System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 136 - Ryuto Melawan Sun


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Ryuto mengikuti kakek tua yang menuntunnya untuk bertarung. Maru dan Sania mengikuti dari dalam tubuh Ryuto. mereka berdua ingin mengamati, seberapa jauh jarak keduanya.


Tiba di area lapangan yang luas, tidak ada rerumputan hanya tanah biasa yang rata tanpa ada benjolan sama sekali. Di sisi dari lapangan banyak ditumbuhi rerumputan panjang. Rumput tersebut tumbuh dengan liar dan tersebar di mana-mana.


Ryuto yang menjadi lawan kakek tua itu, mulai berjalan menuju ke sisi berlawanan. Jarak antara keduanya ialah lima belas meter, mereka berdua saling memandang dengan serius tanpa ada yang menunjukkan kelemahan satu sama lain.


“Perkenalkan, namaku ialah Sun. Seorang manusia yang sudah memasuki usia renta.”


“Perkenalkan, namaku ialah Ryuto. Seorang pemuda yang akan menjadi penguasa nantinya.”


Perkenalan mereka singkat, akan tetapi benar-benar bermakna. Kakek tua yang bernama Sun, sedikit terkejut dengan ambisi anak muda di depannya itu.


Kakek tua tersebut tersenyum, ia tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang memiliki keinginan yang begitu besar. Meski dibilang berlebihan, ia tetap akan menyemangati pemuda di depannya itu.


Selanjutnya, kedua orang tersebut menunduk dan kakek tua mulai memutar tongkatnya, lalu melesat cepat ke arah Ryuto. Momentum dirinya seketika berubah dari kakek biasa menjadi seekor binatang buas yang sudah mengunci target.


Ryuto sedikit mengerut, akan tetapi ia tidak terlalu memikirkan lebih dalam. Kemudian, ia menghela nafas ringan sebelum maju satu langkah ke depan. Lalu, tangan kanannya naik ke atas bertepatan dengan tongkat cepat berayun ingin memukul keras dirinya.


“Bam!” Tongkat kayu mengenai tepat lengan Ryuto, Sun terkejut karena serangan miliknya mampu ditahan oleh lawan. Kakek tua itu tidak pernah menemui seseorang yang dapat menghentikan tongkatnya.


Ryuto mengerutkan keningnya ketika bersentuhan dengan tongkat tersebut, entah mengapa ia merasakan bahwa senjata itu tidak biasa seolah-olah ada jiwa di dalamnya.


“Senjata milikmu sungguh menarik. Namun, kalau hanya mengandalkan senjata saja. Lebih baik segera kuakhiri.” Ryuto berkata dengan jelas sambil memandang ke arah Sun.


Kakek tua itu paham bahwa dirinya sudah kalah sejak awal. Meski ia mengeluarkan kemampuan terbaiknya nanti.


“Kalau kamu mengatakan begitu, maka aku tidak akan segan.” Sun melompat beberapa kali ke belakang. Kemudian, ia memejamkan mata.


Ryuto tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh kakek tua di depannya itu, akan tetapi ia merasakan bahwa kekuatan kakek tersebut semakin bertambah kuat. Hal ini membuat dirinya mengerutkan kening.


“Peningkatan diri sendiri. Sepertinya kamu menyembunyikan kartu as dengan baik.” Ryuto memuji kakek tua tersebut, jarang ada seseorang yang memiliki kemampuan peningkatan diri tanpa adanya mata mistis.

__ADS_1


Sun yang mendengar pujian tersebut, sama sekali tidak merasa bangga. Meski ia sudah meningkatkan kekuatan. Dia tetap tidak mengetahui tingkatan dari pemuda di depannya itu. Hal ini membuat kakek tua tersebut menaikkan alisnya.


'Masih tidak bisa dilihat. Anak ini, terlalu mengerikan untuk seumuran dengannya.' Sun memikirkan tentang Ryuto, semakin ia memikirkannya, hal ini membuat dirinya merasa ngeri.


Ryuto sendiri tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pihak lain. Ia mencondongkan badannya ke bawah. Kaki bertekuk setengah, kemudian tatapannya menjadi lebih fokus dan kilatan cahaya melintas tepat di iris mata.


Detik berikutnya, Ryuto menghilang dari tempat. Ia muncul dalam sekejap di depan Sun.


Kakek tua itu sudah menyadari serangan Ryuto. Ia memposisikan tangannya membentuk silang, kemudian suara teredam terdengar begitu keras.


"Bam!" Sun terdorong beberapa meter ke belakang. Selanjutnya, ia merasakan adanya serangan kembali dari sisi kanan. Kakek tua itu tidak menahan, melainkan membalas serangan.


Dua serangan saling bertautan. Mereka terus berkonfrontasi sambil melesat dari tempat satu ke tempat lain.


Sementara itu, orang-orang yang melihat pertempuran tersebut, benar-benar terpana. Mereka tidak menyangka kecepatan kedua orang tersebut begitu tinggi. Bahkan mata mereka masing-masing tidak bisa mengikuti.


