
[Chapter 265.]
[Rencana terakhir.]
[Silahkan Dibaca.]
Negara Islan.
Ryuto tiba di Istana kembali. Dirinya berjalan menuju ke arah suatu tempat, dimana dia merasakan nafas seseorang.
Ryuto terus menggunakan persepsi miliknya dan hanya menemukan satu nafas yang tengah tidur di sebuah ruangan.
Ryuto berjalan dengan santai, sampai akhirnya tiba di sebuah pintu besi. Dia melihat sekeliling dan tidak menemukan apapun di sekitarnya.
“Pintu ini, kenapa bisa sangat jauh dari tempat Istana? Apakah tidak ada yang tahu tentang apa yang di dalam pintu ini?”
Ryuto bertanya-tanya dan mungkin salah satu tebakannya benar. Kemudian, dia membuka pintu tersebut.
Perempuan yang tidur di dalam. Seketika bangun, dia membuka matanya dan melihat ada cahaya dari pintu besi.
“Siapa di sana?” Perempuan itu tidak menyangka, pintu besi akan terbuka. Dia sudah berjuang untuk lepas dari pintu itu, akan tetapi sama sekali tidak berguna.
“Ini aku.” Ryuto menjawab dengan ringan, dia menatap ke arah sosok duyung perempuan dengan rambut merah muda.
Duyung itu menyipitkan matanya ketika melihat sosok manusia berdiri di pintu. Perlahan-lahan dia dapat melihat wujud manusia itu.
“Aku tidak mengenalmu. Juga, bagaimana bisa seorang Manusia bertahan di air?”
Ryuto mengabaikan rasa terkejut duyung perempuan itu. Dia berjalan langkah demi langkah mendekat ke arah Duyung tersebut.
Duyung perempuan sedikit khawatir. Namun, saat akan mundur. Dirinya seketika di tarik dan di peluk oleh Ryuto.
Duyung perempuan terkejut akan hal itu. Namun, dia tidak melawan karena dirinya merasakan nyaman dan aman ketika di peluk oleh Ryuto.
Tanpa sadar, duyung perempuan semakin membenamkan wajahnya ke dalam dda bidang Ryuto.
Ryuto melihat hal itu tersenyum. Dirinya mengusap punggung duyung perempuan dan berkata, “Aku merindukanmu, Rena.”
Duyung perempuan tersentak. Dirinya terkejut, mendengar ucapan dari Ryuto. Dia tidak menyangka bahwa manusia yang tengah memeluknya mengenal nama aslinya.
Duyung perempuan atau dipanggil Rena ingin keluar dari pelukan Ryuto. Namun, apalah daya bahwa tubuhnya sendiri menolak keinginannya.
Rena kemudian merasakan bahwa air mata miliknya keluar. Dia juga merasa sesuatu rantai menghilang dalam dirinya.
Berbagai ingatan masuk ke dalam otaknya. Ryuto terus mengelus, dia membantu Rena mencerna seluruh ingatan tersebut.
Rena melihat seluruh ingatannya. Tangisnya seketika pecah dan tangannya dengan cepat membalas pelukan Ryuto dengan erat.
__ADS_1
“Sayang.” Satu kata tersebut terucap keras dari mulut Rena. Ryuto hanya tersenyum dan melihat apa yang telah terjadi kepada perempuannya.
Ryuto sedikit terkejut, bahwa istrinya tersebut tidak mengalami pelecehan. Hanya saja, dia tidak dibiarkan melihat dunia yang artinya dirinya terkurung lama di ruangan tersebut.
Ryuto juga melihat bahwa Rena tidak kesulitan makan karena ada lemari makan yang otomatis menghasilkan makanan sendiri.
Ryuto merasakan bahwa Rena selesai menangis. Dia melepaskan pelukannya, akan tetapi bibir Rena menyambar bibir Ryuto.
Ryuto sedikit terkejut merasakan ciuman dari Rena. Dia membalas dengan memainkan lidahnya.
Keduanya saling bernapas berat. Rena segera berubah menjadi bentuk manusianya. Ryuto melihat hal itu, tersenyum dan berkata, “Kamu yang memulai.”
Ryuto dengan ringan memainkan dua buah Rena. Dia juga terus menjelajahi tubuh dari Rena, membuat perempuan itu mendesah dengan hebat.
Keduanya berada di puncak. Ryuto mulai berkata, “Aku mulai.”
Rena hanya mengangguk, kemudian merasakan sesuatu hal masuk ke dalam dirinya. Perlahan-lahan dia merasakan sakit, akan tetapi segera digantikan oleh kenikmatan tiada tara.
Keduanya terus bertarung tanpa tahu waktu yang telah dilewati.
***
Selesai bertarung, Ryuto menatap ke arah Rena yang sudah memiliki tampilan wajah puas.
