System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 86 - Bandit Azu


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Ryuto yang telah selesai membunuh lima sosok bayangan, mulai memandang ke depan. Dia bisa merasakan kehadiran beberapa sosok mendekat ke arahnya dengan cepat. Kecepatan itu hanya perlu dua puluh detik untuk tiba di depannya.


Nafas Ryuto tidak naik turun, dia sangat tenang. Bahkan tidak menganggap musuh kuat sama sekali. Hal ini karena sistem memberitahu bahwa dirinya sudah berada di puncak kekuatan lebih tepatnya, dia nomor satu di seluruh wilayah pertama itu.


Hal ini mengartikan bahwa tidak ada musuh yang layak dia hadapi di wilayah pertama.


Tepat saat Ryuto mematahkan lehernya ke kanan dan kiri. Dua puluh sosok bayangan muncul di hadapannya. Namun, postur tubuh sosok itu ada yang besar dan kecil.


"Siapa kau!"


"Benar-benar penyusup yang berani datang ke tempat yang seharusnya tidak boleh dimasuki!"


Ryuto mendengar perkataan kedua orang itu, sama sekali tidak terpengaruh. Senyum di wajahnya semakin dalam, detik berikutnya dia menghilang dari tempat dia berdiri.


"Hati-hati!" Salah satu bayangan berteriak dengan keras membangunkan sembilan belas anggota lainnya dengan cepat.


Namun, semua itu percuma karena Ryuto muncul di depan salah satu anggota sambil mengayunkan kepalan tangannya dengan cepat.


Pupil mata salah satu bayangan menyusut. Jelas dia merasakan nafas binatang kuno yang sangat bahaya di dalam tubuh Ryuto. Dia tidak memiliki waktu untuk mengutuk sama sekali.


Boom!


Kepala bayangan tersebut pecah, sehingga membuat sembilan belas orang lainnya sadar dalam sekejap. Mereka segera mengambil posisi waspada, akan tetapi deteksi sama sekali tidak pengaruh terhadap tindakan Ryuto.


Belum banyak bereaksi, lima kepala bayangan meledak dalam sekejap. Hanya tersisa empat belas orang saja. Namun, mental mereka seketika menurun dan ekspresi wajah mereka menjadi takut.


"Lari, laporkan ke atasan!"


"Semua orang, ambil senjata dan tembak monster ini!"


Ryuto yang dalam posisi kecepatan penuh, melirik ke kanan dan kiri. Dia memandang empat belas bayangan, mencari siapa yang menembakkan suar ke atas langit.


Pandangan Ryuto segera terkunci ke arah peluru yang melesat ke atas. Dia tidak peduli, hanya mendengus ringan dan berkata, "Banyak semut yang berdatangan!"


Inilah yang dia rasakan, ada berbagai orang tengah melesat menuju ke arahnya. Jika diperkirakan ada sekitar empat ratusan lebih melesat ke arahnya. Namun, dari banyaknya orang tersebut sama sekali tidak ada orang yang kuat.

__ADS_1


Ryuto muncul tepat di jalan menuju ke kedalaman hutan. Dia memejamkan matanya sebentar, kemudian arus listrik menyelimuti tubuhnya. Kedua tangannya terkepal erat.


"Tubuh Listrik!" Ryuto memandang ke depan, rambutnya berkibar dengan bangga. Otot-otot di tubuhnya mengencang. Visinya sendiri ditingkatkan, dia dapat melihat jelas keberadaan semua orang.


Shua Shua


Berbagai peluru melesat ke arah Ryuto. Namun, laki-laki itu relatif tenang karena semua peluru bergerak sangatlah lambat di hadapannya. Inilah kemampuan yang dia miliki, selepas berlatih dengan petir.


Tak butuh waktu lama, bayangan beberapa orang mulai bermunculan satu persatu. Jauh di depan pandangan Ryuto, warna gelap memenuhi tempat tersebut. Hal ini sangat jelas, tetapi Ryuto menyeringai dengan lebar.


Kaki kanan Ryuto terangkat, berikutnya mulai bersinar dengan terang. Kaki segera berayun dan bilah biru melesat cepat ke arah depan. Beberapa bayangan terkejut dan ingin menghindar, akan tetapi semua itu percuma.


Boom!


Ledakan keras terjadi dan seluruh pohon depan Ryuto terbelah menjadi dua bagian. Ada beberapa orang yang tidak selamat, mereka semua terpotong akibat bilah yang diluncurkan oleh Ryuto. Sementara sisanya, tercengang dan rasa takut mulai menjalar.


Serangan Ryuto berhenti dan pandangan Ryuto terarah jauh ke depan. Sinar matahari yang terhalang kini mulai menampakkan diri. Hutan yang suram kini terlihat begitu cerah.


Jauh di pandangan Ryuto, hanya ada pohon yang terpotong dua bagian, serta beberapa orang dalam ekspresi terkejut melihat teman mereka mati terbelah menjadi dua.


