
Silakan Dibaca.
Di sisi lain, tumpukan sampah menggunung di setiap tempat. Meski begitu, ada jalan yang dapat dimanfaatkan setiap pejalan kaki untuk mencari barang-barang berharga di tumpukan sampah tersebut.
Sedikit lebih jauh dari pintu masuk kota. Ada rumah biasa, di mana rumah itu terbangun dengan beberapa botol bekas. Meski terlihat akan roboh, tetapi bangunan tersebut sangat kuat.
Di dalam rumah itu sendiri, terdapat beberapa orang memakai pakaian santai. Namun, ekspresi wajah mereka masing-masing tegas dan serius.
“Stephan, apakah kita akan pergi melawan Keluarga Laserd itu?”
Salah satu pria membawa pipa besi, memandang ke arah sosok lelaki berotot besar. Lelaki itu memiliki sepotong kain merah terikat di keningnya.
“Ya! Laserd sudah berbuat terlalu jauh! Apalagi sekarang aku yakin bahwa, sosok orang bernama Ryuto itu sangatlah kuat.”
Lelaki yang bernama Stephan itu mengangkat senjata tajam yang begitu panjang. Senjata yang sedikit melengkung dan ada ukiran aksara di bilahnya.
Pedang Setan. Itu adalah nama dari senjata yang dipegang oleh Stephan tersebut. Meski pedang relatif tipis, tetapi jangan salah sangka karena pedang itu lebih kuat daripada pedang besar para prajurit kerajaan lama.
“Berapa persen kemenangan kita?” tanya salah satu orang pria di dekat Stephan. Ia tengah memegang golok, siap untuk mengikuti perang.
“100%”
Seluruh orang di sana terkejut mendengar ucapan dari Stephan. Mereka mengira lelaki itu tengah berhalusinasi, tetapi pikiran tersebut menghilang. Bagaimanapun juga, orang di depannya adalah Stephan.
Di saat para orang-orang tengah berpikir, seorang lelaki kurus bergegas masuk sambil berteriak, “Ketua, Ketua, ada seseorang tengah memasuki Kota!”
Stephan memandang ke arah sosok kurus tersebut dengan kerutan di kening. Ia kemudian beralih menatap ke seluruh orang di ruangan.
“Mari kita keluar!” Stephan bergegas keluar pertama kali. Sorot matanya menajam dan ia melesat cepat menuju ke gerbang kota.
Para pria yang berada di bangunan saling memandang dan segera pergi mengikuti jejak Stephan.
Gerbang Kota Febra.
Di kelilingi berbagai gunung sampah. Tampak pagar besi terpasang dengan kokoh, seolah-olah pagar tersebut ialah pembatas antara bersih dan kotor. Pemandangan ini tidak bisa disalahkan, bagaimanapun juga inilah yang dinamakan perbedaan.
Di gerbang pagar besi tersebut, ada sepuluh sosok tengah berdiri di luar pintu. Di depan mereka ada berbagai orang berpakaian compang-camping. Orang-orang ini juga membawa senjata berupa pipa besi.
__ADS_1
“Siapa kalian, mengapa ada di sini!”
Teriakan salah satu orang dari tempat pembuangan tersebut. Membuat sepuluh orang jas hitam sedikit terkejut.
“Kami datang ke mari, untuk memusnahkan Keluarga Laserd!”
Mendengar pernyataan dari salah satu dari sepuluh orang jas hitam. Semua orang yang memegang senjata pipa terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa ada orang yang akan datang menghancurkan keluarga besar itu.
Selepas raut wajah para pengemis itu berubah. Sepuluh orang jas hitam perlahan mendekat. Mereka tidak peduli dengan ekspresi yang ditunjukkan orang di depannya.
“Berhenti!” teriakan dari belakang, membuat seluruh orang yang berada di Gerbang Kota Febra terkejut dan kembali sadar.
Sepuluh orang jas hitam memandang ke arah asal teriakan tersebut. Mereka mengerutkan keningnya karena dihentikan oleh orang asing. Namun, mereka tetap diam dan tidak bergerak untuk pergi.
“Stephan!” Berbagai orang yang berada di Gerbang Kota Febra terkejut dan berteriak tanpa sadar, ketika melihat sosok lelaki memiliki ikat kepala merah.
Mendengar nama dari lelaki yang menghentikan mereka itu. Sepuluh orang jas hitam sedikit terkejut. Namun, mereka tetap tidak takut meski mengingat bahwa Stephan tersebut adalah orang kuat.
Detik berikutnya, lelaki Stephan muncul di depan sepuluh orang jas hitam. Ia memandang ke arah kesepuluh pria tersebut. Stephan yang diselimuti rasa ingin tahu, segera mengajukan pertanyaan.
“Apakah kalian berasal dari pihak Ryuto?”
