
Silakan Dibaca.
“Nah, waktunya aku menyerang terlebih dahulu!”
Ryuto menyeringai, kemudian dia menghilang dari tempatnya berdiri. Ketiga pemimpin pasukan Laserd meningkatkan kewaspadaan mereka dalam sekejap.
“Han, Yan, waspada terhadap sekitar. Orang ini lebih susah dibandingkan lawan yang kita temui selama ini!”
“San, aku mengetahuinya.” Kedua orang yang terpanggil menjawab dengan tegas.
Mereka bertiga telah mengalami hidup dan mati bersama. Meski Alex adalah salah satu dari mereka. Namun, Alex lebih mandiri dibanding ketiganya.
Tepat saat kewaspadaan mereka meningkat, Ryuto seketika muncul di depan San sambil mengayunkan kakinya menuju tepat ke arah perut lelaki tua tersebut.
San menyadari akan adanya serangan, dia segera melompat mundur. Dia bukanlah pria yang dengan senang hati menerima serangan lawan begitu saja. Lebih baik menghindar karena dengan menghindar, kerusakan yang diterima akan berkurang.
Ryuto tidak berfluktuasi sama sekali ketika melihat serangan normalnya di hindari begitu saja. Hal ini karena dirinya sudah menduga sejak awal bahwa lawan dapat menahan maupun menghindari serangan tersebut.
Han dan Yan melihat gerakan tersebut, segera bertindak. Ekspresi mereka menjadi lebih serius, kemudian keduanya mengayunkan kaki mereka menyerang tepat ke arah Ryuto berada.
Merasakan serangan dari dua arah, Ryuto sama sekali tidak peduli. Dia menunduk dan dua tendangan melewati dirinya. Ryuto tidak tinggal diam. Dia segera menekan tangan ke tanah dan mengayunkan kedua kakinya menendang kedua perut lawan.
Bugh!
Han dan Yan terbang terbalik dan membentur dinding ruangan. Seteguk darah dalam sekejap keluar dari mulut mereka masing-masing.
“Han, Yan!” San berteriak dengan ekspresi tak percaya. Namun, detik selanjutnya sebuah suara terdengar di belakang dirinya.
“Lengah dalam pertempuran adalah dosa!”
San segera bereaksi, dia dengan cepat mengayunkan kepalan tangannya ke arah belakang. Namun, sayang reaksi lambat sehingga serangan Ryuto lebih dulu mendarat.
Boom!
San terpental dan membentur dinding dengan keras. Dia tertanam di dinding dan pandangannya mulai kabur.
Ryuto yang melihat ketiga orang terbaring di dinding, sama sekali tidak bergerak. Dia menunggu ketiganya dengan tenang karena dirinya mengerti bahwa mereka bertiga masihlah sadar.
__ADS_1
Tepat dengan apa yang dipikirkan Ryuto. Ketiga lelaki tua itu perlahan-lahan berdiri dan mereka memandang ke arah Ryuto dengan ekspresi tenang.
“Han, Yan, gunakan kemampuan mistis kita. Melawan orang ini sama sekali tidak akan mudah, tanpa menggunakan mata mistis!”
“Baiklah!” kedua lelaki yang mendengar teriakan dari rekannya, secara serempak mengangguk setuju. Mereka bertiga segera memejamkan mata kiri. Detik berikutnya, mata mereka terbuka dan menyala dengan terang.
Seluruh tubuh tiga lelaki itu mengalami perubahan yang menakjubkan. Satu orang menumbuhkan bulu-bulu biru dengan garis putih yang begitu jelas. Sementara lainnya ada yang menumbuhkan ekor berduri dan menumbuhkan sayap lebar.
Ryuto yang melihat perubahan ketiga orang itu seketika mengerutkan keningnya. Jelas dia sedikit bingung karena ruangan tempat mereka bertempur sangatlah sempit, sehingga perubahan besar akan mengalami keruntuhan rumah.
Tepat dengan pemikiran Ryuto. Mansion yang berdiri kokoh, dalam sekejap bergetar hebat. Ketiga lelaki yang tengah menggunakan mata mistis tidak bisa mengendalikan pertumbuhan mereka, sehingga membentur atap dan dinding.
Batu-batu mulai berjatuhan. Ryuto dengan cepat menghindar dan menghancurkan beberapa batu yang sedikit lebih besar. Dia sama sekali tidak kesusahan karena bagi Ryuto sendiri hal itu sangatlah mudah.
Dalam sekejap, Mansion yang berdiri kokoh sebelumnya, kini sudah berubah menjadi reruntuhan. Debu bertebaran di mana-mana menghalangi pandangan seluruh orang yang berada di area sekitar.
Para pasukan yang telah tertangkap, memandang ke arah Mansion dengan perasaan tak percaya. Mereka tidak menyangka bahwa Mansion besar dapat dihancurkan begitu saja. Jelas kekuatan seperti itu lebih mengerikan dari milik mereka.
Selanjutnya, semua melihat tiga sosok besar tengah memandang ke arah satu orang yang melayang di udara. Ketiga sosok tersebut ialah Han, Yan dan San. Sementara itu, orang yang berada di udara ialah Ryuto.
“Ryuto, kau sudah memaksa kami sampai titik ini!” Han berubah menjadi sosok Gorilla berbulu biru putih. Jenis Gorilla ini hanya dapat di temukan di daerah bersalju. Nama lain dari Gorilla tersebut ialah Yeti.
San yang sudah berubah menjadi makhluk terbesar sendiri memandang penuh ketenangan ke arah Ryuto. Mereka sendiri sudah merasakan bahwa kekuatan masing-masing menjadi lebih kuat di bandingkan dengan lawan. Kepercayaan diri ketiga orang tersebut semakin meningkat.