Ryuto mengecup ringan keningnya. Dia juga melihat bekas air mata di sudut mata Rena. Hal itu membuatnya tersenyum dan berkata, “Maaf, sayang. Aku terlalu kasar.”
Ryuto mengelus dan membawa Rena pergi menuju Dunia Jiwa.
***
Ryuto mengaktifkan persepsi dan menemukan bahwa seluruh istri berada di Negara Dunia Jiwa. Dia tersenyum dan membaringkan Rena di tempat tidur terlebih dahulu.
Ryuto masuk kemudian melihat bahwa Milia masih tidur dengan pulas di tempat tidur. Dengan langkah santai, Ryuto meletakkan Rena di dekat Milia.
“Selepas ini aku akan pergi ke Kyoto. Rina dan Nina semoga tidak sibuk.”
Ryuto keluar dari kamar tidur meninggalkan dua istrinya yang terbaring tidur dengan pulas. Dia berjalan menuju ke arah Negara Dunia Jiwa.
***
Para istri Ryuto merasakan adanya gerakan menuju ke arah mereka. Namun, seluruhnya tidak khawatir karena itu adalah suami mereka yang tak lain Ryuto.
Seluruh istrinya saling memandang dan melesat terbang ke arah suaminya tersebut. Mereka benar-benar merasa rindu akan Suaminya.
Ryuto yang tengah melesat, seketika berhenti di padang rumput. Dia berhenti karena merasakan para istrinya mendekat ke arahnya.
“Sayang.” Sebuah suara perempuan secara bersamaan terdengar oleh Ryuto. Dia tersenyum tak berdaya mendengar hal itu.
__ADS_1
Semua istri tiba dan memeluk Ryuto satu persatu. Selepas itu, Ryuto mencium mereka dengan mesra.
“Jadi, apakah sudah selesai urusanmu di lautan?” Ryuto mengangguk mendengar pertanyaan dari Amy.
“Aku sudah selesai. Hanya kurang tiga istri, juga aku sudah membawa dua istri baru, mereka tertidur di kamar tidur.”
Seluruh istrinya tersenyum dan Olivia berkata, “Kami akan melihatnya.”
Ryuto mengangguk memberi ijin kepada beberapa istrinya. Sekarang di sana hanya tinggal lima istri saja.
“Jadi, kemana lagi kamu akan pergi?” Haruna bertanya dengan penuh penasaran. Dia ingin Ryuto segera mencari saudari lainnya juga, bagaimanapun dirinya tidak ingin saudari lainnya tersiksa di luar.
“Kyoto, juga aku butuh bantuan kalian untuk kedua istri lainnya. Menurutku kita harus membagi masalah ini. Bagaimanapun juga, tinggal 3 hari lagi menuju perang akhir.”
Mendengar ungkapan dari Ryuto, kelima istrinya melebarkan matanya. Mereka tidak menyangka akan secepat itu.
“Ada apa?” Lisa bertanya, dia keluar bersama seluruh saudarinya. Mereka hanya melihat saja sebentar dan kembali ke tempat Ryuto.
Namun, Lisa tidak menyangka bahwa akan melihat pembicaraan serius dari Ryuto dan kelima saudarinya.
“Lisa dan kalian semua, kita perlu berkumpul!” Ryuto memerintahkan para istrinya tersebut. Dengan cepat mereka melesat dan duduk di Padang rumput untuk memulai pembahasan keluarga.
Ryuto kemudian menjelaskan tentang pengumpulan para istrinya yang tersisa, lalu hari perang akhir dimulai dan perjalanan menuju ke Alam Menengah.
Seluruh istrinya mengangguk, jumlah istri Ryuto ada 204 yang hadir, tiga pingsan karena lelah, tiga masih di luar Dunia Jiwa.
“Itulah rencananya. Aku ingin kalian berpencar dan letakkan masing-masing alat ini, di setiap sudut yang menurut kalian Portal akan terbuka.”
Seluruh istrinya paham, kemudian Ryuto menunjuk enam istrinya untuk mencari dua istri sisanya. Enam istri tersebut ialah, Ruby, Yuni, Asmi, Asih, Jessica, dan Aoi.
Selepas itu, Ryuto meminta mereka berdiskusi sendiri siapa yang akan ikut dengannya. Hanya tiga istri saja yang boleh ikut.
Alhasil tiga istri di antara lain, Tifa, Rina, dan Nina mengikuti Ryuto ke Kyoto. Mereka semua sudah berada di tingkat prajurit Alam puncak sama dengan Ryuto.
“Semuanya sudah siap... Selepas ini, kita akan bermain dengan liar nanti.”
Seluruh istri Ryuto tersenyum mendengar ucapan Suaminya. Efek kemampuan khusus Setia Mutlak benar-benar hebat.
“Ayo kita pergi.”
Wush Wush Wush Wush.
Satu persatu menghilang dari Dunia Jiwa. Mereka semua sekarang mulai melaksanakan tugas yang diberikan oleh Ryuto.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.