut dan gemetar. Namun, sebelum dia bereaksi, Ryuto tiba tepat di depannya dan mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher Topeng6.
Slashh.
Jresss.
June matanya mengungkapkan ekspresi yang senang dan bahagia, berbeda dengan empat orang bertopeng, mereka menatap ke arah Ryuto seakan melihat hantu.
"Jangan mendekat, atau kau akan di incar oleh ketua kami," ucap Topeng10 saat melihat Ryuto berjalan santai dengan senyuman di wajahnya. Namun, bagi mereka berempat senyum itu adalah senyum Iblis.
"Yah, aku benar-benar ingin bertarung dengan ketua kalian, jadi aku akan membunuh kalian," ucap Ryuto, keempat orang bertopeng itu ketakutan.
Namun, sebelum mereka bereaksi, mereka melihat Ryuto menghilang dari tempat. Itu bukan karena Ryuto memiliki kemampuan teleportasi, melainkan kecepatan Ryuto melebihi dari mata mereka.
Slashh Slashh Slashh Slashh.
Jresssss.
4 kepala jatuh ke bawah. Mereka mati tanpa mengetahui bagaimana mereka mati, sungguh kasihan. Ryuto berjalan kembali ke tempat June berada.
"Kenapa dengan ekspresimu itu?" ucap Ryuto, membuat June sadar dari keterkejutannya. Dia menatap Ryuto sambil tersenyum tak berdaya.
"Kau membunuh tepat di depanku. Dulu kamu hanya membuat musuhmu pingsan, sekarang kamu membunuh," ucap June.
Kemudian, Ryuto ingat saat kejadian di Bar Mafia Ular, dia tersenyum kecut mengingat kejadian tersebut. Lalu, dia berkata.
__ADS_1
"Yah, pasti orang akan berbeda dari pertama bertemu," ucap Ryuto.
Sementara itu, June mengangguk setuju. Dia sendiri tidak mengetahui bahwa Ryuto dulu adalah Tuan muda Kurokami.
Ryuto mengeluarkan telpon miliknya, kemudian menekan nomor yang memiliki nama Zero.
Purupurupuru.
Katcha.
"Ada apa, Tuan?" ucap Zero, dia mengangkat telpon dari Ryuto dengan tenang dan serius.
"Kemarilah, aku butuh bantuanmu untuk mengurus mayat," ucap Ryuto.
Zero yang mendengar itu, tersenyum penuh arti. Zero kemudian berkata.
"Baiklah, Tuan," ucap Zero dengan santai, lalu Ryuto menutup telponnya dan menatap ke arah June.
"Aku ingin ke bar milikku, apakah kamu ikut?" ucap Ryuto, menawarkan ajakan kepada June.
Sementara itu, June tersenyum dan mengangguk. Dia tersenyum misterius, dan merencanakan sesuatu di dalam otaknya.
"Baiklah, ayo kita pergi!" ucap Ryuto, kemudian mereka berdua berjalan ke arah Mobil yang dibawa oleh Ryuto. Mereka berdua masuk ke dalam Mobil.
Ryuto menyalakan mobil, kemudian memberikan lokasi tempat tersebut kepada Zero. Selepas itu, Ryuto menjalankan mobil menuju ke bar Flower.
Di tempat lain
Sebuah gedung menjulang tinggi, dengan sebuah logo sebuah permata berwarna merah. Lalu, di bawahnya terdapat sebuah tulisan bernama Red Emerald.
Di dalam gedung tersebut, terdapat seorang lelaki tanpa memakai pakaian apapun, dia sedang bermain dengan seorang wanita.
Mereka bermain sambil menatap ke arah luar gedung tersebut, kemudian mereka berdua selesai dengan wanita tersebut terduduk sambil mengeluarkan cairan di area miliknya.
"Bagaimana dengan 10 orang yang kita kirim?" ucap laki-laki tersebut, tanpa menatap ke arah orang yang diajak bicara.
"Maaf, mereka semua kelihatannya mati," ucap laki-laki yang duduk di sofa tak jauh dari laki-laki tersebut.
"June, apapun yang terjadi. Dapatkan dia, aku ingin sekali mencicipi tubuhnya," ucap laki-laki yang berdiri sambil menyeringai, kemudian dia mengangkat wanita yang terduduk dan memasukkan kembali.
"Tuan, bi- Uhhhh," ucap wanita tersebut, belum selesai berbicara terpotong oleh sesuatu yang masuk ke dalam area miliknya. Laki-laki tersebut memegang wajah wanita tersebut dan menghadapkan ke depan.
"Lihat wajahmu, lac*r. Kau benar-benar wanita nakal, bagaimana bisa kamu membuat ekspresi seperti itu," ucap laki-laki tersebut, melanjutkan dengan kasar, yang membuat wanita tersebut berteriak dengan kencang.
Di sisi Ryuto, mereka sampai di bar Flower. Ryuto dan June masuk ke dalam bar, mereka di sambut oleh One.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," ucap One sambil membungkukkan badannya. Ryuto mengangguk dan menjawab.
"Kerja bagus, One," ucap Ryuto, kemudian mereka berdua melangkah masuk, June sedikit terkejut dan tidak menyangka bahwa Ryuto pemilik bar tersebut.
"Kita akan pergi ke ruang atas," ucap Ryuto dengan santai, namun bagi June itu adalah tanda dan kode, untuk dirinya bermain dengan Ryuto.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.