Stephan menyadari hal itu, ia segera melambaikan tangan dan berkata, “Tenang, aku tidak bermaksud untuk bertarung. Hanya saja, bisakah aku mengikuti perang yang akan terjadi?”
Sepuluh orang yang awalnya mendengar bahwa tidak ada pertempuran, segera bernafas lega. Namun, ketika mereka mendengar kalimat selanjutnya. Ekspresi para orang jas hitam terkejut.
Kesepuluh orang sama sekali tidak menyangka akan ada orang yang mengajukan diri partisipasi perang. Jelas ini jarang, mengingat perang bukanlah sesuatu yang dianggap mainan anak-anak.
“Mengapa kau ingin mengikuti perang?”
Salah satu pria jas hitam bertanya terlebih dahulu. Ia dan rekannya sendiri sudah tahu bahwa pasti akan ada orang yang akan ikut. Namun, demi melindungi pertahanan kelompok. Mereka harus mengidentifikasi tujuan dari orang tersebut.
Stephan mendengar pertanyaan itu, ia mengangguk. “Aku ingin memusnahkan Keluarga Laserd yang telah menindas tempat ini. Mungkin kalian tidak mengerti rasa sakit kami, jadi anggap saja aku ikut berperang dengan alasan balas dendam.”
Mendengar penjelasan singkat Stephan, sepuluh orang jas hitam saling memandang. Mereka jelas tahu ada rasa sakit di mata lelaki di depannya itu. Selepas mengamati Stephan sebentar, akhirnya kesepuluh orang itu mengambil keputusan.
“Kau bisa ikut, tetapi tunjukkan tempat Keluarga Laserd berada!”
__ADS_1
Stephan mengangguk dengan semangat ketika mendengar bahwa dirinya dapat berpartisipasi perang. “Rumah Keluarga Laserd sendiri di ujung Kota. Rumah mereka menggunakan Kontainer bekas, tetapi masih bagus.”
“Pimpin jalan, kami tidak pernah datang ke mari, jadi tidak mengetahui arah jalan!”
“Baiklah!” Stephan mengangguk dan memimpin sepuluh orang ke tempat Cabang Kedua Keluarga Laserd berada.
Di sisi lain, Kota Sinoh.
Berbagai bangunan menjulang tinggi, lampu neon terpasang di mana-mana. Entah itu berbentuk ikan, manusia maupun huruf, semuanya ada di sana.
Jalanan kota ini sangat ramai, sesuai dengan julukannya Street Trivia. Sebuah tempat yang penuh akan orang yang tengah berdagang maupun jalan-jalan.
Meski tempat ini terlihat hidup dan damai, akan tetapi tempat ini juga merupakan jantung dari pasar gelap. Pusat seluruh kegelapan Guika terletak di kota ini, sehingga banyak pedagang aneh selalu terlihat di tempat.
Sela-sela bangunan ialah sebuah gang yang menuju ke sebuah bangunan berlantai dua. Meski terlihat sederhana, tetapi bangunan ini memiliki plakat bertulisan ‘Bar.’
Itu benar, tempat ini adalah tempat khusus yang biasa digunakan orang-orang di malam hari. Namun, jangan terpacu kata ‘Bar’ karena tempat ini sendiri memiliki banyak fungsi, terutama yaitu pencarian informasi terbaru.
Kali ini, di gerbang masuk Kota Sinoh. Sepuluh orang jas hitam melesat masuk ke dalam. Kota ini tidak dijaga karena jika ada yang berbuat ulah, mereka akan mati keesokan harinya.
Menghilang dari ramainya malam, kesepuluh orang tersebut tiba di gang sepi. Mereka sendiri berkumpul dan saling memandang satu sama lain.
“Aku akan pergi ke pasar gelap. Kalian pergi ke Markas Cabang Ketiga yang berada di sini!”
Sembilang orang jas hitam menuruti satu sosok yang dibilang lebih kuat dari mereka masing-masing.
Selepas pembagian misi, sepuluh orang tersebut menghilang segera dan bergegas untuk menjalankan tugasnya masing-masing.
Tepat di depan ‘Bar’ satu sosok laki-laki jas hitam memandang ke depan. Ekspresinya datar, kemudian berjalan masuk ke dalam bangunan tersebut.
“Selamat datang, Tamu. Apakah ada yang ingin Anda pesan?”
Seorang wanita berparas cantik menyapa laki-laki jas hitam. Keduanya saling memandang, senyuman wanita tersebut menyesatkan banyak orang. Namun, tidak berarti untuk lelaki itu.
“Satu botol Vodka, juga PG.”
Mendengar pesanan laki-laki di depannya. Wanita cantik itu sedikit terkejut dan ekspresinya berubah menjadi serius.
__ADS_1
“Baik, silakan ikuti diriku, Tuan!”
To be Continued.