System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 135 - Bertemu Seseorang


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Di sebuah padang pasir yang luas, terdapat satu bangunan yang berdiri di tengah-tengah gurun tersebut. Bangunan itu tidak tinggi, hanya sebatas rumah kecil saja. Namun, jangan terpacu dengan ukuran rumah itu karena apa yang berada di dalam benar-benar berbeda.


Tepat di depan bangunan tersebut, ada sepuluh orang jubah hitam tengah berpatroli secara berpasangan. Mereka sama sekali tidak main-main, tatapan kesepuluh orang tersebut sangat tajam dan kewaspadaan mereka sangat tinggi.


Di dalam bangunan tersebut, terdapat lima orang yang tengah menjaga sebuah pintu bundar mengarah ke bawah tanah. Di balik pintu terdapat tangga otomatis, kemudian di dasar tanah sendiri terlihat ruangan yang luas dan besar.


Ada beberapa pintu di ruangan tersebut, berbagai orang tengah berlalu lalang. Mereka memakai jubah hitam dan ada juga yang memakai jubah merah serta putih.


“Apa yang kalian katakan itu benar? El, Sam.”


Di sebuah ruangan, satu orang menatap ke arah tujuh orang jubah hitam. Ia menyusutkan matanya, lalu melanjutkan ucapannya. “Jika, memang benar ada seseorang yang dapat bertarung imbang, artinya ia sangat kuat.”


Orang jubah emas tersebut menatap ke masing-masing jubah merah. Kemudian, ia berkata, “Cari orang ini, kalian mungkin bisa mengatasinya. Bagaimanapun juga, ia hanya dapat imbang melawan orang-orang jubah hitam saja.”


Mendengar hal itu, seluruh orang jubah merah mengangguk dan menerima perintah tersebut. Orang jubah emas memandang ke arah empat orang jubah putih.


“Bagaimana dengan kemajuan sistem kita?”


“Semua berjalan lancar, hanya saja kita perlu memburu lebih banyak mata mistis yang belum terbangun. Terutama mata mistis kelas yang lebih tinggi.” Orang jubah putih pertama menjawab dengan serius.


“Lanjutkan, jika menemukan seorang anak yang memiliki potensi khusus. Segera tangkap saja dan bawa ke mari. Kita akan melakukan eksperimen kembali.”


“Baiklah, aku akan memastikan hal itu.” Orang jubah putih mengatakan dengan sungguh-sungguh. Ia segera berbalik dan menjalankan misi yaitu memburu anak-anak yang memiliki potensi tinggi.


Sementara itu, ada beberapa orang jubah hitam merah masuk ke dalam. Mereka ada dua orang dan masing-masing dari mereka memiliki postur tubuh yang begitu besar dan kekar.


“Gold, kudengar ada seseorang yang berhadapan imbang dengan sistem yang kita punya. Apakah itu benar atau tidak?” Salah satu orang jubah hitam merah bertanya kepada jubah emas.


“Ya, aku memerintahkan pasukan Red untuk membunuh orang tersebut.”


“Jika itu masalahnya kita harus segera menyelesaikannya. Juga, wilayah kedua, ketiga dan keempat belum kita jelajahi. Ingat kita tidak bisa membuang waktu terlalu lama di tempat lemah ini.” Salah satu orang jubah hitam merah berkata dengan nada serius.


Orang jubah emas yang memiliki kode nama Gold mengangguk. Ia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. “Kita harus mempersiapkan beberapa pasukan dan mulai mengirim undangan kepada para Mafia.”

__ADS_1


Gold memandang ke seluruh orang di ruangan tersebut. Ia kemudian berkata dengan jelas. “Kita akan berperang segera dan target kita ialah Keluarga Besar Akugawa.”


Di sisi lain, Ryuto yang telah menyelesaikan misi Apartemen Ringo, ia tersenyum melihat apartemen yang begitu bersih dan tidak ada lagi energi negatif menyebar di tempat tersebut.


“Ryuto, kami akan berada di dalam tubuhmu.”


Mendengar hal itu, tentu Ryuto setuju karena barang yang terlihat jelas tentu tidak bisa membuat mereka bersembunyi dengan sempurna.


Selepas itu, Ryuto berjalan di sekitar apartemen. Ia ingin memastikan bahwa apartemennya tersebut benar-benar sudah aman dari energi negatif.


Dirasa sudah aman, Ryuto berbalik dan pergi meninggalkan apartemen tersebut. Ia ingin berjalan di sekitar Kota Duino, bagaimanapun juga, ia sebelumnya tidak melakukan tur di kota tersebut.


Melalui keramaian kota, Ryuto melihat berbagai bangunan tinggi. Ada banyak jenis bangunan dan plang yang mengisyaratkan nama dari bangunan tersebut.


Namun, Ryuto mengerutkan keningnya ketika melihat bangunan tersebut hanya berisikan toko makanan saja. Bahkan tidak ada sekalipun bangunan yang menunjukkan sesuatu yang berbeda.