Jelas ini adalah hal yang baru pertama kali mereka temui. Satu ayunan kaki, membunuh ratusan orang. Meski lawan orang cakap, akan tetapi orang cakap sendiri tidak seharusnya sekuat ini.


"Yah, ternyata masih tersisa banyak ...!"


Nafas kuat menerpa para orang-orang tersebut. Mereka berbalik memandang ke arah Ryuto dengan ngeri. Eksistensi yang sangat kuat seperti itu, kini memandang mereka layaknya mangsa.


"Nah ... bisakah kalian jelaskan kepadaku, siapa sebenarnya kalian semua!" Ryuto berkata dengan nada rendah. Meski begitu, mereka semua mendengar dengan jelas.


Meski mereka mendengar, akan tetapi tidak ada yang menjawab sama sekali. Keringat dingin mereka mengucur deras. Lutut mereka gemetar dan menunggu untuk jatuh ke tanah.


Ryuto menyusutkan matanya dan dia jelas-jelas tidak senang melihat orang-orang di depannya tidak menjawab. Dia dengan keras mengeluarkan niat membunuh yang kuat. Hal ini membuat seluruh orang tercekik.


"Jawab!" Ryuto berkata dengan dingin, auranya semakin meningkat, membuat seluruh orang runtuh dan mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya.


"Ugh..." Semuanya berlutut di hadapan Ryuto, detik berikutnya. Salah satu dari mereka memandang ke arah Ryuto dengan ekspresi penuh rasa sakit. Dia segera menjawab meski ujungnya akan terbunuh.


"Aku akan menjawab!"

__ADS_1


Teriakan satu orang tersebut membuat seluruh orang terkejut. Namun, Ryuto tidak memperhatikan perubahan ekspresi mereka. Dia menatap tajam ke arah orang yang barusan bicara.


Di tatap layaknya elang oleh Ryuto, orang itu menelan air ludahnya sendiri. Jelas itu menakutkan dan tajam. Hal ini bahkan bosnya sendiri tidak pernah memiliki tekanan dan temperatur seperti laki-laki di depannya.


"Jawablah! Siapa kalian semua?" Ryuto sedikit mengurangi niat membunuhnya. Hal ini membuat orang-orang di depannya merasa sedikit ringan. Sementara salah satu yang ditunjuk oleh Ryuto, menghela nafas dan berubah menjadi serius.


"Kami ... Kami adalah Bandit Azu!"


Ryuto mengerutkan keningnya ketika mendengar nama kelompok orang di depannya itu. 'Bandit? Memang cocok untuk bandit di wilayah gunung. Namun, mengapa mereka memilih tempat ini? Dari tampang mereka semua, jelas bukan orang-orang asal tempat ini.'


"Bandit Azu ... Lalu apa yang kalian lakukan di sini?"


Bandit yang diberikan pertanyaan tersebut, segera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, ini hanya bos dan lima kekuatan utama saja yang mengetahui tentang hal itu."


Selepas mengatakan hal itu, Ryuto merasakan beberapa peluru meriam besar melesat ke arahnya dari belakang tempat para bandit berlutut.


Shou Shou


Ekspresi Ryuto menjadi dingin. Sementara para bandit, melihat bola meriam melesat segera tahu bahwa itu adalah tanda. Mereka semua mengeluarkan pedang masing-masing.


"Jadi begitu ... menarik! Sepertinya kalian memang ditakdirkan untuk mati!"


Ryuto tertawa dengan renyah. Ekspresi wajah para bandit yang ketakutan berubah menjadi serius dan menyeringai. Tepat saat meriam mengenai tubuh Ryuto, para bandit mengangkat pedang masing-masing dan berteriak dengan keras.


Boom!


"Serang!" Para bandit melesat dengan cepat ke arah kabut asap tebal. Jelas-jelas mereka tidak peduli dengan nyawa mereka, terpenting adalah membunuh lawan mereka tersebut.


Namun, tepat saat beberapa orang bandit memasuki kabut tebal. Mereka semua terpental balik ke belakang begitu juga kabut tebal itu.


"Apa yang terjadi!"


Memandang ke arah depan, para bandit yang berhenti sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Sampai akhirnya kabut menghilang, terlihat sosok Ryuto yang berdiri dengan kokoh tanpa ada luka sama sekali, bahkan pakaiannya sendiri tidak hancur.


Para bandit melebarkan matanya, meskipun lawan adalah orang cakap. Di bawah bidikan meriam kencang seharusnya mati. Namun, melihat bahwa Ryuto masih utuh bahkan pakaian tak tersentuh, seketika mereka gemetar.


Ryuto yang berada tak jauh di depan para bandit, menunduk dan memandang ke arah depan. Dia menyeringai, kemudian berkata, "Majulah! Aku akan membunuh kalian semua dan menunjukkan apa itu putus asa!"

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2