Han yang merupakan Gorila segera melompat sambil mengayunkan kepalan tangannya. Dia menyeringai ketika melihat Ryuto sama sekali tidak bergerak. Lelaki itu mengira bahwa Ryuto ketakutan melihat tubuhnya sekarang. Namun, apa yang tidak ia ketahui adalah sebaliknya.
Ryuto memandang ke arah Han dengan datar. Dia seolah-olah menunggu serangan Gorilla itu datang ke arahnya. Persepsi Ryuto sendiri sudah meningkat ke tahap yang berbeda. Hal ini tidak akan diketahui oleh ketiga orang tersebut.
Tepat saat pukulan tiba, Ryuto menghindar dengan santai bahkan matanya tertutup. Han yang melihat itu tidak percaya dan menganggap bahwa Ryuto hanya beruntung. Dia terus menyerang mengayunkan kepalan tangannya.
Boom Boom!
Ledakan demi ledakan terdengar sangat keras ketika kepalan tangan berujung mengenai tanah yang berada di bawah. Kawah terus tercipta di sepanjang jalan tempat Ryuto berpindah. Kawah sendiri ada yang besar dan kecil, hal ini tergantung kekuatan yang dituangkan oleh Han.
Semakin menyerang, ekspresi Han berubah menjadi pucat pasi. Semenjak awal, serangan dirinya tidak ada yang mengenai tubuh Ryuto sama sekali. Bahkan kedua rekannya juga terkejut melihat kejadian tersebut.
Han menggertakkan giginya, kemudian dia berteriak keras. “Bajingan! Jangan hanya bisa menghindar dan berlari saja!”
__ADS_1
Ryuto yang mendengar itu menaikkan sudut mulutnya, ia tidak terlalu peduli dengan ungkapan lawan. Ryuto menghindar dengan tenang, sampai akhirnya Han kelelahan akibat mengejar dirinya. Lelaki itu tersenyum menyeringai ketika melihat lawan yang sudah berkeringat begitu deras.
“Apakah ini saja kekuatan fisikmu, hanya tubuh saja yang besar. Melainkan, staminamu benar-benar rendah!”
Han yang mendengar ejekan Ryuto seketika terdiam. Dia menunduk dan ekspresinya menjadi jelek. Dalam sekejap, wajahnya terbakar oleh amarah. Matanya memerah tanpa ada pupil sama sekali. Dua orang rekan Han melihat hal itu, segera melebarkan mata.
“Han, jangan lepas kendali!” San yang sudah berpengalaman, seketika berteriak. Namun, semua itu sudah terlambat. Langit mulai bergemuruh dan awan hitam pekat terlapisi oleh petir perlaha berkumpul di atas Han.
Ryuto yang melihat hal itu, menaikkan alisnya. Dia benar-benar tertarik dengan apa yang akan terjadi terhadap Han tersebut. Ryuto segera berdiri di reruntuhan dinding sambil memandang ke arah Han yang tengah mengalami sesuatu.
Han tidak menanggapi panggilan San, dia memandang ke arah langit. Petir yang menyelimuti seluruh awan hitam mulai berkumpul. Melihat hal itu, Han mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Detik selanjutnya, petir menyambar ke arah tangan besar tersebut.
Raungan petir terdengar sangat jelas meski jaraknya yang begitu jauh. Para penonton dan warga sekitar mati rasa melihat kejadian tersebut. Mereka benar-benar tidak menyangka akan ada orang yang berani menerima petir dari langit.
Sementara para penonton yang melihat di siaran langsung, satu persatu mengerutkan keningnya. Jelas efek dari petir yang menyambar sangatlah kuat. Bahkan layar siaran berkedip beberapa kali terus-menerus.
“Pergilah sedikit jauh dari lokasi petir. Utamakan bahwa siaran langsung tidak ada gangguan sama sekali!” lelaki tua yang duduk di sofa memerintahkan pasukan yang berada di lokasi pertempuran untuk menjauh dengan cepat. Hanya dengan menjaga jaraklah dapat menghindari kerusakan siaran.
Beberapa pengintai yang diperintahkan untuk mundur, segera dilaksanakan. Mereka bergerak cepat tanpa ada penundaan sama sekali. Tak butuh waktu lama untuk para pengintai tiba di lokasi yang cocok untuk memulai siaran langsung kembali.
To be Continued.
Promosi ini berdasarkan grup, juga 21 bab sesuai dengan para peserta. Jadi, jangan heran kalo banyak.
Juga, alasan mengapa aku promosi. Hal ini karena aku ingin saja membantu karya seseorang agar juga dilirik. Entah up atau tidak, itu tergantung penulisnya tersebut.
So, jangan ngeluh karena ada label promosi, Guys. Berbuatlah baik selagi bisa karena kelak akan penuh dengan manfaat.
Promosi :
HAsrat Tetangga Kamar
Author: AdindaRa
Tiga tahun tidak berjumpa dan saling menyapa, membuat Nachya sangat canggung bertemu dengan Abangnya sendiri, Boy. Pesona Boy yang sangat tampan membuat jantung Nachya bertalu-talu setiap berdekatan dengan Abangnya.
__ADS_1
Ternyata Boy juga sudah mencintai Nachya sejak masih kecil. Bahkan ia memutuskan bersekolah di luar negeri agar bisa melupakan Nachya. Sayangnya saat kembali dan bertemu kembali dengan Nachya, rasa cintanya justru semakin dalam.
Keduanya sama-sama tersiksa dengan perasaan cinta mereka, padahal keduanya bukanlah saudara kandung.