System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 81 - Penyesalan Seorang Anak


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Apartemen Ringo...


Lantai dua, lebih tepatnya kamar dekat dengan jalan menuju ke bawah. Tempat itu ialah ruangan yang dimiliki seorang laki-laki yang berusia dua puluhan tahun.


Kulit coklat cerah, rambut hitam gelap dan rapi, tubuhnya ramping dan ekspresinya penuh akan rasa senang.


"Bu, uangnya sudah kukirim ke desa. Bagaimana keadaan ibu di rumah?" Laki-laki itu menunggu balasan ibunya, dia menunggu sambil tengah memasak mie instan.


"Ibu baik-baik saja, Nak. Kapan kamu pulang?" Suara serak terdengar di seberang panggilan. Jelas pemilik suara itu tengah sakit, akan tetapi di tahan.


"Belum pasti, Bu. Rach masih belum mendapatkan cuti dari perusahaan."


Rach, itu adalah nama dari pemuda tersebut. Ekspresinya juga rumit dan pandangannya tertuju ke arah surat yang bertulisan bahwa dirinya telah dipecat dari sebuah perusahaan.


Rach tidak ingin memberitahu ibunya akan hal itu, karena dia tahu seperti apa ibunya nanti, jika tahu bahwa dirinya di pecat. Inilah sulitnya seseorang ketika merantau.


Jauh dari orang tua, sembunyikan rasa sakit yang dirimu alami. Mendengar nada orang tua saja, sudah cukup bagi setiap orang.


Rach mengalami semua kepurukan itu, ditambah ibunya hanya sendirian di rumah. Tidak ada seorang pun di dekatnya, kecuali tetangga yang baik hati. Meski Rach ingin pulang dan merawat ibunya, dia tidak bisa karena siapa yang akan menafkahi keluarga selepas sang ayah telah meninggal.


"Bu, jaga baik-baik dirimu. Rach akan sempatkan waktu untuk pulang kampung nanti." Rach memandang jauh ke depan, meski itu dinding. Namun, baginya tidak ada yang bisa menghalangi pandangan dirinya sama sekali.


"Ibu, baik-baik saja, Nak. Jangan lupa memakai jaket dan syal. Udara semakin dingin akhir-akhir ini."


"Baik, Bu. Aku tutup terlebih dahulu, Bu. Sampai jumpa lagi." Rach tidak mematikan panggilan, melainkan suara ibunya terdengar terlebih dahulu.


"Hati-hati dan jangan lupa jaga kesehatan." Panggilan tertutup, ibunya mematikan panggilan. Kemudian, Rach menunduk. Dia sedikit tidak nyaman untuk sekarang.


Rach yang masih murung jatuh ke sofa, dia memandang ke arah surat yang tergeletak di meja depannya tersebut. Kemudian, dia memejamkan matanya sebentar.


"Baiklah, waktunya bangkit. Demi keluarga, harus mencari pekerjaan baru." Rach bangkit dari sofanya, dia menyemangati dirinya sendiri dan mulai melangkah pergi menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Tanpa dirinya sadari, sosok hitam berbentuk manusia tengah mengintainya. Sosok itu tak lain tak bukan ialah Ryuto.


Ryuto yang memasuki alam mimpi seseorang akhirnya melihat target yang mendiami tempat lantai kedua tersebut. Meski sedikit bingung, dia tahu apa penyebab yang menjadi masalah dari tempat tersebut.


"Yah, mari ikuti saja." Ryuto tetap berdiri dan melihat aktifitas yang dilakukan oleh laki-laki yang bernama Rach tersebut.


Selesai mandi, Rach memakai pakaian formal dan pergi menuju ke perusahaan yang mengajukan lowongan kerja. Ryuto sendiri melihat, laki-laki itu terus ditolak, karena dalam resume sangatlah buruk.


Rach berakhir menjadi pelayan supermarket. Meski full-time, Rach tetap menjalankannya, karena uang yang didapat lebih besar dari tempat sebelumnya.


Musim dingin pun menerpa, Rach tetap bekerja. Namun, perubahan wajahnya terlihat jelas. Dia benar-benar kelelahan, karena dirinya berangkat jam tujuh pagi, pulang jam sebelas malam.


Rach juga mengirim lebih banyak uang ke rumah. Namun, panggilan dari ibunya sedikit berkurang. Dia juga sedikit jarang memegang ponsel.


Akibatnya pesan dari ibunya terus menumpuk, tepat Rach membalas satu persatu pesan itu. Bagi Rach, hanya ibunya saja penyemangat dalam dirinya bekerja, targetnya adalah membuat ibunya bahagia. Namun, dirinya tidak tahu apa yang paling membuat ibunya tersebut bahagia.