"Apakah ini pertempuran tingkat tinggi, Kak Maru?" Sania bertanya kepada kakaknya, ia benar-benar tidak menyangka bahwa ada pertarungan yang begitu intens.


'Apakah ini adalah kekuatan yang digunakan oleh para orang-orang itu sebelumnya?' batin Maru penuh akan pertanyaan.


Sania juga memikirkan hal yang sama dengan kakaknya. Ia juga menyadari bahwa para lelaki kemarin, kemungkinan besar orang-orang kuat.


Meski Maru mengenal orang cakap, ia sama sekali tidak percaya dan menganggap bahwa itu hanyalah khayalan semata. Namun, melihat pertempuran di depan, ia semakin yakin bahwa dirinya hanya seekor katak dalam sumur.


Ryuto dan Sun tidak tahu bahwa mereka telah menjadi percakapan antara dua orang saudara tersebut.


Pertarungan semakin intens, kedua orang tersebut saling menyerang sambil menguatkan kekuatan masing-masing. Namun, jika dilihat dari dekat. Keputusan akhir sudah dapat diambil.


Ryuto tampak normal tanpa ada keringat dan nafasnya masih stabil. Sementara Sun, ia sudah terengah-engah, keringat terus mengalir dan pernafasan mulai goyah.


"Apakah ini batasmu, Pria Tua?" Ryuto menatap ke arah Sun dengan tatapan ringan. Ia masih mengayunkan serangan yang mana dibalas dengan serangan lain.


"Kau terlalu meremehkan diriku, Anak Muda!" Sun sedikit kurang senang atas perkataan pemuda di depannya itu. Namun, Ryuto dengan cepat menyerang yang mana membuat kakek tua tersebut terkejut.

__ADS_1


"Hentikan, kita tidak bertempur hidup dan mati!" Ryuto mengarahkan tangannya tepat di leher Sun. Ia menatap lelaki tua itu dengan datar dan penuh tekanan.


Sun menyadari hal itu dan ia tahu bahwa telah melangkah ke arah yang salah. Ia terlalu terpancing dan tidak mengetahui batasan tubuhnya.


"Kamu benar, aku tidak menyangka lepas kendali tanpa sadar." Sun menggelengkan kepalanya, ia jelas mengakui bahwa dirinya terlalu agresif dalam pertempuran.


Ryuto mengulurkan tangannya, kemudian Sun menerima uluran tangan tersebut. Keduanya saling memandang, lalu mengangguk bersama.


"Kalau begitu, mari kita menemui orang-orang lain. Namun, bisakah aku mengetahui satu hal?" Sun sedikit penasaran dengan lelaki muda di sebelahnya tersebut.


"Ya, kamu bisa bertanya sambil kita berjalan bersama." Ryuto menjawab dengan santai, ia tidak terlalu waspada kepada kakek tua tersebut.


Sun mengangguk dan tersenyum ringan, kemudian ia berjalan terlebih dahulu. Kakek tua itu memandu jalan Ryuto menuju ke tempat di mana mereka akan berkumpul dengan orang lainnya.


Ryuto mengikuti Sun, ia juga menatap keseluruhan gedung tua tersebut. Maru dan Sania mengikuti, akan tetapi Maru lebih mengetahui bangunan tersebut.


Lelaki itu menjelaskan satu persatu fungsi dan jalan di bangunan tua, kepada Ryuto. "Jalan menuju ke tempat pertemuan, sedikit lebih jauh. Namun, tidak perlu khawatir karena tempat tersebut sangat tersembunyi.


Ryuto mengangguk dan tersenyum mendengar setiap penjelasan Maru. Ia kemudian, menatap ke depan. Di mana Sun yang mulai bertanya akan sesuatu yang penting.


"Anak Muda, apakah kamu dapat melihat Maru di mari?" Sun bertanya dengan nada jelas, sementara Ryuto yang mendengar hal itu sedikit terkejut dan ia mengangguk.


"Ya, aku memang dapat melihatnya. Kali ini dia tengah menjelaskan fungsi dan jalan bangunan ini." Ryuto menjawab dengan jujur. Ia tidak perlu menutupi akan kekuatannya itu.


Sun sama sekali tidak terkejut mendengar bahwa Ryuto dapat melihat roh Maru. Bagaimanapun juga, ia sudah menyadari semenjak awal kedatangannya ke tempat ini.


Perjalanan kedua orang itu, tidak membutuhkan waktu lama. Mereka akhirnya tiba di ruang pertemuan. Sun berhenti dan menunjukkan ruangan pertemuan tersebut.


Ruang itu luasnya sama dengan ruang rapat Chrono. Ada meja bundar di tengah, kemudian beberapa orang duduk di pojok dan lima orang duduk di dekat meja tersebut.


"Selamat datang di sini, Ryuto!"


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2