System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 36 - Wuro 2 Akhir


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Pertempuran Ryuto dan Wuro terus berlanjut, keduanya saling berbenturan satu sama lain. Berbagai kawah kecil mulai terlihat. Halaman yang sebelumnya berantakan, kini menjadi lebih parah.


Ryuto sendiri mengayunkan serangan tanpa ada henti, ia seolah-olah tidak pernah lelah sama sekali. Wuro sedikit mengerutkan keningnya, ia ingin berhenti saling memukul. Namun, lawannya sama sekali tidak berhenti.


Beberapa menit telah berlalu, keduanya saling berbenturan terus-menerus. Namun, Wuro mulai melambat, sehingga pukulan Ryuto terus mengenai tubuhnya dan memukulnya mundur.


Boom! Boom!


Wuro menggertakkan giginya, matanya melotot merah. Jelas-jelas seharusnya ia yang lebih kuat daripada manusia di depannya itu. Wuro yang melihat ekspresi wajah Ryuto yang tenang, mulai tertegun.


Wuro seketika mengubah wajahnya 180 derajat. Ia mulai memandang ke arah Ryuto dengan ngeri. Bagaimana bisa ada manusia yang tahan begitu lama, bahkan tidak berkeringat sama sekali.


Ryuto sendiri semakin mengencangkan kepalan tangannya. Hanya satu kali ayunan, tepat mengenai wajah Wuro dan Wuro terlempar membentur berbagai pohon yang tumbuh di samping halaman Apartemen.


Wuro tersungkur di tanah, ia memegang wajahnya yang mengeluarkan cairan hitam. Cairan itu ialah darah yang dimilikinya. Ryuto yang melihat Wuro babak belur, hanya memandang dengan santai. Ia sama sekali tidak menganggap makhluk tersebut mengancam.


“Sepertinya, kau terlemah di Apartemen ini.” Ryuto berkata dengan ringan, bahkan ia menghela nafas tak berdaya. Ia mengira bahwa makhluk yang mendiami lokasi Apartemen Ringo akan menjadi hal kuat. Juga, ia penasaran dengan aura aneh yang keluar dari lantai tiga ujung sendiri.


‘Tempat itukah, yang dikatakan sebagai tempat bunuh diri penghuni ruangan. Aura yang dikeluarkan benar-benar terasa sampai di sini. Kesedihan, kemarahan, kebencian, semua negatif berasal dari sana.’


Ryuto mengangguk dalam-dalam, kemudian ia merasakan seseorang telah menyerangnya. Namun, Ryuto segera mengayunkan kakinya ke arah sosok yang menyerang tersebut.


Boom!


Wuro yang menyerang secara diam-diam, terpental dan menabrak pohon kembali. Ryuto sama sekali tidak diam lagi, ia segera menghilang dan dalam sekejap muncul di atas Wuro sambil mengangkat kakinya lurus.


“Matilah!” Kaki berayun secara vertikal, Wuro yang melihat serangan itu hanya memejamkan matanya. Ia benar-benar marah dengan manusia di depannya. Ryuto tak peduli dan kakinya langsung mengenai kepala Wuro dari atas.


Booom!

__ADS_1


Wuro tertanam di tanah secara terbalik. Kemudian, tubuhnya melemas dan mati di tempat. Ryuto yang melihat hal itu hanya memandang sebentar dan melihat tubuh Wuro yang berubah menjadi asap hitam.


“Wahaha, kau tidak bisa membunuhku! Saatnya untuk mengambil alih tubuhmu, Manusia!” Wuro yang sudah berubah menjadi asap tertawa dan melesat ke arah Ryuto yang tengah berdiri diam di tempat.


Ryuto sendiri memandang ke arah Wuro. Namun, seringai di wajahnya mulai terukir jelas. Ia menguatkan kembali kekuatannya dan mengubah energi menjadi atribut angin.


Hal ini membuat Angin yang berada di sekitar Ryuto mulai melesat ke arah Wuro. Kemudian, ia mengunci makhluk yang sudah berubah menjadi asap tersebut dengan angin.


Wuro terkejut dengan keahlian yang ditunjukkan oleh Ryuto itu. Ia tidak menyangka bahwa manusia tersebut ahli dalam mengendalikan angin dan menguncinya di dalam bola yang terbuat dari angin.


Wuro dalam sekejap marah, ia meraung dengan keras. “Bajingan! Lepaskan aku dari bola angin ini!”


Ryuto sendiri memandang ke arah Wuro seperti melihat orang bodoh. Ia terus menekan angin miliknya, menjadi kecil dan terus mengecil. Wuro sendiri perlahan-lahan mulai melemah dan ia tahu bahwa dirinya akan menghilang.


Wuro memandang ke arah Ryuto dengan penuh kebencian, sebelum ia menghilang dari Dunia. Asap hitam mengental dan mengalami keretakan. Selanjutnya, dari dalam bola angin mulai tumbuh tanaman kecil.