"Toko yang kulalui hanya makanan dan daging rata-rata. Apakah ini alasan mengapa Duino dikatakan kota makanan?" gumam pelan Ryuto, akan tetapi terdengar oleh Sania dan Maru.


"Memang, kota ini dikenal sebagai kota makanan. Namun, ada satu toko yang menjual sesuatu. Kamu pergi saja ke gang di depan itu."


Maru memberikan petunjuk menuju ke suatu tempat. Ryuto yang penasaran mengikuti arahan dari orang tersebut. Ia ingin melihat kemana rekannya itu membawanya.


Maru yang menjadi pemandu jalan, memandang ke arah bangunan lama yang tak jauh dari tempatnya berada. "Ryuto, kita pergi ke sana. Aku ingin kamu bertemu dengan seseorang."


Ryuto menaikkan alisnya dan ia terus berjalan menuju ke bangunan tua. Tak butuh waktu lama, ia tiba di depan pintu bangunan tersebut.


"Jadi, apakah ada seseorang di dalam?" Ryuto bertanya kepada Maru dan roh lelaki tersebut mengangguk.


"Ikuti aku!" Maru melangkah terlebih dahulu, ia kemudian berkata dengan nada keras. "Berhenti!"


Ryuto berhenti di tempat, kemudian ia merasakan beberapa nafas orang muncul dan mengelilingi dirinya. Sosok orang-orang tersebut berpenampilan layaknya pemulung.


"Anak muda, siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di sini?"


Seorang kakek tua keluar dari bayang-bayang sambil membawa tongkat. Ia menatap tajam ke arah Ryuto, akan tetapi dirinya mengerutkan keningnya dalam-dalam.

__ADS_1


Ryuto sedikit merasa tidak nyaman. Kemudian, ia berkata dengan nada tenang. "Yah, aku kemari karena arahan seseorang. Ia sebenarnya ingin bertemu dengan teman lamanya, begitulah yang diucapkan orang ini."


Kakek tua itu mengerutkan keningnya, jelas ia tidak tahu maksud dari anak muda di depannya itu. "Nak, sekali lagi jawab dengan benar. Apa tujuanmu?"


"Nah," kata Ryuto, kemudian ia menghilang dan muncul tepat di depan kakek tua tersebut. "Apakah kamu mengenal seseorang bernama Maru?"


Kakek tua melebarkan matanya dan ia mundur tanpa sadar. Tongkat yang berada di tangan, mulai bergerak ke samping. Jelas dirinya terkejut akan kecepatan anak muda di depannya itu.


Respons para orang-orang yang mengepung Ryuto terkejut, mereka segera berbalik dan melihat sosok anak muda tengah berhadapan langsung dengan kakek tua yang merupakan pemimpin kelompok.


"Pemimpin!"


Kakek tua itu segera sadar, ia mengangkat tangannya menyuruh seluruh pasukan berhenti. "Bagaimana kau mengetahui nama orang itu, Anak Muda?"


"Bukankah sudah kuberitahu, aku datang ke sini atas petunjuk seseorang dan orang itu ingin bertemu dengan temannya di sini."


"Jangan membuat lelucon, Nak! Maru sudah meninggal karena organisasi bajingan itu!" Kakek tua berteriak dengan keras, ia marah akan tetapi air mata tidak bisa untuk tidak keluar.


"Apakah kau tahu, betapa baiknya dia. Tanpa dirinya kami hanyalah sebatang kara yang akan mati kapanpun! Kami tidak bisa membantu waktu itu, inilah penyesalan kami."


Ryuto mendengar amarah kakek tua di depannya, tidak bisa untuk tidak mengerut. "Apa maksudmu ada sesuatu yang lain?"


Kakek tua yang mendengar hal itu, segera sadar dan ia menghela nafas beberapa kali guna menenangkan hatinya yang terbebani oleh amarah.


"Nak, sebelum aku memberitahumu sesuatu. Bagaimana kalau kita bertanding? Aku ingin melihat seberapa kuat dirimu!"


Ryuto menyusutkan matanya, kemudian seringai terbentuk di wajahnya. "Baiklah, tentukan lokasi pertempuran kita."


Maru mendengar perdebatan tersebut tidak bisa untuk menatap ke arah lelaki itu. "Ryuto, apakah kamu yakin. Meski kamu akan menang, kumohon biarkan dia tetap hidup."


Ryuto melambaikan tangan dan berkata, "Aku ingin bertarung bukan untuk membunuh. Wawasanmu dalam hal itu sangatlah dangkal. Lebih baik lihat kami bertarung nantinya."


Mendengar hal itu, Maru menunduk malu. Ia tidak menyangka bahwa dirinya perlu mengingatkan Ryuto yang merupakan seorang ahli.


Kakek tua yang mendengar bahwa Ryuto menyetujui ajakan tempur tersebut, ia mengangguk dengan serius.

__ADS_1


"Kalau begitu ikuti aku, ada lapangan luas di belakang dan lapangan tersebut sama sekali tidak digunakan."


To be Continued.


__ADS_2