System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 21 - Gua Misterius


__ADS_3

Silakan Dibaca.


“Hiu!” tegas Ryuto, ia benar-benar terkejut dengan kehadiran monster tersebut.


{Nama : Hiu Mangsa.}


{Kelas : B.}


{Makhluk besar dengan dua tangan layaknya pisau yang tajam. Ia memiliki sirip atas yang dapat memotong batu besar. Kulitnya hampir mencapai kekerasan besi. Makhluk ini sangat dikenal dengan Predator terkuat lautan Kelas B.}


Ryuto yang tengah memandang ke arah hiu di depannya, tidak bisa untuk tidak tertegun. Kemudian, ekspresi wajahnya menjadi lebih serius dan tanpa sadar ia melebarkan jari-jarinya.


Air yang berada di dekat telapak tangan Ryuto mulai berputar dengan cepat, lalu membentuk trisula yang dilapisi dengan gelombang air.


Lambang yang berada di kening Ryuto menyala dan berubah menjadi emas.


Megu dan Rias terkejut, mereka tidak menyangka tuan mudanya dapat berubah dalam sekejap. Mereka jelas tahu bahwa itu ialah kekuatan Poseidon.


Hiu yang melihat perubahan temperamen dari mangsanya, seketika menyusutkan mata. Jelas aura yang dikeluarkan mangsanya sangatlah kuat, berkali-kali lebih kuat dari dirinya sendiri.


“Rawr!” Hiu hanya bisa mengaum rendah, ia tidak ingin menyerang terlebih dahulu.


Ryuto yang sudah menjadi Poseidon, seketika memutar trisulanya. Kemudian, gelombang air yang melilit di trisula mulai menyatu membentuk aliran yang panjang.


“Aku baru menggunakan kekuatan ini, jadi terimalah!” Ryuto berkata dengan tegas, aliran air semakin membesar dan ujung aliran mulai berubah menjadi kepala ular.


“Serangan Ular!” Air yang sudah berubah menjadi ular melesat menuju ke arah Hiu Mangsa.


Hiu tersentak, ia segera menghindar dan mencoba untuk mengembalikan serangan Ryuto.


Hiu melesat dengan cepat, tak butuh waktu lama untuk tiba di depan Ryuto. Hiu mengayunkan salah satu tangannya dengan kuat.


Tangan yang begitu tajam layaknya pisau, mengarah tepat ke arah kepala Ryuto. Namun, belum sempat tangan itu sampai, sebuah trisula mencegahnya dengan cepat.


Ding!


Benturan keras teredam begitu dalam. Air yang berada di sekitar gelombang mulai mengeluarkan buih-buih kecil.


Hiu tersentak, ia mundur beberapa meter. Sementara Ryuto masihlah tetap berdiri di tempat.

__ADS_1


Ryuto memutar trisulanya kembali, aliran air semakin menguat. Perlahan-lahan aliran membentuk bola yang besar. Ryuto dengan cepat mengayunkan Trisula ke arah depan.


“Ribuan Sayatan Air!” Bola air pecah menjadi ribuan bola sekecil bola tenis. Kemudian, bola melesat dengan cepat menuju ke arah Hiu yang berada di depan.


Hiu segera menyadari bahaya mendekat. Ia melebarkan matanya ketika melihat berbagai bola kecil tengah melesat cepat ke arahnya. Serangan itu belum pernah ia hadapi selama ini.


Bola kecil berakhir mengenai seluruh tubuh Hiu. Hiu sendiri mencoba sekuat tenaga untuk mempertahankan tubuhnya agar dapat mengatasi bola-bola kecil tersebut.


Megu dan Rias yang melihat itu juga tertegun. Mereka tidak menyangka bahwa Hiu akan terus ditekan oleh tuan mudanya sedemikian rupa.


Namun, mereka berdua segera menyadari bahwa waktunya untuk membantu tuan mudanya tersebut.


Serangan Ryuto telah berakhir, Hiu kini penuh akan luka. Sehingga, ia tidak dapat bergerak bebas seperti sebelumnya. Darah miliknya terus keluar dan menyatu dengan air.


Hiu-hiu lainnya yang berada di sekitar, mencium darah segar tersebut. Mereka segera melebarkan matanya dan menajamkan penciuman.


Hiu-hiu melesat dengan cepat ke arah sumber darah segar itu berada. Mereka layaknya koloni yang sudah kelaparan selama setahun lebih.


Ryuto yang melihat darah keluar, segera mengetahui bahwa hal buruk akan segera tiba. Jika, ia tidak pergi. Kemungkinan besar, sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.