Ryuto tidak tahu tanaman apa itu, ia mendekatkan tanaman ke arahnya dan sistem mulai mengidentifikasi tanaman tersebut. Ryuto yang melihat deskripsi singkat tanaman itu, seketika terkejut.


[Sebuah tanaman yang dapat mengembalikan kesuburan tanah tertentu. Menghilangkan efek negatif udara dan memperkaya efek positif.]


Jelas tanaman tersebut sangatlah penting, apalagi lokasi Ryuto sekarang ialah tempat di mana energi Negatif berkumpul. Ia segera tersenyum dan berikutnya memandang ke arah Apartemen kembali.


“Dengan banyaknya energi positif, bukankah bagus untuk mengurangi kekuatan lawan.” Ryuto tersenyum menyeringai, ia kemudian berjalan menuju ke halaman yang sebelumnya, ia gunakan sebagai pertempuran.


Ryuto dengan cepat menanam tanaman itu di dekat tempat dirinya bertarung sebelumnya. Selepas tanaman ditanam, Asap Hitam mulai memasuki tanaman yang ditanam oleh Ryuto itu.


Berikutnya tanaman mulai tumbuh dan berbagai energi positif mengalir keluar. Ryuto sendiri terkejut dengan kecepatan tanaman tersebut. Ia tidak menyangka bahwa ada hal yang begitu aneh di dunia tempatnya berada.


Ryuto sendiri segera memandang ke sekitar, meski tanaman menyerap energi negatif untuk pertumbuhan. Namun, penyerapan tersebut juga ada batasnya. Hal ini hanya membuat seperempat bagian Apartemen sudah kembali menjadi baik.


Selanjutnya, Ryuto mulai melangkah menuju ke arah Apartemen. Ia mulai menyelidiki dari lantai pertama terlebih dahulu. Meski ada lima pintu, Ryuto sama sekali tidak keberatan.

__ADS_1


Ia membuka pintu dari kanan terlebih dahulu. Tepat saat ia membuka pintu, Ryuto melihat isi di dalamnya hanyalah perabotan biasa. Namun, suasana di dalam rumah sangatlah gelap. Energi Negatif terus terpancar dari arah kamar mandi.


Hal ini jelas membuat Ryuto mengerutkan keningnya. Jarang baginya untuk merasakan energi negatif yang begitu rendah. Bahkan energi tersebut dapat menyelimuti seluruh ruangan.


“Sherena...” Sebuah suara berasal dari kamar mandi membuat Ryuto menjadi penasaran. Ia melewati pintu masuk, kemudian pintu mulai tertutup dengan sendirinya. Ryuto sedikit terkejut, akan tetapi tidak khawatir.


Ryuto melihat ke dalam ruangan tersebut. Namun, seluruhnya seperti mati lampu. Hanya kegelapan tanpa bayangan apa pun, sampai akhirnya terdapat cahaya putih yang mendekat terus menerus dan membentur dirinya.


***


Sebuah rumah bertingkat tiga, terdapat halaman luas yang ditumbuhi rumput hijau rendah. Ada beberapa pohon yang menjulang tinggi. Terdapat pagar yang mengelilingi rumah tersebut.


Setiap lantai sendiri terdapat lima pintu, kemudian di depan pagar terdapat gantungan yang menjadi nama tempat tersebut.


{Apartemen Ringo.}


Itu benar, ini adalah Apartemen Ringo sepuluh tahun yang lalu. Di mana insiden pembunuhan yang terjadi di lantai tiga belum terjadi. Namun, insiden lainnya juga terjadi tepat di tempat ini.


“Sherena, jangan melupakan bekalmu!” teriak seseorang perempuan yang berasal dari lantai pertama pintu kanan sendiri. Ia berada di dapur, meneriaki seorang perempuan berumur tujuh belas tahun yang sudah siap memakai sepatu.


“Sudah aku masukkan di dalam tas, kakak!” balas perempuan yang sudah berseragam itu, yang tak lain ialah Sherena. Ia memiliki wajah cantik dengan rambut merah pendek dan aksesoris yang mengikat rambutnya itu.


“Aku berangkat dulu, Kak!” Sherena berteriak selepas memakai sepatunya. Ia keluar dari ruang apartemen tersebut dengan senyum di wajah. Sementara kakaknya yang berada di dapur, sedang memasak untuk dirinya makan.


“Hati-hati di jalan!” teriak balas kakaknya itu, ia menghela nafas melihat adiknya yang pergi sekolah itu. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berkata, “Anak ini, terlalu energik.”


Perempuan itu melanjutkan masak, akan tetapi saat ia sudah selesai memasak. Ponsel miliknya mulai berdering tanda ada yang memanggil dirinya.


Namun, di sudut tembok ruangan tersebut terdapat satu orang yang tengah mengawasi kejadian itu. Orang itu memandang sekelilingnya dengan tatapan terkejut.


“Apakah ini ingatannya sebelum meninggal?”

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2