Musim dingin berlalu, digantikan oleh musim semi. Dikatakan bahwa musim semi ialah musim kebahagian dan kecantikan bagi setiap orang. Namun, bagi Rach sendiri musim semi adalah rasa sakit dalam hati.


Panik, gelisah, cemas dan takut. Semua terpancar di ekspresi Rach. Dia mengabaikan kerjanya, terus memanggil ibunya. Sampai akhirnya, panggilan terjawab.


"Bu, Bu, apakah kamu baik-baik saja?" Rach bertanya penuh rasa panik. Nafasnya naik turun dan jantungnya berdetak lebih kencang. Suara yang dirinya ingin dengar tidak muncul, melainkan suara akrab dari tetangga terdengar.


"Rach ... Jangan menangis, Nak. Ibumu ... Dia-"


"Paman, apa yang terjadi dengan Ibu!" Rach berteriak dengan keras. Dia benar-benar khawatir apa yang terjadi di sana.


"Ibumu ... Dia telah meninggal dunia, Nak!"


Rach membeku, ponselnya perlahan-lahan mulai jatuh ke lantai. Rach tidak peduli akan hal itu, matanya kini kosong. Air mata mengalir tanpa ada penundaan apa pun.


Kakinya melunak dalam sekejap, Rach berlutut. Dia tidak ada tenaga sama sekali. Pikirannya tidak ada sama sekali. Tubuhnya gemetar dan dia mengayunkan pukulan ke lantai terus menerus sambil berteriak keras.


"Haaaa, Ibu ... Ibu ...!" Rach sudah tidak terkendali. Dia benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi, barang apa pun yang di sampingnya, dia lempar ke mana-mana.

__ADS_1


Pemilik Apartemen sendiri mendengar hal itu, banyak orang yang datang dan menenangkan Rach. Namun, Rach memberontak, akan tetapi dia melupakan satu hal bahwa dirinya berada di lantai dua.


Rach jatuh dari lantai dua, akan tetapi dia tetap bangkit. Banyak orang ingin menghentikan langkah Rach. Namun, Rach perlahan-lahan jatuh dan terbaring tak berdaya di tanah.


"Ibu..."


Ryuto yang melihat hal itu menghela nafas. Dia sudah menduga akan ada hal seperti itu. Bagaimanapun juga, laki-laki yang ingatannya dia masuki tersebut, benar-benar berpikir bahwa kebahagiaan ibu adalah hasil dari putranya.


Ryuto yang tengah menghela nafas, mulai dipindahkan keluar dari ingatan laki-laki itu.


Memandang ke kanan dan kiri, Ryuto mengangguk ringan dan pandangannya tertuju ke arah sofa, di mana roh laki-laki bernama Rach terbaring tak berdaya di sana.


"Bangunlah, minta maaf ke Ibumu!" Ryuto berkata dengan tegas. Roh yang tidak berdaya itu, memancarkan sinar di matanya dan mendongak untuk menemukan Ryuto yang tengah memandangnya tidak senang.


"Apa keingi- kamu bisa melihatku?" Roh Rach melebarkan matanya, dia jelas terkejut ada seseorang yang dapat melihatnya. Rach sendiri sudah berbicara dengan banyak orang, akan tetapi tidak ada yang dapat melihat dirinya.


"Ya, juga aku melihat ingatanmu. Kembalilah, ibumu merindukan dirimu."


"Aku tahu akan hal itu, inilah yang menjadi penyesalanku sekarang. Bisakah, aku minta bantuan darimu untuk membawaku menuju ke tempatku berada?"


Ryuto mengangguk, Rach seketika tersenyum senang dan menunduk sambil berucap, "Terima kasih!"


Penantian Rach akhirnya dapat dia lakukan. Seluruh energi negatif yang berada di ruangan perlahan-lahan menghilang. Di gantikan dengan energi positif.


"Kamu bisa masuk ke dalam tubuhku atau terbang di dekatku." Ryuto berkata dengan nada ringan, dia kemudian bertanya kepada Rach tersebut. "Di mana lokasi dirimu tinggal?"


"Selatan Guika, Desa Satana." Rach mengungkapkan lokasi tempat tinggalnya. Kemudian dia mengingat sesuatu dan berkata, "Perjalanan ke sana agak sedikit kurang nyaman, jadi maaf."


Ryuto tidak peduli akan kalimat terakhir dari Rach. Melainkan dia tertarik dengan lokasi Desa Satana. 'Desa tempat tinggal Rach, bukankah desa terkutuk. Di mana, setiap turis akan menghilang selepas memasuki hutan terlarang.'


"Tidak masalah, jadi ... Ayo berangkat menuju ke tempatmu berada, Rach!"


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2