“Megu, Rias, kita harus segera pergi dari sini. Kerahkan seluruh kekuatanmu, kita harus mencari tempat berlindung di bawah laut,” teriak tegas Ryuto, ia segera menginstruksikan kedua pelayan pribadinya dengan cepat.


Megu dan Rias tertegun, akan tetapi mereka segera mengangguk dan mengaktifkan mode Amfitrite miliknya. Dua orang segera berubah dan melesat mengikuti Ryuto yang sudah menghilang dalam kegelapan dasar laut.


Apa yang membuatnya bahaya itu bukanlah manusia yang menjadi mangsa, melainkan bangsanya sendiri yang tengah kelaparan.


Hiu meraung dengan rendah, akan tetapi bangsanya sendiri tidak peduli. Mereka dengan panik melesat ke arahnya dan mulai membuka mulut bersiap untuk makan.


Hiu yang terluka parah, mengerang penuh kesakitan. Jelas rahang bangsanya kuat sehingga tubuhnya mulai terkoyak habis dan dalam sekejap ia sudah kehilangan nyawa.


Di sisi lain, Ryuto dan kedua pelayan pribadinya terus menyelam ke bawah. Mereka tidak mengincar sesuatu yang kuat. Melainkan, naluri Ryuto mengarahkan dirinya menuju ke sebuah gua yang dilindungi hal aneh.


Ryuto bergegas ke arah gua tersebut. Tepat saat ia masuk, ia merasakan perasaan yang berbeda. Gua itu penuh akan oksigen, berbeda dengan air yang penuh akan hidrogen.


Megu dan Rias juga masuk ke dalam gua, mereka terkejut melihat perubahan suasana dalam sekejap. Tatapan mereka segera tertuju ke arah Ryuto.


Namun, Ryuto yang mereka lihat tengah menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu apa yang sedang terjadi di gua tersebut.


“Aku sendiri tidak menyangka, di tempat ini ada udara.” Ryuto sendiri berkata dengan nada yang samar. Kemudian, ia melanjutkan ucapannya dengan jelas. “Mari, kita selidiki lebih jauh. Kemungkinan besar, tempat ini mengandung sesuatu.”

__ADS_1


“Baik, Tuan Muda!” Megu dan Rias mengangguk setuju, keduanya jelas penasaran dengan isi yang terdapat di gua tersebut.


Ketiganya melangkah lebih jauh ke dalam gua. Tidak ada musuh sama sekali, hanya saja terdapat sebuah aura yang kuat dan penuh akan rasa tarikan.


Jelas, hal ini membuat mereka penasaran. Selangkah demi selangkah dan akhirnya melihat cahaya jalan depan. Cahaya tersebut begitu terang, sehingga membuat ketiganya tersenyum cerah.


“Di jalur depan, terdapat cahaya aneh.” Rias berseru dengan rasa senang. Ketiganya segera melesat menuju ke jalur tersebut.


Tiba di jalur, mereka menatap ke arah depan di mana ada batu melingkar, dengan gelombang berwarna merah. Hal itu mirip seperti pintu, akan tetapi terdapat sepasang mata di atasnya.


“Portal!”


Itu benar, apa yang mereka temukan ialah portal merah. Entah itu berfungsi untuk mengembalikan atau mengirimkan kembali ke dunia lain yang lebih kuat.


Namun, sebelum mereka mengamati lebih lanjut. Sepasang mata portal itu menyala dan sebuah suara mengerikan bergema di seluruh gua tersebut.


“Kalian bertiga, belum waktunya untuk menginjak Dunia ini! Kembalilah!” suara itu jelas, membuat ketiga orang itu terkejut dan bingung.


Namun, mereka tidak diperkenankan untuk berpikir. Tarikan kuat mendorong mereka melesat menuju ke portal. Ryuto terkejut, ia segera meraih kedua pelayan pribadinya dan memeluknya dengan erat.


Detik berikutnya, ketiga orang itu hilang ditelan oleh portal. Sepasang mata yang menyala, segera meredup dan kalimat terakhir terucap dengan samar.


“Poseidon... Aku sudah memenuhi janji... Kurokami sudah mengambil pemandumu...”


Kemudian, portal tersebut perlahan-lahan retak dan menghilang dari tempatnya berada.


To be Continued.


Promosi.



Napen : Jenang Gula.


Judul : Nyanyian Rindu.


Blurb :


Tentang suara samar di gedung sekolah saat jam pelajaran berlangsung, membuat keempat sahabat penasaran dengan siapa sosok yang sebenarnya.

__ADS_1


Apa mereka bisa menemukan jawabannya?


Baca kalau berani.


__ADS_2